← Back to list

Level dalam belajar filsafat

Dalam mempelajari disiplin ilmu ini, filsafat masih menerima stereotip sulit bagi banyak orang. Karena bahasanya yang jelimet dan problem…

Nurhaliza Safitri · 2026-05-01 10:23 · 0 claps · 2.6 min read
#filsafat #ilmu
Open on Medium ↗

Patung filsuf Yunani kuno Socrates di Athena, Yunani foto stoik

Patung filsuf Yunani kuno Socrates di Athena, Yunani foto stoik

Level dalam belajar filsafat

Dalam mempelajari disiplin ilmu ini, filsafat masih menerima stereotip sulit bagi banyak orang. Karena bahasanya yang jelimet dan problem yang dibahas bukanlah sesuatu yang umum yang dipikirkan banyak orang. Meskipun tanpa sadar, kita sering kali berfilsafat dalam kehidupan sehari-hari, mengajukan pertanyaan filosofis tanpa kita sadari. Namun dalam perkembangannya, disiplin ilmu yang satu ini masih belum terjamah oleh semua orang, tidak banyak yang mau mempelajarinya karena termakan stereotip negatif tersebut.

Sejatinya filsafat sangatlah berguna untuk kehidupan manusia, dalam buku nya Pak Fahruddin Faiz “Sebelum Filsafat” disebutkan manfaatnya antara lain melatih berfikir kritis, membuat cara berfikir lebih sistematis, membantu memahami realitas secara lebih dalam, membentuk sikap terbuka dan tidak fanatik, membantu refleksi diri dan masih banyak lagi, kalau ingin tahu lebih jauh, alangkah baiknya baca buku pak Faiz tersebut.

Selanjutnya, Agar belajar filsafat menjadi mudah dan lebih terarah, saya mendapatkan trik yang barangkali bisa mempermudah kita dalam belajar filsafat, trik ini saya dapatkan saat mata kuliah Pak iqbal dosen filsafat saya. Mempelajari filsafat, kita haruslah mengetahui level kita dimana, agar belajar lebih terarah, tidak lompat-lompat, dan tidak menyulitkan kita. level-level tersebut antara lain;

LV 1: Mempelajari/ memahami pemikiran filosofis

Pada level ini, kita perlu untuk mempelajari dan memahami pemikiran filosofis, dalam hal ini terdapat tiga hal yang harus kita ketahui

  1. Tokoh

Kita mempelajari dan memahami gagasan dan pemikiran tokoh-tokoh filsafat, seperti Socrates, Plato, Aristoteles, Al-Kindi, Al-Farabi, dll.

  1. Topik/Problem

Ini mencakup problem yang dibahas dalam filsafat. Di dalam berfilsafat, problem selalu dan pasti hadir dari pertanyaan. Namun, bukan semua bentuk pertanyaan disebut pertanyaan filsafat. Setidaknya ada dua bentuk pertanyaan yang harus kita ketahui untuk membedakan apakah itu pertanyaan filosofis atau bukan. Ianya sebagai berikut;

· Close Question (pertanyaan tertutup)

Bentuk pertanyaan ini hanya memiliki satu jawaban yang benar; tidak dapat memiliki dua atau tiga jawaban yang benar. Contoh; berapa sisi persegi empat?, jawaban yang benar hanya satu yaitu empat, tidak bisa saya katakan tiga juga benar secara bersamaan. Itulah bentuk close question

· Open Question (Pertanyaan terbuka)

Artinya jawaban dari pertanyaan tersebut bisa saja lebih dari satu, dua, tiga, atau seterusnya. Dan untuk menentukan mana jawaban yang paling benar, kita dapat mengetahuinya dari seberapa kuat argumen di balik jawaban tersebut. Contoh: Apakah manusia itu? Jawabannya antara lain, manusia adalah makhluk yang berfikir, manusia adalah makhuk yang bermoral, manusia adalah makhluk yang memiliki jiwa sosial, manusia adalah makhluk ekonomikus, manusia adalah makhluk yang mimiliki jiwa sprirtual, dan banyak lagi jawaban lain.

Dan semuanya bisa benar.

Dari kedua pertanyaan ini, yang menjadi problem dalam filsafat ialah open question (pertanyaan terbuka). Artinya, pertanyaan filosofis ialah pertanyaan yang memiliki jawaban benar lebih dari satu.

LV II : Menganalisis Pemikiran Filsafat

Pada tahap ini, kita bukan hanya sekadar mempelajari dan memahami filsafat dari tokoh, problem, dan sejarahnya. Tapi kita menganalisis dan mempertanyakan argumen di balik jawaban dari pertanyaan bentuk open question. Terdapat beberapa cara untuk mengetahui argumen dari penyimpulan tersebut yaitu;

  1. penyimpulan langsung

Menyimpullkan secara langsung dari satu premis

Ianya ada 4 jenis: perlawanan, pembalikan, obversi, aktualitas atau posibilitas. Yang mungkin akan kita bahas lain kali.

  1. penyimpulan tidak langsung

Menyimpulkan dengan mempertimbangkan dua premis atau lebih.

Ianya ada dua jenis: silogisme (deduksi), induksi.

Untuk mencapai level ini, kita perlu belajar ilmu logika, terutama prinsip dasar logika.

Dari contoh “manusia adalah makhluk yang berpikir”, lebih mudah untuk menganalisis argumennya dengan menggunakan induksi, yaitu proses pengambilan keputusan dari khusus ke khusus.

Penyimpulannya ( Manusia Adalah makhluk yang berfikir)

Argumennya;

Fitri adalah manusia, ia berfikir

Liza adalah manusia, ia berfikir

Husen adalah manusia, dia berfikir

Maka, manusia adalah makhluk yang berpikir.

Begitulah salah satu cara kita berfilsafat, jika kita sudah paham ini, artinya kita tau level berfilsafat kita sampai dimana.

Barangkali tulisan ini masih banyak sekali kekurangan, namun setidaknya memberikan gambaran bagi kita yang berkenan belajar filsafat, agar belajar kita lebih terarah, dan pada prosesnya belajar filsafat tidak menjadi sulit bagi kita.


메타데이터
post_id
e2487cbe0abf
slug
level-dalam-belajar-filsafat-e2487cbe0abf
url
https://medium.com/@nurhalizasafitri59/level-dalam-belajar-filsafat-e2487cbe0abf
canonical_url
https://medium.com/@nurhalizasafitri59/level-dalam-belajar-filsafat-e2487cbe0abf
author_url
https://medium.com/@nurhalizasafitri59
status
ok
fetched_at
2026-06-17 12:55:42