Yang Tinggal Kenangan setelah STITMA Jadi IAINU
Setiap perubahan meninggalkan kenangan. Manis dan pahit hanya masalah sudut pandang. Namun, kenangan tetaplah genangan kisah yang tidak…
Yang Tinggal Kenangan setelah STITMA Jadi IAINU

Setiap perubahan meninggalkan kenangan. Manis dan pahit hanya masalah sudut pandang. Namun, kenangan tetaplah genangan kisah yang tidak mungkin terulang dengan momen yang sama. Pun dengan STITMA (Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Makhdum Ibrahim) yang berubah status menjadi IAINU (Institut Agama Islam Nahdlatul Ulama).
Mengutip filsuf Yunani, Heraclitos, bahwa satu-satunya yang tidak berubah di dunia ini adalah perubahan itu sendiri. Dan, STITMA bagian dari yang berubah. Dari yang ada menjadi hilang. Dari yang sebelumnya tidak ada menjadi ada. Yang tidak ada tinggal kenangan.
Dan Berikut yang hilang dari STITMA:
Hilangnya Slogan Kampus Religi Tempat Solusi
Slogan Kampus Religi Tempat Solusi sudah sangat lekat di telinga mahasiswa kala masih berstatus STITMA. Mengalir di aliran darah dan bermukim di relung jiwa, terutama bagi mahasiswa kismin seperti saya.
Entah apa makna dari slogan tersebut, yang jelas dan pasti, saya suka. Terlebih pada diksi yang terakhir: The Solution. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), solusi adalah penyelsaian, pemecahan masalah, dan segala hal yang lain dengan tujuan menjadi jalan keluar. Inti dan segala intinya, selalu ada solusi dalam setiap tarikan napas slogan ini. Utamanya bagi mahasiswa yang cekak modal seperti saya.
Dulu, orang yang cekak modal seperti saya ini, terpenting kuliah di STITMA adalah niat. Niat sungguh-sungguh mencari ilmu, bonusnya ijazah. Tidak peduli punya uang atau tidak. Yang penting daftar dulu, uang pendaftaran bisa dibayar belakang — saat sudah punya uang. Sungguh solutip.
Saya tidak tahu siapa yang merumuskan slogan Kampus Religi Tempat Solusi. Tapi yang pasti, saya meyakini, blio-blio yang merumuskan slogan tersebut memiliki jiwa sangat mulia — memahami betul kondisi ekonomi mahasiswa nahdiyin di Tuban, yang kadang untuk makan saja masih empet-empetan.
Menurut hemat saya, tujuan dibuatnya slogan tersebut untuk memberikan kesempatan anak-anak orang NU di desa dan miskin kota agar bisa kuliah.
Tetapi, semenjak menjadi IAINU, slogan itu tidak terdengar lagi. Kabarnya sudah berubah menjadi Kampus Social Entrepreneur Religius.
Meski slogan yang saya cintai itu tinggal kenangan, saya selalu berdoa: semoga masih ada anak-anak NU dari desa dan kaum miskin kota seperti saya dulu, yang tetap bisa kuliah di sana.
Hilangnya Nama Makhdum Ibrahim
Ibarat pepatah Jawa: asmo kinaryo jopo, nama adalah doa. Pun dengan terselipnya nama Makhdum Ibrahim pada singkatan STITMA. Saya meyakini, sesepuh yang menyelipkan nama Makhdum Ibrahim bukan tanpa alasan. Pasti ada doa yang terpanjatkan untuk keberlangsungan STITMA. Minimal mendapatkan berkah dari Mbah Sunan Bonang. Namun, kini semuanya tinggal kenangan. Tidak ada lagi nama Makhdum Ibrahim di IAINU.
Inilah bedanya IAINU dengan kampus tetangga, UNIROW. Dari semenjak masih menjadi IKIP kemudian berubah status menjadi universitas, nama Ronggolawe tetap melakat: Universitas PGRI Ronggolawe. Pun saat masih berstatus IKIP, namanya tetap IKIP PGRI Ronggolawe Tuban.
Saya meyakini, masih diselipkannya nama Ronggolawe meski sudah berubah status menjadi universtitas ini adalah doa, agar UNIROW bisa terus berkembang sebagaimana nama besar Ronggolawe yang terus dikenang sebagai pahlawan oleh masyarakat Tuban.
Hilangnya Jas Warna Biru
Entah kapan pastinya perubahan warna jas yang sebelumnya biru menjadi hijau itu berlangsung. Tapi menurutnya saya, pilihan perubahan warna almamater dari biru menjadi hijau, ini adalah keputusan yang cukup berani. Dari biru menjadi hijau. Itu setelah sekian lama STITMA melekat dengan warna kebanggaannya, biru warna khas langit dan laut — yang memiliki makna kedalaman, kepercayaan, kesetiaan, ketulusan, kebijaksanaan, kepercayaan, stabilitas, iman, surga, dan kecerdasan.
Pun dalam arti perspektif psikologi. Biru adalah warna yang dapat diandalkan dan bertanggungjawab. Tapi sekarang, warna kebanggaan yang memunculkan rasa percaya diri bagi mahasiswanya itu sudah tidak ada. Berubah menjadi hijau. Soal kenapa pilihan warna hijau. Ini yang saya masih meraba-raba.
Apakah karena memang diidentikan dengan warna khas NU, atau ada maksud yang tersembunyi lainnya. Misal, warna hijau yang juga bermakna keuangan dan kekayaan yang cocok dengan entrepreneur. Tapi yang jelas, hijau adalah warna natular. Merujuk pada pepohonan dan dedaunan. Bisa jadi, dengan tujuan kaya yang senatural mungkin.
Hilangnya Kantin Pak Ji
Warung Pak Ji adalah kantin yang ada di pojok kampus di bagian timur sisi utara. Kantin Pak Ji inilah yang dulu menjadi kawah condrodimuko-nya kaum intelektual STITMA. Tempat diskusi para mahasiswa sambil ngopi. Juga sebagai tempat dalam menyusun ide dan gagasan dalam menjalankan wasilah movement. Semuanya berawal dari warung Pak Ji.
Tapi, kini sudah tidak ada lagi. Hanya tinggal kenangan. Tergantikan dengan kantin baru IAINU, kantin yang untuk memenuhi kebutuhan perut mahasiswa (baca: iainuonline: Kantin IAINU Atasi Kebutuhan Perut Mahasiswa).
Etapi, boleh ngebon nggak ya…?
Tuban, 20 November 2022
메타데이터
- post_id
- e46df5e82dac
- slug
- yang-tinggal-kenangan-setelah-stitma-menjadi-iainu-e46df5e82dac
- url
- https://medium.com/@tubanpedia/yang-tinggal-kenangan-setelah-stitma-menjadi-iainu-e46df5e82dac
- canonical_url
- https://medium.com/@tubanpedia/yang-tinggal-kenangan-setelah-stitma-menjadi-iainu-e46df5e82dac
- author_url
- https://medium.com/@tubanpedia
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-09 08:27:28