Apakah salah jika aku mencintaimu?
sebuah utas dari keresahan dalam dada yang menyentak diri sejak Mei 2025, dengan studi perbandingan keadaan pada Agustus 2023.
Apakah salah jika aku mencintaimu?
sebuah utas dari keresahan dalam dada yang menyentak diri sejak Mei 2025, dengan studi perbandingan keadaan pada Agustus 2023.

Suatu gambaran untuk kehidupan yang utopis, namun dengan canvas hitam “monotone”. Mungkin.
Agustus, 2023.
Sebuah bulan baru untuk awal yang baru, pikirku kala itu. Aku selalu optimis bahwasanya dunia tanpa cinta itu bisa tetap berwarna. Diriku terbangun, membuka jendela kamar dengan ketinggian 112 meter, menghirup segarnya udara Jatinangor di pagi hari kala itu. 05.15, aku bangun dan bersegera untuk mencari sarapan pagi.
“Baiknya sekalian saja makan di kampus.”
Berangkat pagi-pagi buta, aku menyempatkan mampir ke kantin untuk sarapan pagi. GKU-2 masih sepi, tidak banyak variasi. Yasudahlah, makan saja.
Begitulah aku memulai rutinitas tiap pagi. Terkadang aku makan di kampus, tidak makan sama sekali karena telat bangun, masak sendiri dan membawa bekal, sampai keracunan makanan. Sepertinya dunia kehidupan mahasiswa memang tidak mudah.
Demikian rutinitas terus bergilir. Sepertinya aku salah soal “berwarna”. Naif, memang. Akhirnya rutinitas terasa monotone (monotone bisa kita ambil dari warna, hitam putih dalam hal ini). Apalagi, sulit sekali bagiku mencari teman. Pikirku, memahami diri sendiri saja sudah susah, apalagi memahami orang lain. Apalagi ketika orang lain mencoba memahami diriku.
Desember, 2023.
Berbagai upaya kulakukan. Mencoba “menghidupkan kembali” rasa yang t’lah mati.
Aku percaya bahwa hatiku telah mati rasa, kala itu. Karena, sama sekali tidak ada perasaan excited dari diriku yang pernah muncul. Tidak organik. Rasanya, aku sangat tenang, super tenang. Aku jarang sekali merasa takut dan harus segera mengambil tindakan untuk merestorasi emosiku. Apalagi bersikap reaktif.
Ikut kepanitiaan, mencoba berbaur. Rasanya masih sama saja. Aku dikelilingi teman, banyak malah. Tapi kenapa, rasanya sama saja?
Februari, 2024.
Ujian menerpa, bukan ujian mata kuliah. Sebuah ujian hidup. Sepertinya tidak ada harapan bagi diriku, pikirku kala itu. Entahlah, semuanya terasa sangat melelahkan. Tidur adalah suatu pelarian yang paling indah waktu itu. Entah dalam definisi apa tidur dalam tulisan ini, hahahahaha.
Tapi itu sudah berlalu. Namun, suatu perasaan yang baru muncul dari sana. Aku mengetahui teman-temanku peduli kepadaku. Rasanya, dada ini terasa sedikit lebih hangat.
Oktober, 2024.

Sumber Cahaya (Reused photo).
Di dalam keremangan
Di bawah terik matahari
Letih dan lelah yang kurasakan
Tak membuat hatiku gentar
Aku menutup mata, menundukan kepala. Hari itu, suatu perjalanan yang panjang telah usai. Semuanya bernyanyi, bersama-sama, di depan nyala api yang membara, di suatu desa, di atas pegunungan, di sebuah rumah, dengan api kecil yang menghangatkan suasana.
Perjalanan baru telah dimulai. Pada saat itu, aku merasa dunia mulai cerah dan baik-baik saja. Aku mulai mengetahui arti keluarga, dan aku memilikinya. Aku tahu siapa yang harus kubela, dan siapa yang akan menjadi tempat aku kembali, jika suatu hari aku memang harus kembali ke kampus ini.
Bukan tempatnya, tapi orangnya. Itulah definisi yang kutemukan.
Februari, 2025.
Ah, rasanya dunia ini sangat utopis. Puncak kehidupan yang aku dambakan. Tenang, tanpa rasa penasaran, tanpa harus mencari seseorang. Aku ada untuk diriku. Alam semesta ada di sekitarku. Aku mencari ketenangan dengan mencari alam semesta yang dapat kunikmati keindahannya. Bertasbih dan memuja Tuhanku yang Maha Esa atas penciptaan-Nya yang luar biasa. Seringkali aku berjalan-jalan ke alam hanya untuk memuji dan bersyukur atas segala nikmat-Nya.
Sayangnya, perasaan itu tidak berakhir lama. Andaikan aku diberi kesempatan kembali pada state itu, aku akan dengan senang hati memilih untuk kembali.
Semoga saja, suatu saat nanti.
Mei, 2025.

Gelap sekali. Tapi aku melihat “satu cahaya terang”. Apakah ini yang kucari? (Ini adalah awal permulaan dari keputusan yang salah terbesar, yang pernah kulakukan dalam hidup).
“Kamu siapa? Kenapa kamu mencari aku?”
Penuh kebingungan. Sebetulnya, penuh rasa curiga. Dia datang, mendekat, tiba-tiba sudah menjadi kawan curhat. Tidak lebih dari 1 bulan. Bahkan, mungkin 3 minggu saja. Aneh sekali.
Aku sangat berhati-hati. Karena kejadian sebelumnya belum lama kering. Luka ini masih baru, jangan tambah lagi luka yang baru. Aku baru bisa menikmati hidupku sejak Februari lalu, jangan sampai serangan yang kedua datang kembali.
Agustus, 2025.
“Sepertinya memang dia orangnya. Entah kenapa, dunia mulai tampak berwarna. Apakah aku menemukan orang yang tepat?”
Definisi orang yang tepat kala itu sangat bias. Entahlah. Orang ini berhasil datang dan menembus celah diriku. Sepertinya, aku mulai tahu di mana diriku mulai salah arah.
Oh, indah sekali. Dunia tampak berwarna. Jika dulu ia monotone, sekarang colorful. Pelangi tidak jauh lebih indah dari duniaku kala itu. Oh dia sangat peduli diriku. Sepertinya memang dia orangnya. Kali ini, aku akan mencoba sekali lagi, membuka lembaran baru dari hidupku yang telah lama putih-abu abu.
Dan pertanyaan sebelumnya adalah suatu keputusan besar yang salah. Sangat salah yang telah dilakukan. Doakanlah aku kembali menjadi diriku yang dulu, yang masih bahagia di Februari, 2025 lalu.
Oktober, 2025.

Perjuangan baru saja dimulai. Lupakanlah soal masa lalu.
HIMAFI, BERSATU….. MULAI!
Kali ini, aku sedang jatuh. Sayapku patah. Berdarah-darah. Disentuh sedikit saja menyakitkan, mudah sekali aku marah. Terkadang, ketika seseorang datang untuk menolong, aku malah menepis dan berkata bahwa itu menyakitkan.
Aku lupa, untuk memakaikan perban pada luka, perlu proses berupa gerakan tangan. Sepertinya, aku salah soal mereka. Ya, keluargaku, merekalah yang selalu ada.
Aku cinta mereka. Mungkin ini cinta yang lebih natural, organik. Sepertinya ini yang aku maksud. Persetan dengan dunia cinta monyet, apalagi hubungan asmara, aku malah menjadi kera, tidak bisa berpikir, bertindakpun ragu.
Kali ini, aku telah menemukan keluarga. Keluarga yang baru. Selain Aruvisya Neutika.
Desember, 2025.
Sepertinya, aku mulai menyadari sesuatu. Jatuh sekali aku dibuat satu orang. Rasanya, besok adalah hari akhir. Baik sekali jika aku mengakhirinya secepat mungkin, pikirku kala itu. Ya, lukanya sudah terlalu banyak. Oleh satu orang saja. Memang sangat salah, keputusan kala itu. Aku menyia-nyiakan separuh tahun hanya untuk membuang-buang waktu.
Di tengah gejolak emosi dan luka yang berat, aku ditampar oleh pilihan yang Tuhan hadapkan. Kala itu, pukul 03.00 WIB, sendiri, meratapi kekosongan, meminum secangkir kopi hangat, di tengah ruangan yang dingin. Kopi yang kuminum membuat seisi ruangan itu sedikit hangat, tapi semuanya hening dan sepi.
Ku menatap plafon rumah, yang dalam bayangku seakan menembus limitasi langit dan bumi. Aku menadahkan tangan, melihat ke arah Tuhan yang jauh di atas sana.
“Kali ini, biarkan aku kembali kuat. Sebelumnya, aku kuat tanpa dirinya hadir dalam hidupku.”
“Tuhan, buatlah aku kembali hebat, sebagaimana aku belum pernah tahu keberadaan dirinya di 2023 lalu. Hilangkan saja pengetahuan tentang dirinya dalam hidupku, sebagaimana aku tidak tahu apa-apa sebelum kami saling mengenal.”
“Tuhan, aku memilih untuk monoton dan sepi seperti 2023, namun stabil dan hidup. Dibandingkan berwarna, namun fana dan membakar raga. Kondisi ini bukan yang aku mau.”
Dibuatlah aku tertidur oleh Tuhanku. Kala itu, aku sempat berharap untuk tidak bangun. Tapi Tuhan Maha Baik.
Maret, 2026.
Sepertinya, Tuhan menjawab doaku. Kali ini, aku memilikinya. Cinta dan kehangatan keluarga. Bukan asmara, tapi cinta yang penuh makna. Meskipun aku harus membagi cinta untuk 297 orang dengan penuh warna, itu tidaklah lebih buruk daripada 1 orang yang membuat hancur. Terlebih, dengan tulus aku mencintai, semakin paham diriku soal cinta yang sesungguhnya.
Doakan aku selamat, sampai amanah ini berada di ujung tombak kebenaran. Semoga ia kembali ke mana kebenaran itu berpihak. Budaya ilmiah akan selalu berpihak kepada kebenaran. Begitupun agama, akan selalu memenangkan yang haqq.
Mei, 2026.
Warna, ragam, dan cinta. Dengan demikian, lahirlah “SPECTRA”. Berakar dari cahaya, warna, dan cinta. Satu cahaya sumber dengan warna yang sama, putihlah misalnya, terdispersi, membentuk ragam warna-warni yang indah, menciptakan suasana hangat penuh keindahan dan harmoni, di tengah keberagaman yang ada. Kuharam, sesuai dengan namanya, demikianlah adanya.
Semoga nama ini menjadi doa, dan biarlah masa lalu tetap di sana. Semoga semuanya kembali membaik, terutama diriku yang berjuang. Karena aku menceritakan diriku di sini, bukan siapapun. Meskipun aku melibatkan orang lain, ini semua demi kebaikan diriku.
Ya, aku bahkan tidak memahami diriku sendiri.
Terima kasih, semuanya, yang pernah terlibat denganku. Secara langsung, ataupun tidak langsung.
메타데이터
- post_id
- e4eaa4a8c5d8
- slug
- apakah-salah-jika-aku-mencintaimu-e4eaa4a8c5d8
- url
- https://medium.com/@adrianradian/apakah-salah-jika-aku-mencintaimu-e4eaa4a8c5d8
- canonical_url
- https://medium.com/@adrianradian/apakah-salah-jika-aku-mencintaimu-e4eaa4a8c5d8
- author_url
- https://medium.com/@adrianradian
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-15 20:49:13