← Back to list

Sandwich Generation: Menjadi Babu Setelah Acara Makan Malam Keluarga

nggak bakal ngerti jika nyari gas melon lebih susah daripada minta tanda tangan dosen.

Melinda Sintawati · 2025-03-21 23:46 · 3 claps · 4.2 min read
#features #home-sweet-loan #articles #sandwich-generation #artikel-bahasa-indonesia
Open on Medium ↗

Sandwich Generation: Menjadi Babu Setelah Acara Makan Malam Keluarga

salah satu scene dalam film Home Sweet Loan

salah satu scene dalam film Home Sweet Loan

Sejenak saya berpikir, jika tugas seorang anak ketika sudah dewasa adalah melayani orangtua sebagai bentuk balas budi, lalu apa tugas orangtua itu sendiri? Saya tidak menutup mata dari fakta yang ada, bahwa kewajiban mencari nafkah hingga membesarkan anak merupakan bagian tersulit dalam hidup manusia — mungkin — tapi itu adalah tanggung jawab yang harus mereka ambil ketika pertama kali memutuskan untuk memiliki anak. Sayangnya, banyak para orangtua yang masih berpikir jika memiliki anak adalah investasi untuk hari tua. What the hell?

Beberapa hari yang lalu saya sempat membaca postingan di platform media sosial X, yang kurang lebih mengeluhkan soal nasibnya sebagai anak orang miskin. Dia mengatakan yang intinya, “kalau hidup masih miskin jangan punya anak atau nambah anak dulu.” Saya sepakat dengan pernyataan itu. Dan saya lebih sepakat lagi jika narasi “banyak anak banyak rezeki” dihapuskan dari muka bumi. Karena kenyataannya justru berbanding terbalik, apalagi jika kita hidup di negara seperti Indonesia. Kebiasaan beranak banyak hingga belasan seperti yang dilakukan orang zaman dulu, harus berhenti di kita. Stop melahirkan sandwich generation yang dapat memperpanjang penderitaan dan kemiskinan!

Berbicara soal penderitaan dan kemiskinan di Indonesia, kita semua sudah tahu seperti apa bentuknya. Terkecuali mereka yang mengaku super rich dan tidak napak tanah — nggak bakal ngerti jika nyari gas melon lebih susah daripada minta tanda tangan dosen. Saya juga pernah membaca sebuah kutipan keren, “kita miskin bukan karena nasib, tapi karena kebijakan tolol pemerintah.” Absolutely factual. Sayangnya, kita masih belum bisa keluar dari penderitaan ini. Kita pun tak bisa berharap banyak dari pemerintah di era kegelapan seperti sekarang. Bakal lebih susah sebab rakyatnya pun terbecah belah.

Ini bukan lagi soal pilpres, ya! Saya tahu kita punya pilihan masing-masing. Dan ini bukan tentang siapa yang paling terbaik. Jadi berhenti mendebatkan sesuatu yang sudah tidak perlu lagi dipersoalkan — seharusnya. Mari alihkan fokus kita untuk melek dan lebih krtitis tentang kebijakan yang dibuat oleh pemerintahan gemuk ini yang banyak merugikan rakyat. Buka mata, buka telinga, dan jangan denial dari fakta yang ada; bahwa rezim ini memang bodoh! Ah, oke, baiklah, saya tidak akan memperpanjang pembahasan ini. Namun karena topiknya memang menyingung soal kemiskinan, jadi saya kelepasan bahas pemerintah.

Kembali ke topik yang sesungguhnya; menjadi babu setelah acara makan malam keluarga.

Kamu pernah menonton film Home Sweet Loan? Jika iya, ingatkah dengan scene ketika Kaluna mencuci piring selesai makan malam keluarga? Tidak ada yang membantu justru malah makin numpuk. Berada di posisi Kaluna itu rasanya heran, marah, tapi nggak bisa protes, karena hal seperti itu dianggap sebagai kewajiban seorang anak untuk membantu orangtua. Tetapi saya rasa kosakata “membantu” itu telah bertransformasi menjadi “membabu”.

Sekecil apa pun tanggung jawab, tetaplah tangung jawab,

Saya memang belum bernasib penuh seperti Kaluna, tapi ada kemungkinan bisa bernasib seperti dia. Saya hanya baru sampai pada tahap pertama; menjadi babu di rumah. Kita semua dapat melihat, ada lebih dari satu anak di dalam anggota keluarga tersebut, beberapa sudah mengemban tanggung jawab sendiri; berkeluarga. Namun alih-alih introspeksi diri, justru malah tidak tahu diri.

Orangtua pun seringkali membedakan tugas dan (katanya) kewajiban untuk seorang anak laki-laki dan perempuan. Saya tidak punya saudara laki-laki di rumah, maka dari itu tanggung jawabnya terasa dua kali lipat apalagi sebagai anak perempuan pertama. Budaya patriarki yang terus berkembang di masyarakat seakan membuat kami, para perempuan, tidak dapat bergerak bebas. Pekerjaan kami tidak jauh-jauh dari menjadi babu untuk makhluk Tuhan yang bernama laki-laki.

Membersihkan rumah, mencuci piring, mencuci baju, menyetrika, dan lain-lain telah dinobatkan sebagai tugas wajib seorang perempuan. Padahal menjaga kebersihan rumah merupakan tanggung jawab bersama harusnya. Namun ketika kami, para perempuan, meminta kesetaraan, kami ditampar dengan perkataan, “Kalau dilihat orang-orang, coba pikir, apakah pantas jika laki-laki melakukan pekerjaan ini?” Melakukan pekerjaan rumah itu tidak akan membuat aura maskulin itu hilang.

Terhimpit di Antara Dua Kewajiban

Jika kemiskinan masih terus menjadi masalah utama rakyat, maka hidup di tengah keterbatasan ekonomi membuat orang-orang miskin seperti saya ini harus menanggung beban ganda. Kami tidak hanya harus mencari nafkah untuk diri sendiri, tetapi juga untuk orangtua, ditambah beban dan tanggungjawab mengurus rumah yang dianggap sebagai kewajiban berbakti kepada mereka.

Kondisi ini makin membuat keluhan demi keluhan terus menggerutu dari hati maupun mulut. Tidak ada habisnya merutuki nasib, “mengapa harus saya?”. Berat bagi orang-orang seperti kami yang lahir dari keluarga kurang mampu. Tidak punya tabungan pensiun, tidak punya jaminan sosial yang layak, yang harus berujung terjebak pada situasi menikah muda. Yang katanya, “biar ada yang nafkahin” padahal keadaan seperti itu justru semakin mendekatkan kami, para perempuan, pada gaya hidup patriarki.

Konon katanya perempuan adalah perhiasan dunia, tetapi kenyataannya justru di dunia perempuan sering diperbudak untuk melayani yang katanya ingin disebut raja. Ah, saya salah, mungkin Tu(h)an! Akan sulit menggaungkan kesetaraan jika perempuan tidak boleh mengenyam pendidikan lebih tinggi dari laki-laki, perempuan tidak boleh lebih kaya dari laki-laki, tidak boleh lebih pintar dari laki-laki. Sialnya, saya terjebak di lingkungan seperti itu. Bahkan ketika saya memutuskan untuk melanjutkan pendidikan saya di jenjang kuliah, dibilang tidak realistis karena lahir dari keluarga miskin.

Perempuan harus bisa multitasking, sering kali menjadi pembenaran bagi eksploitasi tenaga mereka. Tinggal bilang saja laki-laki sebenarnya malas! Dalam keluarga miskin, perempuan selalu terhimpit di antara dua kewajiban; punya suami pengangguran jadi harus menggantikannya bekerja cari nafkah, belum lagi pekerjaan rumah yanng katanya adalah tanggung jawab perempuan, mengurus anak, dan masih banyak lagi.

Ketika kumpul acara keluarga, perempuan yang harus jadi korban. Memasak besar dan berakhir harus mencuci piring dan lagan. Kelihatannya seperti pekerjaan sepele. Tetapi sungguh, ini menyusahkan. Saya yakin setiap manusia memiliki rasa tanggung jawab pada dirinya sendiri. Jika seperti itu, seharusnya mereka juga punya rasa tanggung jawab terhadap alat makan yang baru saja digunakan. Mencuci satu piring tidak butuh waktu lama, bahkan tidak ada satu menit. Sayangnya tidak semua manusia sadar akan tanggung jawaba kecil itu. Mungkin mereka berpikir, “Ah, saya di sini tamu, mana mungkin saya mencuci sendiri piring bekas saya. Tumpuk sajalah, biar si tuan rumah yang mengerjakan.”

Memang, tamu katanya adalah raja. Namun, untuk hal ini adalah masalah kekeluargaan. Bukan saya tidak terima karena harus menjadi pihak seperti Kaluna dalam film Home Sweet Loan, tapi pentingnya kesadaran pada diri sendiri.

Mengakhiri beban sandwich generation perlu berhenti membebankan segalanya pada satu generasi saja. Karena perubahan tidak terjadi dalam satu malam, tetapi langkah kecil — seperti pembagian tanggung jawab yang lebih adil dalam keluarga — bisa menjadi awal dari perubahan yang lebih besar.


메타데이터
post_id
e3d4cf29d889
slug
sandwich-generation-menjadi-babu-setelah-acara-makan-malam-keluarga-e3d4cf29d889
url
https://medium.com/@melindasinta/sandwich-generation-menjadi-babu-setelah-acara-makan-malam-keluarga-e3d4cf29d889
canonical_url
https://medium.com/@melindasinta/sandwich-generation-menjadi-babu-setelah-acara-makan-malam-keluarga-e3d4cf29d889
author_url
https://medium.com/@melindasinta
status
ok
fetched_at
2026-07-21 07:55:39