A City Sorrow Built — Ai
Ya, terlambat, sangat-sangat terlambat. Album ini dirilis tahun 2015, 7 tahun lalu, dan aku baru bercerita tentangnya hari ini. Album ini…
A City Sorrow Built — Ai
Ya, terlambat, sangat-sangat terlambat. Album ini dirilis tahun 2015, 7 tahun lalu, dan aku baru bercerita tentangnya hari ini. Album ini pertama kali berkenalan dengan panca inderaku di sekitar awal tahun 2017, dan menjadi salah satu album yang paling sering aku putar hingga hari ini. Bahkan masuk dalam 3 album rilisan lokal terfavorit versiku.
Sebenarnya aku sangat-amat ingin menulis sesuatu tentang album ini sejak dulu. Sejak saat aku masih aktif di blog tentang musikku dulu(baca di sini). Namun berhubung blog tersebut termasuk slengekan dan ala kadarnya di tiap postingannya… keinginan itu urung aku lakukan, karena sepertinya tidak cukup hanya satu-dua praragraf ketika aku bercerita tentang album ini. Sebuah album yang menemani di berbagai situasi. Masa transisi dan keras kepalanya teenager dengan segala idealismenya, perasaan yang tak berbalas, kehilangan sahabat, juga kehilangan keluarga tercinta.
Sebelum mulai melanjutkan membaca, silahkan klik tautan pada judul yang saya Bold di bawah untuk mendengarkan albumnya.
**A City Sorrow Built — Ai**

Ai cover
Ai, yang bisa berarti cinta dalam Bahasa Jepang, merupakan sebuah album penuh pertama dari band Skramz/Screamo/Post-Hardcore/Post-Rock asal Bali, A City Sorrow Built. Berisi 8 lagu yang tiap tracknya saling berkesinambungan antara awal dan akhir lagu.
Diawali dengan lagu Dua Puluh, sebuah lagu pembuka yang terlihat tenang namun penuh kegelisahan. Sebuah lirik puitis pembuka yang bagus sekaligus perkenalan bagaimana song writing mereka jika anda belum pernah mendengarkan lagu-lagu mereka.
Dua puluh tahun ku menunggu
Hentakan jarimu serasa begitu lama
Hatimu terurai bersama bintang-bintang
Busuk sudah
Berlanjut ke lagu kedua, Hati/Salju. Di sini kita bisa melihat lebih jelas kualitas dari band ini. Baik dari segi skill bermusik hingga penulisan lirik yang memukau. Sedikit ngebut di awal dan akhir lagu, melodious di tengah, dan liriknya ditulis dalam dua bagian. Bagian awal atau pembuka dengan menggunakan Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris untuk bagian akhir lagu.
Setelah di’gempur’ dengan Hati/Salju. Lagu ketiga berjudul Suaramu. Sebuah track instrumental nan dreamy yang samar terdengar suara wanita Jepang yang sedang bercerita.
Aku ingat, dulu pernah membaca ulasan tentang album ini di internet. Mereka menyayangkan keberadaan track ini, atau setidaknya penempatannya. Ya, lagu ini memang sedikit janggal karena diapit lagu-lagu yang bertempo cepat dan durasinya pun tidak singkat, 4 menit 31 detik. Track yang lemah, bahkan membosankan, seakan melunturkan track sebelumnya yang enerjik, kata mereka. Beruntung pertama kali aku mendengar album ini saat tengah malam, ketika jalanan mulai sepi, ketika tongkrongan para lelaki memulai pembicaraan berat, dan ketika seorang anak manusia duduk memegang lutut sembari menyeka air matanya di pojokan kamar yang gelap.
Sejak pertama kali aku mendengarkan album ini hingga hari ini, aku selalu menganggap album Ai adalah sebuah jalan cerita yang utuh. Dimana terdapat alur, konflik, klimaks, dan segala struktur ceritanya. Aku berandai-andai seperti tentang kisah seorang manusia dalam suatu malam.

Ia duduk di pinggiran pantai yang sepi pada malam hari. Bercerita, merenung, tentang emosi manusia. Lagu Dua Puluh adalah ketika ia baru datang, duduk, dan memejamkan mata. Merasakan terpaan angin laut sembari dihipnotis suara ombak yang melambai ingin menyentuh kakinya. Hati/Salju adalah ketika ia merasakan luapan rindu juga pengharapan, sebuah perasaan yang seketika menggebu, membuatnya berteriak lantang. Lalu ia kembali terdiam, merenung, dan otaknya pun memutar kembali kilasan-kilasan memori kerinduan, dan lagu Suaramu pun dimulai. Epik!
Kilas balik itu perlahan memudar, menariknya kembali ke waktu sekarang. Track berganti, Datang/Pergi, Hitam/Putih, Pelangimu, berturut-turut menggempur telingamu dengan distorsi, math-rock, post-rock, ambient, yang tak lupa mengiringi teriakan-teriakan luapan emosi manusia itu.
“Close your eyes
I am right beside you
I never left”
how I wish it was true
Closed my eyes
You were a thousand miles away
— -
This is not just black and white
It speaks to me like a thousand colours
A thousand words written upon a brick wall
Deflection, renounced, opinions are irrelevant
Coming of age is a transient concept
Where the fuck do I go from here?
— -
And as the skies fall and crush our brittle bones
With one final sigh, together we head home
Beneath your rainbow borne of shared dreams
Love eternal apocalypse, while humanity screams
We’re going home
Lagu ketujuh, sekaligus lagu dengan durasi terlama di album ini, Duka/Cita. Sebuah lagu yang epik, jahat rasanya kalau tidak memasukkan lagu ini di daftar lagu Emo/Skramz terbaik, atau bahkan lagu berdurasi lebih dari 5 menit terbaik di Indonesia. 9 menit 50 detik durasi totalnya, walau ada lebih dari 30 detik kosong di akhir lagu.
Sebuah track yang dari segi permainan tempo maupun lirikal sangatlah epik, membakar dengan sedikit canggung(tanpa terasa kau sudah terbakar olehnya!). Tak ada durasi yang tersia-siakan. Jarang ada lagu yang sebagus ini. Entah lah, aku sendiri bingung akan menjabarkan apa, di kepalaku hanya ada kata “epik, bagus, keren, dramatis”, dan sebuah kekaguman bagaimana bisa mereka membuat lagu ini.
Kembali ke tepi pantai itu, ia telah berteriak, memukul pasir pantai itu berulang kali, hingga tangis itu pun kembali pecah. Tangisan akan kerinduan, penyesalan, dan emosi yang kian lama terpendam dalam hati. Saat dimana engkau butuh pelukan orang tuamu dan melampiaskan segala keluh kesahmu dalam pelukannya, namun apalah daya… mereka telah pergi, dan engkau menyesal belum pernah mengatakan bahwa kau merindukannya, mencintainya, sangat mencintainya.
Step by step, I’ll find my way back to you
Then step by step I’ll lose myself in you again
Ada momen hening setelah Duka/Cita, manusia itu menyeka air matanya. Tangis itu mulai tak terdengar, dan gemetar sesenggukannya pun mulai reda. Lalu lagu Kasih/Sayang mengalun lembut dengan petikan akustiknya.
Kasih sayangku
terjuru ke arahmu
terus dilanda laut kasar
Kasih sayangku
terjerat derita cintamu
tersaksi hati luka-luka
Kasih sayangku
terjebak remisi menunggumu
cinta ‘kah kian kembali?
Kasih sayangku
tertangkap jaring baru
putihnya mekar hati
Kasih sayangku
terjuru ke arahmu
pernah dilanda laut kasar
Malam katarsis itu telah berlalu. Terlihat sinar sang matahari mulai mengintip dari balik air laut itu. Manusia itu bangkit, membalikkan badan, dan berjalan kembali ke ‘kota penuh duka’ itu. Bayang-bayang itu tetap menghantuinya, dan kehidupan terus berjalan dengan cueknya.

Pada intinya, album Ai bukanlah sekedar album tentang personal things, atau sekedar ‘another sad story’ murahan opera sabun, album ini jauh lebih dari itu. Selain komposisi, skill bermusik, penulisan lirik, sound, dan hal-hal teknis lainnya, album ini menyuguhkan atmosfir yang begitu kuat, dan didukung pula oleh cover dan rangkaian foto monokrom bookletnya. Aku bahkan sejenak melupakan kanan-kiriku ketika terbius oleh atmosfir musik yang dibawakan dan terpukau oleh penulisan lirik nan puitisnya. Vokal scream-nya pun bukan sekedar teriakan pelengkap genre atau sekedar another noise that makes it sound cooler, kegelisahan itu tergambar sempurna lewat teriakan-teriakan itu. Raw emotion is the best because it’s honest, isn’t it?

Recorded over the span of 2 years, amidst continuous personal turmoil; unrequited loves, failed relationships, existential crises ongoing, and the death of a parent. It’s perhaps understandable what took them so long. But nonetheless here it is, finally.

A City Sorrow Built:
https://instagram.com/new_acitysorrowbuilt
https://www.facebook.com/ACitySorrowBuilt/
https://acitysorrowbuilt.bandcamp.com/
ps. tulisan ini pernah saya unggah di tumblr tahun 2022.
메타데이터
- post_id
- e2de82c5cc4f
- slug
- a-city-sorrow-built-ai-e2de82c5cc4f
- url
- https://medium.com/@pipendepu/a-city-sorrow-built-ai-e2de82c5cc4f
- canonical_url
- https://medium.com/@pipendepu/a-city-sorrow-built-ai-e2de82c5cc4f
- author_url
- https://medium.com/@pipendepu
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-23 11:05:51