← Back to list

Cerpen: Dermaga yang Penuh Kenangan

Cerita Pendek berbahasa Melayu Banda Neira

Memoirs of FCDH ᜇᜅ᜔ᜃᜓᜀ · 2025-06-01 00:06 · 0 claps · 6.5 min read
#cerpen-indonesia #fcdhd #european-union #ourocean #banda-neira
Open on Medium ↗
Wiki topics: 📊 · Economic Policy

Dermaga yang Penuh Kenangan

FCDHD (09 November 2017) Versi original cerita pendek ini dalam Bahasa Inggris diajukan dalam kontes cerita pendek yang diselenggarakan oleh European Union Delegation to Indonesia and Brunei Darussalam tahun 2017 dengan tema “Our Ocean*”.

Foto Fort Belgica di Banda Neira, Maluku Tengah

Foto Fort Belgica di Banda Neira, Maluku Tengah

Cahaya senja menyinari Dermaga Banda Neira yang sendu itu di tahun 2005. Di ujungnya, ada seorang lelaki yang tengah duduk menjorokkan kakinya ke laut. Nampaknya ia hanya seorang diri, hanya ada beberapa perahu yang tengah bersandar rapi dan deru ombak di sisi-sisi dermaga yang menemani. Entah telah berapa lama ia berada di sana, hingga tiba-tiba ia merebahkan badannya di dermaga.

Ilustrasi salah satu dermaga di Banda Neira

Ilustrasi salah satu dermaga di Banda Neira

Nampak indah keadaannya ditemani oleh cahaya kebiruan yang mulai bermunculan dari aktivitas dinoflagellata dari dalam air sepanjang bibir dermaga. Sejenak ia menghela nafas untuk menyiapkan diri. Ada suatu hal yang tengah ia pikirkan. Layaknya proyeksi film yang akan dipancarkan ke layar, memori membawanya kepada nostalgia saat masih membersamai seseorang yang ia cintai. Berselang beberapa saat kemudian, ia pun tenggelam ke dalam memori delapan belas tahun lalu yang tengah ia panggil kembali.

Alkisah kokok ayam telah terdengar hingga ke dalam kamar seorang remaja/anak lelaki. Namun suara tersebut tidak cukup membangunkannya hingga seorang wanita paruh baya menarik selimut dan menggoyang-goyangkan badannya, “Ahmad, bangun! Siap-siap pi ka skola, na’e (bersiaplah ke sekolah, nak),“ kata wanita itu dengan dialek Bahasa Melayu Banda Neira yang kental, “iyooo (iya, bu),“ jawab anak itu dengan lemas sembari bangun dari tidurnya. Ahmad kemudian bersegera merapikan tempat tidur, menunaikan salat subuh, mandi, sarapan dan kemudian pergi ke sekolah. Di tengah perjalanannya melewati jalan pedesaan Dwi Warna, ia ditemani oleh Charles dan Rio yang merupakan kedua teman dekat satu sekolahnya di SMP Negeri 1 Banda Neira.

Semua aktivitas Ahmad berjalan seperti biasa. Di sekolah, ia belajar dan bersenda gurau dengan teman-temannya. Hari itu ia lalui dengan penuh kegembiraan seperti biasanya. Namun setelah pulang dari sekolahnya, ada suatu hal yang tak biasa. Ia terkejut bukan kepalang ketika menyaksikan seorang pria gagah, tegap, dan berkulit gelap yang ia kenal itu tengah berdiri di ruang tamu rumah keluarganya yang sederhana lagi setelah tiga tahun berpisah dari ibu dan dirinya. Lelaki itu adalah Husni, ayah kandungnya.

Pa’e (ayah)?“ panggil Ahmad pelan. “Ahmad!“ sahut sang ayah. Kedua ayah dan anak ini seketika berlari dan berpelukan untuk melepas rindu yang tiada terkira, “bagimana pane pung kabar (bagaimana kabarmu)? Ada bae-bae (kamu sehat)? Pane pung skola bagimana (bagaimana sekolahmu)?“ tanya sang ayah dengan sigap dalam harunya seakan ada seribu satu cerita dan pertanyaan yang telah lama ia pendam dan siap untuk ia tanyakan. Ahmad yang tengah memeluk ayahnya itu juga larut dalam haru untuk berjumpa dengan ayahnya setelah sekian lama. Ahmad tidak bisa berkata-kata, hanya tangis harunya saja yang dapat menggambarkan kerinduannya akan sosok sang ayah. Sang ibu, Shofiyah, yang sedari tadi memandang dari dapur akhirnya memanggil mereka berdua untuk segera makan terlebih dahulu sebelum melanjutkan seribu satu cerita yang akan mereka bagi setelahnya.

Hari demi hari berlalu, keceriaan Ahmad pun kali ini dihiasi oleh kehadiran sang ayah yang telah pulang untuk beberapa waktu. Namun di suatu sore, Ahmad diajak ayahnya untuk berbagi cerita di Dermaga Banda. Sesampainya di sana, Husni tertegun memandangi matahari sore yang menyinari mereka berdua.

Ilustrasi senja di Banda Neira

Ilustrasi senja di Banda Neira

Pa’e mo carita apa (ayah mau bercerita apa)? Om yang bawa pa’e pung kapal, sudah. Paus deng lumba-lumba yang batamang pa’e di laut jua sudah. Apa lai (paman yang mengemudikan kapal ayah, sudah. Paus dan lumba-lumba yang menemani ayah di laut juga sudah. Terus apa lagi, ayah)?“ tanya Ahmad penasaran. Pandangan Husni seketika diarahkan kepada Ahmad dengan penuh harap, “na’e, pane kas bangga beta deng ma’e. Pane balajar bae-bae sampe nanti bole dapa karja yang lebe bae dar beta. Pane mangael di laut basar macang beta ni stenga mati. Pane mo dapa banya bahaya bakarja bagini (jadilah anak yang membanggakan ayah dan ibu, ya nak! Rajin-rajinlah belajar sampai nanti kamu bisa dapatkan pekerjaan yang lebih baik daripada ayah! Jadi nelayan di laut dalam seperti ayah itu susah. Banyak bahaya yang akan kamu dapatkan dengan bekerja seperti ini),“ kata sang ayah. “Bahaya apa barang (Memangnya apa bahayanya)?“ tanya Ahmad dengan polosnya. “Banya skali. Contohnya, ombak pembunuh bole mo kas tanggalam beta deng tamang-tamang pung kapal. Masih banya lai yang pane seng bisa duga mo dapa jadi di tenga laut (banyak sekali. Contohnya, ombak pembunuh bisa menenggelamkan kapal ayah dan teman-teman. Terus masih banyak sekali hal yang juga tidak bisa kamu duga akan terjadi di tengah lautan)“, tegas sang ayah.

mar beta tetap mo jadi macang pa’e. Jadi pahlawan par beta, ma’e, deng katorang pung alam ni (tapi aku tetap mau jadi seperti ayah. Jadi pahlawan bagi aku, ibu dan alam kita ini),“ jawab Ahmad. “la mangapa beta bole jadi pahlawan? Beta seng malawang panjaja’o (loh, mengapa bisa ayah jadi seorang pahlawan? Ayah tidak melawan penjajah kok),“ tanya balik Husni. Sembari menghela nafas pendeknya, Ahmad kemudian menjawab dengan lugas, “Pane itu orang mangael paling bae! Pane mo kas korban pane pung hidop demi kaluwarga, kas tinggal beta deng ma’e par mancari hidop tagal baku malawang deng bahaya tanpa kas rusak laut (ayah adalah seorang nelayan sejati! Ayah rela mengorbankan hidup ayah demi keluarga, meninggalkan aku dan ibu untuk mencari penghidupan karena menantang bahaya tanpa merusak lautan),“ jawab Ahmad dengan polos dan yakin.

Melihat tatapan Ahmad, Husni pun menitipkan harapannya, “bole beta titip pasan par pane (boleh ayah titip pesan untukmu)?“ tanyanya, “barang kanapa, pa’e (memangnya kenapa ayah)?“ tanya balik Ahmad. “Nanti pane su basar, jadi orang yang mo jaga katorang pung laut’e. Bukang cuma par beta, mar par pane pung anana sampe cucu-cucu jua. Katorang pung laut ni ada saki, dia parlu katorang piara. Pane lia sampa-sampa di samping-samping ini dermaga. Stingga kotor. Dong tutu ini laut pung cantik (Nanti ketika kamu telah dewasa, jadilah seorang yang menjaga laut kita ya. Bukan hanya untuk ayah, tetapi untuk anak-cucumu juga. Laut kita sedang sakit, ia perlu kita rawat. Kamu lihat sampah-sampah di samping-samping dermaga ini. Kotor sekali. Mereka menutupi keindahan laut ini),“ pinta Husni kepada anak semata wayangnya ini. Ahmad pun melihat sampah-sampah di pinggir dermaga dan mendongakkan kepalanya ke langit seraya menjawab, “iyo sudah. Beta jua mo jadi pahlawan macang pane (baik, ayah. Aku juga akan menjadi pahlawan seperti mu)!“ senyum Ahmad kepada ayahnya. “Beta akan slalu doakan pane deng ma’e dar jau. Semoga kamong pung hidop dapa cukup dari laut ini (ayah akan senantiasa mendoakan kamu dan ibu dari jauh. Semoga hidup kalian mendapat kecukupan dari laut ini)!“ tutup Husni.

Siapa yang akan menyangka bahwa itu adalah pesan terakhir dari Husni kepada anaknya sebelum ia kembali pergi melaut untuk yang terakhir kali. Naas, kapal yang ia tumpangi dihempas oleh ombak pembunuh sehingga tenggelam bersama para kru kapal di Laut Timor. Malang tidak dapat ditolak, untung pun tidak dapat diraih. Kurang dari dua pekan setelah peristiwa naas itu, jasad Husni pun pulang ke pangkuan istri dan anaknya Ahmad yang kala itu masih berumur lima belas tahun.

Di tengah tangis pilunya, Ahmad berujar: “Yā Allāh ini hari Pane su panggil angtua. Beta ikhlas, mar kas kuat katorang, kas kuat jua’e! Biking beta jadi pahlawan macang angtua. Beta sayang pane (yā Allāh, hari ini Engkau ambil beliau. Aku sungguh ikhlas, tapi kuatkan kami, kuatkanlah kami! Jadikan aku pahlawan seperti beliau. Aku sangat menyayangimu, ayah)!“ dalam dukanya yang teramat, ia ditemani oleh Charles dan Rio yang sudah membersamainya sejak dari tadi, mereka berdua tiada henti-hentinya menenangkan Ahmad yang tenggelam dalam kepedihannya. Beberapa waktu berselang, Ahmad beserta keluarga dan para tetangganya pun mengantar Husni, ayahanda tercintanya, ke tempat peristirahatan terakhir di pekuburan umum yang berjarak satu kilometer dari rumahnya.

Delapan belas tahun kemudian, atas kegigihan Ahmad dalam bersekolah, ia pun mendapatkan banyak prestasi hingga akhirnya ia menjadi seorang ketua yayasan nirlaba yang bergerak dalam bidang konservasi laut di Kota Ambon: Husni Shofiyah Foundation namanya. Tidak ada maksud spesial dari penamaan yayasannya selain inspirasi yang ia dapatkan dari ibu dan mendiang ayahnya. Bersama Charles dan Rio, sahabat kecilnya yang kini menjadi sekretaris dan bendahara yayasannya, mereka telah mengerjakan banyak program revitalisasi perairan yang bekerja sama dengan pemerintah setempat, seperti: Ambon Anti Sampah, Revitalisasi Karang Manise, dan Inspirasi Maluku untuk Laut Indonesia. Di kampung kelahirannya sendiri, Banda Neira, Ahmad dan yayasannya telah membantu pemerintah setempat untuk menjadikan Laut Banda sebagai area kelautan yang dilindungi untuk mendongkrak potensi kelautan dan pariwisata dengan memberdayakan para nelayan dan masyarakat lokal Banda Neira.

Ahmad yang sedari tadi tenggelam dalam memorinya itu kini bangkit dari tidurnya di ujung Dermaga Banda. Ditariknya lengan baju sehingga nampaklah jam yang menunjukkan pukul sembilan malam. Lelaki kurus dan jangkung ini pun segera kembali ke rumah ibunya yang sederhana di kampung Dwi Warna. Sesampainya di sana, ia kemudian bersiap-siap untuk tidur. Sebelum menarik selimutnya, diambilnya foto sang ayah yang terpajang di samping meja tidurnya. Ia bergumam, “Tarima kasih banya par samua pemberianMu, yā Allāh. Pa’e, baku dapa jua deng beta dalang mimpi malang ini (terima kasih banyak atas segala karuniaMu, yā Allāh. Ayah, bertemulah denganku dalam mimpi di malam ini),“ kemudian ditariknya selimut dan tak beberapa lama berselang, ia pun telah tertidur dengan lelapnya.

Ilustrasi oleh: travelbuddies.co.id, pandooin.com, kumparan.com, dan akun Twitter EU in Indonesia

Cerita Pendek juga dipublikasikan di Blog pribadi. Klik di sini.


메타데이터
post_id
e2e01898b18f
slug
cerpen-dermaga-yang-penuh-kenangan-e2e01898b18f
url
https://medium.com/@memoirsoffcdhd/cerpen-dermaga-yang-penuh-kenangan-e2e01898b18f
canonical_url
https://medium.com/@memoirsoffcdhd/cerpen-dermaga-yang-penuh-kenangan-e2e01898b18f
author_url
https://medium.com/@memoirsoffcdhd
status
ok
fetched_at
2026-07-19 15:44:52