← Back to list

Darah Biru

[21+ #FishSnow] Zayne yang mendapat tamu tak diundang. Rafayel ternyata bangsa Lemurian yang suka mengigit.

Minty · 2025-06-17 02:24 · 8 claps · 18.5 min read
#love-and-deepspace #love-and-deepspace-nsfw #zayne-lads #rafayel-lads #bls
Open on Medium ↗
Wiki topics: 🔭 · Astronomy & Space 💑 · Relationships

Darah Biru

[21+ #FishSnow] Zayne yang mendapat tamu tak diundang. Rafayel ternyata bangsa Lemurian yang suka mengigit.

===============================

Malam itu badai menerpa Linkon City. Kilatan petir menyambar seperti lampu diskotik di langit malam yang gelap.

Di rumah sakit Akso, tangisan memenuhi ruang operasi saat keluarga pasien mengetahui orang yang mereka sayangi telah tiada.

Zayne melepas maskernya, peluh memenuhi keningnya karena panas dan tegangnya ruang operasi.

Ia kembali ke ruang kerjanya, bersandar di dinding, merosot ke lantai. Lagi-lagi ia tak bisa menyelamatkan satu nyawa. Ia menatap ke luar jendela kantornya menatap kilatan petir yang menyambar lalu menyisir rambut hitamnya yang agak basah.

Perasaan bersalah mulai menguasai Zayne. Sebagai seorang Perfeksionis ia sangat mengandalkan kemampuannya yang sudah banyak diakui, namun … tetap saja. Ia bukanlah Tuhan yang bisa menunda Kematian.

Tepat jam satu malam, ia kembali ke rumahnya. Melonggarkan dasinya dan meminum air dingin di kulkas. Ponselnya berdering, matanya melihat siapa yang mengirim pesan. Itu adalah wanita dari teman masa kecilnya, seorang wanita yang menarik perhatiannya saat ini.

‘Zayne, Aku butuh bantuanmu. Seseorang akan datang ke rumahmu, kuharap kau bisa menolongnya… Aku sedang dalam misi, jadi kuharap kau bisa membantunya.’ Pesan itu terlihat urgen. Siapa yang harus dia tolong?

Kemudian suara bel terdengar, ketukan pintu yang beruntun terdengar menuntut. Siapa yang datang malam-malam begini?

Zayne membuka pintu, melihat pria berambut ungu berhambur masuk dengan baju yang basah lalu menutup pintu dengan suara keras. Zayne mengeryit, wajah pemuda ini agak familiar. Siapa orang ini?

“Hey, Siapa kau? Kenapa kau masuk ke rumah orang lain tanpa izin?” Tanya Zayne, nada suaranya terdengar kesal, genggamannya sudah mengeluarkan hawa dingin dari evolnya.

“Ah, maafkan aku… Apa kau temannya Miss Bodyguard?” Kata pemuda itu sambil merogoh ponselnya dan memperlihatkan foto Wanita yang dikenal Zayne.

“Iya, Aku temannya dan siapa kau?” Zayne menyilangkan lengannya, matanya menyipit mengamati.

“Huh? Apa dia tidak bilang aku ini siapa? Aku ini seorang Artist terkenal yang sangat tampan dan kaya raya.” Kata pemuda itu sambil berpose menyisir rambutnya yang basah dan tersenyum menawan membuat alis kiri Zayne berkedut pertanda buruk.

I see. Apakah kau yang dimaksudnya?” Tanya Zayne sambil memperhatikan wajah Rafayel, sebagai seorang laki-laki, wajahnya cukup cantik dan terlihat lebih muda dari dirinya.

“Perkenalkan namaku Rafayel,” Rafayel mengulurkan tangannya ingin berjabat. Zayne diam sesaat, mengabaikan tangan itu.

“Panggil saja Zayne. Lalu apa yang bisa ku bantu?” Suara dan wajah datar Zayne sukses membuat Rafayel cemberut.

“Wah, Miss Bodyguard tidak bilang kalau temannya ini adalah orang yang sangat dingin seperti Kulkas.” Keluh Rafayel.

“Oh? Kau mau Aku bekukan sekarang juga?” Zayne mengangkat tangannya mengeluarkan kekuatan Evol Esnya sedikit yang membuat Rafayel menyilangkan kedua lengannya di dadanya.

“Maafkan aku tuan Elsa.” Alis kiri Zayne berkedut lagi.

“Kau benar-benar berharap untuk dibekukan ya?” Sebelum itu terjadi ponselnya berdering, ia langsung tahu siapa yang menelpon dari nada dering khusus yang diberikan. Zayne langsung mengangkatnya.

“Ya, ada apa?” Zayne mendengar penjelasan, matanya bergulir menatap sosok Rafayel. “Ya. Dia sudah ada di rumahku sekarang.”

“Bagus. Tolong rawat dia untuk beberapa hari, karena dia dalam bahaya. Jadi aku mempercayakannya padamu Zayne.” Kata suara di ujung telepon.

“Tunggu. Maksudmu orang aneh ini akan tinggal beberapa hari di rumahku?” Gerutuh Zayne sambil memijat pelipisnya.

“Hey, Aku bukan orang aneh.” Celetuk Rafayel. Zayne memutar bola matanya dan lanjut mendengarkan telepon.

“Ini mendesak Zayne. Rafayel adalah orang yang diincar. Kuharap dia aman bersamamu di sana. Aku akan menghubungimu jika situasinya sudah aman.” Kemudian telepon dimatikan.

“Hey, tunggu dulu.” Zayne kembali menekan tombol panggilan yang dimana tidak diangkat. Zayne menghela nafas, menatap Rafayel, ekspresi wajahnya tak terbaca.

“Kau akan membantuku kan? Iya kan? Karena kata Miss Bodyguard, kau itu orang yang Sangat Baik.” Zayne mendengus tidak bisa menolak permintaan Wanita itu.

“Iya. Kau bisa tinggal di sini.” Rafayel yang mendengar hal itu tersenyum gembira.

“Wah, ternyata walau sikap dan wajahmu dingin, hatimu hangat seperti Hello Kitty.

“Kau ingin Aku bekukan?” Ketus Zayne.

“Hey Aku memujimu loh,” Bela Rafayel.

“Itu terdengar mengejek.” Rafayel hanya tertawa melihat reaksi lucu Zayne, sepertinya ia mulai suka menggoda pria itu dan membuatnya kesal. Ekspresinya lucu sekali.

“Ayo, kuantarkan kau ke kamar tamu.” Zayne menuntun Rafayel ke kamar tamu lalu memberikannya handuk dan baju ganti.

“Terimakasih, kau baik sekali.” Zayne tidak menjawab ia hanya mengangguk. Setidaknya Ia hanya menampung Rafayel sampai pemuda itu aman kan?

“Hey, Um… Zayne? Apa kau keberatan membantuku mengobati Lukaku?” Tanya Rafayel.

“Luka? Di mana?” Zayne mencoba melirik pakaian Rafayel — tidak ada noda darah, hanya ada bercak biru di lengannya —

“Di sini.” Rafayel menunjul lengan bajunya yang terkena bercak biru.

“Kau terluka di situ?” Zayne mengeryit. Lalu saat Rafayel membuka bajunya — memperlihatkan goresan di lengannya dengan bercak biru yang keluar dari sana —

Zayne berkedip. “Darahmu berwarna biru?” Tanya Zayne agak ragu.

“Iya. Apa itu mengejutkanmu?”

“Ya. Sangat. Kalau begitu, tunggu di sini. Aku akan mengambilkan kotak P3K.” Kata Zayne lalu kembali ke kamar tamu dengan kotak P3K.

Fokusnya kini pada luka sayatan di lengan Rafayel. Ia membersihkan darah biru di sana, masih agak terpesona karena darahnya berwarna biru. Setelah beberapa saat menjahit luka sayatan itu, ia memberikan antiseptic dan melilitkan perban.

Done.” Zayne merapikan peralatan P3Knya.

“Terimakasih.” Zayne hanya mengangguk, tidak mempertanyakan masalah apa yang dihadapi Rafayel saat ini kecuali pemuda itu sendiri yang menceritakannya terlebih dahulu.

“Istirahatlah. Jika kau butuh sesuatu, kau bisa memanggilku.” Rafayel mengangguk sambil menatap Zayne yang berlalu pergi. Meninggalkannya sendirian di dalam kamar tamu yang sepi dan sunyi.

Malam itu Rafayel tidak bisa tidur. Ia bermimpi tentang masa lalunya. Mimpi yang sangat buruk. Mimpi yang membuatnya tak bisa memaafkan dirinya sendiri karena membiarkan hal itu terjadi. Di dalam mimpi, Rafayel dalam wujud duyungnya menangis di tengah laut. Menangisi kematian kekasihnya. Pengantinnya.

“HAH!” Rafayel terbangun dalam tidurnya. Keringat dingin bercucuran hingga kasur yang ia tempati basah kuyup. Nafasnya terengah-engah dengan rasa sakit di dadanya.

No… My Bride…” Rafayel bangkit dari kasur, keluar dari kamar tamu dan mengetuk kamar Zayne dengan tergesa-gesa.

Zayne yang baru saja tertidur, mengusap matanya, ia menguap sambil berjalan pelan dan membuka pintu.

“Ada apa?” Saat Zayne membuka pintu Rafayel langsung memeluk tubuhnya dengan erat, membuat Zayne terkejut dalam diam. Ia bisa merasakan tubuh pemuda itu berkeringat hingga baju yang ia kenakan basah kuyup seperti baru saja mandi.

“Hey, kau tidak apa-apa?” Zayne menyentuh bahu Rafayel, berusaha melepaskan diri namun Rafayel mengeratkan pelukannya.

“Tidak. Biarkan aku menenangkan diri sebentar. Sebentar saja… Aku butuh seseorang.” Suara Rafayel terdengar bergetar.

Zayne yang awalnya menolak akhirnya luluh. Dalam diam, detak jantung Rafayel mulai berangsur tenang, nafasnya tidak lagi memburu. Satu tangan Zayne terangkat mengelus rambut ungu pemuda itu. Mengelusnya seperti ia mengelus anak kecil yang sedang menangis.

“Tidak apa-apa… Kau akan baik-baik saja. Semua yang terjadi bukan kesalahanmu… Itu terjadi karena sudah takdirnya.” Gumam Zayne yang berusaha menenangkan, sekaligus menenangkan dirinya juga.

“Takdir yang selalu memisahkan kita?” Suara Rafayel terdengar sedikit serak.

“Ya… Kadang… Apa yang kau miliki bukan sesuatu yang benar-benar kau miliki.” Ujar Zayne. Suaranya rendah dan menenangkan.

“Kadang… ketika kau mencintai sesuatu… kau juga harus siap kehilangan itu.” Pelukan Rafayel semakin erat di pinggang Zayne, membuat empunya agak sesak karena pemuda itu memeluknya terlalu erat.

“Tidak apa-apa. Bernafaslah. Tenangkan dirimu…” Rafayel mulai bernafas pelan, mengikuti instruksi Zayne. Pelukannya mulai melonggar walau tidak sepenuhnya terlepas.

“Terimakasih.” Gumam Rafayel di pelukan Zayne, wajahnya terbenam di dada bidangnya.

“Apa kau sekarang sudah tenang?”

“Iya.”

“Bagus… kau bisa kembali ke kamarmu sekarang.” Rafayel langsung menengadah dan menggeleng cepat. Ia kembali mengeratkan pelukannya.

“Apa maksudnya itu? Kau harus kembali ke kamarmu.” Zayne mengeryit memijat pelipisnya.

“Aku takut tidur sendirian. Temani aku.” Rengek Rafayel. Zayne bertanya-tanya, apa pemuda ini memang selalu seperti ini?

“Kumohon… kalau tidak bisa. Biarkan aku tidur denganmu…” Kalimat ambigu yang membuat telinga Zayne memerah. Wajah Rafayel yang terlihat cantik memelas, membuat Zayne tidak bisa menolak. Zayne tidak lemah terhadap sesuatu yang cantik, ia hanya lemah dengan tangisan dan air mata.

Akhirnya ia menyerah, membiarkan Rafayel tidur di sampingnya — di kamarnya — tentu sebelum tidur Zayne sudah menyuruh Rafayel untuk mengganti baju piyamanya dengan yang baru. Syukur Zayne punya banyak stop pakaian dan walau tubuh Rafayel terlihat lebih kecil darinya, semua pakaiannya terlihat pas dan cukup.

Malam itu pun mereka tidur bersama, hingga pagi menjelang Zayne merasakan tubuhnya agak berat dan tak bisa bergerak. Saat Zayne membuka mata, ia melihat wajah Rafayel yang begitu dekat dengan wajahnya. Memeluk tubuhnya seperti catok. Naluri Zayne berteriak, ia melepas pelukan Rafayel dan beranjak dari kasur.

Lalu sebuah tangan menarik pinggang Zayne, memaksanya kembali ke kasur.

“Apa sih yang kau lakukan? Aku harus kerja.” Gerutuh Zayne yang langsung menyadarkan Rafayel.

“Maafkan Aku… kupikir… Kau seseorang yang kukenal.” Rafayel melepas lengannya dari pinggang Zayne.

Hari itu Zayne tidak banyak bicara, ia hanya mengurus Rafayel seperti yang diinginkan. Memberinya makan, pakaian yang layak, juga keamanan dan kenyamanan. Rumahnya juga sudah terdapat cctv agar orang asing yang masuk bisa langsung terdeteksi walau ia sedang berada di rumah sakit.

Seperti biasa, seharian penuh Zayne bekerja dan ia pulang larut malam. Saat ia membuka pintu, ia melihat Rafayel di sofa sedang menonton TV, menunggunya pulang. Alis kiri Zayne berkedut merasa aneh dengan situasi ini. Ia seperti seorang suami yang baru pulang dan istrinya menunggu kepulangan suaminya.

“Kau sudah pulang?” Wajah Rafayel langsung teralihkan dari Tv dan menatap Zayne. Ia berjalan mendekatinya.

“Kenapa kau tidak tidur?”

“Aku tidak bisa tidur.”

“Oh…” Hening sesaat.

“Apa aku bisa tidur denganmu lagi?” Tubuh Zayne mebeku, ia tidak mengharapkan kalimat itu terucap.

“Kenapa tidak tidur di kamar tamu?”

“Sudah kubilang aku tidak bisa tidur sendirian. Aku takut mimpi buruk itu datang lagi. Dan saat aku tidur di dekatmu… Aku tidak bermimpi apapun… Ini menakjubkan kan?”

“Tidak sama sekali.”

“Ayolah Zayne… Aku hanya butuh ditemani saja… tidak lebih. Dan Aku tidak akan mengigit kok.”

Zayne diam sesaat, menimbang-nimbang. Ia sadar pemuda ini tidak akan menyerah, bahkan akan mengganggunya terus sampai dia mendapatkan apa yang diinginkannya.

Mendengus. Zayne akhirnya pasrah lagi membuat Rafayel tersenyum senang.

“Kau tau… Sepertinya Aku sudah mulai terbiasa dan menyukaimu di sampingku seperti Miss Bodyguard.” Kata Rafayel saat mereka berdua berbaring di kasur yang sama. Zayne menghadap ke samping — membelakangi Rafayel — sedangkan Rafayel melihat langit-langit kamar.

“Hmm… Mungkin karena kau memang orang yang cepat bergaul,” Kata Zayne, matanya terpejam walau ia masih mendengarkan dan merespon suara Rafayel.

“Apa kau tidak penasaran denganku?” Rafayel menoleh, menatap Zayne. Menatap punggung pria itu.

“Aku tidak punya hak bertanya, kecuali jika kau memang mau menceritakannya.” Rafayel tersenyum jarinya bergerak menelusuri punggung Zayne. Mata Zayne terbuka, agak terkejut merasakan sentuhan itu.

“Apa kau pernah membaca cerita legenda Lemurian?” Pertanyaan Rafayel sukses membuat Zayne tersadar, walau ia tidak berbalik menoleh ke arahnya.

“Ya, pernah…”

“Apa kau percaya kalau peradaban itu musnah karena teknologi mereka yang canggih? Atau… karena Cinta?”

Zayne diam sesaat mencoba mencerna kalimat itu. Lalu ia menoleh ke belakang, matanya terbelalak saat sadar wajah Rafayel berada tepat di hadapannya, membuat Zayne tidak jadi berbalik menghadap pemuda itu. Ia tetap diam membelakangi Rafayel.

“Prfttt. Kau lucu sekali,”

“Apanya yang lucu? Lanjutkan saja ceritamu tadi.”

“Haha… Apa aku boleh bertanya sesuatu sebelum melanjutkan?”

“Apa?”

“Apa kau percaya dengan duyung? Dewa Laut?” Detak jantung Zayne langsung berdebar kencang. Ia jelas-jelas tertarik dengan Sejarah, bahkan fosil Duyung juga sudah ditemukan. Darah dan Jantung mereka sangatlah berharga. Seketika mata Zayne terbelalak, ia berbalik menghadap Rafayel, membuat tatapan mereka bertemu.

“Kenapa kau menceritakan ini? Apa itu ada hubungannya denganmu? Kau… apa kau bangsa Lemurian?”

Rafayel tersenyum, wajahnya mendekat dan berbisik ke telinga Zayne. “Lebih dari itu…” Hidungnya menghirup aroma di sekitar Zayne, aroma yang menyegarkan dengan wangi jasmine. Cukup membuat mabuk.

“Lebih dari itu? Apa kau sejenis bangsawan? Pangeran duyung?” Zayne bertanya dengan antusiasnya sebagai seorang dokter dan peneliti sedangkan Rafayel semakin mendekat, hidungnya mencium aroma di leher Zayne. Sangat manis dan memabukkan untuknya, membuatnya tidak fokus.

“Rafayel?” Rafayel menengadah, menatap mata Zayne dengan tatapan sayu.

“Ah, maafkan Aku… baumu… itu sangat wangi dan enak.” Gumamnya sedikit mengendus. “Kau pakai Parfum apa?” Zayne sedikit mengeryit dengan perubahan topik yang tiba-tiba.

“Hmm… Aku tidak pakai pewangi apapun selain saat pergi bekerja. Kenapa?” Nyatanya Zayne memang tidak memakai pewangi apapun saat sedang tidur atau di rumah. “Mungkin itu wangi pelembut pakaian yang kupakai?” lanjutnya.

Rafayel mengendus lagi kemudian menggeleng. “Wanginya berbeda, ini agak… manis dan…” Rafayel mendekat, meletakkan hidungnya di leher Zayne dan menghirup di sana. “Begitu menenangkan dan… memabukkan,”

Tubuh Zayne bergidik saat merasakan hidung Rafayel di lehernya, bibir pemuda itu sengaja mengecup di sana membuat Zayne menahan bahu Rafayel dan mendorongnya menjauh.

“Hmm… Ya, mungkin itu wangi buah yang kumakan… Karena makanan juga bisa mempengaruhi aroma tubuh kita.” Jelas Zayne, berusaha berpikir logis.

Rafayel mengangguk mencoba mendekat lagi untuk menghirup di sana namun tertahan lengan Zayne. “Biarkan Aku menciumnya lagi.” Permintaan yang ambigu.

“Tidak. Sekarang tidurlah jika kau tidak mau cerita lagi.”

Rafayel berkedip. “Aku akan menceritakannya… tapi, Aku tidak tau apa aku bisa menceritakannya padamu atau tidak.”

“Aku tidak memaksa. Lagipula kita tidak sedekat itu…”

Rafayel terdiam sesaat. Lalu menatap mata Zayne. “Kalau begitu biarkan aku menghirup aroma tubuhmu lagi.” Alis kiri Zayne berkedut lagi.

“Apa kau orang mesum?” Tanya Zayne dengan frontal.

“Hey Aku tidak mesum… Aku juga masih normal. Hanya saja… baumu sangat enak… saking enaknya… mungkin bisa membuatku terangsang.” Jawab Rafayel dengan sangat jujur.

“Ternyata kau benar-benar orang mesum.” Zayne memutar bola matanya.

“Aku tidak mesum.” Rafayel cemberut menarik tangan kiri Zayne. “Kalau kau tidak mau aku mencium lehermu bilang saja. Aku kan hanya penasaran dengan aroma tubuhmu yang mirip seperti Miss Bodyguard.” Kemudian Rafayel meletakkan tangan Zayne di hidungnya, menghirup di sana, mencoba mencari aroma yang memabukkan itu di sana. Ah~ Ternyata benar. Ini memang Aroma Tubuh Asli pria ini.

“Maksudmu Wangiku dan dia sama?” Tanya Zayne, memperhatikan Rafayel yang terus mengeluskan lengan miliknya di hidungnya. Menghirup dan kadang mengecupnya. Membuat Zayne tidak nyaman.

“Iya, sangat mirip… Begitu manis dan memabukkan… Tapi… ini lebih manis… lebih tercium…” Wajah Rafayel mulai berubah memerah di bawah lampu yang remang-remang. Cantik. Satu pikiran itu membuat Zayne memalingkan wajahnya, telinganya memanas.

Rafayel yang akhirnya merasa mabuk karena aroma tubuh Zayne menatap empunya yang memalingkan wajah, memperlihatkan telinganya yang merah, lehernya yang jenjang dan putih. Tak tersentuh. Aroma yang menyegarkan tercium kuat di sana.

Mata Rafayel menyala kebiruan, tanpa sadar ia mendekat dan mengigit leher itu merasakan seluruh hidungnya dipenuhi aroma yang manis dan memabukkan. Sial. Ini enak sekali.

Zayne bergidik, merasakan bibir Rafayel menyentuh lehernya lagi, lalu dia mengigit di sana. “Apa yang kau lakukan? Hey!” Zayne mencoba mendorong Rafayel yang dengan gerakan cepat pemuda itu sudah berada di atasnya, menindih tubuh Zayne sambil terus mengecup, menghisap dan mengigit pelan leher Zayne.

“Hah~ Wanginya enak sekali…” Aroma tubuh yang dikeluarkan seperti obat perangsang yang memabukkan bagi Rafayel, kejantanannya yang tegang menekan perut Zayne saat tubuh mereka saling bergesekan.

“D-dasar gila. Kau mesum. Menjauh dariku…” Zayne memegang bahu Rafayel, berusaha mendorongnya. Pergulatan yang melelahkan karena Rafayel tidak mau melepaskan kecupannya hingga ia mengigit keras leher Zayne.

“Agh!” Seluruh tubuh Zayne gemetar, bergidik.

“Sakit sialan.” Tangan Zayne menepuk kepala Rafayel sedangkan empunya masih sibuk menjelajari leher Zayne. Menciumnya dan terus menghisap, menjilat.

“Sial… Hey, jangan lakukan itu… Itu akan berbekas. Jangan di sana…” Zayne mengigit bibirnya, masih berusaha mendorong tubuh pemuda itu. Anehnya, kekuatan pemuda ini begitu besar, seolah… sangat kuat sampai Zayne sendiri tidak bisa mendorongnya. Aneh, padahal dia yakin tubuh Rafayel lebih kecil darinya, tapi kok bisa sekuat ini? Apa dia seorang Dewa?

Rafayel menjauh, wajahnya memerah, matanya bersinar kebiruan menatap penuh Hasrat ke Zayne. Zayne bergidik seketika, menyadari satu hal yang pasti. Dia bukan Manusia.

Sebelum sesuatu yang buruk terjadi. Zayne mendorong tubuh Rafayel kemudian bergegas menjauh, menuruni ranjang namun sebuah lengan menahan tubuhnya, menarik pinggangnya, membantingnya kembali ke kasur.

“Berhenti.” Zayne panik. Menahan wajah Rafayel dengan telapak tanganya, menutup wajah cantik itu. Cantik yang anehnya sekarang terlihat menawan dan… mata itu memancarkan aura dominan.

“Kau tidak bisa menghentikanku Sekarang.” Seketika petir menyambar, kilatan yang menerangi wajah Rafayel yang terlihat seperti predator. Zayne menelan ludahnya. Apanya yang tidak mengigit? Ini lebih parah. Harusnya dirinya-lah yang harus dilindungi, bukan pemuda cantik yang terlihat polos ini.

Rafayel memegang tangan Zayne yang menahan wajahnya. Ia meletakkan hidungnya lagi di sana, menghirup aroma tubuh pria di bawahnya, menjilat telapak tangan itu yang seketika membuat Zayne langsung menarik tangannya. Rafayel menyeringai lalu dengan cepat menerjang. Ia mencium bibir Zayne, memaksa lidahnya masuk ke dalam.

“Mnhh.” Zayne terbelalak, ia kemudian meninju sisi wajah Rafayel. Membuat pemuda itu terhuyung sedikit. Darah biru mengalir di sudut bibirnya, lidahnya terulur menjilat cairan itu.

“Kau berani sekali melukai wajah cantikku Dokter.” Mata itu bersinar dengan wajah kesal membuat naluri bertahan Zayne berteriak untuk lari saat itu juga.

“Tidak. Kau tidak akan kemana-mana.” Rafayel menahan kedua tangan Zayne tetap di kasur.

“Kau benar-benar gila ya. Kau pikir aku akan membiarkanmu berada di atasku?” Tangan Zayne mengeluarkan suhu dingin, hawa di sekitarnya seketika membeku. Ia membuat es kristal tajam yang melayang di dekatnya — siap untuk menyerang —

“Oh? Kau pikir bisa menyerangku dengan Evol Esmu? Kau tidak tahu dengan siapa kau berurusan?” Seketika Es yang melayang itu menguap di udara. Zayne menatap tak percaya, lalu panas terasa dari tangan Rafayel yang menahannya, membuatnya mengerang pelan.

Rafayel menyeringai. “Kau pikir, kau saja yang punya kekuatan? Walau wajahku cantik, telihat lemah dan … tak berdaya. Aku. Lebih Kuat dariMu.” Kalimat itu selesai dan Rafayel langsung mengigit leher Zayne dengan keras, taringnya menancap membuat darah merah mengalir dari sana. Ia menjilatnya, merasakan darah yang anehnya terasa manis. Sial. Ini memabukkan sekali.

“Kau… punya darah murni.” Ia menjilat. Membuat Zayne bergidik, menggerakkan lengan dan kakinya, berusaha menendang dan memukul Rafayel dalam upaya sia-sia.

“Zayne…” Kalimat itu membuat Zayne bergidik. Rafayel menjauh lagi, melihat sosoknya kini berbeda. Kulit wajahnya kini bersisik dan… telinganya. Zayne seketika terhipnotis karena kecantikan Rafayel. Makhluk mistis yang dapat menghipnotis siapa saja dengan kecantikan dan suaranya yang dapat membunuh siapa saja.

Kemudian Rafayel membuka semua pakaiannya yang membuat Zayne semakin panik karena pemuda itu dengan cepat ikut menanggalkan pakaian miliknya juga.

Deg —

Tubuh Zayne di angkat, ia digendong ala bridal style.

“Kau mau membawaku ke mana?” Rafayel tidak menjawab, pemuda itu hanya berjalan keluar, membuka pintu geser dan membawa mereka berdua ke kolam renang yang berada di rumah Zayne. Kemudian tubuh Zayne dilempar ke dalam kolam.

Terkejut. Tubuhnya dilempar dan masuk ke dalam air. Zayne sigap berenang ke permukaan dan bernafas, air dingin seketika berubah hangat saat Rafayel ikut masuk ke dalam air.

Zayne mengigit bibirnya. Apapun yang pemuda ini inginkan itu tidak boleh terjadi. Zayne bergegas menaiki tangga kolam — berusaha keluar dari kolam — saat ia hampir keluar, tangan bersisik menahannya. Zayne menoleh melihat wujud Rafayel yang sedikit berubah.

Terdapat sisik kebiruan di tubuhnya dan garis biru yang bersinar lalu… ada ekor. Zayne tidak terkejut. Sungguh. Karena ia sudah mengantisipasi hal ini saat mengetahui darahnya berwarna biru.

“Tunggu Rafayel, apa yang ingin kau lakukan?” Zayne mencoba melepaskan diri namun cengkraman itu kuat hampir menggores lengannya. Rafayel mencium bibir Zayne, menarik tubuh pria itu ke dalam air. Menariknya mendekat ke tubuhnya.

Zayne, ia tak bisa lagi melawan. Tubuhnya gemetar saat Rafayel menekan tubuhnya. Lengannya yang besar dan bersisik melilit pinggangnya menahannya tetap dekat.

“Hahh… Baumu … ini begitu memabukkan…” Rafayel melepas ciuman dan mengecup dagu pria itu, mengecup pelan sisi wajah Zayne hingga lehernya.

“Kau… benar-benar membuatku gila dengan ini…” Nafas panas Rafayel menggelitik leher Zayne, membuatnya gemetar. Dan Ketika Zayne merasakan sesuatu yang padat menekan pahanya dia tertegun.

“Kau… tidak bermaksud untuk kawin denganku kan?” Pertanyaan yang ditujukan untuk niat yang jelas. Rafayel hanya mengangguk sambil terus mengecup kulit sensitif Zayne.

Wajah Rafayel terlihat bernapsu, memerah karena mabuk, ia menengadah melihat bulan purnama yang sempurna. Ah ternyata begitu… pantas saja ia hilang kontrol.

“Pasang surut air membuat tubuh kami juga ikut mengalami rangsangan… Kuat dan sangat menginginkan pelepasan.” Gumam Rafayel, mengecup, menjilat dan menghisap garis leher Zayne. Ia mencium bahu pria berambut hitam itu lalu beralih menjilat puting dadanya.

Zayne terkesiap. Memukul kepala Rafayel dengan refleks.

“Hah. Kau masih saja menolakku?” Geram Rafayel, matanya bersinar terang.

“T-tidak… Aku tidak sengaja…” Aura intimidasi yang kuat, membuat Zayne sesak.

“Tatap Aku. Jangan berpaling.” Tangan Rafayel menahan wajah Zayne, menatapnya dengan mata biru bercahayanya yang seolah ingin menghipnotis. Zayne terbuai, kecantikan wajah Rafayel membuat Zayne hampir terbuai saat ia menggelengkan kepalanya dan tersadar lagi.

“Tidak… bukan begitu…” Rafayel yang sadar Zayne menolak, menekan bagian tubuhnya yang tegang dengan milik Zayne. Menggesekan dirinya di tubuh Zayne, memberikan sentuhan dan panas yang menggairahkan.

“T-tunggu…” Zayne bergidik, nafasnya terengah-engah dengan semua sentuhan. Entah kenapa semua sentuhannya membangkitkan hasratnya juga. Membangunkan penisnya yang dari tadi tertidur. Ia menegang di setiap sentuhan.

“Zayne… Aku tidak bisa menunggu…” Rafayel merentangkan kedua kaki Zayne mengarahkan bagian tubuhnya — Ekornya — di antara paha Zayne. Menggesekkan sisi ikannya ke kulitnya, membuat penis pria itu semakin keras.

“Hahh… I-ini aneh…” Zayne bergidik, tangannya mencengram bahu Rafayel.

“Apanya?” Rafayel terus menggesek tubuhnya, menjilat dan menghisap puting dada Zayne.

“Nghhh… Memangnya bisa?” Pertanyaan polos yang membuat Rafayel terkekeh. Dari celah ekornya yang terlihat menonjol, keluar sesuatu yang panjang, terlihat seperti… bentuknya aneh.

“Apa itu… penis duyung?” Tanya Zayne. Rafayel mengangguk.

“Aku sengaja melunakkannya agar bisa menyelinap masuk.” Bisik Rafayel di telinga Zayne.

“Memangnya benda itu bisa melunak dan mengeras sendiri semaumu?” Zayne berkedip kagum.

“Ya. Milik kami bisa begitu fleksible.” Kemudian ujung benda itu menyusuri lubangnya bergerak masuk.

“T-tunggu… rasanya aneh.” Zayne terkesiap, merasa benda licin itu memasuki tubuhnya melalui lubang anusnya. Terasa aneh, kemudian benda itu membengkak. Membesar.

“Hahh… R-Raf… itu… itu membesar…” Rafayel mencium bibir Zayne, menahan erangannya saat penis duyung di dalam tubuh Zayne mulai menegang dan padat sempurna di dalam sana, menekan seluruh dinding dalam Zayne. Mengenai prostatnya.

Zayne melepas ciuman itu, melihat gundukan di perut bagian bawahnya. Ukuran kejantanan duyung yang sangat besar memasuki tubuhnya.

“T-tunggu… jangan bergerak…” Wajah Zayne memerah karena perasaan penuh yang tiba-tiba.

“Hahh… Zayne… kau meremasku begitu kuat… Hahhh… Apa kau baru pertama kali merasakan sesuatu memasuki lubangmu?” Rafayel mengerang pelan, menggerakkan penis duyungnya sedikit yang membuat Zayne mengerang. Suara yang tak pernah ia buat sebelumnya.

“Hah… kubilang… jangan bergerak…” Zayne menutup mulutnya. Rafayel terkekeh, membuat getaran itu menekan pelan di dalam sana.

“Kau lucu sekali… Tapi Aku sudah tidak tahan lagi… kau menjepitku sangat erat dan hangat… Hahh…” Rafayel menarik keluar lalu menghentak masuk, membuat riak air kolam ikut bergerak.

“Ah.” Zayne menutup mulutnya. Tubuhnya gemetar saat benda milik Rafayel itu mengenai titik yang ia kenal. Tapi… apa rasanya memang seperti ini? Prostatnya?

“Nghhh.” Kakinya gemetar lagi saat Rafayel menghantak masuk.

“Ah sial… ini menyiksaku.” Rafayel menarik pinggul Zayne ke arahnya, membuatnya ikut bergoyang menerima dorongan yang mengenai prostatnya. Zayne menggeliat di dalam air. Setiap Gerakan Rafayel membuat air ikut beradu.

“Ahh… Hahh…” Zayne gemetar, tubuhnya menikmati setiap hentakan, rasanya begitu menyenangkan. Kakinya secara naluri melingkari pinggang Rafayel, membuat penis duyung miliknya masuk begitu dalam.

“Oh. A-Ahhh…” Erangan Zayne mulai tak menentu saat Rafayel meningkatkan kecepatannya.

“Tadi kau menolakku… Sekarang kau malah menikmatinya ya… Hahhh…” Rafayel terus menghentak di titik yang membuat Zayne mengerang, sengatan yang mengiriman getaran hingga bermuara di bawah perutnya. Precumnya keluar saat Rafayel terus memanjakan prostatnya.

“Akan kubuat kau menginginkannya terus…” Satu hentakan keras dan dalam membuat tubuh Zayne menegang. Matanya berputar ke belakang dan tubuhnya melengkung saat penisnya menyemburkan cairan sperma.

“Ahhh. AH. Hahhh…”

“Kau keluar banyak sekali Dokter Zayne… apa kau tidak pernah bercinta sebelumnya?” Rafayel masih terus memompa miliknya di dalam sana dengan gerakan pelan, terus mengenai titik manis di dalam.

“Raf… t-tunggu… A-aku baru saja keluar…” Zayne menggeliat, ia mencengram rambut Rafayel agar pemuda itu berhenti bergerak.

“Tidak apa-apa, kau akan kembali keras.” Rafayel menghentak, penisnya mengenai prostat Zayne dengan keras, membuat Zayne gemetar dan kejang. Penisnya yang lunak kembali tegang.

“Lihat… sepertinya kau menikmati penis duyungku.” Zayne terengah-engah, tidak menanggapi pernyataan Rafayel karena pada kenyataannya tubuhnya memang menikmati itu.

“Zayne…” Rafayel mencium leher Zayne, mengelus sisi tubuh pria itu. Bergerak pelan dan menggoda, menikmati sensasi terkubur di dalam tubuh Zayne yang sempit.

Kemudian Zayne merasakan sesuatu yang aneh. Rafayel memasukan sesuatu lagi ke dalam lubangnya.

“Hah.. Ahh… Rafayel… Kau memasukkan apa lagi?” Tanya Zayne dengan susah payah.

“Hmmm…” Rafayel bersenandung, ia mendekat ke telinga Zayne. “Penis keduaku.”

Zayne terbelalak, benda itu sudah menyelinap masuk seutuhnya. “A-apa? Penis kedua?” Kemudian ia bisa merasakan benda lunak itu mengembang, membesar, memadat seperti penis yang sebelumnya. Benda fleksibel itu tegang dengan sempurna dan kini ada dua penis di dalam tubuh Zayne, dan lubangnya terasa perih karena peregangan yang tiba-tiba.

“Rafayel… S-sakit. Ini… tidak akan berhasil…” Nafas Zayne memburu, panik mulai menyelimuti tubuhnya, membuatnya malah meremas kedua penis Rafayel.

“Ahh… Zayne… t-tenanglah…” Perasaan itu malah membuat Rafayel bergerak maju menekan.

“Ah!” Seluruh tubuh Zayne menegang, penisnya menyembur tanpa peringatan. Sial. Itu terasa… sakit dan anehnya kenapa nikmat?

“T-tunggu Rafayel…”

“Tidak… jangan menyuruhku menunggu lagi.” Rafayel mendorong dalam, menghentak kedua penisnya membuat tubuh Zayne melengkung, air liur menetes dari sudut bibirnya.

“Hahh… A-ahh… jangan…. Rasanya… terlalu kuat. AH!” Tubuh Zayne menegang, perasaan penuh dan geli, mengisi tubuhnya. Menghentak kuat prostatnya. Memberikan sensasi ekstra yang membuatnya menyembur lagi.

Tubuh dan paha Zayne gemetar, ia kejang karena pelepasan yang tak terduga. Masalahnya adalah, ia terus cum dari tadi sedangkan Rafayel belum sama sekali. Ini buruk. Ini buruk.

“Raf…” Zayne bergidik, melihat ekspresi Rafayel yang mulai berubah, lebih bernapsu. Insting primitifnya mulai menguasainya. Tangan bersisik mencengkram pinggul Zayne, kemudian ia bergerak cepat menghentak. Maju Mundur dengan cantik dan dalam, diiringin erangan tak karuan dari Zayne dan semburan penisnya.

Sial enak sekali. Nafas Rafayel memburu, wajahnya memerah saat melihat ekspresi erotis Zayne yang malah membuat kedua penisnya semakin membesar dan tegang. Begitu terangsang.

“AH. Raf… berhenti… itu membesar lagi- AH. AAAH!” Tubuh Zayne dibanting di dinding kolam saat ia terus menerima semua tusukan brutal. Tubuh Zayne gemetar, melengkung dan menggeliat, air mata keluar dari pelupuk matanya saat ia merasa sensasi euforia yang berlebihan. Sangat intens dan menegangkan. Seluruh tubuhnya terguncang, pikirannya sudah tak berlogika, yang ada hanya kenikmatan.

Rafayel mengangkat tubuh Zayne keluar dari kolam sampai punggungnya berada di lantai pinggir kolam, sambil ikut keluar dari dalam air, goyangan Rafayen semakin cepat dan semakin intens. Ekornya mencambuk sisi kolam saat ia terus bergerak cepat.

“Ahh… Sial… Enak sekali…” Rafayel mengangkat kedua kaki Zayne dan meletakkannya ke pundaknya, mengangkat ekor duyungnya untuk menghentak keras dan dalam.

“AKHH!” T-terlalu dalam. Mulut Zayne menganga dengan mata terbelalak, tubuhnya gemetar dalam hentakan. Penisnya kini tidak menyemburkan sperma. Itu air. Yang membuatnya semakin tak bisa berpikir rasional.

Gerakan Rafayel semakin cepat, menekan pinggulnya begitu dalam dengan kedua penis besar dan tebalnya. Sambil melihat tonjolan di perut bagian bawah Zayne yang menyembul setiap ia mendorong dalam.

Sial ini terlalu erotis.

Rafayel mengerang, merasakan pelepasannya semakin dekat. Gerakannya cepat dan mendesak, kedua kejantanannya semakin membesar. Bengkak Ketika semua muatan kenikmatan berada di ujung dan siap menyembur.

Dan dengan beberapa hentakan terakhir, kepala mereka berdua terlempar ke belakang. Pelepasan yang luar biasa. Penis Zayne kembali menyembur entah sudah berapa kali, ia sudah lupa. Sedangkan Rafayel akhirnya menyemburkan semua muatan sperma miliknya di dalam tubuh Zayne. Tubuhnya gemetar saat akhirnya ia bisa mencapai klimaks.

Sebelumnya, tak ada manusia yang tahan dan bisa menerima kedua penisnya hingga mencapai klimaks. Ini… adalah pertama kalinya ia bisa merasakan klimaks dengan seseorang. Begitu memuaskan. Rafayel terkekeh pelan, tubuhnya mulai merasa lelah, kemudian ia menatap Zayne yang masih gemetar, pandangannya kosong dan tak bisa berkata-kata selain terengah-engah.

Kemudian ia menunduk, mengecup kening Zayne. Lalu melepaskan dirinya dari dalam Zayne. Melihat banyaknya cairan yang keluar dari lubangnya. Rafayel tersenyum, membasuh Zayne dengan air kolam, lalu melompat keluar dari kolam — sepenuhnya keluar dengan ekornya — lalu ekor itu berubah menjadi kaki manusia lagi. Ia mendekati Zayne yang terkulai lemas, mengangkat tubuh yang sudah tak bisa bergerak itu kembali ke kamarnya.

Mengenakan mereka pakaian bersih lalu membaringkan tubuh itu. Tenaga Zayne jelas habis, bahkan penis dan lubangnya masih terasa berkedut. Ia menatap Rafayel dengan mata lelah.

“Tidurlah… Kau butuh istirahat sekarang.” Sebuah kecupan di keningnya kembali. Zayne tidak bisa berpikir lagi, yang ia butuhkan sekarang adalah tidur. Tidur yang panjang untuk mengembalikan energinya.

Keesokan harinya Zayne terbangun. Jam dinding sudah menunjukkan pukul dua sore. Eh? Zayne dengan cepat bangun dan duduk lalu perasaan nyeri di punggungnya menjalar hingga lubang pantatnya. Perih.

“Sial. Aku tidak kerja hari ini.” Zayne perlahan turun dari ranjang, berjalan pelan ke luar kamar dengan rasa nyeri di pinggang dan lubangnya.

“Oh? Zayne kita sudah bangun.” Seru Rafayel yang sedang duduk bersama Wanita yang dikenalnya.

“Aku tak menyangka Zayne akan sakit dan tidak pergi kerja… Apa Rafayel menyusahkanmu?” Tanya Wanita itu.

“Sejujurnya..-”

“Tidak. Zayne sangat baik padaku… dan dia tidak keberatan dengan itu.” Rafayel memotong kalimat Zayne dengan cengiran khasnya. Nada bicara yang ceria dan dibuat menggoda.

“Jadi apa masalahnya sudah selesai?” Tanya Zayne berjalan pelan dan duduk di sofa — agak jauh dari mereka berdua —

“Iya… Terimakasih atas bantuannya Zayne.”

“Syukurlah, akhirnya aku tak melihat ikan ini lagi.”

“Hey. Tapi tenang saja… Aku akan mengunjungimu kok Zayn…”

“Tidak. Terimakasih. Aku tidak menerima tamu sepertimu.”

“Jangan begitu… Kau pasti akan merindukanku.”

Suara tawa terdengar. “Kalian jadi sudah mulai akrab ya.”

“Akrab apanya?” Ketus Zayne.

“Tentu saja kita sangat Akrab.” Seru Rafayel. Ia berdiri dan duduk di samping Zayne, merangkul pundak pria itu.

“Menjauh dariku.”

“Tidak mau…”

“Ahahaha…. Kalian lucu sekali,”

“Singkirkan dia dariku,”

Dan beitulah, tanpa dia ketahui hubungan Rafayel dan Zayne cukup intim. Oh, tentu saja dia tau karena terlihat bekas cupang di leher Zayne yang tidak disadari pemiliknya.

#Fin


메타데이터
post_id
e45db2bee031
slug
darah-biru-e45db2bee031
url
https://medium.com/@JustMinty/darah-biru-e45db2bee031
canonical_url
https://medium.com/@JustMinty/darah-biru-e45db2bee031
author_url
https://medium.com/@JustMinty
status
ok
fetched_at
2026-06-22 17:31:34