Kesiangan sumber kelesuan
Pagi ini aku berniat menemui Mang Acuy, seorang pegiat seni di bilangan Bojongloa, Rancaekek. Sehari sebelumnya kami sudah sepakat untuk…
Kesiangan sumber kelesuan

THe Wind RIses (2013)
Pagi ini aku berniat menemui Mang Acuy, seorang pegiat seni di bilangan Bojongloa, Rancaekek. Sehari sebelumnya kami sudah sepakat untuk bertemu pukul sembilan pagi. Sialnya aku kesiangan karena mata ini baru istirahat selepas matahari terbit. Setelah membaca dua chapter novel ‘Ibunda’ karya Maxim Gorky, aku mengatur alarm pukul tujuh pagi. Seperti yang sudah-sudah, walaupun sudah mengatur alarm sebanyak tiga kali dengan jarak waktu 15 menit, mata ini menolak untuk bangun.
Akhirnya yang seharusnya pukul sembilan sudah sampai, aku baru tancap gas dari rumah. Sedangkan waktu tempuh menuju Bojongloa sekitar satu jam setengah, belum termasuk macet di cinunuk, lampu merah Kiaracondong, isi bensin, dan jenis berkendaraku yang jarang diatas 40 km/h. Sepanjang jalan aku menggerutu dalam hati, ‘payah sekali diriku ini, tepat waktu saja tak mampu’.
Ketika matahari sudah hampir tepat berada di atas kepala, aku baru sampai. Jam menandakan pukul sebelas kurang, artinya aku telat dua jam dari yang dijanjikan. Syukur Mang Acuy tidak terlalu mempermasalahkan. Pertemuan tetap berjalan menyenangkan karena sepanjang siang menuju sore, ia banyak bercerita tentang hal-hal yang baru aku ketahui.
Situasi seperti ini sering terjadi sejak bangku SMP dan semakin parah ketika Kuliah terutama di semester akhir. Kesiangan terasa semakin menguras emosi ketika berhubungan dengan institusi pendidikan yang mengutakmakan kedisipilinan. Sebab, sudah menahan rasa malu di muka teman-teman, ditambah dosen yang kerap secara sporadis ‘menyemprot’ dengan pedas.
Seringnya ketika bangun kesiangan hari itu secara otomatis menjadi berantakan. Rencana tidak terlaksana, emosi terkuras, mental terinjak. Karena kesiangan hari itu menjadi serba buru-buru, tidak dapat berpikir jernih, dan berakhir penyesalan. Aku makin percaya dengan yang dikatakan hegel, seorang filsuf yang kerap dikutip oleh mahasiswa aktivis semester awal, bahwa manusia tidak pernah belajar dari sejarah. Sedekat sejarah dirinya di bulan atau minggu kemarin.
Seperti penyakit ungu dalam film yuni, entah kapan penyakit kesianganku ini akan sembuh. Tiap tahun aku berusaha mempebaiki denga cara yang diajarkan oleh mereka yang melabelkan dirinya sebagai motivator atau penulis buku self-development. Senang bisa mempraktikannya di awal-awal, beberapa bulan setelahnya pasti ambyar, kembali ke stelan pabrik.
메타데이터
- post_id
- e27c75dc72da
- slug
- kesiangan-sumber-kelesuan-e27c75dc72da
- url
- https://medium.com/@arierpe/kesiangan-sumber-kelesuan-e27c75dc72da
- canonical_url
- https://medium.com/@arierpe/kesiangan-sumber-kelesuan-e27c75dc72da
- author_url
- https://medium.com/@arierpe
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-28 10:39:35