Diam membisu seolah tak merindu.
Akulah si pengecut itu.
Diam membisu seolah tak merindu.

Hai, musim hujan akan datang pasti tidak sungkan untuk membasahi bumi. Jangan lupa pakai mantel warna cerah mu biarkan dia menjadi berguna untuk saat ini.
Aku tidak ingin membahas soal hujan. Aku ingin membahas seseorang yang saat ini menjelma seperti angin. Kamu, seperti angin yang kurasakan kehadirannya dan aku, manusia bodoh yang berharap bisa menggenggamnya.
Aku disini, diam membisu seolah tak merindu. Sesak di dada jika melihat kenyataan bahwa kita memang sudah jauh. Perihal menyampaikan aku terlalu pengecut sampai akhirnya aku benar-benar tidak pernah melihat senyum manis mu lagi.
“Bagaimana jika aku tidak akan pernah melihat mu lagi?”
Kalimat yang selalu singgah di benak ku. Ketakutan itu mungkin menjadikan ku seperti manusia yang tidak mempunyai pilihan lain karena aku tetap mencari mu, aku tetap berharap bahwa kita akan bertemu kembali.
Aku masih disini. Semoga terpintas memori tentang ku, tak apa jika hanya sekedar lewat. Mungkin saat sedang sendiri? Atau ketika menatap langit? Ku harap begitu.
— i
메타데이터
- post_id
- e3aa45dddaf1
- slug
- diam-membisu-seolah-tak-merindu-e3aa45dddaf1
- url
- https://medium.com/@liaraa/diam-membisu-seolah-tak-merindu-e3aa45dddaf1
- canonical_url
- https://medium.com/@liaraa/diam-membisu-seolah-tak-merindu-e3aa45dddaf1
- author_url
- https://medium.com/@liaraa
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-25 14:21:05