Kabut
Kabut menghalangi pandangan. Tak hanya menghalangi pandangan untuk berjalan dalam kenyataan, tetapi perjalanan dalam kehidupan. Kabut…
Kabut

Kabut menghalangi pandangan. Tak hanya menghalangi pandangan untuk berjalan dalam kenyataan, tetapi perjalanan dalam kehidupan. Kabut menyelimuti tanpa sedikit pun memberi ruang untuk melihat ke depan. Aku meraba-raba penuh khawatir, pandangan seadanya membuat berjalan penuh pertimbangan. Bukan hal mudah menjaga pandangan agar tetap mengetahui apa yang terjadi di depan.
Kabut berkumpul menutupi jalan. Tak ada jalan yang terlupakan oleh awan muram, semuanya terisi penuh sesak. Siapa yang mampu menembus kegelapan, kemudian bertahan hingga kabut itu membubarkan diri tanpa sedikit pun melukai. Tak jarang manusia-manusia yang mencoba melewatinya dengan gagah nan berani, menghilang dalam kumpulan kabut tebal yang menutupi.
Tak ada manusia yang tak menemui kabut dalam hidupnya. Kabut-kabut itu menampakkan diri penuh keberanian seolah menantang siapa yang mampu melewatinya akan menjalani hidup bagaimana mestinya.
Aku menyeret kaki, meraba-raba, dan berharap kabut itu hilang ditelan cahaya matahari yang dapat menerangi jalan. Kepada siapa aku berharap agar kabut ini tak menghalangi pandangan, sementara pandangan terjaga seadanya adalah hal menyedihkan. Laiknya hidup tanpa tujuan, aku berjalan melewati kabut ini dengan penuh pertanyaan. Sepertinya kabut tak akan melukai siapa-siapa yang mempercayai proses kehidupan.
Aku tak pernah membaca di surat kabar orang meninggal karena dilukai kabut. Tetapi, beberapa hilang saat melawannya. Kabut itu jelas tak akan memberikan kematian, tetapi memutuskan harapan tentang keindahan jalan di depan. Jalan yang didambakan dengan penuh kebahagiaan, kadang berakhir dengan kesedihan.
Entah apa yang berada di balik kabut itu. Kepercayaan mendasari bahwa kabut itu menutupi keindahan yang harus dicapai dengan peluh. Tak hanya keindahan, tetapi makna perjalanan. Toh, hidup adalah perjalanan. Perjalanan dengan pemandangan lembah, bunga-bunga bermekaran, serta cahaya yang menerangkan akan dinikmati setiap pejalan. Sedikit pejalan yang menikmati perjalanan gelap penuh pertanyaan.
Dalam perjalanan penuh keputusasaan, tampak seorang kakek tua berjalan ditemani sebuah tongkat dari kayu.
“Bagaimana melewati kabut ini, Pak?”
“Menikmati semuanya hingga kau lupa berada dalam kumpulan awan muram.”
메타데이터
- post_id
- e364d0c36d07
- slug
- kabut-e364d0c36d07
- url
- https://medium.com/@fahmifirmansyaaah/kabut-e364d0c36d07
- canonical_url
- https://medium.com/@fahmifirmansyaaah/kabut-e364d0c36d07
- author_url
- https://medium.com/@fahmifirmansyaaah
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-22 16:12:32