Jala yang Mengerat: Taktik Pagar Betis dalam Penumpasan DI/TII di Jawa Barat
Oleh Innaka Isthofani
Jala yang Mengerat: Taktik Pagar Betis dalam Penumpasan DI/TII di Jawa Barat

Potret operasi penyergapan terhadap Kartosoewirjo dan DI/TII di Gunung Geber, Majalaya (Sumber: https://serbasejarah.wordpress.com/2011/09/17/hari-hari-terakhir-tah-ieu-teh-hudaibiyah/)
Dalam sejarahnya, Indonesia telah merdeka pada 17 Agustus 1945. Hal ini ditandai dengan pembacaan teks Proklamasi dan disahkannya dasar negara. Dengan demikian, Indonesia tidak seharusnya merasa terancam lagi oleh oknum-oknum yang ingin merebut kebebasan mereka dalam sekejap. Namun, kenyataan berbicara masih terlalu banyak perihal yang perlu diselesaikan sebelum menjadi negara yang sepenuhnya merdeka, baik dari luar maupun dari dalam. Dalam menghadapi masalah yang tidak kunjung selesai, pemerintah telah melakukan berbagai upaya guna menghentikan bentrokan dalam segala lapisan masyarakat.
Salah satu usaha dari pemerintah untuk membasmi pemberontakan dari dalam, yakni taktik pagar betis yang dilakukan oleh TNI AD Divisi Siliwangi. Taktik militer tersebut dilancarkan sebagai cara untuk membersihkan pasukan DI/TII di Jawa Barat. Penumpasan DI/TII ini disebabkan oleh kehadiran mereka yang menciptakan suatu tekanan luar biasa — baik dalam aspek sosial maupun politik — pada berbagai lapisan masyarakat, terutama lapisan paling bawah. Namun, hal tersebut tidak terbentuk secara tiba-tiba karena DI/TII bukanlah suatu gerakan yang tidak memiliki alasan.
Kelahiran DI/TII menjadi bukti banyaknya suara-suara kecil yang tidak terdengar, bahkan tidak didengar sama sekali. Perjanjian Renville memiliki peran penuh dalam melatarbelakangi terbentuknya DI/TII di Jawa Barat, hal ini pula yang menjadi dasar mengapa DI/TII di wilayah lain ikut terbentuk. Ironisnya, kekecewaan akan perjanjian ini dirasakan oleh teman yang amat dekat dengan Soekarno, yakni Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo. Bagi Kartosoewirjo, perjanjian ini justru memperlihatkan betapa mudahnya pemerintah dalam menjual negara kepada Belanda. Kartosoewirjo yang sedari awal memiliki bayang-bayang ideologi yang ideal untuk bangsa ini, yaitu menjadikan Indonesia sebagai negara islam. Namun, ideologi tersebut berlawanan penuh dengan apa yang digenggam oleh Soekarno. Perjanjian Renville menjadi suatu kesempatan dalam mewujudkan kemauannya, yaitu Negara Islam Indonesia (NII).

Potret Kartosoewirjo, pemimpin Darul Islam/Tentara Islam Indonesia di Jawa Barat (Sumber: https://www.biografiku.com/biografi-kartosuwiryo/)
Ketika TNI hengkang dari Jawa Barat, makin besar pula kekecewaan Kartosoewirjo, TNI dianggap sebagai pengecut, antek penjajah, bahkan kafir karena tidak mampu mempertahankan wilayahnya. Pada akhirnya, Kartosoewirjo memilih untuk menetap di sana bersama dengan Laskar Hizbullah dan Sabilillah. Setahun setelahnya — tepat pada 7 Agustus 1949 — ia memproklamasikan terbentuknya Negara Islam Indonesia (NII) sebagaimana berisi
“Bismillahirrahmanirrahim Asyhadu alla illallah wa asyhadu anna Muhammadar Rasulullah. Kami Umat Islam Bangsa Indonesia menyatakan berdirinya Negara Islam Indonesia. Maka hukum yang berlaku atas Negara Islam Indonesia itu ialah: Hukum Islam.”
Melalui pembacaan proklamasi tersebut, NII sekaligus satuan pasukan kenegaraan Tentara Islam Indonesia (TII) resmi terbentuk.
Selama satu dekade penuh, DI/TII di Jawa Barat kerap melancarkan aksinya dengan bergerilya. Operasinya membentang luas dari Priangan Timur hingga ke Priangan Barat, bahkan sekitar Bandung pun ikut terdampak. Aspek yang paling terdampak ialah warga yang terusik kehadirannya oleh gerombolan DI ini, mereka mengusik untuk meminta jatah makan dan yang menolak akan dibunuh atau dibacok parang. Sebenarnya, rangkaian aksi yang dilancarkan oleh DI/TII sejak awal telah tercium oleh pemerintah, mereka juga tidak tinggal diam. Mereka berupaya untuk menumpas DI/TII di Jawa Barat dengan memerintahkan TNI AD. TNI melakukan berbagai taktik militer konvensional sepanjang 1950–1959, tetapi hasilnya tidak memuaskan. Medan hutan pegunungan Jawa Barat adalah rumah bagi TII, dan Kartosoewirjo terlalu lihai untuk bisa dijebak dengan strategi biasa.
Pada tahun 1960, Jenderal A.H. Nasution merancang upaya lain guna menyelesaikan DI/TII di Jawa Barat. Alih-alih mengejar TII yang terus bergerak, mereka justru mempersempit ruang gerak untuk TII sehingga kehilangan ruang bebas dalam beroperasi. Dalam hal ini, TNI melibatkan pengerahan rakyat untuk mengepung TII — dengan berbaris rapat untuk mengepung dan menyisir hutan — sehingga taktik ini diberi nama Pagar Betis. Tidak hanya sekadar kuantitas bantuan yang kunjung bertambah, tetapi TII yang tidak terhubung dengan masyarakat secara perlahan akan terputus suplainya. Dengan demikian, Kartosoewirjo dan pasukannya hanya mampu melarikan diri tanpa mendapatkan suplai apapun.
Peralihan taktik ini amat berpengaruh pada posisi TII. TII yang awalnya mendominasi medan beralih menjadi menyerahkan diri secara perlahan. Wilayah yang semula membentang luas makin mengecil sehingga TII terdorong mundur hingga ke pedalaman yang terpencil. Taktik ini berada di puncaknya pada April — Juni 1962, yakni pengejaran terakhir oleh TNI guna menghilangkan sepenuhnya kekuatan Kartosoewirjo. Meskipun sebelumnya Kartosoewirjo beserta pasukan yang tetap setia padanya selalu berhasil lolos dari penangkapan, TNI kali ini memiliki keuntungan berupa informasi intelijen.
Tepat pada tanggal 4 Juni 1962, petunjuk intelijen mengarahkan TNI ke kawasan Gunung Geber, Majalaya, Jawa Barat. Tanpa menunggu lama, Kompi C Batalyon 328 Kujang II/Siliwangi di bawah Letda Suhanda mengepung lokasi persembunyian itu tanpa celah sedikitpun. Hal yang tidak terduga ialah respons dari Kartosoewirjo dengan sisa pasukannya yang tidak berupaya melawan sama sekali.
Akhir dari taktik pagar betis bukan hanya sekadar menangkap Kartosoewirjo dan para pengikut loyalnya, melainkan menghilangkan jejak dari Negara Islam Indonesia (NII) itu sendiri. Lantas, pemimpin DI/TII di Jawa Barat itu kemudian dibawa ke Jakarta untuk diadili oleh Mahkamah Angkatan Darat. Dua bulan setelah ditangkap, Kartosoewirjo dijatuhkan hukuman mati. Ia ditembak mati oleh regu tembak TNI dan dimakamkan di Pulau Ubi, Kepulauan Seribu pada 5 September 1962.

Proses Eksekusi Kartosoewirjo oleh Regu Tembak TNI di Kepulauan Seribu (Sumber: https://www.merdeka.com/foto/politik/86480/20120905183724-eksekusi-mati-kartosoewirjo-001-djoko-poerwanto.html)
Penulis: Innaka Isthofani
Program Studi Ilmu Sejarah Angkatan 2025
Referensi
Buku
Nasution, A.H. Memenuhi Panggilan Tugas, Jilid 5. Jakarta: Masagung, 1985.
Tim Siliwangi. Siliwangi dari Masa ke Masa. Bandung: Angkasa, 1979.
Van Dijk, C. Rebellion under the Banner of Islam: The Darul Islam in Indonesia. The Hague: KITLV/Martinus Nijhoff, 1981.
Artikel Daring
Prinada, Yuda. “Sejarah Pemberontakan DI/TII di Jawa Barat.” Tirto.id, 17 November 2023. https://tirto.id/sejarah-pemberontakan-di-tii-kartosoewirjo-di-jawa-barat-gajF.
Skripsi
Cahyari, Dinda Pramesti. “Peristiwa DI/TII Jawa Barat Tahun 1949–1962.” Skripsi, Program Studi Pendidikan Sejarah, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Lampung, 2019.
메타데이터
- post_id
- e47f57199f8f
- slug
- jala-yang-mengerat-taktik-pagar-betis-dalam-penumpasan-di-tii-di-jawa-barat-e47f57199f8f
- url
- https://medium.com/@sksui/jala-yang-mengerat-taktik-pagar-betis-dalam-penumpasan-di-tii-di-jawa-barat-e47f57199f8f
- canonical_url
- https://medium.com/@sksui/jala-yang-mengerat-taktik-pagar-betis-dalam-penumpasan-di-tii-di-jawa-barat-e47f57199f8f
- author_url
- https://medium.com/@sksui
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-21 06:15:37