Diam Demi Nama Baik atau Berpihak Pada Korban?
Beberapa hari ini linimasa warga (ng)Alengka geger. Berita Rama dan pasukan wanaranya siap menyerbu Istana Kerajaan sudah sampai ke telinga…
Diam Demi Nama Baik atau Berpihak Pada Korban?
Photo by Rayees Khan on Unsplash
Beberapa hari ini linimasa warga (ng)Alengka geger. Berita Rama dan pasukan wanaranya siap menyerbu Istana Kerajaan sudah sampai ke telinga warganet mereka. Berita sepenting itu bisa bocor karena ternyata ada seorang wanara yang tidak sengaja upload story pengerjaan jembatan. Waktu ditegur mandornya, dia cuma bilang “maaf bos, niatnya mau upload di close friend tapi kepencet”.
Awal Mula Perkara
Sementara warga gempar, di grup para koruptor eh maaf maksudnya di dewan penasihat raja juga tidak kalah ramai. Sebenarnya jauh-jauh hari sebelum ini mereka sudah tau kalau bakal ramai. Pasalnya raja mereka telah melakukan perbuatan yang melanggar norma sosial. Memang benar bahwa Rahwana tidak habis melecehkan perempuan, tapi apa yang dia lakukan jauh lebih bahaya…
DIA MENCULIK ISTRI ORANG!!!
Dan bukan sembarang istri orang, yang diculik itu Sinta istri Rama, putra terkasih Prabu Dasarata dari Ayodya. “Wah repot”, ucap seorang anggota dewan. Karena kebetulan kejadiannya di hari minggu, maka bahasan di grup whats, eh di waktu rapat hari senin memanas.
Ada yang setuju-setuju saja sama tindakan rajanya, ada yang no comment, ada yang langsung mengerahkan buzzer untuk menenggelamkan kritik. Kritik=Antek Soros, begitu isi brief dari Kakak Pembina Buzzer. Tapi kecaman paling keras ternyata justru datang dari kedua adik Rahwana.
“Jangan sembarangan gitu dong! Yang mau sama kakak juga banyak, Kenapa sih harus bawa pulang istri orang. Ayo buruan dipulangin aja terus minta maaf!!!”
Kumbakarna naik pitam karena tidurnya terganggu karena masalah yang sebenarnya bisa dihindari ini.
Ucapan Kumbakarna didukung oleh Wibisana, “Iya kak, udah balikin aja Sinta ke Rama. Toh Sinta ga bakal mau sama kakak”. Tak lupa diimbuhi hehe biar sopan.
Usaha mereka menyadarkan Rahwana sebelum masalah sampai ke telinga publik ternyata gagal. Rahwana kekeh pada pendiriannya. Nasi sudah menjadi bubur, tidak bisa jadi nasi goreng. Ketika berita pasukan Rama semakin mendekat akhirnya diadakan rapat lagi.
Diantara Pilihan Sulit
Sekarang pilihannya tinggal dua, mau kekeh berpihak pada korban atau pura-pura buta demi menjaga nama baik komunitas kerajaan yang dampaknya secara tidak langsung akan melindungi pelaku yang masih satu sirkel
Tidak mengejutkan ketika ternyata dari sekian banyak yang hadir dalam rapat hanya Wibisana yang memilih opsi pertama.
Dengan berat hati dia berkata “Kakakku yang ku sayangi.. maaf banget nih maaf banget. Walaupun aku tau aku sejak kecil besar dari uang negara, tapi aku sudah bersumpah kalau ada kasus KS aku bakal berpihak pada korban. Aku bakal bantu advokasi korban, bahkan kalau kakak ngotot nahan Sinta di sini aku bakal pergi bantu Rama buat merebut istrinya kembali”.
Karena Rahwana memang batu akhirnya Wibisana benar-benar pergi bergabung ke pihak Rama.
Kumbakarna yang di awal sangat vokal menyuarakan kepentingan korban rupanya memilih jalan lain. “Ya sudah, kalau memang ini keputusan kakak. Jika hukuman dari dewata dalam wujud Rama datang, aku tidak akan melindungi kakak . Tapi jujur aku sayang Alengka, aku tidak rela nama baik Alengka hancur karena ulah kakak. Makanya aku tidak akan koar-koar ke warga, hal ini tetap akan jadi rahasia internal. Kakak juga tenang saja, jika ada yang mau memanfaatkan momen ini untuk menjelek-jelekkan Alengka apalagi mau merusak, semua bakal berhadapan langsung denganku”. Sementara yang lain tidak berani bersuara.
Tentang Sebuah Pilihan
Kasus serupa sebenarnya lazim terjadi hingga masa sekarang. Tidak jarang kita dihadapkan pada pilihan sulit menjaga nama baik institusi kita atau teguh berpihak kepada korban. Bagai buah simalakama, semua pilihan yang diambil seakan mengorbankan pilihan yang lain.
Pada akhirnya tindakan Rahwana menyeret Alengka dan warganya menuju kehancuran. Nama baik yang coba dijaga Kumbakarna hanya tinggal kenangan seiring hembusan nafas terakhirnya. Mungkin juga Wibisana melihat potensi keuntungan yang lebih besar dengan bergabung ke pihak Rama.
Nama Kumbakarna mungkin diabadikan dalam Serat Tripama sebagai teladan pahlawan, begitu juga Wibisana mungkin juga dikenang sebagai pengkhianat bangsanya. Tapi di masa sekarang siapa nama yang masih kamu lihat digunakan? Apa kamu pernah bertemu orang dengan nama Kumbakarna?
메타데이터
- post_id
- e2b44634de9f
- slug
- diam-demi-nama-baik-atau-berpihak-pada-korban-e2b44634de9f
- url
- https://medium.com/komunitas-blogger-m/diam-demi-nama-baik-atau-berpihak-pada-korban-e2b44634de9f
- canonical_url
- https://medium.com/komunitas-blogger-m/diam-demi-nama-baik-atau-berpihak-pada-korban-e2b44634de9f
- author_url
- https://medium.com/@lenterafm
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-11 10:54:37