Surat Terbuka untuk Dia si Anak Tengah
Klaten, 12 Juni 2026
Surat Terbuka untuk Dia si Anak Tengah
Klaten, 12 Juni 2026
Melalui surat terbuka ini, saya bermaksud menyampaikan beberapa pernyataan yang mungkin jarang dan terlampau sulit untuk diejawantahkan di tengah penyesuaian zona waktu serta padatnya kesibukan sehari-hari. Mohon kiranya dokumen tidak resmi ini dapat menjadi perhatian dia — dalam hal ini, Anda si Anak Tengah.
Pertama-tama, saya ingin menyatakan bahwasanya saya dilanda kerinduan akut terhadap Anda. Sungguh saya tidak menyangka diri ini yang sejak September tahun 2022 telah terdiagnosis sindrom ketergantungan terhadap Anda — ternyata mampu bertahan melewati hampir enam bulan ini tanpa asupan aroma tubuh Anda. Saya mohon agar Anda berkenan memberikan apresiasi dan ucapan selamat atas pencapaian saya tersebut.
Saya telah berhasil menjaga hati dan hari-hari saya yang kering kerontang (mungkin layaknya udara Ras Laffan hari ini) tanpa siraman kasih sayang Anda secara langsung. Apalagi makhluk mungil peninggalan Anda yang satu itu, dengan tangan dan mulut kecilnya, kian hari kian menunjukkan tingkah yang ajaib. Syukurlah, keberadaannya sukses meningkatkan frekuensi istighfar saya sebagai bentuk permohonan ampun dan perlindungan ekstra kepada Allah.
Namun demikian, saya menyadari bahwa Anda di sana pasti merasakan tingkat ujian yang sama payahnya, bahkan mungkin lebih berat dari apa yang saya hadapi di Tanah Air. Menjalankan pekerjaan yang menuntut kehadiran siang-malam, digigit dinginnya angin pesisir dan disengat panasnya gurun negara teluk, tentulah merupakan proses beradaptasi yang sangat menantang. Belum lagi Anda harus melewati bulan puasa tanpa sahur dan berbuka bersama keluarga. Walaupun saya bukan master chef, saya yakin seribu persen, pasti lidah Anda merindukan masakan saya, bukan? Begitu pula dengan kewajiban merayakan hari-hari raya di negeri orang (bahkan di kantor), di tengah kondisi perang-perangan akhir zaman. Namun, lihatlah Tuan! Anda sudah bertahan selama enam purnama!
Kedua, saya hendak menghaturkan rasa terima kasih yang tak terhingga atas segala manifestasi perjuangan dan kerja keras Anda saat ini. Namun sebelum itu, rasanya saya juga perlu menyampaikan terima kasih kepada Panitia Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru Institut Teknologi Bandung Tahun 2015. Berkat legitimasi keputusan mereka dan atas izin Allah, takdir menggariskan hidup kita untuk saling bersinggungan, berinteraksi, dan pada akhirnya berkomitmen seumur hidup. Terima kasih telah memvalidasi saya dari sekian ratus mahasiswi ITB kala itu untuk menjadi rekan perjalanan hidup Anda. Mengarungi samudera kehidupan bersama Anda adalah anugerah dari Allah yang akan selalu saya syukuri.
Perlu untuk Anda garisbawahi bahwasanya saya sangatlah bangga. Anda adalah sarjana pertama dalam keluarga Anda. Terima kasih karena senantiasa berjuang dan memberikan pembuktian. Selalu berkorban untuk orang-orang tersayang. Jika pada fase sebelumnya kerja keras Anda didedikasikan penuh untuk orang tua dan keluarga, maka pada fase ini, saya beserta jagoan kecil kesayangan Anda merasa sangat terhormat untuk menerima estafet hasil jerih payah tersebut. Terima kasih karena telah menunjukkan bahwa tangan Allah selalu hadir bagi hamba-Nya yang menolak untuk menyerah.
Ketiga, melalui surat ini saya mengajukan permohonan maaf secara resmi. Kiranya Anda dapat menerima permohonan maaf saya karena belum mampu memenuhi kualifikasi sebagai istri yang baik, yang mungkin meleset dari kriteria dan ekspektasi awal Anda. Sebagai anak perempuan yang seumur hidup diarahkan oleh orang tua, saya terkadang masih mengalami loading dan error dalam mengambil keputusan-keputusan kehidupan, sehingga kurang lebihnya masih membutuhkan Anda juga untuk saya andalkan. Di sisi lain, karena saya juga anak pertama yang keras kepala, saya sepenuhnya sadar karakteristik tersebut kerap masuk ke dalam sistem pernikahan kita dan sering kali membuat saya menjadi teramat menyebalkan. Mohon kiranya Anda berkenan bersabar, menasihati, dan memaafkan saya jika sesekali kebijakan egois saya membuat Anda merasa terabaikan. Saya sedang dan akan terus melakukan penyesuaian diri, menekan ego tersebut agar bisa menjadi mitra yang lebih taat dan seimbang bagi Anda.
Keempat, saya berharap Anda dapat memberikan sedikit ruang pemahaman, bahwasanya Anda tidak memegang tanggung jawab penuh atas segala fluktuasi emosi yang saya rasakan. Pada titik ini, durasi kehidupan yang kita jalankan bersama masih jauh lebih singkat dibandingkan dengan total waktu saat kita belum saling mengenal. Padahal di masa-masa itulah yang secara fundamental membentuk kerangka berpikir kita saat ini.
Selama ini, saya telah mengerahkan segenap upaya untuk mengerti cara Anda memandang dunia. Namun, saya mohon maaf, karena pada kenyataannya pasti ada banyak variabel di kepala Anda yang murni hanya Anda, si Anak Tengah yang bisa merasakannya. Mengintegrasikan dua isi kepala yang berbeda tidaklah sesederhana kelihatannya. Saya sangat memahami bahwa kedudukan Anda sebagai anak tengah telah menempa Anda sedemikian rupa — menjadikan Anda sosok yang mungkin selalu ada di belakang panggung, terbiasa mengalah, berhati-hati, menimbang segala kemungkinan, atau cenderung lebih nyaman mengarsipkan sendiri berbagai emosi yang dirasakan.
Saya harap Anda mengerti. Saya siap menjadi ruang yang paling aman dan nyaman untuk melucuti segala atribut ketegaran dan mengekspresikan versi Anda yang paling orisinal apa adanya. Dalam otoritas rumah tangga kita, hak prerogatif dan suara Anda adalah harga mati bagi saya. Saya akan selalu berdedikasi untuk menjadi pendamping dan pendengar yang baik untuk Anda.
Dalam hipotesis saya, pernikahan bukanlah sekadar tentang seberapa mampu kita menerima setumpuk perbedaan yang kita bawa masing-masing. Lebih dari itu, ia adalah tentang seberapa besar kapasitas kita beradaptasi dengan perbedaan tersebut, hingga akhirnya sistem kita menemukan titik kesetimbangan yang baru. Pernikahan juga akan menguji seberapa sanggup kita terus-menerus meminta dan memberi maaf, bukan untuk mencari siapa yang salah, melainkan murni karena cinta kepada Allah.
Terakhir, intisari dari tulisan panjang lebar yang membingungkan ini adalah: Selamat Ulang Tahun, suamiku Sayang. Saya sangat menyesal tidak bisa membersamai Anda di hari pergantian usia ini.
Dengan mengandalkan privilege doa seorang istri dan ibu, saya mendoakan agar Anda senantiasa diberikan kekuatan oleh Yang Maha Kuasa untuk memimpin keluarga ini. Semoga Anda bisa terus memperlakukan kami dengan ma’ruf, menjadi pelindung layaknya ‘pakaian’ yang menutupi dan menghangatkan, serta memperoleh ikhlas tak terbatas dalam mensuplai nafkah yang berkah bagi kami. Tanggung jawab menghadirkan sakinah, mawaddah, dan rahmah memang sangat besar, tapi saya yakin seyakin-yakinnya bersama Allah, Anda mampu memimpin rombongan kita menuju surga-Nya. Dengan demikian, surat terbuka ini saya tutup dengan ajakan agar kita sebagai rekan seperjalanan seumur hidup dapat terus saling belajar, saling memaafkan, saling melengkapi, dan saling mengasihi.

Hormat saya,
Pihak Pertama yang Masih Sepenuhnya Milik Anda di Dunia Ini
메타데이터
- post_id
- e36231edfb2f
- slug
- surat-terbuka-untuk-dia-si-anak-tengah-e36231edfb2f
- url
- https://medium.com/@dsaraswati/surat-terbuka-untuk-dia-si-anak-tengah-e36231edfb2f
- canonical_url
- https://medium.com/@dsaraswati/surat-terbuka-untuk-dia-si-anak-tengah-e36231edfb2f
- author_url
- https://medium.com/@dsaraswati
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-09-19 03:59:39