When Feelings Are Calculated by Percentage: When Hope Is Left at 30%
When my friend at group tagged me and said, “I hope you submit the document this month, Andrew, and get the best result on that exam. I…
When Feelings Are Calculated by Percentage: When Hope Is Left at 30%

Source Image Freepik.com
When my friend at group tagged me and said, “I hope you submit the document this month, Andrew, and get the best result on that exam. I know you can do that hahaha.”
And in my brain it sounds more like a burden than motivation, also when I came to the office today feeling blue lol. Then my senior throws a joke like, “Andrew sahur — sahur apa yang lucu?” “Sahurrr asem.” Lol, Hahaha, I laugh for a moment and then focus on my laptop again. 😅😅😅
I have a lot of deadlines this month, but my brain can’t focus lately. I keep thinking about someone outside that was close with me for this one year. Let me tell you this story:
Di Antara Iman, Realita, dan Perasaan yang Tidak Sederhana
Di sebuah kota yang hiruk-pikuknya akrab dengan ritme kerja dan rutinitas, ada seorang pria muda di usia akhir 20-an yang menjalani hidup dengan penuh kehati-hatian. Pekerjaannya cukup stabil, ia bergelut di dunia perbankan, meski statusnya belum sepenuhnya mapan. Setiap hari, ia belajar tentang angka, tanggung jawab, dan tekanan profesional. Namun, di luar jam kerja, ia menyimpan satu hal yang jauh lebih rumit dari laporan — laporan kantor: perasaan yang tidak seharusnya. 😩😩😩
Perasaan itu tertuju pada seorang perempuan yang dekat dengannya satu tahun belakangan ini. Perempuan ini tumbuh dalam lingkungan yang sangat mapan; bukan hanya secara ekonomi, tetapi juga secara nilai dan kepercayaan. Keluarganya dikenal, dihormati, dan memiliki posisi penting dalam masyarakat. Hidupnya rapi, terarah, dan nyaris tanpa cela di mata sosial.
Keduanya hidup di negara yang sama, berbagi bahasa dan budaya, namun berada di persimpangan realitas yang berbeda. Hubungan mereka atau ya lebih tepatnya, potensi hubungan mereka, tidak berdiri di ruang hampa. Ada lapisan-lapisan tak kasat mata yang membungkus kemungkinan itu: iman, status sosial, ekspektasi keluarga, dan cara masyarakat memandang “kesesuaian”.
Pria itu menyadari satu hal sejak awal: perasaannya tulus, tetapi situasinya tidak sederhana. Ia membawa identitas yang tidak selalu mudah dipahami oleh semua orang, terutama di lingkungan yang sangat menjunjung nilai tradisional. Sementara perempuan itu hidup dalam lingkaran yang nyaris tidak memberi ruang untuk penyimpangan dari norma yang sudah lama dipegang. 😢
Pertanyaannya selanjutnya adalah bukan sekadar “Apakah ada rasa ?” melainkan “Apakah ada ruang ?”
Pria itu sudah hidup dengan risiko sosial sejak lama sedangkan perempuan yang disukainya itu mungkin baru akan memulai hidup penuh konflik jika memilih pria tersebut. 😢😢😢
Secara emosional, potensi itu ada. Keduanya sama-sama dewasa, memiliki empati, dan mampu berdialog secara terbuka. Usia bukan penghalang, bahkan justru menjadi kelebihan karena keduanya sudah melewati fase pencarian jati diri yang paling liar. Kesamaan nilai dasar tentang komitmen, kerja keras, dan spiritualitas juga bisa menjadi jembatan.
Namun ketika realita ditarik ke permukaan, tantangannya jauh lebih besar daripada sekadar perbedaan karakter. Faktor keluarga menjadi tembok paling kokoh. Latar belakang yang sangat religius dan terpandang sering kali membawa ekspektasi tinggi terhadap pasangan hidup: bukan hanya soal cinta, tetapi juga citra, peran sosial, dan penerimaan komunitas. Di sisi lain, kondisi ekonomi dan status pekerjaan pria tersebut belum cukup kuat untuk menyeimbangkan ekspektasi itu.
Belum lagi tekanan sosial yang sering kali tidak diucapkan secara langsung, tetapi terasa nyata. Pandangan lingkungan, bisik-bisik, hingga kekhawatiran akan masa depan membuat hubungan ini tidak bisa berjalan hanya dengan modal “saling suka”.
Jika semua faktor ditimbang secara jujur dan rasional: perasaan, realita sosial, keluarga, iman, dan kondisi hidup saat ini, maka potensi hubungan ini untuk benar-benar berjalan ke arah serius berada di angka yang rendah. Kesimpulan paling realistis menunjukkan kemungkinan keberhasilan hanya sekitar 30%.
Angka itu tidak kecil, tapi juga terlalu kecil untuk disebut harapan yang aman. 30% adalah kemungkinan yang menggantung, cukup besar untuk membuat mereka bertahan, tapi terlalu rapuh untuk dijadikan sandaran.
- 30% berarti masih ada celah.
- 30% berarti masih ada “bagaimana jika”.
- 30% berarti belum sepenuhnya kalah.
Sementara sisanya, 70% terus berdiri seperti tembok tinggi yang tidak pernah runtuh. Tembok itu dibangun dari banyak hal: latar belakang keluarga, posisi sosial, keyakinan yang tidak hanya dianut tapi juga dijaga nama baiknya. Dan tentu saja, dari diri pria itu sendiri, dari identitas yang sering kali lebih dulu dihakimi sebelum sempat dipahami.
Dia tahu, cinta bukan hanya tentang dua orang yang saling suka. Ia juga tentang dua kehidupan yang bisa saling menerima, dua masa depan yang bisa disandingkan tanpa harus ada yang disembunyikan. Dan di situlah dia sering kalah bahkan sebelum melangkah.
Dia bukan tidak percaya pada Tuhan. Justru karena percaya, dia paham bahwa tidak semua doa dijawab dengan “iya”. Beberapa dijawab dengan “cukup sampai di sini”. Dan beberapa lainnya hanya dijawab dengan keheningan yang panjang.
Kadang dia membayangkan versi hidup di mana angka itu lebih besar. Di mana kemungkinan mereka bukan sekadar 30%, tapi setidaknya setengah, 50% ehm, cukup adil untuk diperjuangkan tanpa rasa bersalah. Tapi kenyataan selalu mengingatkanknya bahwa hidup bukan simulasi statistik. Ia nyata, keras, dan tidak selalu memberi ruang bagi yang berbeda.
Dia tetap menjalani hari-hari seperti biasa. Tetap bekerja, tetap tersenyum, tetap menyebut namanya dalam doa dengan cara yang paling aman. Tidak meminta untuk memiliki: hanya meminta agar perasaan ini tidak berubah menjadi penyesalan.
Karena mencintai dengan peluang 30% adalah tentang bertahan di batas. Tidak melangkah terlalu jauh, tapi juga tidak sepenuhnya mundur dan menerima bahwa kemungkinan kecil pun tetaplah kemungkinan, serta tidak semua perasaan ditakdirkan untuk diperjuangkan sampai akhir.
Dan di situlah kedewasaan diuji, bukan hanya dengan harapan, tetapi juga dengan keberanian untuk bersikap realistis terhadap kebenaran.
This article was created with the help of an AI machine with some revision.
메타데이터
- post_id
- e2ad9e9c494d
- slug
- when-feelings-are-calculated-by-percentage-when-hope-is-left-at-30-e2ad9e9c494d
- url
- https://medium.com/@alfred132geraldy/when-feelings-are-calculated-by-percentage-when-hope-is-left-at-30-e2ad9e9c494d
- canonical_url
- https://medium.com/@alfred132geraldy/when-feelings-are-calculated-by-percentage-when-hope-is-left-at-30-e2ad9e9c494d
- author_url
- https://medium.com/@alfred132geraldy
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-17 08:20:12