Menapak ke Baduy: Tentang Cukup, Sederhana, dan Hadir Sepenuhnya
Baduy, 30 Nov ‘24
Menapak ke Baduy: Tentang Cukup, Sederhana, dan Hadir Sepenuhnya

Baduy, 30 Nov-1 Dec ‘24
Perjalanan ini bermula dengan satu keputusan sederhana: ayo ke Baduy. Tidak ada bayangan rumit di kepala, kupikir akan seperti jalan santai di pedesaan biasa. Ternyata, aku keliru. Ke Baduy adalah track pertamaku yang rasanya seperti benar-benar mendaki gunung. Kami harus menempuh perjalanan kaki selama enam jam untuk sampai ke pemukiman mereka. Jalurnya menanjak, berliku, dan penuh kejutan. Tak heran, saat perjalanan pulang, kami (mayoritas rombongan) memutuskan mengambil jalur singkat — hanya dua jam — dan tetap saja rasanya seperti maraton. Maklum, anak indoor yang tiba-tiba ngeBaduy. Dari sekian banyak rombongan, aku menjadi orang terakhir yang tiba di pos. Tapi di sanalah aku belajar bahwa tidak ada yang salah dengan berjalan lambat, selama kita terus melangkah.
Sejak kecil, kita dibesarkan dengan doktrin yang sama: maju, jadi nomor satu, kejar lebih tinggi, capai lebih jauh, miliki lebih banyak. Namun jarang sekali kita diajak berhenti dan bertanya, “Sebenarnya, kapan ‘cukup’ itu cukup?” Pertanyaan sederhana ini justru mengemuka di tengah lelahnya kaki dan napas yang tersengal, ketika menyaksikan cara hidup masyarakat Baduy yang sama sekali berbeda dengan apa yang kukenal.
Berada di tengah komunitas yang hidup tanpa listrik, tanpa internet, tanpa hiruk pikuk modernitas, justru menghadirkan rasa tenteram yang jarang kutemukan di kota. Mereka tidak merasa kekurangan. Mereka yakin semua yang dibutuhkan sudah tersedia: tanah yang mereka jaga, air yang mereka pelihara, dan kebersamaan yang mereka rawat. Kesederhanaan itu membuatku merenung: mungkinkah kita yang menyebut diri ‘maju’ ini justru yang paling rakus dan paling lelah?
Satu hal yang paling terasa adalah saat di perbatasan antar Baduy Luar dan Dalam, kami harus segera menonaktifkan gawai dan kamera. Di Baduy Dalam, tidak ada sinyal. Tidak ada foto yang bisa diambil atau pun diunggah, tidak ada pesan yang bisa dibalas. Awalnya terasa canggung, seperti kehilangan tangan kanan yang tiap bertemu hal indah ingin segera mengabadikan dan membagikan (ke dunia maya). Namun, perlahan rasa itu berganti menjadi kelegaan. Kami bisa duduk menatap langit tanpa ingin merekamnya, mampu bertukar dan mendengarkan cerita tanpa tergoda melihat layar. Saat makan bersama, tidak ada yang sibuk dengan gawai, semua benar-benar hadir. Boleh jadi, yang kita rindukan bukan liburan atau pemandangan indah, melainkan kebebasan dari tuntutan untuk selalu ‘terhubung’ — yang ironisnya, sering kali hanya sebatas interaksi permukaan, bukan koneksi sungguhan.
Bermalam di Baduy menarikku pada memori masa kecil saat ‘pulang kampung’ (dari Pekanbaru) ke Teluk Kuantan (yang saat ini dikenal karena Pacu Jalur yang sedang viral — aahh aku jadi ingin mengulang rutinitas nonton pacu!) yang butuh jarak tempuh empat jam. Kalau mau mandi, kami harus ke sungai karena di rumah (yang masih rumah panggung kayu itu) tidak ada kamar mandi. Ingat betul, kami berjalan sesubuh mungkin — dengan menenteng gayung berisi perlatan mandi — agar saat tiba di sungai masih gelap dan tidak kelihatan orang. Lalu perlu turun sedikit untuk menuju rakitnya. Belum lagi tidur berjejer ramai di rumah kayu tanpa sekat itu, yang benar-benar memanggil rasa rinduku pada kampung halaman.
Aku sempat mendengar bahwa anak-anak Baduy tidak mengenyam pendidikan formal. Pengetahuan mereka terbatas pada hal-hal praktis: berhitung untuk berdagang, keterampilan untuk hidup sehari-hari. Sempat terlintas penyesalan di kepalaku — karena kelelahan, aku tidak sempat memantik percakapan dengan mereka, membagi sesuatu yang mungkin terasa baru bagi mereka. Andai sempat, mungkinkah mereka mendengarkan dengan mata berbinar, seperti menerima hadiah yang tidak mereka sangka? Aku sadar, sering kali, hal yang bagi kita tampak sepele bisa sangat berharga bagi orang lain.
Modernitas sering datang sebagai ‘bantuan’ yang tak diminta. Kita pikir teknologi dan inovasi selalu membawa kemajuan, padahal tidak semua orang menginginkannya atau membutuhkannya. Bukankah sering kali yang kita sebut ‘kemajuan’ justru bentuk kesombongan — memaksakan standar hidup menurut kacamata kita? Tapi kadang aku khawatir, lambat laun, kesederhanaan masyarakat Baduy akan terkikis. Mungkin saja.. saat mereka berjalan kaki berhari-hari untuk sekadar ‘berlibur’ ke kota, lalu kembali membawa potongan cerita dunia luar yang ramai itu.
Namun, pelajaran terbesar dari Baduy adalah, hidup tak perlu terburu-buru untuk terasa penuh. Yang lebih penting bukan seberapa cepat kita melangkah, tetapi seberapa hadir kita dalam setiap langkah itu. Kadang, yang pelan dan lambat itu justru melekat.
‘Cukup’ bukan berarti berhenti berusaha, melainkan memahami batas dan merayakan yang ada. Kebahagiaan sejati, agaknya, lahir dari kesadaran akan ketercukupan, bukan dari ilusi tanpa ujung bernama ‘lebih’.
Aku bisa paham mengapa bapak-bapak yang duduk di belakangku saat perjalanan ke Lebak itu sudah delapan kali ke Baduy. Ia menapak ke Baduy setiap akhir pekan, untuk bertemu Cukup, Sederhana, dan Hadir Sepenuhnya.
메타데이터
- post_id
- e28a516ffdfe
- slug
- menapak-ke-baduy-tentang-cukup-sederhana-dan-hadir-sepenuhnya-e28a516ffdfe
- url
- https://medium.com/@putrriiiii/menapak-ke-baduy-tentang-cukup-sederhana-dan-hadir-sepenuhnya-e28a516ffdfe
- canonical_url
- https://medium.com/@putrriiiii/menapak-ke-baduy-tentang-cukup-sederhana-dan-hadir-sepenuhnya-e28a516ffdfe
- author_url
- https://medium.com/@putrriiiii
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-28 10:39:35