Cerita Tembakau dan Menstruasi
Berada ditengah hamparan ladang tembakau pernah saya lakoni dengan perasaan was-was. Bagaimana tidak ? Para petani percaya bahwa perempuan…
Cerita Tembakau dan Menstruasi
Berada ditengah hamparan ladang tembakau pernah saya lakoni dengan perasaan was-was. Bagaimana tidak ? Para petani percaya bahwa perempuan yang tengah menstruasi akan membuat tanaman tembakau mengalami puroken yang dapat menghancurkan panen.
Oleh: Anita Wiryo Rahardjo
Para petani yang didominasi laki-laki usia produktif tampak asyik berbagi resep dengan sebagian kami. Menyadari sedikit kebosanan saya yang tak mampu menyelami obrolan tersebut, mereka bersepakat mengajak jalan-jalan ke ladang tembakau di kaki Gunung Slamet Kutabawa, Purbalingga -Jawa Tengah.

gambar diunduh dari wikipedia
Hanya beberapa langkah saja dari pintu belakang rumah, deretan pucuk tembakau tampak berkilau. Langit akhir pagi memang selalu terlihat lebih biru pada setiap kemarau. Menawarkan gambaran hasil panen yang menguntungkan.
Sembari menghidu aroma daun, mata saya berkeliling. Tetap saja, sampai di ladang saya masih perempuan seorangan. Selintas saya menangkap istri si pemilik rumah tersenyum di dapur. Tak bicara, hanya melambaikan tangan menawarkan masuk. Saya menolak menandakan bukan masalah besar sendirian ditengah suasana panas terik bersama para lelaki.
"Ini kalau ada wanita datang bulan lewat, wah bisa gagal panen saya", ujar salah satu dari mereka saat kami berkomentar akan dedaunan yang lebar-lebar tersebut. "Nggak tahu kenapa jadi pada (mengalami) puroken", lanjutnya dalam bahasa Indonesia dialek Banyumasan yang kental.
Hama Tanaman
Puroken merupakan istilah lokal masyarakat Kutabawa yang ditandai dengan munculnya bercak bercak merah kecokelatan pada daun tembakau. Kadangkala disebut krasak. Suatu agen penyakit yang tak hanya menyebabkan penurunan kualitas namun juga gagal panen. Kondisi serupa yang sepertinya juga banyak menyerang tanaman kentang maupun tomat.
Beberapa informasi tergali berdasar dugaan. Tembakau rawan terserang hama jamur maupun bakteri. Sama-sama memberi gejala berupa kemunculan bercak pada daun. Warna dan bentuk bercak yang beragam mengindikasi penyebabnya.
Alternaria alternata menjadi salah satu jamur yang cukup dimusuhi petani tembakau di banyak negara. Begitupun dengan bakteri Pseudomonas syringae pv. tabaci serta Pseudomonas syringae pv. angulata. Namun, belum ada informasi keduanya berkaitan dengan puroken ini. Satu yang pasti, jenis tersebut patogen terhadap tanaman. Ingat, tanaman. Jadi tidak satu server dengan Candida maupun Chlamydia yang menyerang organ reproduksi. Lalu mengapa menstruasi perempuan yang menjadi alasan ?
Mitos
Pedoman lisan yang terlanjur berlaku sepertinya kurang mendapat pembaruan. Memang mitos dan mispersepsi perempuan menstruasi menyebabkan kematian tanaman berlaku secara global. Bukan hanya di sudut kecil di kaki Gunung Slamet saja, masyarakat Asia Tenggara bahkan Afrika dan Eropa pun cenderung serupa. Dikatakan menyentuh bunga saat menstruasi mengakibatkan bunga mati lebih cepat. Dan sejenisnya.
Photo by Kyle Barr on Unsplash
Banyak pendapat modern yang menyebutkan jika kejadian yang dikaitkan dengan menstruasi sebenarnya berasal dari sanitasi yang kurang baik di masa silam. Kelangkaan pembalut, air bersih hingga asupan gizi memadai berdampak pengucilan perempuan. Sehingga kehadirannya dianggap membawa petaka.
Logis sih, jika kebersihan kita berpengaruh pada pengolahan makanan. Misalnya pengolahan tapai. Tanpa menstruasi pun jika benar-benar tidak bersih (sampai ke pembuatnya) sulit mendapat hasil tapai yang bagus kok. Tapi bagaimana dengan tanaman ? Mengingat organisme yang menyerang tanaman dan manusia itu berbeda. Ataukah unsur "tanaman" hanya merupakan kiasan ?
Menstruasi pada dasarnya merupakan proses peluruhan dinding rahim yang menandakan tak ada kehamilan yang berhasil. Dan mungkin saja kan pucuk daun maupun bunga adalah simbol kiasan hasil pembuahan dalam rahim ? Bukankah sebagian besar kita kerap melambangkan siklus kehidupan baru dengan bunga atau daun ? Dan menstruasi memang pertanda "kematian" pada calon kehidupan (janin). Bisa jadi mitos tersebut memang makna tersirat yang (sayangnya) terlanjur kita artikan tersurat bukan ?
Rasanya puroken pun demikian, tak tersangkut paut dengan siklus perempuan. Karena beberapa bulan berselang saat saya menyempatkan bertanya pada si empunya lahan, dengan bangga ia menjawab, "Alhamdulillah Mbak, panen kemaren bagus semua". Ketika saya bertanya adakah yang terserang puroken, ia menggeleng mantap. "Saya sedang haid saat di ladang dulu", kata saya sembari membiarkan keterkejutannya menguap bersama asap yang ia hembuskan.
Sumber :
- Buku “Tembakau di Purbalingga : Sejarah dan Perkembangannya” (2019)
- Wawancara dengan Fahrudin dan kawan-kawan petani tembakau Kutabawa (2019)
메타데이터
- post_id
- e2aca87fa03f
- slug
- cerita-tembakau-dan-menstruasi-e2aca87fa03f
- url
- https://medium.com/@kaaita.9/cerita-tembakau-dan-menstruasi-e2aca87fa03f
- canonical_url
- https://medium.com/@kaaita.9/cerita-tembakau-dan-menstruasi-e2aca87fa03f
- author_url
- https://medium.com/@kaaita.9
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-14 19:44:39