Recalling My Old Memories: The Chronicles of Narnia
Beberapa hari lalu, aku iseng rewatch Narnia. Niatnya cuma pengen ngobatin kangen sama Pevensie Bersaudara, tapi aku malah berujung dapat…
Recalling My Old Memories: The Chronicles of Narnia

Beberapa hari lalu, aku iseng rewatch Narnia. Niatnya cuma pengen ngobatin kangen sama Pevensie Bersaudara, tapi aku malah berujung dapat tamparan emosional yang beda banget.
Waktu kecil, nonton film ini tuh, kagum sekali dengan keajaiban dunia Narnia. Satu dua kali berharap aku punya lemari itu.
Narnia ngingetin aku memori kecil yang tersimpan jauh, betapa kagumnya dulu ketika nonton hal-hal ajaib yang gak pernah kita lihat.
Mulai dari hewan yang bisa bicara, faun yang ramah, centaur yang gagah, kastel megah di tepi pantai, sampai Singa pemimpin serba tahu, yang dengan kemunculannya memunculkan ketenangan dan penuh harapan baru.
Gak hanya di hutan, bahkan petualangan seru melintasi samudera dengan kapal Dawn Treader yang bener-bener mengundang imajinasi.
Setelah nonton ulang, akhirnya aku tahu apa yang membuat film ini terasa spesial…
Peter, Si Sulung Pelindung
Peter adalah representasi anak pertama sejati. Dia menjaga, selalu siap berdiri paling depan untuk jadi pemimpin, dan tameng pertama untuk adik-adiknya di dunia asing.
Rasa tanggung jawabnya besar, dan mengayomi abis. Tipe-tipe kakak protektif tapi sayang adik. Ooh, I wish I had an older brother like him.
Susan, Si Paling Realistis
Dulu, mikirnya Susan ini agak “membosankan” karena skeptis dan penakut. Setiap langkah dan kejadian, dia kayak verifikasi dua langkah dan terkesan hati-hati.
Tapi setelah matang, ngelihat karakter Susan ini aku ngerasa bahwa dia adalah karakter paling logis.
Di dunia antah berantah yang gak kita kenali dan penuh bahaya, seharusnya sikap yang dimiliki memang seperti itu.
Bukan, membosankan. Melainkan hati-hati. Kita gak pernah tahu, hal aneh apa yang akan muncul di depan mata.
Edmund, My Childhood Crush
Sikap dan sifatnya Edmund ini sewajar dan sebandelnya adik cowo pada umumnya. Tapi rasa penasaran dan sayangnya sebenarnya lebih besar di balik sifat keras kepala yang dia punya.
Dari season pertama sampai ketiga, menurutku dia punya character development terbaik. Dari marah ke kakaknya —Peter, sampai jadi yang paling bisa diandalkan.
Scene favoritku sepanjang masa di film ini adalah saat dia dengan tegas dan gaya santainya itu mengoreksi pamannya Caspian yang manggil dia Prince Edmund. Tapi dikoreksi tanpa takut olehnya dengan kalimat, “KING. It’s King Edmund actually.”
Karismanya tumpah-tumpah!
Lucy si bungsu, dengan keberaniannya yang tulus
Aku selalu takjub dengan rasa percaya dirinya Lucy. Setiap tindak tanduknya Lucy, adalah definisi dari, aku gak akan pernah ragu sama apa yang aku lihat dan apa yang aku yakini.
Paling kecil, tapi ketulusan dan keberaniannya Lucy saat mengambil keputusan patut diacungi jempol. Keyakinan Lucy jadi keberanian untuk kakak-kakaknya. Gak jarang, keputusan-keputusan yang di ambil Lucy, jadi penyelamat mereka selama berada di Narnia.
Menonton film yang aku tonton ketika kecil, saat ini, bikin aku sadar satu hal, ternyata makna persaudaraan di sini itu dalem banget.
Saling percaya sama saudara kandung itu penting sekali. Boleh saja, saat di rumah kita jadi teman berantem sampai rumah terasa mau pecah. Tapi pas dunia mulai jahat, saudara adalah pelindung terbaik kita.
Perjalanan Emosional Narnia
Di balik megahnya keajaiban dunia Narnia, film ini juga ngajarin perpisahan, gak seenak, segampang, dan bisa sesuka hati itu bisa balik ke Narnia.
Makanya pas scene pamitan Susan dan Prince Caspian itu rasanya sedih dan hampa banget. Ditambah Peter dan Susan pamit beneran, gak bisa kembali ke Narnia lagi.
Bahkan, di Narnia, perpisahan juga digambar nyata. Gak selamanya kita bisa kabur ke dunia fantasi. Ada waktunya kita harus tumbuh dan menghadapi dunia nyata.
Tapi puncak tangis kejer ku ada di akhir perjalanan di Dawn Treader. Bagian akhir petualangan Edmund, Lucy, dan sepupu mereka, Eustace benar-benar bikin kejerr pas nonton ulang.
Momen perpisahan mereka dengan Reepicheep, Aslan, dan Caspian berhasil mengobrak-abrik hatiku. Jadi kayak patah hati. Sebab sadar, petualangan mereka udah selesai.
메타데이터
- post_id
- e2f6cffb3dfe
- slug
- recalling-my-old-memories-the-chronicles-of-narnia-e2f6cffb3dfe
- url
- https://medium.com/@rannmarkie/recalling-my-old-memories-the-chronicles-of-narnia-e2f6cffb3dfe
- canonical_url
- https://medium.com/@rannmarkie/recalling-my-old-memories-the-chronicles-of-narnia-e2f6cffb3dfe
- author_url
- https://medium.com/@rannmarkie
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-13 06:23:13