Racun Rick
Diari 6
DIARI
Racun Rick

Dengar, Morty, aku tidak mau mengatakannya padamu tapi yang disebut dengan “cinta” hanyalah reaksi kimia yang mendorong hewan untuk berbiak. Awalnya efeknya sangat kuat, Morty, lalu perlahan memudar, membuatmu berada di pernikahan yang gagal. Aku mengalaminya. Orang tuamu akan mengalaminya. Hancurkan siklus itu, Morty. Bangkitlah, fokus pada sains.
Rick and Morty season 1, episode 6
Komentar yang pedas, memang. Tapi jika kamu mengikuti Rick and Morty, aku rasa kamu bisa memakluminya, pasalnya Rick digambarkan sebagai sosok yang sinis. Tapi justru berkat itu aku jatuh cinta dengan serial ini. Tentu saja ada banyak alasan lain yang menyertainya. Misal tiap episodenya selalu terasa segar, seolah-olah ide pembuatnya enggak terbatas. Ini membuatku bertanya-tanya seperti apa isi kepalanya.
Soalnya sudah jelas bukan hal mudah membuat tontonan yang — hingga ini ditulis — telah mencapai delapan musim, namun dari puluhan episodenya hanya satu dua yang membuat menguap. Aku menyelesaikan semuanya kurang dari tiga puluh hari — jelas itu merusak keseimbangan rutinitas sehari-hari. Baru-baru ini aku tahu ternyata salah seorang kreatornya merupakan orang yang sama yang membuat Gravity Falls. Pantasan aku tidak bisa tidak merasakan adanya kesamaan yang subtil dari keduanya.
Selain itu kamu sendiri tahu, kan, kartun yang bertema ilmiah acap kali tidak terlalu menarik. Setidaknya begitulah bagiku. Bisa dibilang aku bukan orang yang antusias terhadap genre sci-fi. Aku tidak tahu kenapa tapi mendengar kata ilmiah saja sudah membuatku kewalahan. Kapan pun kata itu disebut, buku yang tebalnya sama dengan sepuluh buku normal ditumpuk berjejer ke atas, ditambah istilah khusus yang terasa seperti bahasa langit, muncul dalam benakku. Biar bagaimanapun itu bukan salah bukunya atau orang yang membuatnya. Akunya saja yang tidak cukup pintar — atau tidak cukup wajar.
Tapi jangan salah kira. Memang aku bukan penggemar hal-hal berbau ilmiah, meski begitu, bukan artinya aku percaya begitu saja kepada orang berpenampilan mencurigakan yang menawarkan air yang dapat menyembuhkan segala macam penyakit — untungnya dalam hal ini aku masih tahu cara menggunakan kepalaku.
Karena itu, Rick and Morty adalah kartun yang secara alami seharusnya kuhindari. Aku sempat berpikir akan segera jenuh saat menontonnya. Namun entah bagaimana, sejak episode pertama diputar, aku sama sekali tidak merasa demikian. Dan tidak seperti perkiraanku di awal, konsep-konsep ilmiah yang dimasukkan ke dalamnya malah menjadikannya tambah seru.
Aku sangat menikmati serial ini, meski begitu, anehnya hampir tidak ada yang bisa kuingat. Seperti istana pasir yang disapu ombak — lenyap hampir tanpa sisa. Kecuali kilasan fragmen dari adegan yang berkesan dan episode keenam musim pertama.
Berbicara tentang episode itu.
Itu adalah satu-satunya episode yang, jika diminta, aku cukup percaya bisa menceritakan alurnya secara runtut dan jelas. Episode ini menyadarkanku kalau kartun ini akan jauh lebih chaos dari yang kukira. Sangat berefek traumatis. Aku mengalami “shock tak terduga” saat menontonnya.
Agar dapat membayangkan seperti apa shock tak terduga itu, coba kamu bayangkan ini:
Kamu datang ke sebuah pesta pernikahan seorang kenalan. Tuksedo yang masih rapi, baru diambil dari laundry, kamu keluarkan dari plastik. Sepatu pantofel hitam kamu lap sekali lagi. Begitu pun dengan jam tangan yang cukup pantas untuk kesempatan seperti ini. Kemudian kamu tiba di tempatnya, lalu melangkah masuk ke dalam hotel di lantai paling atas. Sejauh ini segalanya berjalan lancar dan tampak normal. Beberapa orang berdansa di tengah hall. Sebagian lainnya berceloteh dengan gelas di tangan. Musik jazz mengalun lembut memainkan “My Favorite Things”.
Tibalah sesi pidato. Pengiring prianya mulai berbicara. Baru satu dua kalimat terucap dari mulutnya, tiba-tiba pengantin pria berdiri. Dengan tenang, ia merebut mikrofon dari tangan pengiring pria. Suasana mendadak hening. Orang-orang menoleh saling melihat satu sama lain. Air muka mereka seolah-olah berkata, “Ada apa ini sebenarnya?”
Pengantin pria itu lalu berkata bahwa pernikahan ini tidak sah, dan pengiring prianya bukanlah sahabatnya — juga bukan seorang Romo. Semua ini, katanya, adalah bohong. Ia melakukan ini karena malu tidak memiliki teman. Maka ia menyewa seseorang agar berpura-pura menjadi sahabatnya. Kata-katanya terhenti sejenak. Ia memalingkan wajah ke arah kekasihnya. Cahaya di matanya redup. Senyumnya tampak dipaksakan.
Ia tahu, katanya, ia bukan pria impian perempuan itu. Perempuan itu tidak mencintainya. Tidak pernah. Ia sekadar lelaki baik-baik yang mapan untuk berkeluarga, dan mampu menjadi penyedia bagi kekasihnya yang terbiasa dengan gaya hidup tertentu. Dan sebaliknya, ia pun mengakui, ia tidak benar-benar mencintai perempuan itu. Yang ia cintai hanyalah gagasan bahwa seorang perempuan yang tampak begitu memesona bisa menyukainya.
Kamu menyaksikan seluruh kejadian itu dari meja paling ujung di belakang. Dengan salad yang setengah dimakan dan wine yang baru saja dituang oleh pelayan. “Apa-apaan ini,” pikirmu. “Kenapa jadi begini?”
Persis begitu yang kurasakan saat selesai menontonnya.
Aku yang mengira cara paling ideal dalam melihat cinta adalah dengan menaruhnya sepenuhnya dalam cahaya yang positif — di sini Rick mengejekku habis-habisan. Selama ini aku keliru. Sesuatu yang kupelajari dari menonton episode tersebut. Memandang cinta dengan cara seperti itu merupakan sikap yang sangat tidak bertanggung jawab. Itu membuatku mencintai secara egois, dan pada akhirnya melukai orang-orang yang aku cintai.
Memandang cinta secara sinis itu perlu, bahkan merupakan sikap yang jujur. Dengan demikian, mengakui orang yang kuanggap the one itu memiliki peluang bahwa suatu hari bisa saja kubenci tanpa alasan yang jelas; bahwa aku bisa saja tak lagi ingin menyentuhnya; bahwa kehadirannya kelak membuatku muak. Anehnya, pengakuan semacam ini membantu menjaga kewarasan dan keharmonisan sebuah hubungan.
Cinta tidak selalu melahirkan perdamaian. Dalam beberapa kasus, peperangan lahir karena cinta.
메타데이터
- post_id
- e556dcaeb9df
- slug
- racun-rick-e556dcaeb9df
- url
- https://medium.com/ruang-kontemplasi/racun-rick-e556dcaeb9df
- canonical_url
- https://medium.com/ruang-kontemplasi/racun-rick-e556dcaeb9df
- author_url
- https://medium.com/@justjeki
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-23 06:34:20