← Back to list

Ambisi Sewaktu Kecil (Day 30)

Tadinya ragu mau nulis tentang topik ini karena mendadak lupa apa aja ambisi yang pernah aku punya waktu kecil. Jadinya nyarger hp bentar…

jam22wib · 2022-08-20 13:30 · 0 claps · 1.8 min read
#30haribercerita #30-day-challenge #30daywritingchallenge #30dayswritingchallenge #cerpen
Open on Medium ↗
Wiki topics: RAG · RAG & Retrieval

Ambisi Sewaktu Kecil (Day 30)

Tadinya ragu mau nulis tentang topik ini karena mendadak lupa apa aja ambisi yang pernah aku punya waktu kecil. Jadinya nyarger hp bentar terus hidupin laptop. Sambil nunggu, akhirnya keluar kamar dan minum air segelas ke dapur. Balik lagi sekarang ke kamar dan setelah baca blog day 30 dari Kak Kevin Anggara baru inget tentang satu tempat di mana ambisi itu pernah terpikirkan, namanya Muara.

Muara yang aku mau ceritain ini kalau menurut Wikipedia adalah kecamatan di Kabupaten Tapanuli Utara, Provinsi Sumatra Utara. Sebagai orang Batak, marga itu pasti punya kampungnya sendiri dari mana berasal. Muara menjadi kampung asal dari marga Siregar yang merupakan marga dari pihak Ibu, termasuk Kakek atau aku sebut Opung Regar.

Sewaktu aku kecil, beberapa kali pernah ikut ke Muara untuk menghadiri acara adat seperti pesta pernikahan dan lainnya. Meski Opung Regar udah almarhum, silaturahmi dalam keluarga Batak tetap berusaha dipertahankan dan dijaga. Ini termasuk mengajak anak dan cucu untuk pulang kampung mengunjungi keluarga. Dari Medan ke Muara pada masa dulu SD seingetku bisa 7 jam lebih. Tapi kalau udah sampe di sana, melihat pemandangan pinggiran Danau Toba yang masih kelihatan sampai ke Muara jadi pemandangan Indah.

Balik lagi bahas ke ambisi. Muara itu sebuah kecamatan yang pada saat masa itu belum banyak yang berinverstasi ke penginapan hotel yang baik dan nyaman. Saat mengetahui ada satu hotel baru yang memiliki akses berenang langsung ke pinggiran Danau Toba jadi penyemangat, sekaligus kemajuan perlahan-lahan di Muara menurut kami untuk bisa berwisata dan menginap.

Gara-gara hotel yang pada masa itu kayaknya paling besar dan fasilitasnya baik ada di kampung halaman Opung Regar, jadi inspirasi aku pengen bisa bangun hotel yang bisa jadi tempat wisata di daerah-daerah. Apalagi dengan ada penginapan seperti itu saat aku SD, jarak ke rumah saudara juga jadi tidak terlalu jauh dan kami bisa mengunjungi ke berbagai rumah keluarga yang masih di sekitaran atau dekat dari hotel. Gak perlu harus menginap ke Kabupaten atau keluar dari wilayah Muara.

Memoriku sewaktu kecil bermain di pinggiran Danau Toba saat pagi yang airnya dingin banget masih berasa perasaan excitednya. Bolak-balik dari kolam renang yang airnya langsung dari danau ke meja dan kursi menghadap kolam untuk nikmatin sarapan. Situasi ini terjadi di saat anak-anak yang masih pengen nikmatin kolam tapi disuruh harus makan di saat bersamaan. Hotel itu ngebuat ambisi aku sewaktu kecil untuk jadi pengusaha yang bisa ngebangun hotel di pinggiran Danau Toba. Sekarang ternyata cita-citaku bukan itu lagi. Menyenangkan emang kalau ingat masa anak-anak yang mayoritas pikirannya fokus ke hal yang senang-senang aja. Sekarang gak berasa udah 2021, udah lama gak liburan ke Danau Toba dan ke Muara juga. Kalau sekarang belum bisa wujudin mimpi ambisius masa kecil. Satu yang pasti, Muara tetap punya banyak cerita sebagai awal mimpi seorang anak perempuan. Itu aku orangnya.

08 Desember 2021


메타데이터
post_id
e2a9b3f31337
slug
ambisi-sewaktu-kecil-day-30-e2a9b3f31337
url
https://medium.com/@jam22wib/ambisi-sewaktu-kecil-day-30-e2a9b3f31337
canonical_url
https://medium.com/@jam22wib/ambisi-sewaktu-kecil-day-30-e2a9b3f31337
author_url
https://medium.com/@jam22wib
status
ok
fetched_at
2026-07-26 18:22:07