Ziarah Tari Pada Presentasi Permformatif di Artistic Development DKJ 2023
Sabtu malam itu menjadi hari yang sangat menyenangkan. 10 orang seniman dari berbagai disiplin mempresentasikan perkembangan artistik…
Ziarah Tari Pada Presentasi Permformatif di Artistic Development DKJ 2023
Sabtu malam itu menjadi hari yang sangat menyenangkan. 10 orang seniman dari berbagai disiplin mempresentasikan perkembangan artistik mereka setelah mengikuti workshop selama 10 hari yang diampu oleh Taufik Darwis. Acara ini sangat menyenangkan dan membuka perspektif baru yang menarik bagi saya.
MC atau pembawa acara menjadi penyabung gagasan presentasi dari satu seniman ke seniman lain. Perjalanan ini nampak seperti sebuah ziarah dalam menelisik ide koreografi yang baru. Sama seperti gender yang semakin cair, para seniman mencoba memberikan penawaran koreografi yang spektrumnya semakin rumit untuk didefenisikan.

Pertunjukan dibuka dengan demo memasak dari Jacko di kantin samping Teater Wahyu Sihombing. Dalam performansnya, saya membayangkan bagaimana koregrafi yang terbentuk dari makanan. Tubuh performer nampak harus berusaha keras untuk mecari rejeki, menghidupi dirinya sendiri, dan lingkungan sekitarnya. Ditemani lagu Armada yang berjudul Pergi Pagi Pulang Pagi, tubuh seolah-olah terkoreografi dengan latar belakang pekerjaan dan lingkungannya.

Bergeser mendekati ruang teater Wahyu Sihombing, Rheza menjelaskan konsep koreografinya yang bermula dari titik ke titik. Baginya semua gerakan berasal dari respon titik-titik yang terdapat dalam tubuh, bergerak ketubuh lain, dan meluas ke ruang yang ada. Rheza memilih tempat yang geometrisnya dominan persegi panjang. Berakhir dengan merespon ruang tersebut, saya seperti diajak kembali mempelajari ruang, sisi , dan sudut, namun dengan kesadaran tubuh yang ada didalamnya.

Beranjak melewati jembatan pinggir ruang teater Wahyu Sihombing, Verina sedang menambal ember besar miliknya yang bolong-bolong. Dia mencoba menambal dengan barang-barang yang terdapat disekitar wilayah tersebut. Sayang pencarian barang yang bisa ia temukan disana didominasi oleh sampah botol dan plastik. Tambalan itu pun tidak bisa menjaga air kolam yang ia masukan ke dalam embar besar dalam jangka waktu yang lama. Perasaan ngeri dalam diri saya pun muncul ketika air keluar dari ember besar yang dipeluknya sejajar dengan bahu.

Setelahnya, kami diajak untuk masuk ke dalam teater Wahyu Sihombing. terdapat sepasang bangku, yang satu berdiri diatas meja satunya terbalik disamping meja. Dialog dua transpuan dengan bahasa yang sulit dimengerti perlahan semakin terasa. Layar yang terproyeksi menggunakan komputer mencoba menerjemahkan beberapa kata penting kedalam bahasa indonesia. Bagiku Isvara sedang mempresentasikan ruang gerak yang aman bagi transpuan untuk bisa bertahan hidup dalam kerasnya lingkungan yang masih dipenuhi dengan orang-orang heteronormatif yang ditakuti oleh kematian.

Ketakutan tersebut lalu dimatikan oleh Dimas. Ditengah teriknya matahari Dimas memeluk Es balok besar sepanjang hari. Merayakan kematian yang menyenangkan pikirku. Sambil memutar video dia memeluk es sampai mencair dia coba menempatkan bangku sambil mengucap kata demi kata tentang kematian. Ditengah sepi dan dinginnya ruang teater, aku merasakan kematian yang nyaman dan menyenangkan.
Ditengah kematian ternyata ada sebuah kebangkitan. Kebangkitan ruang digital. Kali ini Reboo mengajak para penonton untuk membuka gawai. Presentasi dalam bentuk digital membuka ruang bagi hidup baru sebagian individu. PK Macth adalah sebuah pertandingan di TikTok dimana dua host mencoba meraih koin sebanyak-banyaknya, host yang kalah harus mengikuti hukuman dari pemenang. Saya menjadi geregetan ketika menonton presentasi tersebut sungguh membangkitkan kesadaran dalam dunia digital.
Ketika terbangun dari dunia digital, Ali membawa saya kesebuah tempat pemakam umum. Ruang teater tetiba menjadi tempat penuh raung, apakah ini siksa kubur? Noise dan vokal yang dimanipulasi secara elektronik sungguh menggagu tubuh saya. Pukulan sebuah benda pada besi menusuk tajam kedalam telinga sama seperti aroma bunga-bunga kematian yang menusuk hidung dan tertancap dalam paru-paru.
Perlahan visual perjalanan dalam bus Transjakarta memenuhi layar proyektor. Saya tidak tahu persis itu dimana, Sophie perlahan mengeluarkan lakban kertas dan membuat garis seperti lajur Transjakarta. Sebuah koregrafi yang menunjukan kebosanan, kelelahan, dan ketidakteraturan ketika berada dalam transportasi publik di Jakarta.
Masih dalam kebosanan kami diajak untuk berpindah tempat duduk ke tengah teater. “Wah sekarang mungkin penonton yang akan menjadi objek dari koreografinya Aul!” pikirku saat itu. Tiba2 tirai dan pintu back stage dibuka. Aku diajak untuk menonton salah pelataran gedung TIM. Kebingungan terjadi ketika ada beberapa orang yang lewat menonton kami yang ada didalam ruang teater. Diiringi dengan suara yang mengajak untuk kembali kejalan yang seolah benar. membaca situasi tersebut tubuhku terasa terperangkap apakah jalan yang katanya benar-benar benar itu sangat benar? atau sama seperti penonton yang ditonton, saya masih mempertanyakannya sampai sekarang.
Sembari pintu dan tirai belakang panggung yang ditutup, penonton diajak berdiri. Bunyi ritmik hiphop yang dimainkan langsung memenuhi seluruh ruang teater. Fikar menari sambil mengajak satu-satu penontonnya ikut menari. Tubuh hiphop langsung terasa, mengajak semua untuk berdansa sampai akhir acara.
Sungguh pengalaman yang sangat menarik. Mempelajari berbagai kemungkinan koreografi sambil dijejali pengalaman tubuh kesana kemari. pertanyaannya mau dibawa kemana koregrafi nanti? Sambil mennunggu program selanjutnya dari komite tari.
Special thanks to Josh Marcy for the photos :)
메타데이터
- post_id
- e2ceea284318
- slug
- ziarah-tari-pada-presentasi-permformatif-di-artistic-development-dkj-2023-e2ceea284318
- url
- https://medium.com/@yohanes.kelvin/ziarah-tari-pada-presentasi-permformatif-di-artistic-development-dkj-2023-e2ceea284318
- canonical_url
- https://medium.com/@yohanes.kelvin/ziarah-tari-pada-presentasi-permformatif-di-artistic-development-dkj-2023-e2ceea284318
- author_url
- https://medium.com/@yohanes.kelvin
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-23 03:47:10