Hari Tani Nasional: Menjadi Petani Tidak Seindah Halusinasimu
Hari Tani Nasional: Menjadi Petani Tidak Seindah Halusinasimu

Generasi milenial yang enggan menjadi petani. Kalian tidak salah. Jangan terlalu percaya pada pemerintah yang mendorong anak-anak muda supaya menjadi petani. Selama tidak ada kebijakan dan konsep yang konkret dari hulu ke hilir, mendorong anak-anak muda menjadi petani sama saja menyuruh gambling.
Mengajak anak-anak menjadi petani, tentu ajakan yang baik. Tapi saya tidak setuju kalau ajakan itu didramatisir. Seolah-olah menjadi petani itu sangat menyenangkan. Pffft. Itu hanya ada di film saja. Membayangkan: melihat hamparan padi yang menghijau nyiur tampak menyenangkan, ditambah dengan musik yang mengalun merdu, seolah-olah hidup menjadi orang desa dan bertani itu sangat menyenangkan. Indah dibayangkan, tapi faktanya pffft. Jangan terlalu banyak menghalu dengan mendramatir kesusahan orang desa yang bekerja di sawah, wahai para pejabat dan orang-orang kota yang tidak pernah tandur dan ngrakal.
Kalau tidak percaya, sini kalau mau tukar posisi, tapi jangan berharap kembali. Saya jadi orang kota kerja kantoran, kamu kerja jadi petani.
Sebagai generasi yang lahir dari rahim petani, saya tahu persis bagaimana susahnya menjadi petani. Namun, saya tidak perlu mendramatisir bagaimana susahnya menjadi petani. Toh, sekalipun saya dramatisir, juga tidak banyak membawa perubahan. Dari dulu sampai sekarang, nasib petani embongan — dengan lahan pas-passan, masih sama.
Simpelnya, biaya produksi yang sangat tinggi hingga tidak terbeli, tapi harga hasil panen selalu dipermainkan. Itulah yang sering saya rasakan dari kecil sampai sekarang.
Sialnya, sebagai anak petani yang minim lahan, saya kerap mendapat pertanyaan dari orang-orang kota yang tidak pernah merasakan jadi petani. Salah satu pertanyaan yang bikin saya emosi, yakni soal kenapa banyak anak muda yang malah pergi ke kota ketimbang menjadi petani?
Heh! Mas, Mbak anak pengusaha dan para pejabat. Mereka yang memilih meninggalkan desanya dan berangkat ke kota, itu supaya hidupnya lebih sejahtera, seperti sampeyan. Kamu kira menjadi petani tanpa ada kebijakan yang konkret dari pemerintah itu gampang.
Saya tidak menutup mata. Berbagai program untuk meningkatkan hasil pertanian memang sudah dikeluarkan pemerintah. Tapi pemerintah juga jangan menutup mata, bahwa masih sangat banyak petani yang belum sejahtera.
Jangankan sejahtera, untuk sekadar mendapatkan pupuk dan bibit saja terkadang susahnya minta ampun. Belum lagi saat panen, harga anjlok karena permainan tengkulak dan kebijakan impor yang dilakukan pemerintah. Sadar nggak sih bahwa selama ini masalah klasik itu masih terus terjadi dan selalu saja didramatisir.
Tidak heran, dengan segala bentuk permasalahan terkutuk itu, profesi petani masih menjadi momok yang menakutkan bagi sebagian anak muda Indonesia. Utamanya anak muda dari rahim petani embongan yang minim lahan. Lha gimana mau bangga menjadi petani, kalau yang nampak hanya susahnya.
Selama tidak ada intervensi pemerintah dalam membuat kebijakan yang jelas dan konkret, maka selamanya petani embongan akan seperti ini.
Tidak perlu jauh-jauh, Tuban yang katanya penyangga lumbung pangan nasional dengan hasil pertanian padi dan jagung yang surplus — di mana hasil produksi atau panen luweh-luweh atau turah-turah kalau sekadar hanya untuk kebutuhan makan orang se-Tuban saja, apakah terus petani embongan di Tuban sejahtera. Apakah petani di Tuban dapat prioritas kemudahan pupuk. Apakah terus hasil panen petani di Tuban bisa dijamin kestabilan harganya. Apakah klaim peyangga lumbung pangan nasional itu lantas pemerintah peduli dengan petani Tuban. Keknya podo saja deh. Petani embongan tetap tidak sejahtera dan mlarat.
Sialnya dan janjuknya lagi, sudah diklaim sebagai penyangga lumbungan pangan nasional dengan penghasil padi yang melimpah, tapi bantuan beras untuk warga miskin di Tuban sering kali tidak layak untuk dimakan, bau dan berkutu.
Lalu apa yang mau dibanggakan dari Tuban yang diklaim sebagai penyangga lumbung pangan nasional. Toh, nyatanya Tuban juga masih termiskin nomor lima se-Jawa Timur. Dan rerata orang miskin yang ada di Tuban merupakan orang-orang desa yang status pekerjaannya di KTP sebagai petani.
Apa kabar resi gudang yang katanya sebagai penyelamat hasil panen petani? Pffft.
25 September 2021
메타데이터
- post_id
- e511cbda7d11
- slug
- hari-tani-nasional-menjadi-petani-tidak-seindah-halusinasimu-e511cbda7d11
- url
- https://medium.com/@tubanpedia/hari-tani-nasional-menjadi-petani-tidak-seindah-halusinasimu-e511cbda7d11
- canonical_url
- https://medium.com/@tubanpedia/hari-tani-nasional-menjadi-petani-tidak-seindah-halusinasimu-e511cbda7d11
- author_url
- https://medium.com/@tubanpedia
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-13 06:23:13