← Back to list

Belajar Mengenal Ibu, Setelah Dewasa

Tantangan Menulis Esai Hari Ibu

Jess Mei in Perspektif Perempuan · 2025-12-25 05:18 · 245 claps · 3.2 min read paywalled
#perspektif-perempuan #ibu #hari-ibu #menulis100hari #parenting
Open on Medium ↗
Wiki topics: 👨‍👩‍👧 · Family & Parenting

Belajar Mengenal Ibu, Setelah Dewasa

Tantangan Menulis Esai Hari Ibu

TM100H #DAY51

|Belum menjadi member? Baca di sini.

Kalau kebanyakan orang dekat dengan ibunya, aku tidak begitu. Butuh waktu yang cukup lama bagiku untuk benar-benar mengenal ibuku — bukan sebagai “ibu”, tapi sebagai manusia.

Karena perpisahan kedua orangtuaku, aku tinggal bersama ibuku saat aku berada di bangku sekolah. Namun, aku tidak begitu dekat dengan ibuku dan saudaraku, ada begitu banyak hal yang belum sanggup kumengerti, dan perasaan yang belum tahu harus kuletakkan di mana.

Ibuku bukan tipe yang pandai mengekspresikan perasaan. Ia lebih ke tipe yang cool — kalau kata anak sekarang, tsundere. Tidak banyak pelukan, tidak banyak kata manis. Tapi kehadirannya selalu terasa.

Dulu, kata tanteku, ibuku punya tubuh yang ideal dan paras yang cantik. Bahkan setelah melahirkan pun ia tetap memesona. “Mama kamu dulu banyak yang naksir,” begitu katanya.

Photo by Mandy Zhang on Unsplash

Photo by Mandy Zhang on Unsplash

Namun hidup tidak selalu berjalan lurus. Ibuku sempat sakit, tubuhnya menjadi jauh lebih kurus. Meski begitu, ia tetap bekerja. Sejak muda, ia memegang satu prinsip sederhana: selagi sehat, harus bisa mandiri.

Di sela kesibukannya, ibu dulu masih sering memasak. Menu favoritku adalah tahu. Tahu kecap, kadang tahu kornet telur. Sederhana, tapi rasanya selalu terasa istimewa.

Tahu Kecap yang kurang lebih seperti ini penampakannya — Sumber : Cookpad

Tahu Kecap yang kurang lebih seperti ini penampakannya — Sumber : Cookpad

Saat aku kecil, di akhir pekan ia juga membuat puding karamel. Manisnya pas, lembut, dan selalu terasa lebih enak dibandingkan yang dibeli di luar. Kami memang sama-sama penyuka makanan manis — barangkali itu salah satu kesamaan kecil kami.

Contoh Puding Caramel — Sumber : Cookpad

Contoh Puding Caramel — Sumber : Cookpad

Ada masa-masa di mana aku dan ibu hampir tidak berbicara. Diam yang panjang, canggung, dan melelahkan. Tapi di satu titik aku sadar: aku tidak bisa hidup tanpa ibu. Ketika aku mulai menurunkan egoku dan belajar tenang, semuanya perlahan membaik.

Photo by Vitaly Gariev on Unsplash

Photo by Vitaly Gariev on Unsplash

Sekarang, setiap bertemu ibu, kami mengobrol banyak hal. Tentang pekerjaan — karena kini aku bekerja di toko pakaian miliknya. Tentang hal-hal cantik, tentang tren yang sedang hype, tentang anabul yang tingkahnya lucu meski kami belum berani memelihara karena sama-sama sibuk.

Photo by The Lucky Neko on Unsplash

Photo by The Lucky Neko on Unsplash

Sejak drama Korea masuk ke Indonesia, selera tontonan ibu juga berubah. Tahun 2004, Full House menjadi drakor pertama yang kami tonton bersama. Kami sampai membeli CD setiap kali ke mal — karena saat itu belum ada aplikasi streaming. Sampai sekarang, kami masih merupakan penikmat drakor, meski ibu hanya menontonnya sepulang kerja. Genrenya kebanyakan revenge dan action — mungkin mencerminkan sisi kuatnya yang jarang ia tunjukkan.

Poster Drakor Full House — Sumber : Kompas.com

Poster Drakor Full House — Sumber : Kompas.com

Aku dulu sering bertanya-tanya, kenapa ibuku tidak pernah bilang sayang. Sampai akhirnya aku mengerti: bahasa cintanya adalah giving gifts. Sebagai anak perempuan, aku sering menerima “warisan kecil” — baju kebesaran ibu, skincare, makeup. Salah satu yang paling berkesan adalah sweater pastel hangat yang ia berikan sejak aku SD. Dan sampai sekarang masih muat.

Ibuku juga tidak pernah memaksaku menikah cepat. Pesannya sederhana tapi tegas: aku harus bisa menopang diriku sendiri terlebih dahulu. Karena perempuan setelah menikah tidak hanya mengurus rumah tangga, tapi juga mendidik anak. Dan perempuan yang punya nilai, akan tetap bisa bertahan di keadaan apa pun.

Photo by Christina @ wocintechchat.com on Unsplash

Photo by Christina @ wocintechchat.com on Unsplash

Untukmu, Mum — Terima kasih sudah melahirkanku. Terima kasih karena tetap kuat, meski hidup tidak selalu ramah. Terima kasih sudah menjadi temanku, dengan caramu sendiri.

Lewatmu, aku belajar menjadi perempuan yang bernilai — bukan hanya untuk diriku sendiri, tapi agar kelak bisa bermanfaat bagi keluarga dan masyarakat.

Lunas sudah tantangan menulis Hari Ibu dari saya. Terima kasih untuk tim Publikasi Peran: Kak DyPa Dinara , Kak Dewi Cahyanti , Kak putrimelati_123 , Kak Cindiana Famelia , Kak Baihaqi , dan Bang Ibrahim Dutinov


메타데이터
post_id
e3d7300698e9
slug
belajar-mengenal-ibu-setelah-dewasa-e3d7300698e9
url
https://medium.com/perspektif-perempuan/belajar-mengenal-ibu-setelah-dewasa-e3d7300698e9
canonical_url
https://medium.com/perspektif-perempuan/belajar-mengenal-ibu-setelah-dewasa-e3d7300698e9
author_url
https://medium.com/@jessmei
status
ok
fetched_at
2026-06-14 11:28:49