FUZZOLDIES pt.5: Koes Plus; Legenda Peramu Musik Tanah Air
Sebuah lagu tercipta dari keunikan musikalitas yang ingin dibawakan oleh seseorang atau sekelompok musisi. Dari segala usaha yang tersirat…
FUZZOLDIES pt.5: Koes Plus; Legenda Peramu Musik Tanah Air

Sebuah lagu tercipta dari keunikan musikalitas yang ingin dibawakan oleh seseorang atau sekelompok musisi. Dari segala usaha yang tersirat oleh para musisi tersebutlah lagu menjelma menjadi media komunikasi yang begitu khas, “nyeni” , dan mendalam.
“Tak Lekang Oleh Waktu” pernyataan itulah yang menggambarkan seluruh karya dari skena lawas pelopor musik pop Indonesia, Koes Plus. Berbicara mengenai musik, terutama musikalitas yang dibawa oleh Koes Plus, tersirat berbagai unsur di dalamnya; sosial, budaya, lingkungan, nasionalisme dan politik.
Sebutlah mereka, lima bersaudara asal Tuban, Jawa Timur yang terdiri dari John Koeswoyo (Koesdjono), Tonny Koeswoyo (Koestono), Nomo Koeswoyo (Koesnomo), Yon Koeswoyo (Koesjono), dan Yok Koeswoyo (Koesrojo) untuk memulai visi mereka bersama dalam grup band “Koes Brothers/Koes Bersaudara”. Setelah Koesnomo hengkang dari Koes Bersaudara digantikan oleh Murry sebagai drummer. Nama Koes Plus pun dirintis dan bersiap untuk melanjutkan karir musik mereka, mengkomunikasikan karya-karya khas mereka yang begitu “Plus”.
Melihat uniknya dan “legend”-nya Koes Plus, maka kami sajikan FUZZOLDIES Pt.5 kepada FuzzFolks sekalian; “Koes Plus ; Legenda Peramu Musik Tanah Air”.

Sumber: kompasiana
Keluar dari Zona Nyaman
Secara umum, di tahun 60-an musisi Indonesia berkarya dengan bernyanyi solo atau menyanyikan lagu-lagu yang sedang trend kala itu. Tahun 1962, Tonny Koes membentuk Koes Bersaudara dan mencanangkan untuk membuat suatu grup band yang bisa memproduksi lagu ciptaan sendiri.
Meskipun melewati perjalanan yang panjang, Koes Bersaudara yang berganti nama menjadi Koes Plus (1969) meraih kesuksesan atas kerja keras mereka memperkenalkan lagu-lagu ciptaan sendiri. Terbukti saat album “Dheg Dheg Plas” (1969) ludes terjual setelah mereka tampil di Jambore Grup Musik IMK, Jakarta.

Sumber: jambi.tribunnews
Perihal Kritik Musik
Kesuksesan Koes Plus dalam menyuguhkan eksplorasi musik dalam lagu-lagunya tidak luput dari kritik yang dilontarkan dari pemerhati kebudayaan dan musik tradisional. Lagu-lagu Koes Plus seperti dalam album Pop Melayu dan Pop Jawa dianggap merusak pakem lagu-lagu tradisional yang mana harus dimainkan dengan konteks “yang seharusnya”.
Satu lagi kritik yang dikenakan kepada Koes Plus, yaitu kritik tentang kualitas musik “kacang goreng”. Pernyataan ini merujuk pada lirik lagu Koes Plus yang sederhana, aransemen yang seadanya, juga lagu-lagu yang memakai jurus tiga kunci. Akan tetapi, melihat boomingnya Koes Plus di antara masyarakat saat itu terbukti bahwa kesederhanaan itulah yang membuat Koes Plus begitu dikenal dan menjadi inspirasi bagi masyarakat.

Sumber: inews.id
Keragaman Lagu dan Pendengarnya
Visi yang dibawa oleh Tonny semenjak Koes Bersaudara untuk menciptakan lagu sendiri tetaplah digaungkan pada zaman Koes Plus merajai industri musik dan perusahaan rekaman. Produktivitas Koes Plus membawa mereka untuk tidak menghasilkan lagu-lagu yang monoton.
Lagu-lagu mereka meraup genre yang beragam serta renyah untuk diingat dan dimainkan untuk segala usia: Pop, keroncong, lagu anak-anak, Bahasa Indonesia — Inggris, Basa Jawa, berikut juga dengan segala intensi yang ingin mereka bawa; tema nasionalisme, perlawanan terhadap pemerintah, serta tema religi. Terlepas dari segala kritik yang membanjiri, lagu-lagu Koes Plus menjadi suatu pakem untuk eksis tersendiri.

Sumber: Pinterest
Fans yang Natural
Sebagai pelopor era “nge-band” di Indonesia pada tahun 60–70an dan menghasilkan karya orisinil-sederhana sehingga mudah dicerna oleh masyarakat, seluruh perjuangan Koes Plus mendapatkan apresiasi yang sangat baik di kalangan masyarakat. Banyak komunitas-komunitas pelestari lagu-lagu Koes Plus atau band-band tribute yang bermunculan berkat produktivitas dan musikalitas Koes Plus yang luar biasa.
“Mania-mania” itulah yang menjamur dari latar belakang yang sederhana, pengingat lagu karena lirik-liriknya masih relevan sampai sekarang, sampai pada berada dalam jalur akademisi. Tanpa sadar dan terorganisir, atau mungkin tak terbayang oleh Koes Plus sendiri, fans-fans tersebut bermunculan secara natural.
Sebut saja sejumlah komunitas seperti Fourmen Plus, Bandung Koes Plus Community (BKPC), Jiwa Nusantara Bandung Raya (JN Baraya), dan Penggemar dan Pelestari Koes Plus (P2KP) muncul dan terorganisir sebagai bentuk apresiasi dari Koes Plus. Tidak hanya itu, band tribute Koes Plus yaitu T-Koes Bersaudara yang tak hanya melestarikan lagu-lagu Koes Plus tapi juga melakukan berbagai aksi sosial.

Sumber: Pinterest
Greatest Hits
Popularitas Koes Plus semakin mencuat khususnya pada masa tahun 1973–1977. Produktivitas mereka bisa dikatakan luar biasa, pada tahun 1974 Koes Plus meluncurkan 22 Album tentunya dengan berbagai eksplorasi yang ingin ditonjolkan.
Mengenai penghargaan, Koes Plus terbilang grup musik yang sering mendapatkan penghargaan “Golden Record” pada beberapa peluncuran album mereka, juga dinobatkan sebagai grup musik pilihan para pendengar radio versi majalah Aktuil dan radio pada masa itu. Pada tahun 1992, Koes Plus meraih penghargaan Legend Basf Award (Anugerah Musik Indonesia).
Pada tahun 2007, majalah Rolling Stone Indonesia menobatkan 6 album Koes Plus untuk masuk dalam daftar 150 Album Indonesia Terbaik Sepanjang Masa. 6 Album tersebut yaitu, Dheg Dheg Plas (1969), To The So Called The Guilties (1967), Koes Bersaudara (1964), Koes Plus Jilid 2 (1970), Koes Plus Jilid 4 ( 1971) dan Koes Plus Volume 5 (1971).
Selain itu, Majalah Rolling Stone Indonesia menobatkan 10 lagu Koes Plus ke dalam daftar 150 Lagu Indonesia Terbaik Sepanjang Masa. Karya-karya mereka adalah, “Bis Sekolah” (1964), “Kembali Ke Jakarta” (1969), “Nusantara I” (1971), “Kolam Susu” (1973), “Bunga Di Tepi Jalan” (1971), “Kelelawar” (1969), “Manis dan Sayang” (1969), “Pelangi” (1972), “Jemu” (1975) dan “Di Dalam Bui” (1967).
Sumber:
- Piero Scaruffi, A History of Rock Music 1951–2000.
- Google Books, Musisiku, Republika.
메타데이터
- post_id
- e2ea089cd3b2
- slug
- fuzzoldies-pt-5-koes-plus-legenda-peramu-musik-tanah-air-e2ea089cd3b2
- url
- https://medium.com/@fuzzmedia.id/fuzzoldies-pt-5-koes-plus-legenda-peramu-musik-tanah-air-e2ea089cd3b2
- canonical_url
- https://medium.com/@fuzzmedia.id/fuzzoldies-pt-5-koes-plus-legenda-peramu-musik-tanah-air-e2ea089cd3b2
- author_url
- https://medium.com/@fuzzmedia.id
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-16 16:23:14