← Back to list

Belajar Agama, Seni Memahami Diri Sendiri

Ada satu kalimat yang pernah saya dengar dan selalu saya ingat, “Barang siapa yang mengenal dirinya, maka ia akan lebih mudah mengenal…

Zaskiamumuth · 2026-06-18 08:38 · 0 claps · 5.0 min read
#opini #agama
Open on Medium ↗

Belajar Agama, Seni Memahami Diri Sendiri

Kelompok 3 MKWU AGAMA 2026 — Hubungan Internasional

Kelompok 3 MKWU AGAMA 2026 — Hubungan Internasional

Ada satu kalimat yang pernah saya dengar dan selalu saya ingat, “Barang siapa yang mengenal dirinya, maka ia akan lebih mudah mengenal Tuhannya.” Kalimat itu baru benar-benar saya pahami setelah mengikuti perkuliahan MKWU Agama selama satu semester ini.

Sebelum perkuliahan dimulai, saya menganggap mata kuliah agama tidak akan jauh berbeda dengan pelajaran yang sudah saya dapatkan di MAN. Saya membayangkan kami akan kembali membahas rukun iman, rukun Islam, akhlak, atau materi-materi yang sudah berkali kali didengungkan oleh guru ketika berada di bangku sekolah. Karena itulah, saya datang tanpa ekspektasi yang terlalu tinggi. Saya pikir, mata kuliah ini hanyalah salah satu mata kuliah wajib yang harus diselesaikan. Ya, niat saya hanya sekedar untuk memenuhi beban SKS dan mendapatkan nilai, sungguh klasik bukan?

Seiring berjalannya waktu, saya mulai menyadari bahwa saya keliru. Yang membuat perkuliahan ini berbeda bukan semata-mata karena materinya, melainkan karena cara materi itu disampaikan.

Selama satu semester, perkuliahan bersama Bapak Faiz Badridduja, S.S.I., M.A. menjadi salah satu kelas yang menurut saya mampu mengajak mahasiswa berpikir lebih jauh. Beliau tidak hanya menjelaskan apa yang disajikan kelompok pemateri di slide presentasi saja, tetapi juga menghubungkannya dengan berbagai persoalan yang dekat dengan kehidupan mahasiswa. Hal sederhana seperti itu ternyata membuat saya lebih mudah memahami bahwa agama bukan sekadar kumpulan aturan, melainkan pedoman hidup yang selalu relevan di setiap zaman.

Saya masih ingat bagaimana setiap kali memasuki topik baru, Pak Faiz sering kali tidak langsung membahas inti materinya. Beliau justru mengajak kami memahami makna dasar dari istilah yang akan dipelajari. Dari mana asal katanya, bagaimana makna berdasarkan bahasa Arabnya, hingga bagaimana konsep tersebut dipahami dalam kehidupan seorang muslim. Awalnya saya mengira pembahasan seperti ini akan membosankan. Ternyata justru sebaliknya. Dengan memahami akar sebuah konsep, saya merasa lebih mudah memahami alasan mengapa Islam mengajarkan sesuatu.

Cara mengajar seperti ini membuat saya tidak sekadar menerima informasi, tetapi juga diajak memahami proses berpikir di baliknya. Saya merasa sedang belajar, bukan hanya menghafal. Yang mana menghafal sendiri sering kali dianggap sebagai syarat pembelajaran agar bisa menjawab pertanyaan ketika ujian, kemudian ketika masa kuliah berakhir, maka masa hafalan itu pun juga dianggap telah kadaluwarsa.

Hal lain yang saya sukai adalah suasana kelas yang dibangun selama perkuliahan. Pak Faiz memberikan ruang kepada mahasiswa untuk berdiskusi dan menyampaikan pendapat. Terkadang muncul pandangan yang berbeda dari teman-teman, bahkan ada pertanyaan-pertanyaan yang sebelumnya mungkin jarang kami pikirkan. Ada sebuah kejadian dimana kami membahas mengenai gender, dan hal ini merambat kemana mana dan memicu perdebatan seisi kelas, namun Pak Faiz membiarkan kami tetap berdebat dan setelah itu membantu menjelaskan dengan contoh yang relevan dan situasi yang pas sesuai era saat ini.

Menurut saya, ruang diskusi seperti ini sangat penting. Saya belajar bahwa memahami agama bukan berarti berhenti berpikir, melainkan justru menggunakan akal untuk memahami nilai-nilai yang diajarkan dengan lebih baik.

Sebagai mahasiswa Hubungan Internasional, saya cukup sering membaca berbagai isu global, perkembangan teknologi, hingga dinamika sosial yang terus berubah. Tidak sedikit persoalan yang kemudian membuat saya bertanya-tanya, bagaimana agama memandang semua perubahan itu? Melalui beberapa diskusi di kelas, saya mulai menemukan bahwa nilai-nilai Islam sebenarnya sangat luas. Agama tidak hanya berbicara tentang hubungan manusia dengan Allah SWT, tetapi juga mengajarkan bagaimana manusia bersikap terhadap sesama, menjaga kejujuran, bertanggung jawab atas amanah, menghormati perbedaan, hingga menggunakan ilmu pengetahuan untuk memberikan manfaat. Sejatinya, agama merupakan fondasi bagi saya dalam memahami fenomena yang ada saat ini.

Pelajaran-pelajaran seperti ini terasa semakin relevan ketika saya menjalani kehidupan sebagai mahasiswa. Di dunia perkuliahan, kami dituntut untuk berprestasi, aktif berorganisasi, mengikuti perlombaan, membangun relasi, bahkan mulai mempersiapkan karier sejak dini. Semua itu memang penting. Namun, tanpa disadari, kesibukan tersebut terkadang membuat saya lupa untuk berhenti sejenak dan bertanya kepada diri sendiri, “Untuk apa semua ini saya lakukan?” atau “Apakah saya masih menjaga nilai-nilai yang saya yakini selama prosesnya?” atau “Apakah hal yang saya lakukan ini membuat saya dekat dengan Allah SWT? Atau justru menjauhkan saya?”

Melalui mata kuliah ini, saya diingatkan kembali bahwa keberhasilan tidak hanya diukur dari seberapa tinggi IPK yang didapat, sertifikat, atau banyaknya pencapaian yang berhasil diraih. Semua itu tentu memiliki nilai. Akan tetapi, ada hal lain yang jauh lebih penting, yaitu bagaimana seseorang tetap menjaga kejujuran, integritas, rasa tanggung jawab, dan akhlaknya ketika mengejar semua pencapaian tersebut.

Bagi saya, pengingat seperti inilah yang menjadi nilai terbesar dari mata kuliah agama.

Saya juga menyadari bahwa pembelajaran agama ternyata tidak selalu harus disampaikan dengan cara yang kaku. Selama mengikuti kelas, saya justru merasa suasananya cukup santai, tetapi tetap bermakna. Kami bisa berdiskusi, mengemukakan pendapat, bahkan sesekali tertawa ketika Pak Faiz menyampaikan contoh-contoh yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Menurut saya, suasana seperti ini membuat mahasiswa lebih nyaman untuk belajar dan lebih berani menyampaikan pandangan mereka karena tidak perlu khawatir akan adanya judge terhadap diri mereka.

Yang paling saya apresiasi adalah bagaimana beliau berusaha menghubungkan materi dengan kondisi masyarakat saat ini. Dunia terus berubah dengan sangat cepat. Perkembangan media sosial, kecerdasan buatan atau yang kita kenal dengan Artificial Intelligence, budaya digital, hingga derasnya arus informasi membawa banyak peluang sekaligus tantangan baru. Dalam situasi seperti ini, mahasiswa tidak hanya membutuhkan kemampuan akademik, tetapi juga kompas moral yang membantu mereka mengambil keputusan. Saya merasa mata kuliah agama memiliki peran yang sangat penting untuk membentuk kompas tersebut.

Tentu saja, satu semester tidak akan membuat seseorang berubah secara instan. Saya pun masih terus belajar memperbaiki diri. Namun, setidaknya saya pulang dari kelas ini dengan kesadaran baru bahwa agama bukan hanya sesuatu yang dipelajari ketika berada di ruang kelas atau ketika menghadapi ujian. Agama hadir dalam keputusan-keputusan kecil yang kita ambil setiap hari: ketika memilih untuk jujur, ketika menghargai pendapat orang lain, ketika menggunakan media sosial dengan bijak, atau ketika tetap berbuat baik meskipun tidak ada yang melihat.

Jika boleh memberikan sedikit masukan, saya berharap pada perkuliahan berikutnya akan semakin banyak pembahasan mengenai isu-isu kontemporer yang benar-benar dekat dengan kehidupan mahasiswa. Misalnya mengenai etika penggunaan Artificial Intelligence dalam dunia akademik, tantangan menjaga integritas di era digital, kesehatan mental dari perspektif Islam, karena saya melihat banyaknya remaja yang terkena penyakit mental karena kurang dekat dengan Tuhannya, hingga bagaimana menjadi generasi muda yang tetap berpegang pada nilai-nilai agama di tengah perubahan sosial yang begitu cepat. Saya yakin pembahasan seperti ini akan membuat mahasiswa semakin merasakan bahwa agama selalu relevan untuk menjawab persoalan zaman.

Pada akhirnya, saya bersyukur telah mengikuti mata kuliah MKWU Agama selama satu semester ini. Saya memperoleh lebih dari sekadar tambahan pengetahuan. Saya mendapatkan ruang untuk merenung, mengevaluasi diri, dan kembali mengingat bahwa ilmu pengetahuan seharusnya berjalan beriringan dengan akhlak yang baik.

Terima kasih kepada Bapak Faiz Badridduja, S.S.I., M.A. atas setiap ilmu, diskusi, dan pengingat yang telah diberikan selama satu semester. Dan dengan beberapa pernyataan yang pernah Bapak lontarkan di kelas, membuat saya merenung dan ingin mengubah perbuatan saya yang masih melenceng dari ajaran agama. Semoga semua ilmu yang telah diajarkan menjadi amal jariyah yang terus mengalir manfaatnya, bukan hanya bagi kami sebagai mahasiswa hari ini, tetapi juga ketika kami menjalani kehidupan setelah lulus nanti.

Saya percaya bahwa mungkin beberapa tahun ke depan saya tidak akan mengingat semua slide presentasi yang pernah ditampilkan di kelas, ataupun detail dari setiap perkataan yang Bapak sampaikan. Namun saya berharap tetap mengingat satu hal yang paling penting dari perkuliahan ini, bahwa menjadi manusia yang berilmu adalah sebuah pencapaian, tetapi menjadi manusia yang berakhlak adalah tujuan yang seharusnya tidak pernah berhenti diperjuangkan.

Disinilah saya, Zaskia Muthmainnah, belajar memahami diri saya sendiri melalui pengenalan yang lebih dalam terhadap Tuhan dan agama.

Semakin saya banyak belajar, semakin saya tahu bahwa saya tidak akan pernah pantas mengungkapkan kepintaran saya. Semakin saya merasa kurang, saya akan semakin tergugah untuk selalu belajar, belajar, dan belajar

Zaskia Muthmainnah (2510852004)

Hubungan Internasional, angkatan 2025


메타데이터
post_id
e2d8df0bc93d
slug
belajar-agama-seni-memahami-diri-sendiri-e2d8df0bc93d
url
https://medium.com/@zaskiamumuth/belajar-agama-seni-memahami-diri-sendiri-e2d8df0bc93d
canonical_url
https://medium.com/@zaskiamumuth/belajar-agama-seni-memahami-diri-sendiri-e2d8df0bc93d
author_url
https://medium.com/@zaskiamumuth
status
ok
fetched_at
2026-06-22 08:06:21