← Back to list

Desember yang Tidak Memilih Kita

Prolog, 31 Desember 2025.

melorinee.d · 2025-12-31 16:22 · 0 claps · 3.7 min read
#htş #love
Open on Medium ↗
Wiki topics: 💑 · Relationships

Desember : Natal yang Tidak Memilih Kita

Prolog, 31 Desember 2025.

Prolog, 31 Desember 2025.

Natal tahun ini sepertinya datang tanpa aba-aba. Belum tanggal dua puluh, tetapi lampu-lampu kecil sudah digantung di mana-mana, di halte, di etalase toko, di kafe dekat kampus yang hampir setiap sore didatangi Nathan. Kota seolah ingin cepat-cepat terlihat hangat, meski hujan turun nyaris setiap hari.

Nathan duduk di dekat jendela kafe, memandangi jalanan yang basah. Ia datang lebih awal, seperti biasa. Bukan karena terburu-buru, hanya sebuah kebiasaan kecil Nathan, karena sepertinya menjadi pihak yang menunggu sudah menjadi bagian yang melekat dalam diri pria ini.

Elara belum datang.

Di mejanya tergeletak dua menu minuman yang belum dipesan. Nathan tahu, satu di antaranya bukan untuk dirinya. Ia hafal tanpa pernah benar-benar berniat menghafal.

Ponselnya bergetar.

“Hujannya makin ngeselin. Tapi ini gue otw.”

Nathan membalas singkat. “Santai aja.”

Ia meletakkan ponselnya kembali ke meja, lalu memperhatikan lampu natal kecil di sudut jendela. Cahaya kuning yang dipancarkan lembut sekali, hampir menipu mata yang melihat. Nathan lalu berpikir, andai perasaan juga bisa sesederhana itu, menyala ketika dibutuhkan, lalu padam tanpa meninggalkan sisa.

Beberapa menit kemudian, pintu kafe terbuka. Elara masuk sambil mengibaskan air hujan dari jaketnya. Rambutnya sedikit basah, pipinya memerah oleh udara dingin.

“Maaf ya,” katanya begitu melihat Nathan. “Tadi hujannya bikin macet parah.”

“Gapapa,” jawab Nathan. “Baru nyampe juga.”

Elara duduk di depannya, menaruh tas di kursi sebelah, lalu melirik sekeliling.

“Tempatnya lucu. Natal vibes-nya dapet banget.”

Ia tersenyum kecil. “Tapi panas.”

Nathan ikut tersenyum. “Estetik emang sering lupa sama kenyamanan.”

Elara mengangguk, membuka jaketnya sedikit. “Lo pesen apa?”

“Belum pesen.”

“Yaudah, sekalian,” katanya sambil melirik menu. “Cokelat panas, less sugar. Sama satu kopi hitam.”

Nathan menatapnya sesaat. “Kok tau?”

Elara mengangkat bahu. “Tebakan.”

Padahal bukan tebakan. Namun Nathan memilih tidak membenarkan, juga tidak menyangkal. Ada hal-hal yang terasa lebih aman jika dibiarkan tanpa penjelasan.

Sore itu berjalan pelan. Mereka berbincang tanpa topik besar, tentang tugas kuliah yang tak kunjung selesai, dosen yang suasana hatinya berubah tergantung cuaca, rencana liburan yang selalu berakhir wacana. Beginilah mereka berdua, ketika yang lain menghabiskan Natal bersama keluarga, mereka menghabiskan Natal selalu berdua, berbincang, lalu tertawa. Berdua, iya hanya berdua.

Jangan tanyakan pada Nathan jenis hubungan apa yang sedang mereka jalani saat ini, karena jujur saja pria satu itu tidak tahu harus dijelaskan bagaimana hubungan keduanya ini. Entahlah, biarkan semua orang melihat dan menebak akan dibawa kemana ketidakjelasaan ini.

Sore itu, Elara banyak tertawa. Tertawa yang lepas, tetapi sesekali berhenti terlalu lama.

Nathan memperhatikannya diam-diam. Ia sudah cukup lama mengenal Elara untuk membedakan tawa yang benar-benar bahagia dan tawa yang hanya ingin mengisi ruang kosong.

“El,” kata Nathan pelan saat suasana mulai tenang, “lo ngerasa nggak sih… Desember tuh kerasa capek?”

Elara menoleh. “Capek gimana?”

“Capek harus keliatan baik-baik aja.”

Elara tidak langsung menjawab. Ia menatap cangkir cokelat panasnya, meniup uap yang perlahan naik.

“Iya,” katanya akhirnya. “Kayak sedih tuh nggak kebagian momen.”

Nathan mengangguk. Ada banyak yang ingin ia katakan, tentang bagaimana ia melihat Elara lebih dalam dari yang orang lain lihat. Tapi kata-kata itu terasa terlalu berat untuk Natal sore yang seharusnya ringan.

“Semua orang sibuk ngerayain,” lanjut Elara. “Padahal nggak semua orang punya hal buat dirayain.”

Kalimat itu menggantung di antara mereka, seperti hujan yang urung untuk turun.

Malamnya, Nathan dan Elara menghadiri acara tukar kado kecil-kecilan bersama teman-teman. Lampu warna-warni digantung seadanya, musik natal diputar agak terlalu keras, dan tawa memenuhi ruangan.

Elara duduk di sebelah Nathan. Bahunya sesekali bersentuhan dengannya saat ia tertawa.

“Nat,” bisiknya sambil nyengir, “kalo kado gue jelek, itu pasti lo.”

“Kenapa selalu gue?”

“Soalnya lo keliatan paling mikir.”

Nathan terkekeh. “Logika lo aneh.”

“Tapi masuk akal kan.”

Satu per satu kado dibuka. Ada yang isinya lucu, ada yang jelas asal. Saat giliran Elara, ia membuka kotak kecil berwarna hijau tua. Di dalamnya, sebuah gelang tipis dengan bandul kecil berbentuk bintang.

Elara terdiam sejenak.

“Lucu,” katanya pelan.

Lalu ia menoleh ke Nathan. “Ini dari lo, ya?”

Nathan mengangkat bahu. “Bisa jadi.”

“Makasih,” ucap Elara. “Gue suka.”

Nathan menunduk sedikit, menyembunyikan senyum kecilnya. Di momen itu, ia hampir percaya bahwa perhatian yang ia simpan tidak sepihak, bahwa mungkin ada sesuatu yang tumbuh di antara mereka, perlahan, tapi nyata.

Mereka pulang bersama. Hujan telah reda, menyisakan jalanan basah dan udara dingin yang menggigit.

“El,” kata Nathan setelah berjalan cukup lama dalam diam, “menurut lo orang bisa bener-bener kenal seseorang nggak?”

Elara meliriknya. “Kenal yang gimana?”

“Kenal yang… sampe hal-hal kecil.”

Elara berpikir sejenak. “Mungkin bisa sih. Tapi jarang ya.”

“Maksud gue, sekenal apapun lo sama orang itu, pasti ada aja sesuatu yang lo juga ga tau tentang dia.”

Jawaban itu sederhana, tapi cukup untuk membuat dada Nathan terasa sedikit sesak, hanya sedikit. Ia ingin mengatakan bahwa ia termasuk orang itu, bahwa ia mengenal Elara lebih dari yang Elara sadari. Namun kejujuran itu terasa terlalu rapuh untuk diucapkan.

Mereka berhenti di depan kos Elara. Lampu teras menyala, hangat, tetapi terasa seperti batas.

“Makasih ya, Nat,” kata Elara. “Hari ini nyenengin, kaya tahun-tahun lalu.”

“Iya,” jawab Nathan. “Seneng.”

Elara masuk tanpa menoleh lagi.

Nathan berdiri sebentar di sana. Lampu natal di kejauhan masih menyala, terang untuk banyak orang, tapi tidak untuknya. Dari ponselnya, sebuah lagu natal mengalun pelan, tentang seseorang yang merasa paling mengenal, paling menjaga, namun tetap bukan yang dipilih.

Dan malam itu, Nathan akhirnya mengerti, tidak semua orang yang paling tahu akan menjadi tempat pulang. Kadang, seseorang hanya ditakdirkan untuk mencintai dengan diam, sementara dunia percaya, orang lainlah yang paling mengenal itu.


메타데이터
post_id
e3029b7828a8
slug
desember-yang-tidak-memilih-kita-e3029b7828a8
url
https://medium.com/@erinita28/desember-yang-tidak-memilih-kita-e3029b7828a8
canonical_url
https://medium.com/@erinita28/desember-yang-tidak-memilih-kita-e3029b7828a8
author_url
https://medium.com/@erinita28
status
ok
fetched_at
2026-07-13 19:00:05