← Back to list

Catatan Tentang “Turang” dan Memaknai Kembali Sepenggal Kisah Sinema Orde Lama

Suatu pekan di awal bulan April, seorang kawan mengajak saya mengisi diskusi di sebuah forum di Fakultas Film ISI Yogyakarta, biasanya saya…

Andika Wahyu · 2025-05-06 10:51 · 0 claps · 4.9 min read
#turang #bachtiar-siagian #arsip-film
Open on Medium ↗
Wiki topics: SAF · Safety & Alignment 🎬 · Film & Television

Catatan Tentang “Turang” dan Memaknai Kembali Sepenggal Kisah Sinema Orde Lama

Suatu pekan di awal bulan April, seorang kawan mengajak saya mengisi diskusi di sebuah forum di Fakultas Film ISI Yogyakarta, biasanya saya memilih-milih ajakan, dan apabila ada yang lebih sanggup dari saya seringkali saya merekomendasikan orang lain. Namun rasa-rasanya yang ini sulit untuk dilewatkan, forum itu adalah forum diskusi penayangan film Turang (Bachtiar Siagian, 1957) yang pertama di kota Yogyakarta, setidaknya setelah film itu dipegang oleh Indonesia (lagi).

Film Turang bukanlah film yang asing di telinga saya, sejak 2023 proyek repatriasinya sudah terdengar disela-sela kegiatan saya yang berkecimpung di dunia arsip film, namun tidak pernah dan mungkin juga belum sempat sama sekali bersinggungan langsung dengan proyek ini.

Dan baru terwujud di akhir tahun 2024, film ini akhirnya dipegang oleh Bunga Siagian putri dari sang Sutradara, Bachtiar Siagian. Yang melalui jejaring komunitasnya, Bunga membuka selebar-lebarnya kemungkinan kerjasama penayangan dengan berbagai komunitas film di Indonesia. Akhirnya dan di tanggal 21 April 2025, film ini ditayangkan oleh Kamisinema di Ruang AUVI, ISI Yogyakarta.

Title scene di film Turang.

Title scene di film Turang.

Turang yang berarti “Sayang” dalam bahasa Karo, terinspirasi dari sebuah lagu daerah yang cukup terkenal di wilayah Medan, “O, Turang”. Tidak ayal, bahwa kemudian lagu ini menghiasi banyak scene di dalam film.

Film yang berlatar di pedesaan Seberaya, Kabupaten Karo ini mengambil latar waktu tidak lama setelah Kemerdekaan, tepatnya di masa Revolusi fisik, ketika Agresi Militer Belanda dimulai. Mengkisahkan Rusli (Omar Bach) seorang komandan militer yang terluka dan diserahkan kepada Tipi (Nizmah) adik dari salah satu gerilyawan, Tuah (Tuahta Perangin-angin) guna dirawat sementara, sebab konflik masih berkecamuk. Rusli dan Tipi pun jatuh cinta satu sama lain, namun cinta mereka terhalang karena situasi tidak memungkinkan mereka untuk terus bersama. Sebab Dendam (Hadisjam Tahax) yang menjadi mata-mata Belanda, membuat serangan militer Belanda tidak terbendung, memaksa para pejuang untuk berpindah-pindah tempat.

Film ini selayaknya film laga perjuangan di masa 1950an, ketika Indonesia baru saja berdaulat. Syarat akan Perjuangan, Perang, Cinta, dan Kematian. Namun yang menjadi unik dari film ini adalah karena Bachtiar selaku sutradara mengambil perspektif perjuangan yang lepas dari Jawa sentris maupun Jakarta sentris. Budaya Karo membanjiri seluruh film, dari mulai dialog, set film, bahkan nyanyian para pejuang membuat penonton dari luar Karo akan terasa asing. Bachtiar seolah ingin memberikan statement bahwa revolusi tidak hanya terjadi di Jawa, ia pernah dan masih akan berkecamuk di pulau lain diluar pulau Jawa.

sumber: ig @bungasiagian

sumber: ig @bungasiagian

Bachtiar dan Usaha Menemukan Identitas Film Nasional

Membicarakan Turang, dan segala macam bentuk yang disajikannya tidak lengkap jika tidak membicarakan posisi Bachtiar dalam perfilman Nasional saat itu. Nama sutradara satu ini akrab dengan Lembaga Film Indonesia, dan Festival Film Asia Afrika dimana dikedua entitas tersebut Bachtiar menjabat sebagai Ketua.

Di masa ketika Usmar Ismail dielu-elukan sebagai pionir sinema Indonesia di masa awal kemerdekaan. Bachtiar muncul sebagai antitesis dari apa yang Usmar ciptakan melalui karya-karya filmnya. Hal ini nampak dalam karakteristik film-film yang disutradarai oleh mereka, ketika Usmar selalu mengkombinasikan perjuangan fisik pasca reformasi dengan kehidupan glamor kaum borjuasi Jakarta selayaknya “American Dreams”-nya Indonesia di masa itu, seperti di dalam film, Lewat Djam Malam, Asrama Dara, Tiga Dara. Bachtiar Siagian sebaliknya, ia lekat dengan daerah pinggiran, kaum marjinal, dan terutamanya perempuan yang memiliki peranan penting, setidaknya di dua karya yang dapat diakses oleh publik saat ini, Violetta dan Turang.

Dua perbedaan ideologi dan pemaknaan terhadap bentuk dan fungsi film di masa awal Kemerdekaan ini yang menghantarkan mereka pada gesekan ideologis yang tidak terelakkan dikemudian hari. Dua tahun setelah produksi film Turang, perjuangan ini mulai keluar dari perihal pertarungan gagasan dan karya semata, tepatnya pada 1959 Bachtiar Siagian dan Kotot Sukardi membentuk Lembaga Film Indonesia (LFI) yang berisikan sineas-sineas sesama anggota Lembaga Kebudayaan Rakyat (LEKRA). Sementara Usmar Ismail, Asrul Sani, Djamaluddin Malik, dengan beberapa kawan sineas yang juga anggota Nahdlatul Ulama (NU), mendirikan Lembaga Seniman dan Budayawan Muslimin Indonesia (LESBUMI).

Bachtiar yang saat itu menganggap sinema sebagai alat perlawanan dan revolusi yang belum selesai, jika kita boleh mengutip Bung Karno. Meneruskan cita-citanya melalui film Violetta, dengan latar tempat perkampungan, dan segala macam permasalahan kaum bawah. Hingga di kemudian hari dalam penyelenggaraan Festival Film Asia Afrika (FFAA)ke III di Jakarta (1964), ia menjabat sebagai Ketua Umum Festival.

Bung Karno dalam Pembukaan Festival Film Asia Afrika III di Jakarta. (sumber: Cinemapoetica)

Bung Karno dalam Pembukaan Festival Film Asia Afrika III di Jakarta. (sumber: Cinemapoetica)

Terwujudnya FFAA di Jakarta saat itu sebenarnya adalah penegasan solidaritas sesama sineas dunia ketiga, negara-negara yang baru merdeka dan berusaha melepaskan diri dari kolonialisme Barat yang juga berakar dari semangat Konferensi Asia Afrika di Bandung (1955), yang juga sejalan dengan apa yang diperjuangkan oleh Bachtiar dan kelompok Lembaga Film Indonesia.

Gesekan-gesekan ideologis semacam ini sebenarnya semata-mata untuk menentukan seperti apa itu Film Nasional, apa sebenarnya film Indonesia? den lebih konkritnya lagi seperti apa Indonesia hari ini dan yang kelak?

Usaha pencarian atas identitas inilah yang membuat beberapa filmmaker berusaha saling melakukan eksplorasi terhadap banyak kemungkinan dibalik beragamnya kesukuan yang ada di Indonesia. Bachtiar dengan latar belakangnya, tentu saja menuangkannya dalam film Violetta dan sebelumnya di film, Turang.

Dansa dan Nyanyian Pejuang Karo, Bukan Dansa dan Nyanyian Seperti Biasa.

Ketika menonton film ini ada hal menggelitik yang mengganggu saya sepanjang film. Sebagai seorang yang lebih akrab dengan Usmar Ismail, tidak lain dan tidak bukan karena masalah aksesibilitas, ketika membicara Orde Lama saya tidak jauh-jauh mengingat beberapa adegan yang ada di film Usmar, dan yang identik tentu saja dansa dan nyanyian bersama, salah satunya yang muncul di film Lewat Djam Malam (1954):

[embed]

Turang walaupun tidak bisa dikatakan sebagai film musikal (Lewat Djam Malam pun bukan musikal juga sebenarnya), nyatanya cukup musikal untuk seukuran film tentang perang dan revolusi. Lagu O, Turang muncul kurang lebih setiap 20 menit sekali, di awal, tengah dan akhir film. Beberapa dinyanyikan dengan cara yang syahdu sisanya dinyanyikan dengan dansa-dansa sederhana.

Dalam film Turang kita tidak sedang menyaksikan orang-orang menari dengan jas maupun gaun, di rumah beton beralaskan marmer, melainkan kita disajikan pemandangan para gadis desa, dan pemuda-pemuda gerilyawan yang menari di sudut desa dibawah syahdunya terang rembulan.

Adegan ini cukup membekas dibenak saya, karena di masa yang sama dengan film Lewat Djam Malam, film yang sama-sama bukan lahir dari rahim genre film musikal, Usmar dan Bachtiar menyajikan dua pandangan kontras bagaimana masyarakat republik yang baru lahir ini mampu menikmati dan menjalani hidupnya, ditengah konflik/perang, dan gaung revolusi yang tidak pernah berhenti diucapkan diatas podium pidato.

Bachtiar dan Turang sendiri berakhir dibungkam dan dihilangkan. Bachtiar dijeblokaskan ke Penjara pasca geger politik 1965, sementara film Turang menghilang hingga keberadaannya ditemukan di Gosfilmofond, Russia oleh Bunga Siagian, dan kini bisa kita saksikan bersama-sama lagi.

Menyaksikan film ini setelah menghilang selama beberapa dekade, adalah upaya merefleksikan betapa rumitnya pencarian jati diri Indonesia melalui sinema. Yang tentu masih kita cari jawabannya hingga hari ini.


메타데이터
post_id
e54dfb3d6016
slug
catatan-tentang-turang-dan-memaknai-kembali-sepenggal-kisah-sinema-orde-lama-e54dfb3d6016
url
https://medium.com/@andika.wap/catatan-tentang-turang-dan-memaknai-kembali-sepenggal-kisah-sinema-orde-lama-e54dfb3d6016
canonical_url
https://medium.com/@andika.wap/catatan-tentang-turang-dan-memaknai-kembali-sepenggal-kisah-sinema-orde-lama-e54dfb3d6016
author_url
https://medium.com/@andika.wap
status
ok
fetched_at
2026-07-20 00:58:26