← Back to list

Weekly Report #1

Layout Posisi Pot di Lokasi 1 dan 2

GREENAKER SPACE · 2026-01-06 05:45 · 20 claps · 8.5 min read
#green-office #urban-planning #urban-farming #hidroponik-sederhana #reuse
Open on Medium ↗
Wiki topics: 🚆 · Urban & Transport

Weekly Report #1

Layout Posisi Pot di Lokasi 1 dan 2

Kebutuhan dan Tata Cara Pengolahan Botol dan Galon Plastik Menjadi Pot Hidroponik

Dokumen ini disusun sebagai pedoman resmi dalam pemanfaatan botol dan galon plastik bekas sebagai pot hidroponik dan pot tanam konvensional. Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya pengurangan limbah plastik, penerapan prinsip circular economy, serta pengembangan program urban farming di lingkungan Kantor Kementerian Ketenagakerjaan.

Daftar Kebutuhan Botol dan Galon Plastik

A. Botol Plastik untuk Penanaman Konvensional (Media Tanah)

  • Jenis: Botol plastik bekas air mineral
  • Ukuran: ±600 ml (Aqua/sejenis)
  • Jumlah Tahap Awal: ±50 (lima puluh) botol
  • Fungsi: Sebagai wadah penanaman konvensional menggunakan media tanah, yang disusun secara vertikal atau digantung pada area tertentu (parkiran).

B. Galon Plastik untuk Sistem Hidroponik

  • Jenis: Galon plastik bekas air mineral
  • Ukuran: ±15 liter
  • Jumlah Tahap Awal: 6 (enam) galon
  • Fungsi: Sebagai wadah instalasi hidroponik sederhana (statis/multi lubang) untuk penanaman tanpa tanah.

C. Perlengkapan Pendukung

  • Netpot plastik
  • Kain flanel (sumbu)
  • Media tanam (rockwool)
  • Larutan nutrisi hidroponik (AB Mix)
  • Alat bantu (cutter, gunting, kawat)

Tata Cara Pengolahan Botol dan Galon Plastik Menjadi Pot Hidroponik

A. Tahap Pengumpulan

  • Botol plastik dan galon dikumpulkan dari lingkungan internal kantor (pegawai, kantin, pantry).
  • Dilakukan pemilahan berdasarkan ukuran dan kondisi fisik.
  • Botol atau galon yang rusak atau bocor tidak digunakan.

B. Tahap Pembersihan

  • Botol dan galon dicuci menggunakan air.
  • Dikeringkan sebelum diproses lebih lanjut.

C. Tahap Pembuatan Pot Hidroponik dan Konvensional

Hidroponik

  1. Galon diberi tanda titik lubang menggunakan spidol.
  2. Lubang dibuat pada beberapa sisi galon sesuai jumlah netpot.
  3. Kain flanel dimasukkan ke dalam netpot sebagai sumbu penyalur nutrisi.
  4. Netpot dipasang pada lubang yang telah dibuat.
  5. Galon diisi air yang telah dicampur larutan nutrisi hidroponik.

Konvensional

  1. Botol dipotong memanjang / dibolongi bagian samping
  2. Bagian bawah diberi lubang kecil untuk drainase
  3. Diisi media tanam (tanah + kompos)
  4. Diisi dengan benih tanaman
  5. Digantung atau disusun vertikal di dinding/pagar

D. Tahap Penanaman

  1. Media tanam dimasukkan ke dalam netpot.
  2. Bibit tanaman diletakkan pada media tanam.
  3. Pastikan sumbu menyentuh larutan nutrisi.
  4. Galon ditempatkan di area yang mendapatkan cahaya matahari cukup.

E. Tahap Perawatan

  • Penambahan larutan nutrisi dilakukan secara berkala.
  • Dilakukan pemantauan pertumbuhan tanaman.
  • Kebersihan wadah dan area sekitar tetap dijaga.

Tata Cara Penyemaian Tanaman Menggunakan Rockwool

Tujuan

”Dokumen Tata Cara Penyemaian Tanaman Menggunakan Rockwool” disusun sebagai pedoman pelaksanaan penyemaian benih tanaman menggunakan media rockwool agar proses penyemaian berjalan efektif, seragam, aman, dan menghasilkan bibit yang sehat serta siap dipindahkan ke tahap penanaman selanjutnya.

Ruang Lingkup

SOP ini berlaku untuk seluruh kegiatan penyemaian tanaman hortikultura (sayuran, tanaman daun, dan tanaman buah) menggunakan media rockwool di lingkungan Kantor Kementrian Ketenagakerjaan.

Peralatan dan Bahan

Tahapan penyemaian memerlukan peralatan dan bahan sebagai berikut :

A. Peralatan

  1. Tray semai/wadah datar
  2. Cutter/pisau tajam
  3. Sprayer air
  4. Wadah perendaman rockwool
  5. Tusuk gigi/lidi
  6. Pinset

B. Bahan

  1. Rockwool
  2. Benih tanaman
  3. Air bersih

Prosedur Kerja

A. Persiapan Media Rockwool

  1. Potong rockwool berbentuk kubus dengan ukuran ±2,5 x 2,5 x 2,5 cm.
  2. Rendam rockwool dalam air bersih hingga seluruh bagian basah merata.
  3. Angkat dan tiriskan rockwool tanpa diperas agar struktur pori tetap terjaga.
  4. Susun rockwool pada tray semai dengan posisi rapi dan stabil.
  5. Buat lubang tanam di bagian tengah rockwool sedalam ±0,5–1 cm menggunakan tusuk gigi atau alat sejenis.

B. Persiapan Benih

  1. Pilih benih yang berkualitas dan belum kedaluwarsa.
  2. Rendam benih dalam air, buang benih yang mengapung.
  3. Rendam benih dalam air semalaman untuk mempercepat perkecambahan (opsional).
  4. Tiriskan benih sebelum ditanam

C. Proses Penyemaian

  1. Masukkan 3–4 benih ke dalam setiap lubang rockwool.
  2. Tutup lubang secara ringan tanpa memadatkan rockwool.
  3. Semprot rockwool menggunakan sprayer hingga lembap.

D. Pemeliharaan Semai

  1. Simpan tray semai di tempat teduh dengan pencahayaan cukup dan sirkulasi udara baik.
  2. Jaga kelembapan rockwool dengan menyemprot air secara rutin (1–2 kali per hari).
  3. Hindari genangan air pada tray semai.
  4. Setelah benih berkecambah dan muncul daun sejati, bibit dapat dikenalkan pada sinar matahari secara bertahap.

E. Kriteria Bibit Siap Pindah Tanam

  1. Tanaman telah memiliki 2–4 daun sejati.
  2. Akar telah tumbuh menembus bagian bawah rockwool.
  3. Bibit tampak sehat, segar, dan tidak terserang hama atau penyakit.

Keselamatan dan Kebersihan Kerja

  1. Gunakan alat potong dengan hati-hati.
  2. Pastikan area kerja bersih dan bebas kontaminan.
  3. Cuci tangan sebelum dan sesudah kegiatan penyemaian

Dokumentasi

  • Catatan tanggal penyemaian
  • Jenis tanaman dan jumlah benih
  • Persentase keberhasilan tumbuh (opsional)

Tata Cara Pengambilan Data Harian Tanaman Produktif

Sistem: Media Tanah (botol 1,5 l atau 600 ml) & Hidroponik (Galon) Objek: Cabai, Tomat, Selada, Daun Bawang, Seledri, Pakcoy, dan Kemangi

Dokumen ini berfungsi sebagai panduan standar untuk melakukan monitoring dan pengambilan data pada tanaman produktif dalam wadah terbatas. Tujuannya adalah untuk memastikan data yang terkumpul akurat, konsisten, dan dapat digunakan untuk evaluasi pertumbuhan tanaman.

Persiapan Alat dan Bahan

  1. Alat Ukur: Penggaris 30 cm, jangka sorong (opsional), pita meteran.
  2. Alat Monitor Hidroponik: TDS Meter (untuk kepekatan nutrisi) dan pH Meter.
  3. Alat Tulis: Buku jurnal atau perangkat digital (Excel/Google Sheets).
  4. Alat Pendukung: Label stiker pada setiap botol/galon untuk identitas tanaman.

Prosedur Pengambilan Data Harian

Dilakukan setiap hari pada pukul 07.00–09.00 WIB.

  1. Parameter Pertumbuhan Fisik
  • Tinggi Tanaman: Ukur dari pangkal batang (permukaan media) hingga titik tumbuh tertinggi.
  • Jumlah Daun: Hitung hanya daun yang sudah terbuka sempurna (mekar).
  • Lebar Daun (Khusus Pakcoy & Selada): Ukur bagian terlebar pada daun terbesar.
  • Kondisi Visual: Catat jika ada perubahan warna (kuning, kecokelatan) atau adanya lubang akibat hama.

2. Monitoring Media Tanam

Media Tanah (Botol Aqua):

  • Cek kelembapan dengan menyentuh tanah sedalam 2 cm.
  • Pastikan lubang drainase tidak tersumbat.

Media Hidroponik (Galon):

  • Cek ketinggian air nutrisi (pastikan akar terendam sebagian).
  • Cek suhu air (jangan sampai terasa hangat).
  • Ukur nilai PPM (kepekatan) menggunakan TDS Meter.

Checklist Form Perawatan Mingguan

Pilih satu hari (misal: hari Senin) untuk melakukan evaluasi menyeluruh

Checklist Form

Checklist Form

Log Data Harian (Template Table)

Contoh log lembar kerja harian yang akan dibuat.

Template Log Data Harian

Template Log Data Harian

Catatan Khusus Per Jenis Tanaman

  1. Cabai & Tomat: Jika sudah mulai berbunga, guncang batang perlahan (vibrasi) untuk membantu penyerbukan mandiri.
  2. Kemangi: Wajib dilakukan topping (pemotongan pucuk) secara rutin agar tanaman tumbuh menyamping (rimbun) bukan hanya tinggi ke atas.
  3. Daun Bawang & Seledri: Hindari air menggenang di pangkal batang untuk mencegah pembusukan.
  4. Selada & Pakcoy: Jika daun terlihat terkulai di siang hari, cek suhu air di dalam galon; tambahkan pelindung panas jika perlu.

Rencana Masa Depan

I. Pengolahan Sampah Gerusan Kertas Menjadi Pupuk Tanaman

Latar Belakang

Limbah kertas merupakan salah satu jenis limbah yang paling banyak dihasilkan di lingkungan perkantoran. Aktivitas cetak-mencetak, arsip dokumen, dan penggunaan kertas sekali pakai (seperti nota, formulir, dan kemasan) menyebabkan akumulasi limbah kertas dalam volume besar. Umumnya, limbah kertas ini hanya dikumpulkan dan dibuang tanpa pemanfaatan nilai ekonomisnya, sehingga berkontribusi pada meningkatnya beban tempat pembuangan akhir (TPA). Kertas tersusun dari bahan organik (selulosa) yang secara teori dapat diuraikan secara biologis dan dimanfaatkan sebagai bahan organik dalam pembuatan pupuk kompos. Selain mengurangi volume limbah, pemanfaatan ini juga berpotensi mendukung program penghijauan kantor, urban farming, dan ketahanan lingkungan. Oleh karena itu, diperlukan suatu kajian sistematis mengenai potensi, sistem penampungan, serta alur pengolahan limbah gerusan kertas menjadi pupuk tanaman. Rencana program limbah kertas menjadi pupuk tanaman di lingkungan Kantor Kementerian Ketenagakerjaan menjadi upaya konversi limbah kertas ke pupuk untuk mengurangi jumlah limbah yang dibuang dan menghasilkan produk bernilai tambah untuk mendukung keberlanjutan pengelolaan lingkungan di perkotaan.

Tujuan

Adapun beberapa tujuan yang diusulkan dalam riset ini adalah sebagai berikut.

  • Menganalisis potensi limbah kertas sebagai pupuk organik di Kantor Kementerian Ketenagakerjaan
  • Merancang sistem penampungan dan pengolahan limbah kertas untuk proses pengomposan di Kantor Kementerian Ketenagakerjaan
  • Menilai pemanfaatan limbah kertas sebagai pupuk organik tanaman

Ruang Lingkup Rencana Program

Ruang lingkup dalam riset ini meliputi:

  • Jenis limbah: Limbah kertas perkantoran berupa kertas HVS, kertas arsip, dan kertas hasil gerusan.
  • Lokasi kajian: Gedung Kantor Kementrian Ketenagakerjaan • Tahapan pengelolaan: Penampungan, pra-pengolahan, pengomposan limbah, dan pemanfaatan hasil.
  • Produk akhir: Pupuk organik olahan limbah kertas.
  • Batasan kajian: Sistem pengelolaan dan pemanfaatan skala institusi.

Skema Alur Pengelolaan Limbah Kertas Menjadi Pupuk Organik

Skema alur pengelolaan terbagi menjadi 4 meliputi :

  • Penampungan. Limbah sampah yang telah dipilah dari tiap unit ditampung di lokasi yang ditetapkan dan disimpan sesuai kategorinya.
  • Pra Pengolahan. Dilakukan pembersihan limbah sampah dari straples, lakban, klip, dsb. Selanjutnya limbah kertas akan dicacah untuk mempercepat proses selanjutnya.
  • Pengomposan Limbah. Kertas yang telah dicacah akan lebih mudah untuk proses dekomposisi. Proses ini menguraikan bahan organik pada limbah kertas.
  • Pemanfaatan Hasil. Hasil limbah kertas yang telah terdekompos akan dimanfaatkan sebagai pupuk tanaman di Kantor Kementerian Ketenagakerjaan.

Rencana Lokasi dan Proses Pengolahan Limbah Kertas

Rencana lokasi pelaksanaan pengolahan limbah akan dipusatkan di gedung kantor Kementerian Ketenagakerjaan. Area yang dipilih akan mencakup ruang penampungan yang 2 strategis untuk memudahkan logistik dari tiap unit kerja seperti area terbuka yang tidak mengganggu aktivitas kerja di kantor.

Rencana Pemanfaatan Hasil Pengolahan

Hasil pengolahan berupa pupuk organik limbah kertas akan didistribusikan untuk:

  • Pot kantor dan Taman: Sebagai media tanam nutrisi bagi tanaman hias di sepanjang koridor dan lobi gedung Kementerian Ketenagakerjaan.
  • Area Urban Farming: Mendukung kebun mandiri karyawan atau area hijau terbuka di lingkungan Kementerian ketenagakerjaan.
  • Subtitusi Pupuk Kimia: Mengurangi ketergantungan kantor pada pembelian pupuk anorganik dari luar.

Kajian Pemanfaatan untuk Tanaman Hidroponik

Riset ini juga mencakup eksplorasi penggunaan serat kertas sebagai alternatif mediam tanam:

  • Analisis Residu Tinta: Melakukan pengujian untuk memastikan residu tinta (karbon/toner) pada kertas aman bagi tanaman, terutama jika diaplikasikan pada tanaman pangan hidroponik.
  • Daya Serap Air: Menguji kemampuan serat kertas dalam menahan nutrisi cair pada sistem hidroponik subtrat.
  • Potensi Media Tanam: Mengingat kertas tersusun dari selulosa, kajian akan menilai apakah serat kertas hasil olahan dapat dimanfaatkan sebagai alternatif mediam tanam atau campuran nutrisi organik dalam sistem urban farming.
  • Uji Efektivitas: Melakukan penilaian terhadap pertumbuhan tanaman yang diberikan pupuk orgamik hasil limbah kertas untuk memastikan standar kualitas nutrisi tanaman terpenuhi.

II. Pengadaan Program Penampungan Limbah Makanan Menjadi Pupuk Tanaman

Latar Belakang

Perkantoran Kementerian Ketenagakerjaan menghasilkan limbah makanan setiap hari yang bersumber dari kantin, pantry, serta kegiatan rapat dan acara internal. Selama ini, limbah makanan tersebut masih dikelola secara konvensional dan seluruhnya diangkut menuju Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Ketergantungan pada sistem tersebut berkontribusi pada meningkatnya beban TPA, khususnya karena limbah makanan merupakan jenis sampah yang volumenya besar dan mudah membusuk. Oleh karena itu, diperlukan suatu rencana program penampungan dan pengolahan limbah makanan di lingkungan kantor Kementerian Ketenagakerjaan agar limbah tersebut dapat dialihkan menjadi pupuk tanaman yang bermanfaat.

Tujuan Rencana Program

Rencana program ini bertujuan untuk:

  1. Merancang sistem penampungan limbah makanan (sampah organik) di lingkungan kantor.
  2. Menyusun alur pengumpulan dan pengolahan limbah makanan menjadi pupuk tanaman.
  3. Mengurangi jumlah limbah makanan yang dibuang ke TPA.
  4. Mengkaji kemungkinan pemanfaatan hasil pengolahan untuk tanaman hidroponik.

Ruang Lingkup Rencana

Ruang lingkup rencana ini meliputi penampungan limbah makanan, pengumpulan limbah organik, pengolahan menjadi pupuk, serta pemanfaatannya untuk tanaman di lingkungan kantor. Rencana ini bersifat perencanaan awal dan belum mencakup pelaksanaan teknis secara rinci.

Rencana Sistem Penampungan Limbah Makanan

Sistem penampungan limbah makanan direncanakan melalui penyediaan dan/atau pemanfaatan tempat sampah khusus organik yang sudah tersedia di kantor. Tempat sampah tersebut diberi penanda yang jelas dan diletakkan di area kantin, pantry, serta area pengumpulan sampah sementara. Pemilahan limbah dari sumber diharapkan dapat meningkatkan kualitas bahan baku pengolahan dan mempermudah proses selanjutnya.

Skema Alur Pengumpulan Limbah

Alur pengumpulan limbah makanan direncanakan sebagai berikut:

  1. Limbah makanan dibuang ke tempat sampah khusus organik.
  2. Petugas kebersihan mengumpulkan limbah organik secara rutin.
  3. Limbah dicatat volumenya sebagai data monitoring.
  4. Limbah dibawa ke lokasi pengolahan pupuk di lingkungan kantor.

Rencana Lokasi dan Proses Pengolahan Pupuk

Pengolahan limbah makanan direncanakan dilakukan di area terbuka atau halaman kantor yang tidak mengganggu aktivitas kerja. Metode pengolahan yang direncanakan meliputi pengomposan dan fermentasi untuk menghasilkan pupuk organik padat dan/atau cair. Proses pengolahan mencakup pemilahan ulang, pencacahan sederhana, proses pengomposan atau fermentasi, serta pemantauan kondisi proses.

Rencana Pemanfaatan Hasil Pengolahan

Hasil pengolahan limbah makanan berupa pupuk organik direncanakan untuk dimanfaatkan pada taman dan tanaman hias di lingkungan kantor Kementerian Ketenagakerjaan.

Kajian Pemanfaatan untuk Tanaman Hidroponik

Pupuk hasil pengolahan limbah makanan pada prinsipnya tidak digunakan secara langsung pada sistem hidroponik. Namun demikian, terdapat peluang pemanfaatan secara terbatas melalui uji coba dengan proses penyaringan dan pengenceran, serta pemantauan pH dan nutrisi.


메타데이터
post_id
e401b1ce652f
slug
weekly-report-1-e401b1ce652f
url
https://medium.com/@greenakerspace_kemnaker/weekly-report-1-e401b1ce652f
canonical_url
https://medium.com/@greenakerspace_kemnaker/weekly-report-1-e401b1ce652f
author_url
https://medium.com/@greenakerspace_kemnaker
status
ok
fetched_at
2026-08-10 19:43:27