Kedewasaan Kupi
Kupi berpikir lebih lanjut tentang kedewasaan.
Kedewasaan Kupi
Kupi berpikir lebih lanjut tentang kedewasaan.
Kedewasaan seperti apa yang sebenarnya diimpikan orang-orang darinya? Apakah ilegal jika memahami logika hidup sambil tetap menggambar gajah dalam perut boa? Apakah ia perlu mengganti ransel hitam kebesaran dengan tas tangan kemerahan? Apakah ia harus duduk tenang alih-alih berbinar saat mendengarmu bicara?

Dari bagian awal buku Le Petit Prince, menjadi simbol perbedaan cara pandang antara anak-anak dan orang dewasa
Perahu dan Sawi
Hal pertama yang menyeberang di benak Kupi adalah: kedewasaan diperoleh dari pengalaman. Pengalaman setiap orang berbeda, maka bentuk kedewasaan mereka pun jadi berbeda.
Seseorang yang berpengalaman naik perahu tentu lebih dewasa dalam hal itu. Namun, bukan berarti orang yang belum pernah naik perahu tidak dewasa. Ia mungkin lebih dewasa dalam menanam sawi.
Apakah seseorang harus merasakan naik perahu dulu agar bisa menjadi dewasa dalam menaiki perahu? Tidak selalu. Ia bisa saja tetap bijak dengan mempelajari mata angin dan tata-cara-menghindari-hiu. Kalau begitu, kedewasaan tidak hanya diperoleh dari pengalaman, tapi dari belajar dan mencari tahu.

Hikmah
Sambil merapikan sepetak padang rumput yang akan dipakai untuk kegiatan membaca bersama, Kupi mengingat sepenggal kalimat dari surat Tuhan.
Tuhan menganugerahkan hikmah kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakal yang dapat mengambil pelajaran.
Kedewasaan mestinya berteman dengan keterbukaan terhadap tanda-tanda, supaya akalnya jadi bercahaya seperti bintang-bintang. Karena ia bercahaya maka Tuhan memberikan hikmah yang dimaknai sebagai pemahaman, ketepatan dalam berpikir dan bertindak, kemampuan menempatkan sesuatu pada tempatnya, hingga lantas menjadi baik untuk dirinya dan orang lain.
Tidak semua orang mampu mengambil atau menerima pelajaran dari hikmah, kecuali mereka yang disebut ulul albab, yaitu orang-orang yang memiliki akal sehat dan hati yang terang. Kalau begitu, tolok ukur kedewasaan adalah dapat meminang hikmah demi hikmah.

Albab
Kupi menggambar gajah lagi, kali ini sudah keluar dari perut boa (si boa sadar ia bersikap kelewat batas) dan sudah diberi nama.
Albab si Gajah tersenyum karena tidak perlu terkurung dalam perut boa dan dalam pikirannya sendiri. Ia berderap pergi dengan mawas diri, tahu bahwa ia telah melewati banyak pembelajaran menuju pembelajaran yang lain.
Melanjutkannya, mungkin belajar naik perahu atau menanam sawi.
메타데이터
- post_id
- e2bebc62e596
- slug
- kedewasaan-kupi-e2bebc62e596
- url
- https://medium.com/@whimsywriteswisely/kedewasaan-kupi-e2bebc62e596
- canonical_url
- https://medium.com/@whimsywriteswisely/kedewasaan-kupi-e2bebc62e596
- author_url
- https://medium.com/@whimsywriteswisely
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-25 16:53:31