What I Think When I Feel Sad About Myself
“Bagaimana bila selamanya begini? Apakah segala sesuatunya akan berjalan dengan baik?”
DIARI
What I Think When I Feel Sad About Myself
“Bagaimana bila selamanya begini? Apakah segala sesuatunya akan berjalan dengan baik?”

Ilustrasi oleh DADU SHIN
Sudah lama aku tidak menulis diari.
Sebetulnya baru sebulan setengah, sih. Tapi tetap saja aku rindu bukan kepalang. Biar bagaimanapun, menulis seperti ini selalu berhasil menolongku. Terutama saat awan gelap sedang mengitari kepalaku terus-terusan, tanpa kepastian kapan akan pergi. Adakalanya ia menurunkan gerimis kecil. Adakalanya berubah menjadi hujan lebat disertai angin kencang. Aku berkutat dengan kondisi seperti itu selama bertahun-tahun. Bertahun-tahun. Entah kapan berakhir.
Selama kita punya seseorang untuk diajak berbicara, kehangatan matahari akan kembali datang. Begitulah anggapan umum. Sayangnya, itu tidak berlaku bagi semua orang.
Aku lupa karena apa. Yang jelas, suatu hari aku bertekad mengungkapkan setengah dari apa yang ada di dalam hatiku. Niat itu kulaksanakan betul-betul. Dari situ, kusadari aku telah menjadi manusia yang hanya bisa mengungkapkan setengah dari apa yang kupikirkan. Dilihat dari sisi mana pun, itu jelas bukan sikap hidup yang elok. Aku sadar itu. Tapi sudah terlambat. Akibatnya, aku kesulitan menceritakan diri sendiri. Tidak lagi mudah untuk mengungkapkan sesuatu secara jujur. Kata-kata tenggelam semakin dalam di kegelapan.
Semenjak itu, sebagian besar hidupku dijalani dengan rasa bersalah.
Hampir delapan bulan berlalu setelah perpisahan itu, aku masih cukup sering sulit tidur. Bagiku, ini seperti siksaan. Malam yang seolah-olah abadi, ditambah segala ingatan yang muncul berdesak-desakan, tentu saja itu sangat memedihkan hati. Persis seperti sebuah kalimat yang diartikulasikan novel Dengarlah Nyanyian Angin karya Murakami. Buku yang sangat bagus. Kurang lebih kalimatnya berbunyi seperti berikut:
“Hal-hal yang tidak mengenakkan biasanya muncul di tengah malam.”
Sekarang aku paham ‘hal-hal tidak mengenakkan’ apa yang dimaksud.
Kadang-kadang aku dilanda kesepian. Namun bukan jenis yang biasa, melainkan yang timbul karena merindukan satu orang. Aku malu mengakuinya, tapi setiap kali aku memikirkannya, diam-diam aku berharap dia juga memikirkanku. Jauh di lubuk hati aku percaya, selama dua orang yang terpisah tetap saling merindukan satu sama lain, maka semakin mungkin untuk bertemu kembali.
Barangkali ini terlalu lancang. Tapi aku mohon dia terus mengenangku selama yang dia mampu. Aku takut dilupakan.
Begitupun diriku, aku akan berusaha mengenangnya sebisaku. Karena aku tidak bermain Instagram, upaya yang tersedia begitu terbatas. Apa yang bisa aku lakukan paling-paling mengorek-orek isi kepalaku agar menemukan segelintir hal tentangnya. Seperti bagaimana rambutnya terlihat. Bentuk tubuhnya yang mungil. Perubahan wajahnya saat marah, sedih, atau gembira. Cara ia berjalan. Dan suaranya — yang membuatku sadar bahwa aku mudah luluh pada perempuan yang bersuara lembut.
Demikianlah, sambil memejamkan mataku yang selalu ingin pagi segera datang karena takut dengan malam yang sunyi — padahal tetanggaku berisik. Aku terus membayangkan sosoknya yang memelukku erat. Mengusap rambutku pelan-pelan.
“Bagaimana bila selamanya begini? Apakah segala sesuatunya akan berjalan dengan baik?”
메타데이터
- post_id
- e3a4d3408ef4
- slug
- what-i-think-when-i-feel-sad-about-myself-e3a4d3408ef4
- url
- https://medium.com/ruang-kontemplasi/what-i-think-when-i-feel-sad-about-myself-e3a4d3408ef4
- canonical_url
- https://medium.com/ruang-kontemplasi/what-i-think-when-i-feel-sad-about-myself-e3a4d3408ef4
- author_url
- https://medium.com/@justjeki
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-23 06:34:20