← Back to list

Kesempurnaan Memang Tak Pernah Jadi Milik Kami

Aku sudah membuatkanmu kopi, tapi kali ini kamu sedang mau minum teh hangat. Itu membuatku tak sempurna.

Foggy FF · 2026-02-04 13:05 · 1 claps · 2.0 min read
Open on Medium ↗

Kesempurnaan Memang Tak Pernah Jadi Milik Kami

Aku sudah membuatkanmu kopi, tapi kali ini kamu sedang mau minum teh hangat. Itu membuatku tak sempurna.

Aku melahirkan, menanggung nyeri yang bahkan kamu tak tahu bagaimana rasanya. Tapi, pencapaian perempuan bukan semata-mata tentang rasa sakit.

Aku menuntut banyak ilmu, agar bisa kamu puja. Tapi aku tak punya jabatan seperti yang kamu selalu banggakan.

Aku menjadi anak berbakti, perempuan yang tahu diri, kawan yang setia. Tapi tak semua anak seperti maumu yang membuat nama harum sampai ujung dunia.

Aku menggadaikan mimpi-mimpiku, satu per satu, demi dunia yang kamu anggap buana. Tapi lagi-lagi, itu tak menjadikanku makhluk luar biasa.

Aku menyimpan aibmu rapat-rapat, memuja seperti anjing penjaga, menyimpan seperti agen rahasia. Tapi itu tak menjadikanku berguna di mata sebuah relasi kuasa.

Aku bahkan menjadi “luar biasa” di mata masyarakat. Tapi itu tetap terasa biasa saja di mata para pemberi nilai.

Dalam banyak relasi heteroseksual, perempuan kerap ditempatkan dalam posisi yang paradoksal: dituntut untuk memenuhi berbagai peran sosial, emosional, dan domestik, namun tetap dinilai tidak pernah cukup. Ia dapat menjadi terpelajar, berbakti kepada orang tua, setia sebagai pasangan, produktif di ruang publik, dan patuh terhadap norma sosial — namun semua tidak serta-merta mengantarkannya pada pengakuan sebagai sosok yang “sempurna” di mata lelaki tertentu.

Fenomena ini bukan soal kegagalan individual perempuan, melainkan konsekuensi dari struktur relasi yang timpang. Dalam The Second Sex, Simone de Beauvoir menjelaskan bahwa perempuan dikonstruksikan sebagai the Other, subjek sekunder yang keberadaannya didefinisikan melalui relasinya dengan laki-laki. Nilai seorang perempuan, dengan demikian, bukan ditentukan oleh otonomi dirinya, melainkan oleh seberapa jauh ia berhasil memenuhi ekspektasi eksternal. Kesempurnaan bukanlah capaian, melainkan standar yang terus saja bertambah.

Di titik ini, apa pun yang dilakukan perempuan selalu berada dalam posisi evaluatif. Ketika ia menuntut ilmu, ia dipuja tetapi tetap tidak boleh “melampaui”. Ketika ia berkorban, pengorbanan itu dianggap tidak bersifat kodrati. Ketika ia menjaga reputasi dan aib, tindakan tersebut dipahami sebagai loyalitas, bukan sebagai kerja emosional yang layak untuk diakui. Bahkan ketika perempuan dipuji sebagai “luar biasa” oleh masyarakat, pujian itu sering kali tidak mengubah posisi tawarnya dalam relasi personal.

Kritik bell hooks terhadap patriarki membantu menjelaskan logika ini. Bell hooks menegaskan bahwa patriarki membentuk relasi yang menormalisasi dominasi dan menuntut perempuan untuk terus menyesuaikan diri, sembari membebaskan laki-laki tertentu dari kewajiban emosional. Dalam kerangka ini, cinta dan relasi kerap disamakan dengan kepatuhan, bukan kesetaraan. Ketidaksempurnaan perempuan menjadi narasi yang dipelihara agar struktur relasi tetap stabil.

Satirnya, semakin banyak peran yang dijalani perempuan, semakin besar kemungkinan ia dinilai tidak ideal. Kesempurnaan justru berfungsi sebagai konsep abstrak yang tak pernah dimaksudkan untuk dicapai, melainkan sebagai alat pendisiplinan dalam sebuah tatanan sosial. Dengan cara ini, perempuan terus bekerja — secara emosional, domestik, dan simbolik — tanpa pernah benar-benar diakui sebagai subjek yang utuh.

Maka, ketidaksempurnaan perempuan dalam pandangan lelaki tertentu dianggap biasa. Ia adalah hasil dari sistem yang sejak awal tidak dirancang untuk menganggap perempuan setara. Dalam konteks ini, menolak standar kesempurnaan tersebut dapat dibaca bukan sebagai kegagalan, melainkan sebagai tindakan kritis: sebuah upaya merebut kembali posisi sebagai subjek, bukan sekadar pelengkap dalam narasi orang lain.


메타데이터
post_id
e26560aff91f
slug
kesempurnaan-memang-tak-pernah-jadi-milik-kami-e26560aff91f
url
https://medium.com/@FoggyFF/kesempurnaan-memang-tak-pernah-jadi-milik-kami-e26560aff91f
canonical_url
https://medium.com/@FoggyFF/kesempurnaan-memang-tak-pernah-jadi-milik-kami-e26560aff91f
author_url
https://medium.com/@FoggyFF
status
ok
fetched_at
2026-07-13 06:23:13