Mengintip Studio Inspiratif & Resep Kesuksesan Pak Sutikno, Pengrajin Bambu dari Gunung Kidul
#6: pelajaran dari KKN-PPM UGM 2023 (bagian pertama)
Mengintip Studio Inspiratif & Resep Kesuksesan Pak Sutikno, Pengrajin Bambu dari Gunung Kidul
Photo by Annette Poi on Unsplash
Sepasang suami istri tampak asyik bercengkrama sambil menata tumpukan caping di teras rumah. Caping-caping yang terbuat dari bambu tersebut bukan buatan tangan mereka, melainkan dari warga sekitar di Kaliwaru. Padukuhan Kaliwaru yang terletak di Kapanewon Ngawen, Gunung Kidul, DI Yogyakarta ini memang dikenal dengan kampung wisata dengan kerajinan bambu sebagai ciri khasnya. Masyarakat Kaliwaru menjual caping-caping tersebut sebagai kerajinan sekaligus oleh-oleh khas Kaliwaru. Nah, pasangan inilah yang sejak dulu dipercaya untuk mengelola dan menyalurkan caping-caping tersebut untuk kemudian diperjualbelikan di pasar.
Saya mengenal pasangan suami istri tersebut dengan sapaan Pak Tikno dan Bu Tikno. Awalnya, saya mengenali mereka di sebuah acara keagamaan di Pura Podo Wenang, Padukuhan Kaliwaru. Pak Tikno dikenal sebagai pemangku agama Hindu, istilah untuk ulama atau kiai di agama Islam. Kebetulan saya dan lima rekan mahasiswa lainnya sedang melaksanakan program kuliah kerja nyata (KKN-PPM UGM) di padukuhan ini. Sewaktu Pak Dukuh (setara dengan kepala dusun) menyampaikan bahwa Pak Tikno punya “studio” bambu di rumahnya, kami penasaran dan segera menyampaikan niat untuk berkunjung. Siapa tahu kami bisa membuat program kerja yang berhubungan dengan kerajinan juga.
“Kulo nuwun, Bapak, Ibu.” Seketika fokus Pak Tikno teralihkan saat melihat saya dan beberapa rekan mahasiswa datang di kediamannya. Pak Tikno yang sedang mengobrol dengan istrinya segera bangkit dan menyapa kami, memamerkan kerajinan tangan buatannya. Saya pun tertegun sejenak saat melihat tumpukan tas wanita dari bambu, dompet, keranjang buah, kotak tisu, hingga kap lampu yang terpajang berjejer di ruang tengah rumah Pak Tikno. Melihat benda-benda yang pembuatannya lebih rumit itu, seketika caping jadi kurang menarik di mata saya. Sekilas mata saya menangkap Bu Tikno yang segera melipir ke dapur. Mungkin ingin membuatkan teh atau sejenisnya.
“Yang ini untuk apa, Pak?” saya mengajukan pertanyaan sambil menunjuk sebuah benda yang juga dari bambu. Terlihat seperti wadah juga, tapi yang ini lebih tipis.
“Oh, yang itu pouch, Mbak. Bisa untuk make-up atau perintilan kecil. Biasanya ibu-ibu dan anak cewek suka pakai,” terang Pak Tikno. Saya manggut-manggut sambil melirik ke arah ruang kecil di sebelah rumah yang seperti sengaja dibiarkan kosong. Hanya ada beberapa kursi, akuarium, dan sound system kecil. Kata Pak Tikno, beliau dan istrinya suka mengerjakan kerajinan di sana sambil memutar musik. Mungkin itu yang disebut Pak Dukuh sebagai studio.
“Jadi kayak studio ya, Pak? Bagus Pak, seperti di pameran,” ada kejujuran dalam kalimat saya barusan sebab saya lihat ada beberapa lukisan yang dipajang di beberapa sisi dindingnya. Tak lupa sedikit ornamen hiasan dari kayu dan bambu yang diletakkan di sudut-sudut ruangan. Membuat studio kecil Pak Tikno ini terasa lebih “bambu” dari bagian mana pun di rumahnya.
Tak lama, Bu Tikno muncul dari balik pintu dengan nampan berisi ubi goreng, pisang goreng, dan teh hangat. Aromanya lekas menari-nari di udara. Barulah kemudian kami berkumpul di atas tikar yang sudah digelar dan memulai obrolan. Setelah dipersilakan, saya mencomot satu ubi goreng yang masih hangat dari atas nampan. Hmm, gorengan dan teh hangat memang paling pas untuk menjadi teman jagongan.
Siang itu, di teras rumah Pak Tikno, obrolan kami mengalir sampai jauh. Ada sebuah kisah tersembunyi dan inspiratif tentang ketekunan dan dedikasi keluarga Pak Tikno di balik sebilah bambu yang mereka tekuni, yakni tentang kepedulian sosial. Pak Sutikno, seorang pengrajin bambu yang telah bertahan selama lebih dari dua dekade, bukan hanya pengrajin biasa. Beliau adalah simbol kegigihan yang menghidupkan kembali nilai-nilai tradisi melalui anyaman bambu, sekaligus membangun kesejahteraan bagi masyarakat sekitarnya.
Sejak tahun 1999, Pak Sutikno memulai perjalanan yang sama dengan pengrajin lainnya di Kaliwaru, yakni dengan menganyam caping — topi tradisional yang biasa digunakan oleh para petani. Namun, beliau tak ingin kecakapan tangannya berhenti sampai di situ. Beliau mengaku melihat potensi besar dalam kerajinan bambu dan bertekad untuk menjadikannya lebih dari sekadar kerajinan sederhana. Dengan tekad bulat, beliau akhirnya mulai mengembangkan berbagai produk anyaman seperti kap lampu, tas, dompet, wakul, hingga saringan teh dan kopi. Kreativitasnya dalam mengolah bambu sudah tidak diragukan lagi. Pak Tikno telah berhasil mengangkat citra kerajinan tradisional ke tingkat nasional, terbukti dengan berbagai undangan yang beliau terima untuk berbagi wawasan dalam seminar dan pelatihan.
“Waktu itu pernah diundang ke Bandung sama Kementerian ESDM. Terus yang paling jauh itu pernah saya diundang ke Medan sama Belitung. Nggak nyangka saya bisa jalan-jalan naik pesawat.” Pak Tikno tak kuasa menyembunyikan rasa senang dan bangganya kepada kami, sambil menunjukkan beberapa sertifikat yang diperolehnya dari Dewan Kerajinan Nasional.

Berbagai produk kerajinan bambu yang berhasil diabadikan tim KKN-PPM UGM Ngawula Ngawen 2023 dalam bentuk katalog (Sumber foto: Dokumentasi pribadi)
Bagi Pak Sutikno, keberhasilan pribadi bukanlah tujuan akhir. Beliau ingin lebih dari itu, yakni membangun kesejahteraan bagi masyarakat sekitar. Dengan niat yang tulus untuk membantu perekonomian warga, beliau membentuk kelompok pengrajin yang diberi nama Karya Bambu, sebuah komunitas yang bertujuan untuk memberdayakan para pengrajin bambu di Kaliwaru. Melalui kelompok ini, beliau berbagi ilmu, keterampilan, serta semangat pantang menyerah kepada masyarakat agar warisan budaya ini tetap lestari. Untuk produk buatan pribadi, Pak Tikno memberi nama usaha kerajinannya dengan Yudhistira Bambu.
“Yudhistira itu diambil dari nama anak saya satu-satunya. Makanya Ibu ini sering kesepian di rumah. Kalau mau monggo sering-sering main ke sini, Mbak” cerita Pak Tikno sambil menyelipkan “undangan” kepada kami agar rajin mampir yang segera kami setujui.
Di samping kesibukannya sebagai pengrajin, Pak Sutikno juga dikenal oleh masyarakat sebagai tokoh keagamaan Hindu di sana. Peran penting ini membawanya lebih percaya diri dan yakin dapat menyebarluaskan pengaruh positif bagi masyarakat. Tak heran jika masyarakat Kaliwaru menjadikannya sebagai sosok panutan yang dihormati dan diandalkan. Dengan kepeduliannya yang besar terhadap lingkungan sosial dan budaya, Pak Tikno telah merupa pahlawan lokal bagi Padukuhan Kaliwaru.
“Ya, awalnya kan Bapak nggak ada bedanya sama pengrajin lain di sini. Cuma keinginan Bapak itu tadi, mau bikin bambu jadi sesuatu yang nggak biasa. Kalau caping kan sudah biasa. Di Kaliwaru sudah banyak yang bisa buat. Sekarang Bapak bisa bikin tas, jadi bisa ngajari warga lain di sini.” Kali ini giliran sang istri bercerita, yang kemudian disambut dengan acungan jempol dari Pak Tikno. Pasangan suami istri yang suportif.
Kini, Pak Tikno dan istrinya telah menuai apa yang mereka tabur di masa lalu, dengan bekal keberanian untuk keluar dari zona nyaman. Bisnis lokalnya kini telah membantu memberdayakan ibu-ibu rumah tangga di Kaliwaru dan melambungkan namanya sebagai pemangku agama, pebisnis ulung, bahkan instruktur nasional. Selain memenuhi undangan konferensi, tak jarang Pak Tikno juga disibukkan dengan pesanan-pesanan kerajinan bambu, baik dari pabrik maupun perseorangan.
Cerita Pak Sutikno mengajarkan saya bahwa keahlian tradisional bukanlah sesuatu yang harus ditinggalkan di era modern. Justru dengan inovasi, keberanian untuk keluar dari zona nyaman, dan semangat berbagi, tradisi bisa tetap hidup dan memberikan manfaat bagi banyak orang. Seperti anyaman bambu yang kuat karena saling direkatkan, begitu pula kehidupan akan lebih bermakna jika dijalin dengan kebersamaan dan ketulusan.
메타데이터
- post_id
- e3148e8d3270
- slug
- keluar-dari-zona-nyaman-mengintip-studio-inspiratif-pak-sutikno-pengrajin-bambu-dari-gunung-kidul-e3148e8d3270
- url
- https://medium.com/@aicemochi/keluar-dari-zona-nyaman-mengintip-studio-inspiratif-pak-sutikno-pengrajin-bambu-dari-gunung-kidul-e3148e8d3270
- canonical_url
- https://medium.com/@aicemochi/keluar-dari-zona-nyaman-mengintip-studio-inspiratif-pak-sutikno-pengrajin-bambu-dari-gunung-kidul-e3148e8d3270
- author_url
- https://medium.com/@aicemochi
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-25 07:00:49