← Back to list

Pesta Babi dan Nostalgia

bersepatu boot memasuki hutan papua, dok. pribadi

umi nc · 2026-05-23 07:26 · 0 claps · 2.6 min read
#papua
Open on Medium ↗

Pesta Babi dan Nostalgia

bersepatu boot memasuki hutan papua, dok. pribadi

bersepatu boot memasuki hutan papua, dok. pribadi

Sebuah film dokumenter yang sedang ramai dibicarakan yaitu Pesta Babi sedang jadi perbincangan hangat di mana-mana. Sebuah film yang menyoroti bagaimana kapitalisme dengan meminjam tangan-tangannya, termasuk dengan hegemoni pasar dan kekuatan negara sedang menjarah apa yang menurut mereka harus dikuasai.

Saya sama sekali tidak menyesal ketika akhirnya di tahun 2017 lalu, saya ikut kelompok KKN ke Papua. Kehidupan rakyat Papua yang disorot dalam Pesta Babi adalah realitas yang dihadapi sehari-hari masyarakat Papua. Banyak suku di Papua kehilangan sumber pangan, hutan-hutan terus menyempit dan sebagian suku lainnya (yang dianggap tidak menentang pemerintah indonesia) harus hidup dengan norma modern seperti yang diajarkan di jawa, rumah adat mereka tak lagi tersisa, kini diganti perumahan-perumahan yang dibangun lewat kementrian sosial.

Waktu itu kami masih pergi ke hutan, meski sudah mengenal nasi, kebiasaan berburu di hutan dan mengambil sagu adalah apa yang bikin bangsa melanesia terasa hidup ‘alive’, bagi mereka hutan tak mengenal kepemilikan, hutan punyanya Tuhan, semua yang ada di dalamnya termasuk dirinya adalah bagian dari sistem kehidupan di bumi.

Namun, logika modern dengan mesin-mesinnya kini harus mereka hadapi. Hutan yang menyempit memaksa suku yang nomaden harus belajar tinggal, pangan yang tadinya cukup ambil di hutan kini harus didapatkan dengan nilai tukar rupiah.

Film Pesta Babi kembali mengingatkanku, bahwa aku tidak menyesal pergi ke Papua meski orang tuaku di rumah sering khawatir waktu itu. Satu-satunya yang aku sesalkan ketika itu adalah, dimana aku belum sepenuhnya menyertai diriku dengan senjata-senjata; belum aku punya sebuah cara pandang yang adil, belum aku bekali diriku dengan alat-alat pengetahuan modern untuk membongkar akar dari permasalahan di Papua.

Meski waktu itu, materi seperti teori pembangunan dan antropologi bersama Mas Faisal Kamandobat terus ditatarkan bagi kelompok-kelompok KKN 3T, tapi aku masih sesali betul tentang diriku waktu itu, yang enggan untuk selalu menyertai hari-hari warga papua seluruhnya, pada diriku yang masih mempertahankan sepatu ketika di sana, pada diriku yang enggan nyeker dan pada diriku yang disibukkan dengan gatal-gatal.

Jika masih ada kesempatan, aku tak keberatan buat kembali ke Papua, dengan cara pandang yang baru aku ingin nyeker, aku ingin makan pinang, menari sampai pagi, seperti yang mereka lakukan ketika menyambut kami datang. Kata dosen metopen ku waktu itu, kita harus menyatu dengan objek penelitian kita, hidup dan tidur bersama mereka, seluruhnya, menyatu tapi tetap berdiri sebagai subjek yang punya objektivitas, katanya.

Tapi warga Papua jelaslah bukan objek penelitian. Mereka adalah subjek, jika aku pun datang dengan cara pandang subjek-objek apa bedanya diri ini dengan pemerintah indonesia? Bangsa melanesia seperti pula bangsa jawa, melayu, bone, dayak, betawi, sunda, semuanya punya kedaulatan yang sama dalam pembangunan indonesia.

Beberapa anak Kokoda masih berkabar, katanya air bersih sudah ada, tak perlu lagi mandi di air kaca. Beberapa dari mereka, anak-anak muda Kokoda juga sekolah di Jawa, dengan beasiswa salah satu ormas.

Papua yang dihuni suku melanesia adalah medan pertempuran kolonialisme yang paling dahsyat di negeri ini. Kita kerap memandang mereka tidak sebagai manusia utuh seperti masyarakat jawa dan indonesia bagian barat, mereka seringkali dikabarkan sebagai manusia-manusia ketinggalan zaman, bengis, suka marah, dan kasar. Itulah sebagian besar informasi tentang orang Papua yang diamini masyarakat di Jawa.

Masyarakat yang berdaulat dengan tanahnya yang kaya, yang sudah lebih dulu ada sebelum Indonesia ada, kini berada di ujung tanduk kepunahan massal. Saat hutan-hutan terus dijarah, kehidupan mereka akan ikut punah, saat mesin-mesin eskavator terus didatangkan atas nama pembangunan dan proyek strategis negara, sesungguhnya yang terjadi adalah pembunuhan massal sebuah bangsa beserta peradabannya.

Kita bertanya, bukankah sejatinya pembangunan adalah empowerment, yang artinya peneguhan dan bertambahlah kedaulatannya? Jika yang terjadi justru adalah perampasan atas kedaulatan dan eksistensi bukankah itu kolonialisme. Dan sayangnya kita telah kehilangan kedaulatan atas tujuan pembangunan sebuah nation bernama indonesia ini. Tangan-tangan kapital merasuk lebih cepat daripada proses pendidikan sebuah bangsa yang baru berdiri pada 1945 itu.


메타데이터
post_id
e5192e6c4f5c
slug
pesta-babi-dan-diriku-yang-payah-e5192e6c4f5c
url
https://medium.com/@uminurchayatii/pesta-babi-dan-diriku-yang-payah-e5192e6c4f5c
canonical_url
https://medium.com/@uminurchayatii/pesta-babi-dan-diriku-yang-payah-e5192e6c4f5c
author_url
https://medium.com/@uminurchayatii
status
ok
fetched_at
2026-06-09 15:37:30