← Back to list

Satu Porsi Kurang, Dua Tapi Enek?

One Portion is Not Enough, Two but Feeling Nauseous?

Giki Krisnawanti · 2025-06-03 15:35 · 0 claps · 1.9 min read
#makanan #porsi #cukup #syukur
Open on Medium ↗

Satu Porsi Kurang, Dua Tapi Enek?

Photo by Aldino Hartan Putra on Unsplash

Photo by Aldino Hartan Putra on Unsplash

Kalian pernah gak sih makan sesuatu—misalnya mie instan—terus merasa satu porsi itu kayaknya gak cukup?

Lidah masih pengen, perut masih ngambang, dan kita mikir, “Ah, nambah satu lagi deh, pasti puas.”

Tapi yang terjadi kemudian justru sebaliknya.

Begitu porsi kedua datang dan dimakan setengah jalan… malah jadi enek. Kenyang. Pingin berhenti. Rasanya, kok harusnya tadi cukup satu aja, ya?

Sama nih denganku.

Baru saja kejadian waktu makan tahu tek.

Satu porsi ternyata enak banget, tapi belum terasa kenyang.

Ketika ditawari satu porsi lagi, aku langsung semangat ambil. Tapi begitu suapan demi suapan masuk lagi, eh, mendadak rasa enaknya hilang.

Perut penuh, mulut mulai malas ngunyah, dan akhirnya gak habis.

  • Antara Perut dan Rasa Ingin

Sering kali, kita menambah porsi bukan karena lapar, tapi karena rasa “belum puas.” Satu piring udah cukup secara fisik, tapi belum cukup secara emosional. “Masih pengen,” kata otak. Padahal perut udah bilang, “Aku oke kok.”

Inilah jebakan kecil dalam keseharian kita. Kita kira kita butuh lebih, padahal kita hanya tergoda.

Kadang karena makanan itu enak banget, atau karena suasananya pas, atau hanya karena… ya bisa aja. Dan kemampuan kita mengenali batas diri—khususnya batas kenyang dan puas—masih sering kabur.

  • Sifat Tamak yang Terselip Diam-Diam

Di balik keinginan nambah porsi, ada satu sifat manusia yang diam-diam ikut menyelinap: tamak.

Tidak selalu berarti rakus dalam arti negatif, tapi lebih pada rasa ingin terus menambah meski sebenarnya cukup.

Kita sering lupa bahwa kenyang itu beda dengan puas. Dan kadang, kita lebih mendengarkan mulut daripada mendengarkan perut.

Kita tidak tahu persis di mana titik kenyang kita. Kita kira satu porsi lagi bakal jadi penutup sempurna. Tapi ternyata justru itu yang bikin kita malah berhenti karena enek.

  • Tentang Jeda dan Kesadaran

Uniknya, saat proses nambah porsi itu butuh effort—kayak harus masak lagi, buka bungkus baru, atau bahkan pergi ke dapur—ada momen jeda yang bikin kita mikir ulang. Dan sering kali, jeda itu justru menyelamatkan kita.

Rasa bosan, malas, atau sekadar “ah ntar aja” bisa jadi sinyal bahwa sebenarnya kita gak butuh nambah.

Kita cuma tergoda sesaat.

Tapi ketika semuanya serba gampang—tinggal buka bungkus mie kedua, atau satu piring tahu tek lagi langsung dikasih—rasa syukur bisa hilang.

Kita gak menghargai porsi pertama yang tadi terasa nikmat. Dan akhirnya, rasa puas itu justru berkurang, bukan bertambah.

  • Yang Berlebihan Itu Memang Gak Pernah Baik

Makanan cuma satu contoh kecil dari fenomena yang lebih besar: keinginan untuk selalu menambah, terus-terusan, tanpa sadar kapan harus berhenti.

Satu porsi kadang memang terasa kurang, tapi dua porsi belum tentu jadi jawaban.

Ada kalanya, cukup itu bukan soal jumlah, tapi soal kesadaran untuk berhenti di waktu yang tepat.

Dan nikmat itu, ternyata, paling terasa justru ketika kita tahu batas.

Ketika kita bisa bilang,

“Aku kenyang. Aku puas. Aku cukup.”


메타데이터
post_id
e4589a8f8a5b
slug
satu-porsi-kurang-dua-tapi-enek-e4589a8f8a5b
url
https://medium.com/@gikikrisna/satu-porsi-kurang-dua-tapi-enek-e4589a8f8a5b
canonical_url
https://medium.com/@gikikrisna/satu-porsi-kurang-dua-tapi-enek-e4589a8f8a5b
author_url
https://medium.com/@gikikrisna
status
ok
fetched_at
2026-06-28 10:39:35