Tikus Tapi Kek Anjing
Series ODORO (One Day One Random Opinion) #44
Tikus Tapi Kek Anjing
Series ODORO (One Day One Random Opinion) #44

sumber: https://asset.kompas.com/
Pasti banyak dari kita yang sering menggunakan kata “anjing” sebagai kata umpatan ketika berhadapan dengan hal-hal menyebalkan. Dan kata ini yang sedang sering saya lontarkan akhir-akhir ini, sebab saya sedang bermasalah dengan satu binatang yang saking menjengkelkannya bahkan dapat mengganggu kondisi mental saya. Binatang itu adalah tikus. Bukan jenis tikus kecil yang biasa ditemui di plafon rumah, melainkan tikus got yang berukuran besar dan tinggal di area-area tersembunyi dalam tanah.
Berawal dari niat saya yang ingin memulai untuk mengolah sampah rumah tangga menjadi kompos, saya membeli paket lengkap peralatan dan campuran pendukungnya, serta mulai membuat kompos. Sayangnya, belum genap 12 jam setelah saya mengompos di siang hari, saya menemukan bahwa compost bag tersebut telah digerogoti oleh tikus pada salah satu bagian di malam harinya. Saya terkejut, namun masih berusaha untuk bersabar dan berencana untuk menambal lubang yang ada pada keesokan harinya. Setelah saya tambal rapat-rapat menggunakan plastik, saya berharap tikus tidak akan kembali ke sana. Namun, sudah jelas saya salah. Ternyata tikus tersebut kembali membuat lubang di area yang berbeda pada malam kedua. Bahkan saya memergoki ada dua ekor tikus sedang “bermain” di dalam karung tersebut, hingga membuat saya terkejut saat mereka berusaha melompat keluar untuk kabur dari compost bag.
Setelahnya, saya masih tidak menyerah untuk menambal kembali lubang kedua dan mulai berselancar di YouTube mencari tahu cara-cara yang dapat digunakan untuk mengusir tikus. Dan dari puluhan video yang saya tonton, saya menerapkan salah satu cara yaitu membuat campuran bawang merah dan sabun pencuci piring, untuk kemudian saya letakkan di sekitar compost bag bahkan hingga tiga wadah sekaligus. Dan apa yang terjadi di malam harinya? Tikus-tikus tersebut justru menumpahkan semua wadah yang saya letakkan di sana, sehingga membuat saya harus membersihkan seluruh lantai dari tumpahan cairan tersebut dan memaksa saya memutuskan untuk membuang percobaan kompos dengan alasan kesehatan. Sebab, tentu saja saya tidak ingin mempertahankan tumpukan sampah yang sudah diinjak-injak atau bahkan dikotori oleh tikus. Bisa-bisa bukan kompos yang saya dapatkan, melainkan penyakit pes.
Situasi berubah di malam selanjutnya. Ketika compost bag sudah tidak ada, saya pikir teror tikus juga akan menghilang sepenuhnya. Namun lagi-lagi saya kena prank. Deretan tanaman cabai yang saya letakkan di teras rupanya diceker dan dikeruk hingga ke bagian akar. Kalau kata gua mah ini tikus tapi kek anjing! Beruntung tanaman cabai saya tidak mengalami kerusakan yang parah, namun posisinya banyak yang miring, tapi masih bisa dibenahi. Dengan mulut penuh umpatan, saya memeriksa dan memperbaiki posisi tanaman satu-satu. Saya tidak membayangkan ketika tanaman kesayangan saya itu sampai dirusak atau dimakan, maka tentu saja saya akan mengibarkan bendera perang dengan tidak segan menuju toko pertanian terdekat untuk membeli racun tikus.
Lalu, pikiran saya turut membayangkan lebih jauh mengenai bagaimana repotnya para petani yang memiliki sawah berhektar-hektar ketika menghadapi hama berupa tikus, burung, ulat, wereng, dan sejenisnya. Sedangkan untuk hal yang sifatnya hobi seperti ini saja sudah cukup membuat hari saya berantakan, apalagi yang berkenaan dengan mata pencarian. Benar-benar sebuah perjuangan. Panjang umur petani!
메타데이터
- post_id
- e34cf52e8ef2
- slug
- tikus-tapi-kek-anjing-e34cf52e8ef2
- url
- https://medium.com/@artefactbydiy/tikus-tapi-kek-anjing-e34cf52e8ef2
- canonical_url
- https://medium.com/@artefactbydiy/tikus-tapi-kek-anjing-e34cf52e8ef2
- author_url
- https://medium.com/@artefactbydiy
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-21 19:25:17