Empat Nilai Islami sebagai Penjaga Harmoni Sosial di Tengah Disrupsi Zaman
Bandung — Rektor Universitas Muhammadiyah Bandung Herry Suhardiyanto mengajak umat Islam untuk memaknai momentum Halal Bihalal sebagai…
Empat Nilai Islami sebagai Penjaga Harmoni Sosial di Tengah Disrupsi Zaman

Rektor Universitas Muhammadiyah Bandung Herry Suhardiyanto (Sumber: YouTube ITB).
Bandung — Rektor Universitas Muhammadiyah Bandung Herry Suhardiyanto mengajak umat Islam untuk memaknai momentum Halal Bihalal sebagai ruang muhasabah diri yang sarat nilai spiritual dan sosial, bukan sekadar tradisi seremonial yang berulang setiap tahun tanpa ruh.
Pesan tersebut disampaikannya saat menjadi narasumber dalam kegiatan Halal Bihalal di ITB pada Senin (30/03/2026).
Dalam pemaparannya, Herry mengawali dengan mengingatkan kembali tujuan agung ibadah puasa sebagaimana termaktub dalam Al-Baqarah ayat 183, yakni membentuk pribadi yang bertakwa.
Dia menegaskan bahwa ketakwaan bukanlah titik akhir, melainkan proses panjang yang terus bertumbuh seiring perjalanan usia dan kedewasaan manusia.
Rektor kemudian mengibaratkan perjalanan hidup dan peningkatan ketakwaan seperti dua spiral dalam ruang kehidupan.
Waktu dan perputaran bulan Hijriah berjalan seiring, sedangkan kualitas ketakwaan diharapkan terus menanjak dari satu Ramadhan ke Ramadhan berikutnya.
“Setiap Ramadhan seharusnya menjadi titik lonjakan dalam kualitas ketakwaan kita,” ungkapnya.
Lebih jauh, dia menekankan bahwa Halal Bihalal sejatinya adalah momentum rekonstruksi ruhani dan sosial.
Di dalamnya terdapat kesempatan untuk menyucikan hati, mempererat ukhuwah, dan menata kembali orientasi hidup di tengah arus perubahan zaman yang begitu cepat.
Menurutnya, derasnya disrupsi teknologi, hiruk-pikuk media sosial, serta semakin renggangnya relasi sosial kerap membuat manusia kehilangan jati diri spiritualnya.
Dalam kondisi tersebut, dia menegaskan pentingnya meneguhkan empat nilai utama, yaitu keikhlasan, integritas, kebersamaan, dan kerukunan sebagai fondasi kehidupan.
Pada aspek keikhlasan, Herry mengingatkan bahwa setiap amal harus berlandaskan tauhid yang murni. Mengagungkan Allah bukan hanya kewajiban, tetapi kebutuhan jiwa.
OIeh karena itu, dia menekankan pentingnya menjaga hati dari penyakit riya, yakni keinginan untuk dipuji dan diakui oleh manusia.
Selain itu, dia juga menyoroti perlunya keseimbangan antara kecerdasan intelektual dan kesadaran spiritual.
Ilmu pengetahuan, menurutnya, harus berjalan beriringan dengan zikir kepada Allah, agar tidak melahirkan kesombongan yang merusak nilai kemanusiaan.
Dia mengingatkan bahwa kesombongan dapat menyusup pada siapa saja, baik mereka yang memiliki kelebihan ilmu maupun harta.
Bahkan, kesombongan pada mereka yang tidak memiliki keduanya menjadi ironi yang menunjukkan rapuhnya jiwa tanpa nilai spiritual.
Dalam dunia akademik, Herry menegaskan bahwa integritas merupakan pilar utama yang tidak boleh ditawar. Keselarasan antara nilai, ucapan, dan tindakan menjadi cermin kejujuran sejati.
Dia menilai, krisis terbesar saat ini bukanlah minimnya kecerdasan, melainkan pudarnya integritas, yang tercermin dari praktik manipulasi data hingga plagiarisme.
Sementara itu, dalam aspek kebersamaan, dia menegaskan bahwa kekuatan sebuah institusi tidak dibangun oleh individu-individu hebat semata, tetapi oleh kolaborasi yang kokoh dan saling menguatkan.
Dia mengibaratkan organisasi sebagai bangunan yang berdiri tegak karena setiap bagian menjalankan perannya dengan penuh tanggung jawab.
Pada akhirnya, Herry menekankan pentingnya menjaga kerukunan dalam kehidupan masyarakat yang majemuk.
Dia mengingatkan bahwa perbedaan adalah sunnatullah yang tidak dapat dihindari, tetapi kerukunan adalah pilihan yang harus terus diikhtiarkan. Dalam hal ini, keadilan menjadi kunci utama dalam merawat harmoni sosial.
Menutup pemaparannya, dia mengajak seluruh peserta untuk menjadikan Halal Bihalal sebagai titik awal perubahan diri yang lebih bermakna.
“Keikhlasan, integritas, kebersamaan, dan kerukunan adalah fondasi utama dalam membangun peradaban yang kuat, beradab, dan berkelanjutan,” pungkasnya.***(FA)
메타데이터
- post_id
- e4a08729ec3a
- slug
- empat-nilai-islami-sebagai-penjaga-harmoni-sosial-di-tengah-disrupsi-zaman-e4a08729ec3a
- url
- https://medium.com/@umbandungnews/empat-nilai-islami-sebagai-penjaga-harmoni-sosial-di-tengah-disrupsi-zaman-e4a08729ec3a
- canonical_url
- https://medium.com/@umbandungnews/empat-nilai-islami-sebagai-penjaga-harmoni-sosial-di-tengah-disrupsi-zaman-e4a08729ec3a
- author_url
- https://medium.com/@umbandungnews
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-29 22:44:20