← Back to list

21. Dua Pecundang

bagian duapuluh satu dari Loser

✨️ · 2024-10-26 00:54 · 2 claps · 5.0 min read
#2-mins
Open on Medium ↗

21. Dua Pecundang

bagian duapuluh satu dari Loser

bagian duapuluh satu dari Loser

bullying, nudity, striptease, sexual harrasment, violence, mention of death.

Terdengar suara tawa.

Suara itu terus berputar-putar di pendengarannya. Terdengar begitu dekat, namun juga terdengar begitu jauh. Seperti mengawang.

Matanya perlahan mengerjap-ngerjap terbuka. Pening seketika menyerang kepalanya saat silau cahaya menyinari matanya. Tapi suara tawa itu lebih membuatnya pening. Tawa itu terdengar begitu meremehkan. Seolah sedang meremehkan dirinya yang saat ini tak berdaya.

Tubuhnya terasa remuk. Ada lebam di mana-mana. Ada darah yang telah mengering di mana-mana. Ia meringis merasakan bagian tubuhnya yang berdenyut sakit. Tapi ia tetap berusaha untuk bangun dan mencerna keadaan di sekitarnya.

Ia terbaring di lantai yang dingin. Kotor dan berdebu. Banyak bangku dan meja yang sudah tak terpakai di sekelilingnya. Bangku dan meja itu ditumpuk bertumpuk-tumpuk hingga menghalangi pandangannya. Tapi ia masih bisa melihat melalui celah-celah kalau ada beberapa orang yang memunggunginya di tengah ruangan sana sambil tertawa.

Suara tawa itu benar-benar mengusiknya. Suara tawa itu terdengar meremehkan. Suara tawa itu terdengar melecehkan. Suara tawa itu…

Ia tertegun saat mengenali suara tawa itu, terlebih ketika ia sadar siapa orang-orang yang berdiri di sana. Dan ia seketika terkesiap saat menemukan siluet seseorang di sela-sela orang-orang yang sedang tertawa itu.

Ada seseorang yang sedang menari telanjang di tengah lingkaran sana. Ya, benar-benar telanjang bulat. Tanpa mengenakan sehelai benang pakaian pun. Memperlihatkan seluruh kulitnya, termasuk area intimnya. Dan orang itu adalah…

“Minho!”

Seungmin refleks berdiri dan hendak berlari ke arah kerumunan. Tapi tubuhnya limbung seketika saat pening itu menghantam kepalanya. Ditambah sekujur tubuhnya benar-benar terasa remuk seperti habis dihantam sesuatu. Matanya terpejam, pandangannya berputar, giginya mengeras untuk menahan rasa pusing dan sakit yang menjalar. Untungnya tangannya dengan sigap bertumpu pada meja di dekatnya hingga tubuhnya tidak ambruk kembali ke lantai.

“Hahahaha, udah siuman dia bos?”

“Pingsannya lama juga ya dia, dari malem sampe sore.”

“Tabrakan bos mantep banget berarti, Ji.”

“Hahahaha, tepat sasaran langsung bikin pingsan seharian!”

Seungmin mendengar suara-suara itu dari tengah ruangan sana. Tapi ia tidak tahu siapa yang berbicara dan tak dapat mencerna pembicaraan itu. Pandangannya masih buram. Pening di kepalanya benar-benar mengaburkan pandangannya. Tapi ia tak peduli. Ia berusaha menggerakkan otot-otot kakinya yang lemah untuk berjalan, untuk setengah berlari, untuk segera melindungi Minho dari tiga manusia brengsek yang sedang melecehkannya itu, meski berkali-kali tubuhnya limbung dan ambruk di lantai.

“Gak ada yang nyuruh lu berhenti nari, lacur! Lanjutin! Yang lebih erotis lagi gerakannya!”

“Jangan ditutupin kontolnya, lacur! Angkat tangan lu ke atas! Liatin ke seluruh dunia kontol kecil lu yang gak guna itu!”

“Mata lu ke mana? Liat ke kamera, lacur! Tunjukin ekspresi binal lu!”

Mata Seungmin memanas mendengar semua perintah penuh hina itu yang ditujukan pada Minho. Bukan ia yang diberikan perintah, tapi hatinya terasa begitu sakit. Dan lebih terasa sakit lagi saat melihat Minho menuruti semua perintah itu. Lelaki itu kembali menari dengan sensual di hadapan tiga orang yang mengelilinginya dan juga kamera yang merekam tubuh telanjangnya.

“Jangan… Jangan lakukan itu, Minho…” bisik Seungmin pada dirinya sendiri.

Seungmin berhasil sampai di tengah ruangan. Ia mendorong salah satu dari mereka yang menghalangi jalannya. Entah siapa yang ia dorong, ia tak peduli, ia hanya lampiaskan amarahnya meskipun dengan sisa tenaganya yang pada dasarnya masih lemah. Dan tentu saja Seungmin kalah. Tubuhnya malah limbung dan kembali jatuh di lantai. Kali ini ia jatuh tepat di depan kaki Minho.

Kaki Minho juga telanjang, tidak mengenakan alas apapun. Seungmin bisa melihat noda hitam di telapak kaki lelaki itu akibat lantai yang sangat berdebu. Kontras dengan punggung kakinya yang putih dan bersih. Kaki itu terus bergerak ke sana kemari mengikuti irama tarian yang bahkan tanpa adanya musik itu. Seungmin ingin sekali menangis melihatnya.

“Berhenti, Minho, berhenti,” Seungmin berbisik saat tangannya menggapai kaki lelaki itu dan hendak memeluknya untuk hentikan tarian lelaki itu.

Namun…

Duag!

“Lu ngapain sih, anjing?!”

Seungmin ditendang ke samping hingga pegangannya terlepas dari kaki Minho. Ia menangis saat memegang perutnya yang terasa sakit. Tapi ia menangis bukan karena itu. Ada yang lebih sakit dari sekedar perutnya yang ditendang oleh entah siapa itu. Melihat Minho menari bugil di depannya sungguh membuatnya hatinya sakit.

“Lebih semangat dong jogetnya. Diliatin cowok lu tuh sekarang. Harusnya gerakannya makin binal dong, lacur.”

Suara itu kembali terdengar. Bukan ditujukan untuknya. Tapi ditujukan pada Minho. Seungmin sudah tidak tahan lagi. Ia tidak tahan dengan pelecehan yang diterima oleh lelaki yang selama ini ia lindungi. Ia benar-benar harus menghentikan semua ini.

Seungmin kembali berdiri dan melangkah dengan berani mendekati Minho yang masih meliuk-liukkan badannya. Ia berdiri tepat di hadapan lelaki itu, menutupi pandangannya dari tiga manusia brengsek di depannya.

“Berhenti, Minho… Berhenti…”

Tapi Minho tidak berhenti dan tetap terus menari. Ia sama sekali tidak menatap Seungmin dan malah mengarahkan pandangannya pada tiga kamera yang saat ini sedang merekamnya. Jelas-jelas Seungmin bisa melihat raut tertekan dan juga tatapan meminta tolong pada sorot mata Minho, tapi lelaki itu terus saja menari seolah Seungmin tak kasat mata baginya.

Pemandangan itu sangat menyakitkan untuk Seungmin. Ia tahu kalau Minho tidak ingin melakukan hal ini, ia tahu kalau Minho terpaksa melakukan hal ini karena ia tak miliki pilihan lain. Dan hal itu membuat dadanya sangat sesak hingga air matanya kembali mengalir begitu saja.

“Minho, gue mohon berhenti. Jangan begini, please… Jangan — ”

Duag!

“Jangan ngalangin tontonan gue, anjing!”

Sekali lagi, Seungmin ditendang hingga tubuhnya terjerembab ke samping. Kali ini ia tidak dibiarkan begitu saja seperti tadi. Tendangan-tendangan ganas itu kembali datang bertubi-tubi tanpa adanya jeda. Tubuhnya yang sudah remuk dibuat semakin remuk. Tubuhnya yang penuh lebam dibuat semakin lebam. Tubuhnya yang sudah lemah dibuat semakin lemah. Ia tak bisa melakukan hal lain selain menerimanya. Bahkan untuk meringkuk dan melindungi tubuhnya sendiri saja ia tak bisa. Ia tidak memiliki tenaga lagi.

“Lu tuh ganggu banget tau gak?! Bos kita udah berbaik hati gak jadi patahin kaki lu, tapi ternyata lu masih aja bertingkah!” ini suara Changbin yang saat ini menendang perutnya.

“Emang harusnya semalem kita matiin lu sekalian aja, anjing! Seharusnya semalem lu ditabrak sampe mati dan gak ganggu kita lagi!” dan ini suara Jisung yang saat ini menendang kakinya.

Kedua lelaki itu terus menendang Seungmin tanpa henti hingga ia benar-benar tak berdaya dengan darah yang muncrat ke mana-mana.

Sementara di sisi lain, Minho masih terus menari di depan Chan yang tak bergerak dari posisinya sejak pertama kali dimulai. Bahkan lelaki itu sama sekali tak bergerak saat Seungmin pertama kali sadar dan mengganggu pertunjukannya. Tatapannya hanya fokus pada Minho dan juga layar kamera di tangannya untuk merekam setiap detail gerakan yang dilakukan lelaki itu. Maka ketika ia melihat manik Minho sesekali melirik ke belakang, ia dapat menyadarinya dengan jelas.

“Liat kamera.”

Minho tak punya pilihan lain untuk tetap mengarahkan pandangannya pada kamera di tangan Chan, meskipun saat ini suara tendangan bertubi-tubi di belakangnya mengusik pendengarannya, meskipun saat ini ia ingin sekali berlari untuk melindungi Seungmin dari tendangan-tendangan ganas itu, meskipun saat ini rasa cemas dan takut menghantui dirinya, meskipun saat ini ia sangat ingin menangis dan mengubur dirinya dalam-dalam. Tapi ia tetap meliukkan tubuhnya di depan Chan sebagaimana yang lelaki itu minta.

“Good boy, Lee Minho.”

Chan tersenyum menyeringai, memberikan zoom in pada kemaluan mungil Minho yang gondal-gandul seiring dengan gerakan tarian lelaki itu yang semakin erotis. Pemandangan indah yang sudah ia nantikan sejak pertama kali menjadikan Minho sebagai target utama mainannya.

“Sekarang paham kan apa akibatnya kalo kalian berdua main-main sama gue, Pecundang?”

Minho tidak menjawab, begitu juga dengan Seungmin yang telah kehilangan setengah kesadarannya di belakang sana.

Lagipula, Chan memang tidak membutuhkan jawaban.

Karena ia telah merasa menang.

Dan dua pecundang itu kini ada di genggaman tangannya sekarang.


메타데이터
post_id
e42c2fc048f5
slug
21-dua-pecundang-e42c2fc048f5
url
https://medium.com/@D0MSEUNG/21-dua-pecundang-e42c2fc048f5
canonical_url
https://medium.com/@D0MSEUNG/21-dua-pecundang-e42c2fc048f5
author_url
https://medium.com/@D0MSEUNG
status
ok
fetched_at
2026-07-22 10:16:32