← Back to list

Aku Mengira Resolusi Itu Soal Disiplin, Ternyata Soal Kepercayaan

Catatan Kecil: Apa yang Kupelajari tentang Tujuan Hidup dari Lokakarya Ali Abdaal 2026

Muhsin Nuralim in Berbagi & Berdampak · 2026-01-12 10:23 · 142 claps · 4.5 min read paywalled
#refleksi #resolusi-tahun-baru #berbagi-dan-berdampak #bahasa-indonesia #ali-abdaal
Open on Medium ↗

Aku Mengira Resolusi Itu Soal Disiplin, Ternyata Soal Kepercayaan

Catatan Kecil: Apa yang Kupelajari tentang Tujuan Hidup dari Lokakarya Ali Abdaal 2026

Photo by Tim Mossholder on Unsplash

Photo by Tim Mossholder on Unsplash

Bagaimana perjalanan resolusi tahun ini — apakah sudah perlahan dicicil, atau justru ada yang diam-diam gagal?

Pertanyaan itu sebenarnya menjadi pengingat bagiku untuk kembali memperhatikan bagaimana aku menjalani hari, menghabiskan waktu, dan bekerja sesuai dengan apa yang telah kutargetkan. Di awal tahun ini, aku sangat bersyukur sebab bisa mengikuti lokakarya daring bersama Ali Abdaal, di 7–8 Januari lalu.

Seminggu kemudian, aku menyadari bahwa Ali mengirimkan surel Weekly Review. Bukan sesuatu yang rumit, tapi cukup untuk membuatku kembali menengok target-target tahun ini yang telah kutentukan. Dari sana, aku terdorong untuk menuliskan apa saja yang kupelajari selama tujuh jam mengikuti Spark — lebih sebagai catatan pribadi daripada rangkuman yang lengkap.

1. Pentingnya Evaluasi Berkala

Sebelum membahas rencana tahun 2026, kami, para peserta, diajak untuk merefleksikan pencapaian sekaligus kegagalan di tahun 2025. Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan terdengar sederhana, tapi cukup kuat sebagai pengingat:

· Apa pencapaian terbesarmu di 2025? · Aktivitas apa yang kamu sukai? · Apa yang gagal kamu lakukan? · Hal apa yang ingin kamu lanjutkan, dan apa yang sebaiknya kamu hentikan?

Dalam proses refleksi ini, aku menyadari bahwa momen jeda ternyata sangat penting. Jeda memberiku cukup ruang untuk melihat ke belakang tanpa harus terus menyalahkan diri sendiri atas bermacam kegagalan.

Pasca momen refleksi selama lima jam penuh, lengkap sudah data-data yang kubutuhkan untuk tahun ini. Ibarat sebuah petualangan, aku telah memetakan dengan cukup rinci — jalurnya — akan kuarahkan ke mana nanti.

Selain itu, aku akhirnya mampu menyusun dua diagram utama, yakni: diagram keputusan dan finansial.

Dengan adanya diagram itu, aku berharap menjalani hidup lebih terarah dan berani untuk berkata “TIDAK” pada sesuatu yang tidak selaras dengan tujuan hidup di 2026 ini. Bukan untuk menghakimi, tapi untuk memahami.

2. Pentingnya Bermimpi Besar

Di sesi kedua, Dr. Izzy Sealey — istri Ali Abdaal — membimbing kami menyusun vision board. Lewat stimulasi visual, kami diajak untuk kembali mengingat bahwa mimpi-mimpi itu, sejauh apa pun, tetap layak untuk dipikirkan.

Latihan ini berangkat dari pertanyaan yang Ali ajukan sebelumnya: “Dream without limits.” At some point in the next ten years…

· Apa yang ingin kamu pelajari? · Apa yang ingin kamu miliki? · Apa yang ingin kamu lihat, coba, lakukan, dan ciptakan? · Kontribusi apa yang ingin kamu berikan? · Dan, kamu ingin menjadi orang seperti apa?

Kami diminta menuliskan sebanyak mungkin — bahkan yang terasa tidak masuk akal — lalu memberi rentang waktu: satu tahun, dua tahun, lima tahun, hingga sepuluh tahun ke depan pada bucket-list itu.

Sesi ini mengajarkanku untuk kembali percaya bahwa bermimpi tidak selalu harus rasional. Ada bagian dalam hidup yang memang perlu diberi ruang untuk bertualang. Ali pun mengingatkan bahwa kesuksesan datang dari visi dan aksi. Ke mana kita ingin melangkahkan setiap keputusan, ke sanalah kita akan bergerak. Namun tetap, kuncinya ada pada langkah nyata.

*“Visi tanpa aksi hanyalah halusinasi,” pungkasnya.*

3. Menyadari Aktivitas Hormonal Tubuh

Pembahasan ini terasa cukup teknis, tapi justru menarik. TJ Power, seorang neuroscientist dan penulis buku The Dose Effect, menyampaikan materinya dengan cara yang ringan dan interaktif.

DOSE, singkatan dari Dopamine, Oxytocin, Serotonin, dan Endorphin, menjadi topik utama malam itu. TJ menjelaskan bahwa aktivitas sederhana seperti berjalan kaki, membiarkan diri merasa bosan, atau sekadar berpelukan — hal-hal yang sangat dekat dengan keseharian kita — ternyata berperan besar dalam cara kita merasa, berpikir, dan mengambil keputusan.

Kurangnya dopamin bisa membuat seseorang kehilangan fokus. Kekurangan oksitosin dapat memicu rasa kesepian yang berujung pada adiksi tertentu. Dopamin dikenal sebagai motivational chemical, oksitosin sebagai connection chemical, serotonin berperan dalam suasana hati dan energi, sementara endorfin membantu meredakan rasa sakit.

Di titik ini, aku mulai menyadari bahwa produktivitas bukan hanya soal disiplin, tapi juga soal bagaimana kita memperlakukan tubuh dan emosi kita sendiri.

4. Memulai dari Hal-Hal Kecil

Kekhawatiran sering muncul saat kita terlalu sering melihat orang lain seolah memiliki ambisi dan tujuan besar. Dari sini, Anne-Laure Le Cunff, penulis buku Tiny Experiments, memperkenalkan experimental mindset, pola pikir seperti ilmuwan.

Pola pikir ini mengajarkanku untuk berani memulai, sekaligus menerima bahwa kesalahan adalah bagian dari proses belajar. Bukan untuk dihindari, tapi untuk dipelajari.

Langkahnya sederhana:

  1. Ambil buku atau media apa pun untuk mencatat.
  2. Identifikasi pola perilaku (misalnya, menyadari bahwa aku menghabiskan lebih dari dua jam tanpa sadar ketika merasa bosan).
  3. Buat hipotesis: apakah rasa bosan memicu perilaku impulsif ini?
  4. Susun komitmen kecil: ketika aku merasa bosan, aku akan mencoba membaca buku alih-alih membuka Instagram selama satu minggu.

Diagramnya seperti ini:

dokumentasi pribadi

dokumentasi pribadi

dokumentasi pribadi

dokumentasi pribadi

Tujuannya bukan memastikan keberhasilan, melainkan mengamati dan belajar. Apakah eksperimen ini gagal atau berhasil tidak diukur dari perubahan perilaku, melainkan dari pertanyaan: apa yang kupelajari dari sini? Jika ada pelajaran — sekecil apa pun — maka eksperimen itu tetap bernilai.

5. Memeriksa Apa yang Kita Percayai

Masalah sering kali bukan datang dari luar, melainkan dari apa yang kita percayai tentang diri sendiri. Apakah sejak awal kita benar-benar yakin bisa mencapai resolusi tahun 2026? Apakah kita percaya bahwa usaha yang kita lakukan sepadan?

Di hari kedua, Nir Eyal membuka sesi penutup dengan membahas hal ini. Materi ini menjadi salah satu yang paling aku nikmati, mungkin karena sejak lama aku tertarik pada pertanyaan: bagaimana kepercayaan memengaruhi setiap keputusan yang kita ambil?

Nir membahas beberapa miskonsepsi, salah satunya bahwa kita melihat dunia sebagaimana adanya. Padahal, kita melihat dunia berdasarkan apa yang kita perhatikan. Realitas kita dibentuk oleh banyak hal, dan belief menjadi salah satu faktor utama dalam cara kita memaknainya.

dokumentasi pribadi

dokumentasi pribadi

Tulisan ini jelas tidak lengkap, dan jauh dari komprehensif. Namun aku menuliskannya sebagai pengingat bagi diriku sendiri: bahwa dalam menentukan tujuan hidup, banyak hal yang terlibat — tidak hanya target dan disiplin, tapi juga tubuh, kebiasaan kecil, dan kepercayaan.

Aku akan sangat bersykur dan bangga, jika di Desember 2026 nanti, aku bisa menengok kembali tulisan ini dan melihat sejauh mana aku melangkah memperjuangkan cita-citaku itu.

Banyakkah yang telah aku raih nanti?

Namun jika pun beberapa tujuan belum tercapai, aku ingin tetap bisa belajar — tentang mengapa hal itu terjadi, dan apa yang bisa kulakukan dengan lebih sadar ke depannya.


메타데이터
post_id
e4cf3d6fb82a
slug
aku-mengira-resolusi-itu-soal-disiplin-ternyata-soal-kepercayaan-e4cf3d6fb82a
url
https://medium.com/berbagi-berdampak/aku-mengira-resolusi-itu-soal-disiplin-ternyata-soal-kepercayaan-e4cf3d6fb82a
canonical_url
https://medium.com/berbagi-berdampak/aku-mengira-resolusi-itu-soal-disiplin-ternyata-soal-kepercayaan-e4cf3d6fb82a
author_url
https://medium.com/@muhsinnuralim22
status
ok
fetched_at
2026-08-12 05:33:20