A Private War: Perjuangan Terakhir Marie Colvin
Beberapa hari yang lalu, saya membaca berita terkini terkait situasi Israel-Palestina di banyak situs pemberitaan. Lalu, saya terpikirkan…
“So it’s a complete and utter lie that they’re only going after terrorists.” — Marie Colvin before her death.
Beberapa hari yang lalu, saya membaca berita terkini terkait situasi Israel-Palestina di banyak situs pemberitaan. Lalu, saya terpikirkan bagaimana nasib para wartawan yang tengah meliput situasi perang secara langsung dengan mengorbankan nyawanya? Saya merinding hanya dengan memikirkannya. Lantas, saya mencari cerita-cerita tentang jurnalis perang — atau biasa disebut sebagai war correspondent di laman Google. Saya menemukan cerita Musthafa Abd Rahman, seorang pensiunan wartawan dari Harian Kompas yang menghabiskan karier kewartawanannya di Kairo selama 30 tahun. Saya juga menemukan Ugi Astono, seorangjurnalis perempuan yang kerap bertugas meliputi perang Internasional. Kemudian, saya menemukan cerita legenda seorang jurnalis perang yang terkenal di dunia bernama Marie Colvin. Kisahnya sebagai jurnalis dijadikan film yang berjudul A Private War.
A Private War merupakan film biografi dari jurnalis terkenal yaitu Marie Colvin. Film ini dirilis pada tahun 2019 yang disutradarai okeh Matthew Heineman. Tepatnya, film ini dirilis di tahun yang sama ketika pengadilan memutuskan bahwa kematian Marie Colvin bukanlah sebagai korban perang, tetapi pembunuhan yang disengaja oleh Pemerintahan Suriah saat itu, Bashar Al-Assad. A Private War dibuat berdasarkan artikel yang ditulis oleh Marie Brenner pada tahun 2012 yang berjudul Marie Colvin’s Private War. Rosamund Pike dan Jamie Dornan memerankan peran utama sebagai Marie Colvin dan Paul Conroy dalam film A Private War.
Marie Colvin adalah seorang jurnalis yang mendedikasikan sebagian besar hidupnya untuk meliput berita perang internasional. Marie lahir di New York, AS, dan bekerja sebagai jurnalis di Harian Sunday Times, Inggris, dari tahun 1985–2012. Walaupun Marie dikenal banyak orang karena karyanya yang selalu menginspirasi dan mendapatkan sejumlah penghargaan besar, hidupnya berbanding terbalik. Ia selalu merasa gelisah dan khawatir. Kariernya sebagai jurnalis perang pun menjadi salah satu penyebab kegagalan hubungan asmara Marie.
Semenjak kejadian perang di Sri Lanka yang menyebabkan Marie kehilangan mata kirinya, kehidupan Marie menjadi jauh lebih suram. Ia mengalami PTSD dan kerap terbayang-bayang mayat tubuh perempuan yang dipenuhi darah berada di atas kasurnya. Ia sempat diobati di klinik kejiwaan untuk menyembuhkan PTSD, tetapi, ia memilih untuk terjun ke lapangan lagi untuk meliput berita perang.
Dalam perjalanannya sebagai jurnalis perang, ia bertemu Paul Conroy yang merupakan freelance photographer dari Inggris di Suriah pada tahun 2003. Paul yang memiliki sedikit pengalaman merasa takjub ketika bertemu Marie pertama kali. Semenjak itu, hubungan Marie dan Paul menjadi dekat sebagai partner kerja di medan perang dan kerap bekerja bersama-sama. Hubungan kerjasama mereka berakhir ketika sedang meliput berita di Homs, Suriah, pada tahun 2012.
Film A Private War merupakan film pertama tentang war correspondent yang saya tonton. Selama menonton, saya dibuat merinding dan sedih melihat perjalanan Marie sebagai jurnalis perang yang terkenal saat itu. Jika saya tarik garis besar ceritanya, film ini lebih menjelaskan bagaimana Marie melawan rasa gelisah dan khawatirnya untuk berani meliput berita di zona perang. Film ini juga mendeskripsikan bagaimana kondisi psikologis Marie yang sebenarnya tidak stabil, tetapi ia memaksa dirinya untuk tetap waras di war zone. Sisi ketidakstabilannya terlihat ketika Ia berubah menjadi pecandu alkohol dan seringkali menangis sendirian. Saat itu, Paul sebagai partner kerja sangat memahaminya, terlebih Paul memiliki pengalaman di medan perang juga sebagai tentara di masa lalu. Dalam hal ini, saya memuji penampilan Rosamund Pike yang memerankan tokoh Marie Colvin sebaik dan semirip mungkin, hanya saja yang membedakan adalah nada suaranya. Rosamund Pike menggunakan nada bicara yang berat untuk melakukan percakapan sehari-hari dalam memerankan tokoh Marie, sedangkan Marie yang asli memiliki nada bicara yang umum.
Matthew Heineman berhasil menyajikan pemandangan war zone yang mengintimidasi dan mencekam dalam A Private War. Detail-detail yang ada di war zone seperti bagaimana para korban perang terluka hingga meninggal juga dibuat sejelas mungkin. Terus terang, saya sempat menangis ketika ada anak kecil yang mengalami luka berat akibat bom dan tembakkan, lalu dibawa ke salah satu tempat persembunyian saat perang di Homs, Suriah, dimana ada Paul dan Marie di situ. Anak kecil tersebut menghembuskan nafas ketika hendak ditolong oleh tenaga medis yang menjadi korban juga di sana.
Ada banyak hal yang saya dapatkan selama menonton film A Private War. Tokoh Marie Colvin sangat menginspirasi saya untuk terus berani mengikuti kata hatinya dalam mendukung kebenaran. Ada salah satu percakapan Marie bersama temannya, Kate, yang menurut saya sangat menyentuh hati. Kira-kira seperti ini:
“ ‘War is not so terrible for governments. For they are not wounded or killed like ordinary people.’ ”— Marie Colvin
“It doesn’t matter what type of plane just bombed a village. What is important is the human cost of the act. People connect with people, so you find their stories, tell their stories, and forget about the other stuff.” — Marie Colvin
“Look, this is the rough draft of history. You have to find the truth of it. If you lose that, you’re not helping anybody here. You’re just making yourself feel better.” — Marie Colvin
A Private War juga menampilkan adegan siaran langsung Marie ke beberapa channel berita sebelum kematiannya di Homs, Suriah, yang merupakan adegan ikonik. Saat itu, Marie melakukan siaran langsung dengan Anderson Cooper sebagai pembawa berita untuk channel CNN. Ada salah satu ucapan Marie saat melakukan interview yang menurut saya adalah hal yang sulit dilakukan untuk jurnalis perang seperti dirinya.
“The regime in Syria claims they’re not hitting civilians, that there is no armed conflict, that there is no war inside Syria, that they are basically just going after terrorist gangs.” — Anderson Cooper, CNN.
“Every civilian house on this street has been hit. We’re talking about a very poor popular neighborhood. The top floor of the building I’m in has been hit, in fact, totally destroyed. There are no military targets here. There is the Free Syrian Army: Heavily outnumbered and out-gunned — they have only Kalashnikovs and rocket-propelled grenades. But they don’t have a base. There are more young men being killed, we see a lot of teen-aged young men, but they are going out to just try to get the wounded to some kind of medical treatment. So it’s a complete and utter lie that they’re only going after terrorists. There are rockets, shells, tank shells, anti-aircraft being fired in parallel lines into the city. The Syrian Army is simply shelling a city of cold, starving civilians.” — Marie Colvin, Sunday Times.
Sejujurnya, saya sedih ketika menonton film A Private War. Menurut saya, jurnalis perang memiliki tugas yang sama beratnya seperti tentara di garda terdepan. Mereka mengorbankan nyawanya untuk menulis berita perang. Walaupun ada larangan bagi pihak yang berperang untuk menargetkan jurnalis, namun, larangan tersebut tidak menjamin untuk dipatuhi. Bahkan, jurnalis perang bisa menjadi korban perang ataupun korban pembunuhan yang disengaja.
Saya berpikir dengan melihat situasi terkini, bagaimana jadinya jika Marie Colvin masih hidup sampai sekarang? Akankah dirinya berjuang untuk meliput berita Israel-Palestina sama seperti ketika di Homs, Suriah? Apakah dirinya mampu melawan negaranya sendiri, AS dan Inggris, yang merupakan sumber kekuatan pendukung Israel dalam melancarkan agresinya di Palestina? Atau dirinya memilih untuk berada di zona aman dengan tidak memberikan dukungan suara untuk Palestina?
Marie Colvin adalah legenda dalam dunia jurnalis perang. Marie menjadi sosok yang menginspirasi bagi banyak orang untuk terus bersikap berani dalam mencari dan mendukung kebenaran, meskipun nyawa sebagai jaminannya. Saya berharap nama Marie Colvin akan terus dikenang oleh masyarakat dunia sebagai jurnalis perang dan aksi-aksi heroiknya sepanjang masa.
메타데이터
- post_id
- e39a152ee759
- slug
- a-private-war-perjuangan-terakhir-marie-colvin-e39a152ee759
- url
- https://medium.com/@absurdism/a-private-war-perjuangan-terakhir-marie-colvin-e39a152ee759
- canonical_url
- https://medium.com/@absurdism/a-private-war-perjuangan-terakhir-marie-colvin-e39a152ee759
- author_url
- https://medium.com/@absurdism
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-23 15:37:50