← Back to list

Pendakian Gunung Rinjani: Larangan Membawa Drone Selama Pendakian

#31: Cerita singkat soal pendakian

Ferdi Dirgantara · 2024-10-10 13:02 · 74 claps · 6.5 min read paywalled
#gunung-rinjani #bahasa-indonesia #indonesia #nusantara #lombok
Open on Medium ↗

CERITA

Pendakian Gunung Rinjani: Larangan Membawa Drone Selama Pendakian

#31: Cerita singkat soal pendakian

Sedikit cerita tentang pendakian di Gunung Rinjani. Ini kali ketiga saya mendaki di Gunung Rinjani. Sudah lebih dari 10 tahun saya tidak mendaki gunung.

Puncak Gunung Rinjani (11 September 2024)

Puncak Gunung Rinjani (11 September 2024)

🗝🔐 Belum jadi anggota Medium? Klik tautan ini untuk membaca GRATIS!

Pendakian kali ini penuh dengan drama. Sejak kami sampai di Desa Sembalun, di Resort Sembalun — lokasi check-in Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) untuk para pendaki — kami sudah dapat drama dengan para petugas. Esok harinya pun sama, ada perdebatan di Pos 2 dengan petugas lagi. Bahkan saat pulang juga ada perdebatan lagi di kantor. Benar-benar pendakian penuh drama.

Masalah paling besar yang terjadi adalah masalah terkait drone — disebut sebagai Pesawat Udara Kecil Tanpa Awak (PUKTA) oleh pihak TNGR — yang kami bawa. Masalah ini muncul saat kami berada di Pos 2, petugas di sana awalnya bilang bahwa drone dilarang dan tidak boleh dibawa selama pendakian. Mereka meminta drone untuk ditinggalkan di Pos 2 dan bisa diambil ketika turun dari pendakian. Tapi, beberapa saat kemudian, mereka memperbolehkan asalkan membayarkan sejumlah uang.

Masalah sebenarnya ada pada kurangnya informasi dan tidak ada pemeriksaan barang bawaan saat melakukan check-in terkait drone tersebut. Saat check-in tidak ada pendaki yang barangnya diperiksa untuk memantau dan membuat daftar bawaan yang berpotensi sampah atau lainnya, di sana juga tidak ada informasi apapun terkait larangan membawa drone.

Informasi terkait larangan membawa drone tersebut baru disebarkan pada media massa beberapa hari setelah kami turun dari Rinjani. Spanduk terkait larangan itu juga baru dicetak dan dipasang pada tanggal 9 September 2024, tepat saat masalah tersebut dimulai saat kami masih di Pos 2. Saat itu Ayah saya yang kebetulan masih di Sembalun juga ikut protes mewakili kami dari kantor.

Perselisihan tersebut menjadi pemicu beredarnya informasi terkait perizinan drone sekitar pertengahan bulan September lalu. Tidak ada larangan membawa drone di Gunung Rinjani, tetapi bagi pendaki yang membawa, diharuskan untuk membuat surat izin terlebih dahulu yang disebut SIMAKSI (Surat Izin Masuk Kawasan Konservasi). Selain itu, pendaki juga diharuskan membayar uang sebesar Rp 1,000,000 untuk keperluan pribadi dan Rp 10,000,000 untuk keperluan komersial. Itu adalah informasi yang saya dapatkan ketika di Pos 2, karena salah satu informasi yang saya temukan ada yang mengatakan harus membayarkan Rp 10,000,000 bagi yang membawa drone.

Kejadian ini harus menjadi pembelajaran, baik bagi pendaki maupun petugas. Sampai detik ini situs resmi TNGR dan aplikasi eRinjani belum ada pembaruan sama sekali terkait larangan atau izin drone tersebut. Saat mendaftar pun, tidak ada pemberitahuan apapun terkait hal itu di aplikasi eRinjani bahkan sampai pembayaran selesai. Jadi, secara tidak langsung kesalahan ada di pihak petugas karena tidak mencantumkan informasi penting di media yang dimiliki. Standar Operasional Prosedur (SOP) yang diberikan di website tidak ada penjelasan terkait drone juga, dan SOP di aplikasi eRinjani tidak dapat di akses (404 Not Found).

Ya itulah cerita singkat dari masalah yang kami hadapi selama pendakian. Secara keseluruhan pendakian kali ini cukup menyenangkan, kali ini, di pendakian ketiga, saya akhirnya berhasil mencapai puncak Gunung Rinjani. Biasanya, saya hanya diajak sampai ke danau oleh Ayah saya.

Saya mendaki bersama Kakak kedua saya dan Bang Deri. Perjalanan kami dimulai dari Jalur Pendakian via Kandang Sapi dan kami mengendarai motor sampai Pos 2. Untuk pertama kali juga, saya mendaki gunung dengan ojek karena Bang Deri ingin lebih cepat menangkap pemandangan dengan drone miliknya. Biaya untuk mengendarai ojek sampai Pos 2 sebesar Rp 200,000 per orang, jadi total Rp 600,000 untuk tiga orang.

Saat di Pos 2, kami malah menghabiskan waktu sekitar 2 jam di sana karena masalah drone. Terasa sia-sia percepatan waktu yang disengaja dengan mengendarai ojek. Setelah selesai beradu mulut, kami melanjutkan pendakian ke Pusuk Sembalun dan sampai sekitar pukul 18.

Hanya saya dan Bang Deri yang mendaki ke puncak, Kakak saya diam di tenda menjaga barang karena sudah pernah menginjakkan kaki di puncak. Apalagi di sana banyak monyet liar yang suka jahil mengambil makanan para pendaki. Saya dan Bang Deri melakukan pendakian pada hari ketiga (11 September 2024). Tadinya, rencananya mau di hari kedua, sehari setelah kami sampai di Pelawangan Sembalun. Kami tunda karena merasa capek dan kurang istirahat.

Beberapa kali saya merasa akan tumbang karena tidak kuat melanjutkan perjalanan. Dua kali lambung saya kesakitan, pertama ketika pendakian menuju Pelawangan Sembalun, kedua ketika pendakian ke puncak Gunung Rinjani. Kaki juga mulai pegal dan berat. Perlahan-lahan, saya melanjutkan perjalanan sambil mengambil istirahat singkat untuk memulihkan tenaga dan menjaga kondisi lambung saya.

Pendakian terberat ada pada saat di Letter E saat mendekati puncak. Di sana, banyak sekali pendaki yang menyerah dan kembali turun. Saya dan Bang Deri tetap melanjutkan hingga akhir dengan amat lambat. Angin dan suhu diatas sangat keras dan dingin. Perlindungan kami hanya mengandalkan beberapa batu besar sebelum mencapai Letter E-nya. Untung saja, jalurnya cukup lebar — muat sekitar 4 sampai 5 orang dalam satu baris — saat di Letter E, sehingga saat kami istirahat, kami tidak menghalangi pendaki lain.

Kami sampai di puncak Gunung Rinjani sekitar pukul 10 pagi. Di sana tersisa saya, Bang Deri dan satu orang pendaki lain (Mas Mahjub) yang bersama kami karena teman-temannya sudah turun duluan. Tidak sia-sia kami berangkat dan sampai atas lebih lambat dari yang lain, kami jadi puas mengabadikan momen tanpa ada gangguan siapapun. Kami tidak menyesal datang paling akhir di puncak karena hal itu.

Hal paling sial yang terjadi adalah sakit perut ketika pendakian ke puncak. Satu jam setelah berangkat dari tenda, perut saya tiba-tiba mules. Sialnya kami tidak membawa tisu, hanya beberapa makanan dan satu botol minuman. Dengan terpaksa saya membersihkan kotorannya dengan dedaunan yang ada disekitar, lalu membilas dengan air yang saya bawa. Gatal sekali dubur saya rasanya gara-gara daun itu. Maaf agak sedikit jorok, hehe.

Perjalanan meraih puncak Rinjani telah usai, kami sudah merasa puas. Kami turun dan istirahat sejenak di tenda, lalu melanjutkan perjalanan ke Danau Segara Anak. Kami tidak berlama-lama di danau karena batas maksimal pendakian kami sudah tinggal satu hari lagi. Pendakian di Rinjani hanya diizinkan maksimal 4 hari. Kami hanya satu malam di danau dan melanjutkan perjalanan pulang kesokan harinya.

Sebelum kami bersiap-siap untuk pulang, kami membersihkan tubuh di pemandian air panas yang dekat dengan danau. Segar sekali rasanya bisa mandi dengan air hangat setelah dihantam oleh dingin siang dan malam. Otot-otot terasa lebih ringan dan jadi siap melanjutkan perjalanan lagi.

Kami pulang melalui jalur Torean. Jalannya cukup menyebalkan dan juga ekstrim. Memang indah jika dilihat tapi bahaya untuk dilalui, apalagi rutenya lebih jauh dari jalur Sembalun yang kami lewati saat berangkat. Kami sampai Torean sekitar pukul 11 malam, perjalanan memakan waktu sekitar 12 jam sejak kami berangkat pukul 11 pagi. Di sana, kami sudah ditunggu oleh Ayah, Kakak perempuan, dan Sepupu saya.

Jalur Torean (12 September 2024)

Jalur Torean (12 September 2024)

Kami mengendari ojek lagi saat pulang. Tidak sejauh saat di awal pendakian, ojek di Torean terhitung cukup dekat karena sudah masuk di area pemukiman warga. Biayanya pun lebih murah, hanya Rp 75,000 per orang (kami dapat diskon dadakan malam itu). Kami sudah tidak kuat sama sekali karena jalur Torean benar-benar menyebalkan. Ada juga para pendaki dari luar Lombok yang bernasib sama dengan kami, jadi mereka juga turun dengan ojek seperti kami.

Itu dia perjalanan singkat saya, maaf kalau ceritanya lompat-lompat dan banyak bolongnya. Saya berusaha mengurangi ceritanya agar tidak terlalu rinci dan membosankan. Ini revisi ketiga dari cerita yang sama, haha. Saya jarang menyentuhnya karena mengerjakan hal lain, jadi memakan waktu satu bulan untuk selesai. Ini sudah ringkasan yang paling singkat yang saya bisa lakukan, tidak bisa saya terlalu lama mengurung tulisan ini. Nanti malah kena Zeigarnik Effect dan mengganggu pikiran terus-menerus.

Ada banyak cerita yang dibuang dalam perjalanan ini. Jujur, saya bingung sebenarnya harus menceritakan bagian yang mana. Tapi beginilah hasil akhirnya. Walau pendakian kali ini menyisakan sedikit kekecewaan, semua terbayarkan dengan keseruan selama proses pendakiannya.

Saya hanya berharap masalah yang ada selama pendakian kami tidak terulang kembali. Semoga pihak TNGR segera memperbarui layanan dan alur pendaftaran maupun check-in sesuai prosedur yang seharusnya. Sebab, saat kami turun, petugas di Torean sempat garuk kepala karena kami tidak punya daftar sampah yang harusnya diberikan oleh petugas di Sembalun.

Terima kasih bagi yang sudah membaca hingga akhir.

Baca juga:

[embed]Bakso Tusuk: Kudapan Penghangat Tubuh #137: Kecil, Gak Bikin Kenyang, dan Menguras Dompetfrdi.medium.com

Beberapa dokumentasi selama pendakian:

[embed]Danau Segara Anak dan Pemandian Air Panas (12 September 2024)

[embed]Jalur Torean (12 September 2024)

Pelawangan Sembalun (10 September 2024)

Pelawangan Sembalun (10 September 2024)

Pelawangan Sembalun (10 September 2024)

Pelawangan Sembalun (10 September 2024)

Pendakian ke puncak. Kiri sebelum sampai Letter E, kanan saat di Letter E. (11 September 2024)

Pendakian ke puncak. Kiri sebelum sampai Letter E, kanan saat di Letter E. (11 September 2024)

Puncak Gunung Rinjani. Foto dengan Bang Deri (11 September 2024)

Puncak Gunung Rinjani. Foto dengan Bang Deri (11 September 2024)

Bang Deri, saya, dan Mas Mahjub (Pendaki yang ditinggal temannya). (12 September 2024)

Bang Deri, saya, dan Mas Mahjub (Pendaki yang ditinggal temannya). (12 September 2024)

Danau Segara Anak dan Air Terjun Penimbungan (Jalur Torean). (12 September 2024)

Danau Segara Anak dan Air Terjun Penimbungan (Jalur Torean). (12 September 2024)


메타데이터
post_id
e2fa4a8e27c8
slug
pendakian-gunung-rinjani-larangan-membawa-drone-selama-pendakian-e2fa4a8e27c8
url
https://medium.com/@frdi/pendakian-gunung-rinjani-larangan-membawa-drone-selama-pendakian-e2fa4a8e27c8
canonical_url
https://medium.com/@frdi/pendakian-gunung-rinjani-larangan-membawa-drone-selama-pendakian-e2fa4a8e27c8
author_url
https://medium.com/@frdi
status
ok
fetched_at
2026-07-19 06:43:54