← Back to list

Ex i never had

Tidak ada yang lihai pada langkah pertama, semuanya amatir dan terasa getir. Rasanya telah mati sejak hari itu aku putuskan semuanya layak…

Beniceplease · 2026-05-31 01:21 · 0 claps · 2.6 min read
#hopeless-romantic #sad-ending #love
Open on Medium ↗
Wiki topics: 💑 · Relationships

Ex i never had

Pict by sender

Pict by sender

Tidak ada yang lihai pada langkah pertama, semuanya amatir dan terasa getir. Rasanya telah mati sejak hari itu aku putuskan semuanya layak untuk diakhiri. Aku rasa, kita memang tidak pernah berakhir, karena bukankah kita tidak pernah memulai apapun?

Entah sudah berapa Sabtu yang kulewati dengan termenung di atas meja belajar sebelah jendela berbidai pudar. Aku rasakan setiap hembusan angin yang semesta kirim untuk membelai pucuk kepala yang tak pernah aku dapat dengan kasat mata. Lihatlah langit malam itu seolah paham apa yang saat ini lebih kelabu darinya — ya, benar itu hatiku. Aku menerka-nerka,

“Sebenarnya apakah dia tahu kalau aku seperti ini?”

Mungkin dia tahu, mungkin dia juga sengaja untuk menyembunyikan segala menahunya. Tapi oh wahai tuan, mengatakannya jauh lebih membuatku terpukul mundur daripada berlagak seolah semuanya datang untuk menguji inginku saja dan pergi tanpa memikirkan sejauh apa anganku. Kalau saja rasa itu tidak pernah aku izinkan untuk hadir, maka sepertinya aku takan pernah berada di titik nadir.

Tidak sedikitpun ada rasa sesal dalam diriku yang dulu dan mungkin saat ini masih mencintaimu, semuanya hadir tanpa bisa kusangkal. Salah siapa kalau dirimu terlalu menawan sehingga membuat hatiku terlanjur tertawan? Sedikit banyakku merenungi hal rakus apa saja yang banyak dirimu miliki, sedangkan aku yang fakir akan semua itu. Pantas saja aku selalu memikirkan kalau aku tak pernah bisa memberikan dirimu apapun selain separuh jiwaku dan sebagian deru napasku. Betapa ironis, aku mencintaimu dengan segala keberanian, namun harus merelakanmu dengan segala keruntuhan.

“Seengan itukah dirimu untuk mencoba bersamaku?”

Walau hanya sekali saja, walau hanya sejenak untuk membuktikan bahwa rasa ini bukan sekadar bayangan yang berbisik dalam sunyi. Aku tahu, mungkin aku bukan segala yang kau cari, mungkin aku hanyalah luka yang menyamar jadi harap. Tapi bukankah setiap langkah pertama memang getir, dan setiap keberanian lahir dari keraguan yang paling dalam?

Aku berani berkata “Ambillah satu kesempatan itu” Karena jika kau menolak, biarlah aku tetap menulis namamu dengan tinta yang tak pernah kering, lalu menghapusnya dengan air mata yang tak pernah berhenti. Namun jika kau menerima, meski hanya sekali, mungkin semesta akan tersenyum melihat kita mencoba. Ada jeda di antara ego yang berusaha kau pertahankan dan perasaan yang mencoba aku upayakan. Dan di antara jeda itu, aku ingin berteriak “Take a chance with me..”

Aku berlakon sebagai manusia yang amat menatapmu pasti, sedang engkau menatapku dengan penuh tapi. Atau bahkan, tatapmu memang tak pernah menemukan diriku? Karena yang aku ketahui aku hanya bisa melihat punggungmu samar seperti bayangan yang enggan menoleh, seperti siluet yang sengaja menjauh.

Namun, pada akhirnya kurasa dunia memang tidak melahirkan dirimu untuk menjadi bagian bab terindah dalam kitabku. Mungkin semesta mau dirimu hadir sebagai bagian yang tak bisa kusentuh, namun tetap selalu indah untuk aku kenang. Kini aku berdiri di persimpangan, menatap jalan yang masih asing, menimbang langkah yang terasa rapuh. Kita berakhir di sini ya? Di mana? Di tempat yang bahkan tidak dirimu ketahui keberadaannya. Tapi perlu kukatakan, aku harap bayangan dirimu, ilusi romansa ini, dan semua angan tentang kita berakhir hari ini.

Pada sudut ruangan yang tak terpapar cahaya lampu yang temaram, aku menyematkan segala runtuhku saat aku merasa ingin menggapaimu. Di hamparan alas empuk itu aku terbaring dan kembali menyusun asa untuk bisa menerima seseorang lain yang pastinya bukan dirimu, bukan seperti kamu. Memulai kisah yang lain membuat diriku merasa amat takut, karena langkahku sebelumnya sudah terlalu akut. Di titik yang entah di mana, di bawah langit sebagai atap aku menautkan harap, menyemaikan setitik cahaya ragu kalau semuanya memang harus seperti ini. Mungkin, di luar bayanganmu, ada seseorang yang menunggu aku untuk berani mencoba lagi.

Aku tahu langkahku sebelumnya terlalu berat, terlalu penuh luka, tapi bait itu mengajarkanku bahwa kesempatan bisa datang berkali-kali dari hati yang masih merasa sayang.

Kenapa semuanya harus begini? Kenapa aku tidak pernah menang? Siapa yang akan aku cintai selanjutnya? Aku tak pernah tahu, atau mungkin aku memang tak pernah mau.


메타데이터
post_id
e34a0d8eeaee
slug
ex-i-never-had-e34a0d8eeaee
url
https://medium.com/@beniceplease/ex-i-never-had-e34a0d8eeaee
canonical_url
https://medium.com/@beniceplease/ex-i-never-had-e34a0d8eeaee
author_url
https://medium.com/@beniceplease
status
ok
fetched_at
2026-08-07 05:09:53