← Back to list

Fernando Sorrentino: Kehidupan sehari-hari

Di masa muda, sebelum menyerahkan hidup menjadi petani dan peternak, aku seorang pegawai bank. Beginilah kisahnya bermula.

Artha K · 2026-06-27 04:58 · 0 claps · 6.4 min read
#terjemahan
Open on Medium ↗

Fernando Sorrentino: Kehidupan sehari-hari

Graham Dean

Graham Dean

Di masa muda, sebelum menyerahkan hidup menjadi petani dan peternak, aku seorang pegawai bank. Beginilah kisahnya bermula.

Usiaku baru dua puluh empat tahun waktu itu, sebatang kara tanpa kerabat dekat. Aku mendiami kamar sewa kecil yang sama ini, di Santa Fe Avenue, di antara Canning dan Araoz.

Semua orang paham kelalaian bisa terjadi di mana saja, bahkan di ruang sekecil ini. Kemalangan yang menimpaku terbilang sepele. Saat memutar anak kunci untuk berangkat kerja, besi kecil itu patah di dalam lubang pintu.

Setelah sia-sia mencoba segala cara dengan obeng dan tang, aku memutuskan memanggil tukang kunci. Sembari menunggu kedatangannya, aku memberi kabar ke bank akan datang sedikit terlambat.

Mujur, si tukang kunci tiba cukup lekas. Mengenai lelaki ini, ingatan yang tersisa hanya rambutnya yang memutih seluruhnya, padahal parasnya masih terbilang muda. Lewat lubang intip pintu aku berseru, “Anak kunciku patah di dalam.”

Dia mengibaskan tangan di udara, menunjukkan rasa jengkel yang tertahan. “Patah di bagian dalam? Perkaranya jadi lebih pelik kalau begitu. Setidaknya butuh waktu tiga jam, dan ongkosnya sekitar…”

Dia menyebutkan harga yang teramat tinggi.

“Uang tunai di rumah tidak cukup sekarang,” jawabku. “Namun begitu pintu terbuka, aku segera ke bank mengambil uang untuk upahmu.”

Dia memandangi wajahku dengan mata sarat celaan, seakan aku baru saja membujuknya melakukan perbuatan dosa. “Mohon maaf yang sebesar-besarnya, Tuan,” ucapnya dengan kesantunan yang terasa menggurui. “Aku bukan sekadar anggota pendiri Serikat Tukang Kunci Argentina, tetapi juga salah satu penyusun utama Magna Carta organisasi kami. Tiada satu hal pun telantar tanpa perhitungan di sana. Kebetulan bila Anda berkenan membaca dokumen yang luhur ini, Anda akan mendapati amanat dalam bab ‘Prinsip Dasar’ yang menegaskan, seorang tukang kunci yang sejati dilarang keras menerima pembayaran setelah pekerjaannya selesai.”

Aku tersenyum ketir, dilingkupi rasa tidak percaya. “Sampeyan pasti sedang bergurau.”

“Tuan yang budiman, perkara Magna Carta Serikat Tukang Kunci Argentina bukanlah bahan kelakar. Penyusunan kitab kami, yang tiada melewatkan secuil pun perkara kecil dan setiap babnya dituntun oleh asas kesusilaan yang mendalam, telah memeras pikiran kami dalam telaah yang melelahkan bertahun-tahun lamanya. Memang tidak semua orang sanggup menangkap maksudnya, sebab kami kerap mempergunakan bahasa pralambang yang gaib dan sunyi. Meski demikian, aku percaya Tuan akan paham isi pasal tujuh dalam Mukadimah kami yang berbunyi, ‘Emas akan membukakan pintu-pintu, dan pintu-pintu akan memuliakannya.’”

Aku bersitegang menolak kesia-siaan ini. “Kumohon,” kataku membujuk. “Pakai akal sehat Sampeyan. Bukakan pintu ini, upahmu langsung kubayar saat ini juga.”

“Mohon maaf, Tuan. Tiap-tiap pekerjaan memanggul amanah, dan bagi tukang kunci, titah etika ini tak boleh ditawar. Selamat siang, Tuan.”

Selesai mengucap kata, dia melangkah pergi.

Aku berdiri termangu beberapa jenak, didera rasa bingung. Segera kutelepon kembali pihak bank, mengabarkan kemungkinan besar aku tak bisa datang bekerja hari ini. Selang beberapa waktu, aku merenungkan perihal tukang kunci berambut putih tadi lalu membatin, “Orang ini sudah miring otaknya.” Aku hendak mencari tukang kunci dari bengkel lain, dan untuk jaga-jaga, aku tak akan bilang perkara uang tiris sebelum pintu berhasil dibuka.

Kubuka buku daftar telepon lalu memutar nomor.

“Alamatnya di mana?” sebuah suara perempuan menyelidik penuh curiga.

“Santa Fe 3653, Kamar Sewa 10-A.”

Perempuan di seberang ragu sejenak, memintaku mengulang alamat, lalu menyahut, “Mustahil, Tuan. Magna Carta Serikat Tukang Kunci Argentina mengharamkan kami menyentuh pekerjaan apa pun di alamat Anda.”

Seketika amarahku menyala hebat. “Dengar dulu! Jangan konyol — “

Gagang telepon di seberang sana terlanjur diletakkan sebelum kalimatku tuntas.

Maka aku kembali membuka buku daftar telepon dan melakukan sekitar dua puluh panggilan ke berbagai bengkel tukang kunci. Detik mereka mendengar alamat rumahku, semua serempak menolak mentah-mentah untuk datang bekerja.

“Baik, tidak mengapa,” bisikku menghibur diri sendiri. “Aku akan mencari jalan keluar di tempat lain.”

Kuhubungi penjaga gedung dan kuceritakan kemalangan yang sedang kuhadapi.

“Ada dua perkara,” jawabnya ketus. “Pertama, aku tidak paham cara membongkar kunci, dan kedua, umpama aku bisa pun, aku emoh melakukannya. Tugasku membersihkan tempat ini, bukan melepaskan burung yang mencurigakan dari sangkarnya. Lagipula, Sampeyan tidak pernah luhur budi memberi uang tip.”

Kepalaku mulai didera rasa gugup yang hebat hingga kelakuanku berganti menjadi serangkaian tindakan sia-sia yang tidak masuk akal. Aku menyeduh secangkir kopi, mengisap sebatang rokok, duduk, berdiri lagi, melangkah mondar-mandir tanpa tujuan, membasuh tangan, lalu meneguk segelas air putih.

Seketika aku teringat pada Monica DiChiave. Aku memutar nomornya, menunggu sesaat, lalu terdengar suaranya di seberang sana.

“Monica,” kataku, merendahkan suara agar terdengar manis dan tanpa beban. “Bagaimana kabarmu? Sedang sibuk apa, Sayang?”

Jawabannya justru membuat hatiku bergetar kecut. “Jadi, kamu akhirnya ingat untuk menelepon? Aku bisa tahu betapa kamu sangat mencintaiku. Aku sama sekali tidak melihat bayangmu atau selembar rambutmu pun selama hampir dua minggu.”

Berdebat dengan perempuan berada di luar batas kemampuanku, terlebih dalam keadaan batin yang sedang runtuh dan terpojok seperti saat ini. Meski begitu, aku mencoba menjelaskan dengan cepat perkara yang sedang menimpaku. Aku tidak tahu dia memang tidak paham atau sengaja enggan mendengarkan penjelasanku. Kalimat terakhir yang dia ucapkan sebelum menutup telepon dengan keras hanyalah, “Aku bukan boneka mainan siapa pun.”

Kini aku terpaksa mengulang kembali serangkaian tindakan bodoh dan sia-sia untuk yang kedua kalinya.

Setelah itu aku menghubungi bank, berharap ada salah seorang rekan kerja bersedia datang membukakan pintu. Nasib baik sedang menjauh, aku justru tersambung dengan Enzo Paredes, seorang pelawak pandir yang amat kubenci.

“Jadi kamu tidak bisa keluar dari rumahmu sendiri?” serunya dengan nada yang teramat menjengkelkan. “Kamu memang tidak pernah kehabisan helah untuk mangkir kerja!”

Seketika aku didera oleh desakan amarah yang mirip hasrat hendak membunuh. Kututup telepon, lalu segera memutar nomor kembali guna meminta berbicara dengan Michelangelo Laporta, pria yang agaknya sedikit lebih cerdas. Benar saja, dia tampak menaruh perhatian untuk mencari jalan keluar. “Katakan padaku, apakah anak kuncinya atau rumah kuncinya yang patah?”

“Anak kuncinya.”

“Dan bagian yang patah tertinggal di dalam?”

“Separuh tertinggal di dalam,” jawabku, mulai merasa masygul oleh cecaran pertanyaan ini, “dan separuh lagi di luar.”

“Apakah kamu belum mencoba mengeluarkan potongan kecil yang tersangkut di dalam dengan obeng?”

“Tentu saja sudah kucoba, tetapi mustahil.”

“Oh. Kalau begitu perkara ini mengharuskanmu memanggil tukang kunci.”

“Aku sudah memanggilnya,” sahutku, menekan dongkol yang menyumbat kerongkongan, “tetapi mereka meminta upah di muka.”

“Ya sudah, bayar saja dia dan urusanmu selesai.”

“Namun, apa kamu tidak paham, aku sedang tidak memegang uang.”

Seketika dia mulai merasa jemu. “Kawan, Si Kerempeng, kamu benar-benar dirundung banyak masalah!”

Aku tidak sanggup menemukan jawaban dengan tangkas. Seharusnya aku meminjam uang padanya, tetapi ucapannya terlanjur membuatku linglung hingga kepalaku mendadak kosong.

Dan begitulah hari berganti malam.

Keesokan harinya aku bangun lebih pagi untuk mulai melakukan beberapa panggilan telepon lagi. Namun, sebuah kemalangan yang terbilang lumrah terjadi, aku mendapati mesin telepon rumahku mati total. Masalah baru yang tidak ada ujung pangkalnya kembali menghadang, bagaimana cara meminta bantuan layanan perbaikan tanpa ada telepon untuk menghubungi mereka?

Aku melangkah ke balkon lalu mulai berteriak kepada orang-orang yang melintas di Santa Fe Avenue. Kebisingan jalanan teramat pekak, mana mungkin ada yang mendengar suara orang menjerit dari lantai sepuluh? Paling-paling, sesekali ada pejalan kaki mendongakkan kepala dengan pandangan sekilas yang acuh tak acuh, lalu kembali melanjutkan langkah mereka.

Selanjutnya aku memasukkan lima lembar kertas dan empat lembar karbon ke dalam mesin tik, lalu menyusun baris kalimat berikut. “Nyonya atau Tuan, anak kunciku patah di dalam lubang pintu. Aku sudah terkurung selama dua hari. Tolong lakukan sesuatu untuk membebaskanku. Santa Fe 3653, Kamar Sewa 10-A.”

Aku melemparkan kelima lembar kertas melewati pagar balkon. Dari ketinggian setinggi ini, kemungkinannya amat kecil bagi kertas-kertas bisa jatuh lurus ke bawah. Terbawa oleh embusan angin liar yang mempermainkannya, lembaran kertas melayang-layang cukup lama. Tiga lembar mendarat di jalan raya, seketika terlindas dan menghitam oleh roda-roda kendaraan yang melintas tiada henti. Selembar lain hinggap di atas peneduh sebuah kedai. Namun lembar kelima jatuh tepat di trotoar. Secepat kilat, seorang pria bertubuh mungil memungutnya dan membaca tulisan di sana. Dia mendongak, menghalau silau matahari dengan tangan kiri. Aku memasang raut wajah paling ramah. Pria kecil merobek kertas menjadi serpihan-serpihan kecil, lalu dengan gerakan penuh amarah melemparkannya ke selokan.

Pendek kata, selama berminggu-minggu berikutnya aku terus melakukan segala macam ikhtiar. Ratusan surat kepasrahan kulemparkan dari balkon. Ada yang melayang tanpa pernah dibaca, sebagian lagi sempat dibaca namun dianggap angin lalu semata.

Suatu hari kulihat selembar amplop diselipkan di bawah pintu kamar sewa. Perusahaan telepon memutus saluran komunikasiku karena tunggakan pembayaran. Kemudian, berturut-turut, mereka memadamkan gas, aliran listrik, serta air bersih.

Mulanya aku menghabiskan persediaan makanan secara membabi buta, namun untunglah aku segera tersadar dari kekhilafan. Aku menata wadah-wadah kosong di balkon guna menampung berkah air hujan. Kucabut paksa tanaman-tanaman bungaku, lalu di atas tanah pot-pot kosong tumbuh benih tomat, miju-miju, dan sayuran lain yang kurawat dengan ketelatenan penuh kasih sayang. Namun tubuhku juga mendambakan protein hewani. Aku belajar memelihara serangga, laba-laba, dan binatang pengerat, membiarkan mereka berbiak dalam kurungan. Sesekali, aku berhasil menjebak seekor burung gereja atau merpati liar.

Di hari-hari yang benderang oleh matahari, aku berhasil menyalakan api bermodalkan kaca pembesar dan secarik kertas. Demi menjaga nyala api tetap hidup, perlahan kubakar buku-buku, perabot kayu, hingga papan lantai. Aku baru menyadari sebuah kebenaran tersembunyi, selalu ada terlalu banyak benda tak penting di dalam rumah.

Aku menjalani hidup dengan cukup tenteram, meski diriku kekurangan beberapa perkara. Umpamanya, aku tidak tahu lagi apa yang sedang terjadi di belahan dunia lain. Aku tidak membaca surat kabar, pun tidak bisa menyalakan televisi atau radio.

Dari atas balkon aku mengamati dunia luar dan mendapati beberapa perubahan. Pada satu waktu, trem-trem kota berhenti beroperasi. Aku tidak tahu sudah berapa lama hal itu berlalu. Aku telah kehilangan seluruh ingatan tentang bilangan hari, tetapi cermin, kepalaku yang botak, janggut putihku yang memanjang semampai, serta rasa nyeri yang menyerang persendian seolah berbisik menyampaikan kabar kalau aku sudah teramat tua.

Sebagai hiburan bagi batin, kubiarkan pikiranku mengembara bebas ke mana saja. Aku tidak lagi menyimpan rasa takut ataupun ambisi.

Pendek kata, aku merasa relatif bahagia.


메타데이터
post_id
e260ff3d9d91
slug
fernando-sorrentino-kehidupan-sehari-hari-e260ff3d9d91
url
https://medium.com/@naej/fernando-sorrentino-kehidupan-sehari-hari-e260ff3d9d91
canonical_url
https://medium.com/@naej/fernando-sorrentino-kehidupan-sehari-hari-e260ff3d9d91
author_url
https://medium.com/@naej
status
ok
fetched_at
2026-07-15 16:37:50