memahami sisi emosional diri di balik nikmatnya hidup dengan logika
Si Sombong
memahami sisi emosional diri di balik nikmatnya hidup dengan logika
Si Sombong
Pernah denger enggak, ada orang sombong yang bilang:
“Aku bisa semuanya sendiri, aku enggak butuh orang lain.”
Ya… itu aku. Remaja yang tahun ini umurnya belum genap 23 tahun. Kamu tahu? Pertahanan dan prinsip yang aku pegang teguh selama hidup sejauh ini adalah menjadi “makhluk individualis”. Tapi sekarang, prinsip itu luluh lantak dan aku dengan berani mengakui: aku salah.
Ya, aku bisa bilang begitu karena faktanya memang mendukung. Aku mulai tinggal mandiri di usia 20 tahun. Kerja keras, kejar karier, upgrade diri, urus ini itu, handle semua tanggung jawab sendirian tanpa pernah melimpahkannya ke orang lain, termasuk ke keluargaku.
Semua ini bermula saat aku mendengarkan pengalaman hidup beberapa orang. Tentang seberat apa mereka bertahan, jatuh bangun, sampai mengikhlaskan semuanya, mulai dari yang dituduh menggelapkan uang ratusan juta, terjerat judi online sampai rugi puluhan juta, hingga yang bertahan sejak kecil tanpa sosok pelindung. Mendengar itu, aku malah mempertanyakan diri sendiri, “Kok hidupku stabil banget ya secara emosional? Aku enggak pernah marah yang meledak-ledak, enggak pernah sedih yang berlarut-larut sampai 7 hari 7 malam.” Wahaha, kalau sampai 7 hari 7 malam mah malah mirip orang yasinan enggak sih? Haha.
Sempat terlintas di pikiranku, “Ya Tuhan, ayo segera beri aku cobaan sekarang. Aku enggak mau kalau cobaan itu baru datang di masa tua, saat aku sudah enggak punya banyak kekuatan dan kesempatan untuk gagal seperti di masa muda ini.”
Dan akhirnya, Tuhan mendengar doa (sombong) itu…
Sosok Itu
Begitu sombongnya aku menantang Tuhan atas tingkat kepercayaan diri yang kupunya. Padahal, aku ini cuma partikel kecil, sebutir debu yang hampir tak terlihat mata. Pemikiran nekat itu muncul karena aku merasa belum pernah merasakan emosi yang begitu dalam seperti cerita orang lain. Ya, walaupun sejak SD aku sudah kehilangan sosok Ibu yang sangat aku rindukan sampai saat ini. Tapi karena waktu itu aku masih kecil dan belum tahu apa-apa, rasa rindu dan ingatan itu berjalan natural saja seiring waktu. Enggak berakhir jadi trauma atau masa kelam yang menghantui.
Sejak kecil, aku terbiasa hidup mengandalkan logika. Mode bertahan hidup adalah cara teraman buatku. Setelah Ibu tiada, aku hidup nomaden. Rasanya kayak bola yang dioper dari kaki ke kaki kakak-kakakku. Sebagai gambaran, aku sempat mencicipi 5 sekolah yang berbeda saat masih sekolah dasar.
Ya, kamu enggak salah dengar. 5 sekolah!
Tapi tahu enggak bagian paling kerennya? Haha, aku selalu bisa mengejar materi, selalu naik kelas, bahkan beberapa kali langganan ranking 1 atau 2. Tanpa disadari, skill beradaptasi cepat dengan lingkungan baru sudah terbentuk sejak dini karena hidupku enggak monoton di satu tempat.
Jadi, jangan ajari aku gimana caranya tahu diri atau sadar diri. Aku sudah khatam di bidang itu. Malas rasanya cerita bagian ini, tapi bayangkan saja gimana rasanya hidup di bawah kendali orang lain tanpa ada ruang sedikit pun untuk sekedar mengeluh. Dari sanalah aku terbiasa mengandalkan logika dan belajar mandiri sebagai bentuk pertahanan diri. Aku menyebut diriku kuat. Aw, shittt…
Tapi ternyata, kuat saja enggak cukup.
Setelah sekian lama menata karier, kalau melihat ke 5 tahun ke belakang, posisiku yang sekarang sudah melesat cukup jauh. Aku bangga pada diriku yang selalu bisa upgrade diri. Namun, selama proses itu, tanpa disadari aku menemukan sosok yang bisa kunamai sahabat.
Kita sebut saja dia “Dia”.
Awalnya cuma dari basa-basi seputar dunia kerja karena kebetulan kami satu lingkup profesi. Kami mulai dekat dari ngobrol, nongkrong, dan aktivitas bersama yang hampir tiap hari dilakukan. Sejauh ini, aku nyaman di lingkup pertemanan ini. Bukan karena dia sempurna tanpa cela, tapi karena bersama dia, aku enggak perlu jaim atau menjaga gaya bahasaku yang oleh beberapa orang seumuran sering disebut aneh dan enggak asyik. Dia enggak menghakimi. Dia tenang dan enggak terburu-buru. Sangat berbanding terbalik denganku yang saat itu lagi norak-noraknya menikmati masa kebebasan yang enggak pernah kurasakan selama sekolah. Waktu luang kuisi buat belajar hal baru, improve skill, dan bereksperimen. Untungnya, aku masih punya kontrol penuh atas diri sendiri, walaupun ya… pernah kebablasan juga sesekali. Wajar, namanya juga manusia, Boy, bukan nabi, wkwk.
Hidup dengan logika penuh awalnya terasa menyenangkan karena aku bisa abai pada hal-hal enggak penting buatku. Tapi bertemu dengan Dia yang tenang membuatku sadar selama ini aku terlalu fokus pada tujuan dan problem solving, sampai mengabaikan sisi emosional yang sebenarnya adalah hakikat kita sebagai manusia. Bertemu dengannya membuatku mengerti artinya menikmati hidup dengan santai, dan aku suka cara pandang itu. Sampai akhirnya, tanpa sadar aku jadi sangat terbuka ke dia. Bisa dibilang 80% sampai 90% cerita hidupku dia tahu, termasuk pengalaman terburukku. Dia adalah orang pertama yang mendapat kepercayaan sebesar itu dariku. Karena responnya aku enggak sadar kalau aku mulai membangun ketergantungan emosional. Semua yang ada di kepalaku kutumpahkan ke dia karena dia adalah pendengar yang baik dan terbuka pada sudut pandang baru.
Bunga
Di akhir tahun, aku menemukan seseorang di Gedung putih secara enggak sengaja. Setelah sekian lama PDKT, jadianlah kami. Hahaha, anak muda ini mulai merasakan hati berbungabunga kayak di lagu-lagu cinta. Lagu Tulus yang judulnya “Jatuh Suka” sangat mewakili perasaanku saat itu.
Tapi singkat cerita, ternyata ada hal yang enggak bisa dipaksakan. Akhirnya kami putus. Patah hatilah aku. Buset, cepat banget ya jalurnya? Baru aja berbunga-bunga, langsung layu, haha! Lagi-lagi lagu Tulus yang menggambarkan situasiku, kali ini judulnya “Hati-Hati di Jalan”. Bagian patah hati ini mungkin bakal aku ceritain lain kali, ya. Lanjut…
Di waktu yang bersamaan, sahabatku (Dia) juga lagi menjalin asmara dan sudah pindah tempat kerja. Komunikasi kami enggak seintens dulu lagi. Tapi aku selalu menyempatkan waktu buat tanya kabar, sekedar memastikan dia baik-baik saja di sana.
Ekspektasi
Di masa-masa patah hati, aku merasa butuh tempat bersandar untuk bercerita. Aku coba beberapa kali menghubungi Dia. Sampai pada suatu malam, di saat aku butuh banget curhat, dia cuma bilang kalau dia ngantuk. Ya oke, namanya juga manusia bisa capek, itu wajar. Terpaksa kusimpan lagi cerita itu sendiri.
Kamu pernah chat Presiden enggak? Atau DM Instagram Cristiano Ronaldo? Dibales enggak? Mungkin dibales, tapi enggak tahu kapan. Nah, sama halnya denganku saat nge chat dia. Serasa nge chat orang paling penting sedunia. Tanpa sadar, aku mulai menunggu kabarnya, menunggu waktunya, menunggu obrolannya. Aku menjadikan dia sebagai pelabuhan utama untuk membagikan emosiku.
Aku belum melihat bahayanya sampai pada suatu pagi, aku bangun tidur dengan otak yang penuh drama akibat hubungan dengan pacarku waktu itu (sebelum putus). Di situlah ketergantungan itu makin menjadi, dan karena awalnya dia selalu menyambutku dengan pintu terbuka, aku makin masuk ke dalam zona ketergantungan itu. Karena jarak kami yang cukup jauh dan komunikasi yang terbatas, aku selalu menunggu kehadirannya. Padahal di sisi lain aku paham, masing-masing dari kami sudah berubah prioritas hidupnya. Bagian ini mungkin terdengar agak lebay buat kalian yang belum pernah merasakannya tapi di dekat dia, aku enggak perlu jaga jarak. Di dekat dia, dunia terasa baikbaik saja. Di dekat dia, jiwa ambis ini bisa ikut tenang. Pokoknya, di dekat dia aman. Aku sesayang itu sebagai sahabat. Kalau dunia mulai menyakitinya, aku bakal jadi orang paling depan buat merangkulnya. Aku bahkan sering cemas kalau dia main ke kotaku, menempuh puluhan kilometer demi bertemu pacarnya, lalu pulang larut malam dengan kondisi yang aku enggak tahu gimana. Di malam-malam seperti itu, aku selalu menawarkan jaket atau mantelku, karena cuaca malam enggak pernah bisa ditebak. Bahkan aku selalu menawarkan dia untuk menginap di kosanku yang meski enggak mewah, tapi cukuplah kalau sekedar buat tidur.
Dulu, aku menganut pemahaman kalau hubungan itu harus balance ada imbal balik, ikut memberi dan menerima. Tapi aku merasa enggak pernah bisa membantu dia apa-apa. Dia jarang bercerita, jarang mengeluarkan isi kepala atau isi hatinya, dan jarang mengeluh. Jujur, aku kebingungan memahami dia dengan informasi yang minim banget ini. Sampai ada momen di mana dia pernah bilang kalau aku belum sepenuhnya memahami dia, hanya karena aku salah membaca bahasa tubuhnya saat kami membahas tentang mantannya. Srettt… jless… Tembus ke ulu hati. Seketika aku enggak bisa menyembunyikan raut wajah kecewaku, kecewa pada diri sendiri. Aku enggak tahu dia sadar atau enggak, tapi yang jelas aku langsung membatin, “Selama ini aku belum jadi sahabat yang baik buat dia…”
Berawal dari rasa menunggu itu, setiap janji temu yang diucapkannya jadi momen yang paling aku tunggu-tunggu. Secara enggak sadar, ekspektasiku melambung tinggi. Sampai akhirnya, beberapa kali janji itu mulai dilanggar tanpa ada komunikasi maupun penjelasan apa pun.
Aku enggak menghakimi atau menyalahkannya. Di momen itu, aku langsung refleksi diri sebagai bentuk pertahanan. Saat ekspektasi muncul berlebihan, aku mencoba mengimbanginya dengan memikirkan kemungkinan terburuk (perang antara emosi vs logika). Kebetulan saat itu aku lagi baca buku “Filosofi Teras”. Konsep yang paling melekat dan bisa kuterapkan di situasi ini adalah Dikotomi Kendali: fokus pada apa yang ada dalam kendali kita (seperti persepsi dan ekspektasi sendiri), dan tidak memusingkan hal di luar kendali kita (seperti sikap, sudut pandang, dan cara dia merespon). Di sinilah aku sadar bahwa kebutuhan emosional yang selama ini tertutup, mulai beralih dan bergantung penuh pada dia.
Badai Emosional
Sebagai orang yang baru “berkenalan” dengan sisi emosionalnya sendiri, aku langsung disuguhi paket lengkap: rasa kesepian secara emosional, kebingungan membaca responnya yang abu-abu, dan rasa kangen yang kuat banget. Ini kangen terkuat yang muncul lagi setelah rasa kehilangan Ibu waktu SD dulu. Dampaknya? Fokusku langsung merosot tajam. Aku jadi overthinking. Kinerjaku di tempat kerja berantakan, dan semangatku buat mengerjakan tugas kuliah di Universitas Terbuka (UT) drop. Aku enggak paham kenapa momennya bisa pas banget: kerjaan lagi numpuk, tugas kuliah menanti, ditambah drama kantor yang hampir ada tiap hari karena manajemen lagi ada perombakan besar-besaran. Aku dipaksa beradaptasi lagi dan lagi.
Wow, ini berat banget. Sampai akhirnya setelah beberapa tugas selesai, aku mengajukan cuti 2 hari di hari Sabtu dan Minggu buat sekedar rehat dari drama kantor. Bersyukur atasanku langsung meng ACC tanpa banyak tanya. Waktu cuti itu kualihkan fokusnya untuk menyelesaikan tugas tugas UT dan belajar mengendalikan emosi. Aku jadi makin sering baca buku Filosofi Teras. Teman-temanku sempat menyebutku rajin waktu itu. No… ini bukan rajin, Temanku. Ini adalah proses pengendalian diri biar tetap waras, wahaha!
Ini adalah kali pertama aku merasakan kehilangan yang sulit dijelaskan. Orangnya masih ada, kami masih dekat, sesekali masih bisa diajak bicara, tapi aku sadar aku enggak bisa lagi menempatkan dia di posisi yang sama seperti dulu. Di situlah aku mulai melihat masalah yang jauh lebih besar. Selama ini, aku ternyata menaruh terlalu banyak kebutuhan emosional di satu tempat yang sama. Saat sedang senang, aku ingin cerita ke dia. Saat sedang sedih, aku mencari dia. Saat sedang bingung, aku menunggu dia. Saat ada kabar baik, dia juga orang pertama yang ingin aku hubungi. Padahal, manusia adalah makhluk yang dinamis. Kesibukan berubah, prioritas berubah, arah hidup pun ikut berubah. Dan itu sangat normal. Untuk pertama kalinya aku sadar, kebutuhan emosional kita tidak boleh seluruhnya digantungkan pada satu orang saja.
Bukan karena orang itu buruk.
Bukan pula karena dia pasti akan pergi.
Tapi karena pada hakikatnya, tidak ada satu pun manusia di dunia ini yang sanggup menjadi wadah bagi semua kebutuhan emosional kita sekaligus. Dan ya sekali lagi aku mengulangi bahwa Ini kehilangan paling membingungkan karena dia enggak benar-benar pergi. Dan kalaupun pergi, apa alasannya? Sesekali aku mencoba memutar skenario ekstrem di otakku kalau saja dia melakukan kesalahan fatal yang enggak bisa kutoleransi seperti mengumbar pengalaman terburukku yang kuceritakan di bab sebelumnya mungkin itu bisa jadi alasan kuat buatku untuk memutus kebingungan yang melelahkan ini. Tapi aku tahu persis, dia enggak akan melakukan hal sejahat itu.
Malam-Malam yang Sulit
Pernah suatu malam saat pulang kerja, hujan turun deras dan aku sengaja menerobosnya. Suasana sunyi, dingin, berpadu dengan rasa sesak yang penuh di dada dan kepala. Dengan tubuh yang dilindungi mantel, aku keliling kota mengambil rute acak dan memutar. Ada rasa marah, kecewa, sedih, dan sakit yang campur aduk. Tapi di saat yang sama, logikaku malah menginterogasi, “Kamu marah karena apa? Sedih karena apa? Dia kan enggak ngapa-ngapain, dia cuma menjalani hidupnya dengan baik. Terus kamu kenapa?”
Batinku capek, rasanya lelah.
Aku sebenarnya agak malu menceritakan ini. Di tengah hujan, air mata turun karena sedih, tapi tiba-tiba berhenti karena logikaku menyela, “Sedihnya kenapa coba?” Terus habis itu nangis lagi. Siklus itu terus berulang sepanjang jalan menuju kosan. Sungguh perjalanan yang melelahkan. Untuk pertama kalinya dalam hidup, aku menemukan masalah yang enggak bisa diselesaikan dengan logika. Logika yang selama ini kubanggakan ternyata mati kutu, enggak bisa mencerna apa yang sedang terjadi. Malam demi malam aku begadang, memikirkan cara gimana agar bisa tenang, enggak kangen, dan enggak kesepian lagi. Malam yang biasanya gampang buatku tertidur, berubah total saat janji temu statusnya digantung tanpa kejelasan jadi atau batal. Sepanjang malam aku cuma bisa “tidur ayam”. Badan istirahat, tapi pikiran dan kesadaran tetap terjaga, menunggu siapa tahu dia datang tengah malam. Aku enggak mau pas dia datang, aku malah tidur pulas tanpa rasa bersalah. Aku ingin selalu ada saat dia membutuhkan ku. Malam terasa panjang banget, cuma ditemani suara jangkrik dan dengung AC. Lagi-lagi logikaku berbisik,
“Oke, dia enggak bakal datang, jadi mari tidur.” Tapi makin dipaksa, mata makin melek. Di
titik inilah aku menyerah dan sadar: logika enggak bisa menyelesaikan semua hal, ada bagian emosional dari diriku yang minta dimengerti.
Kalian pasti mikir, “Kenapa enggak di-chat aja sih daripada nungguin enggak jelas kayak gitu?” Wey, aku juga punya gengsi, Bos! Aku enggak mau kelihatan butuh banget, karena takutnya malah bikin dia risih. Kenapa aku bisa berasumsi begitu? Karena aku belajar dari hubungan masa laluku dengan mantan pacar. Dulu dia terlalu bucin (budak cinta) sampai membuatku merasa terkekang dan enggak bebas kemana-mana. Jadi buat kamuyang lagi bucin-bucinya sama pacar, dengerin nih: kalian boleh cinta, tapi tolong kelola output cinta kalian, sesuaikan dengan gaya pendekatan pasangan. Karena cinta tanpa pemahaman itu sama dengan penjara.
Di malam yang lain, setelah kami pulang dari kondangan teman, sebelum pulang ke rumahnya dia bilang mau mengambil ban depan motornya yang dititipkan di kosanku setelah dia bertemu pacarnya. Kata-kata yang sebenarnya biasa saja, enggak perlu dicari makna terdalam atau pelajarannya, ya kan? Tapi karena saat itu aku sudah mulai belajar mengendalikan ekspektasi dan mencari solusi mandiri jika hal terburuk terjadi, aku menemukan jalan tengahnya. kamu mau tahu? Karena kamu memaksa, oke aku kasih tahu, whahahaha!
Ban depannya sengaja aku taruh di luar kosan. Sebelum tidur, aku cuma kirim chat singkat: “Kalo nanti mau ambil ban motornya, aku taruh di luar ya, ambil aja.” Beres. Jadi, datang atau enggaknya dia malam itu enggak bakal jadi beban pikiran buatku, daripada aku harus nunggu ketidakpastian lagi, whahah. Untungnya, daerah kosanku minim kriminalitas (bahkan enggak pernah ada kejadian kemalingan), jadi aman-aman saja menaruh ban di luar. Kalau yang dititipkan barang berharga lain, mungkin solusinya bakal berbeda.
Fase Refleksi
Dari semua fase berantakan ini, aku akhirnya sampai pada kesadaran terbesar: aku sedang belajar menjadi manusia.
Dulu, aku adalah orang yang memegang teguh prinsip hidup dengan logika yang kaku harus masuk akal, kuat berdiri di atas kaki sendiri, dan mandiri mengurus segala urusan personal maupun profesional. Tapi pengalaman ini memaksa diriku untuk melihat sisi lain yang selama ini tersembunyi. Aku mulai memahami arti rasa rindu, kehilangan, kecewa, dan ketergantungan emosional terhadap orang lain. Hal-hal yang sangat sulit digambarkan secara logika. Sebagus apa pun kosakata yang kupunya, tetap enggak akan bisa menjelaskan situasi terdalam yang tersirat di dalam emosiku sendiri.
Untuk pertama kalinya, aku memvalidasi bahwa sisi emosi itu nyata dan ada di dalam diriku. Emosi adalah bagian dari manusia itu sendiri. Dia bukan simbol kelemahan atau tanda ketidakmampuan seseorang dalam mengendalikan diri. Emosi adalah rasa yang timbul secara alami akibat dari apa yang kita jalani. Emosi enggak bisa dipaksa hadir, tapi dia akan lahir dengan sendirinya.
Setelah menyadari hal itu, sekarang aku menerapkan treatment yang berbeda antara logika dan emosi dalam menyelesaikan masalah. Logika fokus pada solusi dan hasil akhir, bisa mengambil keputusan dengan cepat kalau bukti dan datanya sudah lengkap. Sangat berbeda dengan emosi. Kali ini, aku lewat banyak tahapan:
-
Menyadari dan mengakui kalau emosi ini memang ada.
-
Memvalidasi perasaan yang sedang dirasakan tanpa ada penyangkalan (denial). Proses ini memakan waktu lama karena harus dirasakan dengan tenang sampai selesai satu per satu.
-
Berdiskusi dengan diri sendiri (tahapan favoritku). Mencari tahu apakah dari gabungan beberapa kemungkinan bisa melahirkan jalan tengah. Di tahap inilah logika mulai diajak bekerja sama, enggak boleh ada yang terlalu dominan.
Setelah proses diskusi batin itu selesai, barulah muncul beberapa keputusan akhir, dan di sinilah logika boleh kembali dominan untuk mengeksekusi tindakan. (Ini bentuk penanganan versi aku ya. Kalau versi kalian mungkin berbeda, karena di sini aku enggak menjelaskan hal secara objektif dengan data atau angka yang kuat, melainkan murni subjektif dari sudut pandangku. Dan setiap sudut pandang individu itu berbeda, dan itu adalah hal yang sangat normal.)
Membangun dan Memahami
Di malam Minggu yang lain, dia mengajakku nongkrong. Katanya kangen pengen mengobrol bareng teman-teman yang lain juga. Bisa kalian bayangkan, kan? Kalau ajakan ini muncul sebelum bab “Badai Emosional”, sudah sangat jelas aku bakal gaspol paling depan. Ya gimana, namanya juga kangen, Bos! Whahaha.
Tapi di momen ini, aku justru mulai belajar gimana caranya membangun batasan diri (boundaries) supaya enggak terseret terlalu jauh. Malam itu sebenarnya aku punya dua opsi: ketemu Dia (sahabatku), atau ketemu orang baru yang baru aku kenal di Instagram. Di sini aku seakan disuruh memilih: orang lama atau orang baru? Dengan kesadaran penuh, dan sebagai bentuk proteksi diri, aku mengabaikan momen yang paling aku tunggu-tunggu itu. Akhirnya, aku memilih untuk bertemu orang baru. I am so sorry, Sahabatku… Bukannya aku enggak mau ketemu atau enggak peduli lagi. Tapi ini demi menjaga sisi emosional kupikir yang lagi enggak stabil saat itu. Aku enggak mau merusak momen nongkrong kalian dengan energi negatifku. Prinsip batasan diri ini akhirnya mulai aku terapkan juga ke lingkungan sekitarku. Aku mulai
berani menolak beberapa permintaan yang sekiranya enggak perlu, enggak mengiyakan semua hal, dan berhenti memaksakan diri untuk selalu “hadir” buat semua orang. Capek kali, sumpah!
Aku kan kerjanya jadi sales, ya. Tiap hari dituntut ketemu orang, harus selalu menjaga vibe positif, berbaur dengan rekan kerja, belum lagi menjaga komunikasi internal kantor. Aku sadar, aku enggak punya energi tanpa batas buat dibagikan ke semua orang. Sekarang, aku hanya akan hadir untuk sebagian orang yang menurutku memang penting, dan berhenti memaksakan sebuah hubungan.
Oh iya, setelah aku analisis semua kejadian kemarin, aku akhirnya paham kenapa Dia enggak pernah cerita sedalam aku bercerita ke dia atau kenapa kebanyakan manusia memilih untuk memendam ceritanya sendiri. Ternyata, memang enggak semua orang merespon emosi dengan cara yang sama. Aku sadar, aku adalah tipe orang yang memproses emosi dengan cara berbicara dan berpikir. Makanya, aku suka banget mengobrol mendalam (deep talk) yang bisa membuatku memahami sudut pandang baru dan berefleksi ke dalam diri. Sebagian orang mungkin menganggap aku terlalu banyak berpikir. Bisa jadi memang begitu.
Tapi sejauh ini, berpikir dan berdiskusi dengan diriku sendiri adalah cara yang paling membantuku memahami apa yang sedang terjadi.Memang begitulah caraku merespon sesuatu. Perbedaan cara menikmati hidup dari masing-masing individu itu hal yang sangat normal, dan aku sangat menghargainya.
Di sisi lain, sebagian orang mungkin merespon emosi dengan cara diam, dipendam, atau memikirkannya sendiri untuk mencari jalan keluar secara mandiri. Itu juga enggak salah. Kalian punya cara sendiri, dan mungkin punya pengalaman masa kecil yang berbeda. Pengalaman masa lalu itulah yang membentuk bagaimana cara kita merespon masalah sekarang.
Aku menikmati, aku mempelajari, dan aku memperbaiki, dan perlahan aku bertumbuh dengan cara ku sendiri
MANUSIA UTUH
Di tahun ini, aku benar-benar belajar menjadi manusia yang lebih utuh. Aku belajar bagaimana logika dan emosi bisa berjalan berdampingan dalam menjalani hidup. Aku belajar bahwa ternyata aku tidak sekuat yang selama ini kubayangkan. Tapi aku juga tidak selemah yang sempat kutakutkan. Aku bisa terikat, bisa kecewa, bisa kehilangan, dan bisa merasakan rindu yang begitu dalam. Aku bersyukur Tuhan mengabulkan doa nekatku di masa muda. Badai emosional kemarin mengajarkanku satu hal yang tidak pernah kupahami sebelumnya: menjadi mandiri bukan berarti harus hidup dalam kesepian, dan menjadi logis bukan berarti harus mematikan rasa.
Aku yang sekarang bukan lagi anak 20 tahun yang sombong dan merasa bisa menggenggam dunia sendirian. Aku tetap si ambisius yang mengejar karier, tetap mahasiswa UT yang berusaha menyelesaikan kuliahnya, tetap seorang sales yang dituntut berenergi setiap hari. Bedanya, sekarang ada satu ruang baru dalam diriku.
Ruang yang mengizinkan diriku untuk sedih.
Ruang yang mengizinkan diriku untuk kecewa.
Ruang yang mengizinkan diriku untuk merindukan seseorang.
Dan ruang yang mengingatkanku bahwa membutuhkan orang lain bukanlah sebuah kelemahan, melainkan bagian dari menjadi manusia. Untuk Dia, terima kasih sudah menjadi bagian dari perjalanan ini. Mungkin tanpa sadar, kamu pernah menjadi cermin yang memperlihatkan sisi diriku yang selama ini tidak pernah kukenal. Kamu tetap sahabatku tidak ada yang berubah, dan aku bersyukur pernah melewati semua proses itu bersama kehadiranmu. Hanya saja sekarang aku tidak lagi berdiri di depan pintu yang abu-abu sambil menunggu jawaban yang tidak pasti seperti waktu itu.
Karena sekarang aku tahu cara berjalan di atas kakiku sendiri tanpa harus menutup diri dari dunia. Dan di usiaku yang belum genap 23 tahun ini, aku tidak lagi takut pada cobaan yang akan datang, Karena aku sudah berhasil melewati ujian pertamaku yaitu belajar menjadi manusia yang seutuhnya.
“18 juni 2026”
메타데이터
- post_id
- e39b5934eac0
- slug
- belum-kenal-sisi-emosi-sih-mangaknnya-sombong-whahah-e39b5934eac0
- url
- https://medium.com/@jurnaltirsa2003/belum-kenal-sisi-emosi-sih-mangaknnya-sombong-whahah-e39b5934eac0
- canonical_url
- https://medium.com/@jurnaltirsa2003/belum-kenal-sisi-emosi-sih-mangaknnya-sombong-whahah-e39b5934eac0
- author_url
- https://medium.com/@jurnaltirsa2003
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-07 02:51:59