← Back to list

#150: Latihan Menulis Bersama

“Menulis saja, jangan sambil dihapus-hapus dulu”

Dayu Rifanto in Berbagi & Berdampak · 2026-03-19 13:58 · 261 claps · 3.1 min read paywalled
#lingkar-pustaka #sorong #kepenulisan #berbagi-dan-berdampak
Open on Medium ↗

#150: Latihan Menulis Bersama

“Menulis saja, jangan sambil dihapus-hapus dulu”

Ilustrasi menulis (sumber: Canva)

Ilustrasi menulis (sumber: Canva)

Saya sedang menemani teman-teman di lingkar pustaka untuk belajar kedua kali tentang menulis. Kali ini kami coba belajar tentang menulis bebas atau freewriting.

Lingkar pustaka adalah klub menulis dari taman baca yang kami kelola di Sorong. Mengapa perlu bikin klub menulis? Sebab khawatir juga dengan masifnya AI. Macam semua tulisan rasanya jadi mirip-mirip, dan tidak unik.

Baca selengkapnya melalui klik TAUTAN UNTUK TEMAN

Hal lainnya adalah kami juga membayangkan dari menulis, menjadi giat membaca. Mendorong anak-anak muda mau setia pada proses, dan percaya bahwa proses yang benar mendorong hasil yang baik.

Kembali lagi soal menulis bebas, hal ini saya tak sengaja dapatkan dari obrolan bersama teman baru yang datang ke Pinjam Pustaka. Namanya Zayn, ia bercerita tentang salah satu buku yang menginspirasinya berjudul Mengikat Makna karya Hernowo.

Ah, saya sepertinya pernah dengar nama penulis itu. Dan benar saja, saya pernah membeli dan membaca bukunya yang berjudul “Mengikat Makna.” Saya punya kebiasaan lain, jika ada penulis yang saya sukai biasanya saya juga mencari judul buku karya dirinya yang lain.

Jadilah beberapa waktu lalu, saya mencari nama Hernowo pada toko online dan menemukan karya-karyanya, salah satunya berjudul “Freewriting.”

Saya semakin penasaran dengan buku tersebut sebab saat berselancar di dunia maya, menemukan kompilasi tulisan mengenang Hernowo.

Ternyata sang penulis sudah meninggal, tetapi jasanya begitu besar. Sebab dari buku kumpulan cerita itu, banyak orang bercerita mereka bisa menulis karena menemukan formula menulis yang cespleng dari Hernowo. Itu yang membuat saya begitu penasaran, dan mencari bukunya. Terutama karena Freewriting disebut-sebut.

Pertemuan kami pada suatu malam (sumber: Ezri Oraple)

Pertemuan kami pada suatu malam (sumber: Ezri Oraple)

Tak disangka, masih saja ada bukunya yang berjudul itu di marketplace. Saya pun membelinya. Ketika akhirnya datang, sungguh kesetanan saya dibuatnya untuk menghabiskan bukunya. Dalam beberapa hari, saya lahap habis. Dan menemukan intisari penting dari buku tersebut.

Beberapa hal yang saya catat adalah, menulis itu bisa dimulai dari apa saja, mulai dari hal remeh sekalipun. Tetapi syaratnya adalah konsisten.

Konsistensi pada latihan

Konsisten menghubungkan antara gerakan fisik tangan dengan pemikiran. Jika pada mulanya belum terbiasa, lama-kelamaan akan terbiasa.

Selain itu, pemikiran kita pun akan mulai terarah, dan semakin lincah. Itu membuat pemikiran jadi jernih sekali.

Karena freewriting tujuannya mengeluarkan apa yang kita pikirkan, maka target pertama adalah melancarkan mengeluarkan apa yang ada pada isi kepala atau pemikiran kita. Akibatnya, saat kita latihan awal-awal, jangan takut kalau ada salah tulis dan ketik. Pokoknya hajar saja.

Dengan ada batasan waktu yang kita buat, juga membuat lama kelamaan jumlah kata yang kita produksi akan meningkat dengan cepat.

Dan batasan waktu, serta pengulangan akan membuat hal itu jadi kebiasaan baru yang bagus.

Setelah menulis bebas selama 10–15 menit, setelah itu kita ambil jeda dan membaca ulang tulisan kita. Setelah membaca ulang, kita bisa menggunakan 5–10 menit waktu untuk merevisi tulisan kita.

Mungkin menambahkan struktur, memperbaiki kesalahan penulisan, atau sekadar menambah pernak-pernik agar tulisannya menjadi menarik.

Jangan juga khawatir jika tulisan-tulisan pertama kita kurang menarik, sebab yang utama adalah menumbuhkan semangat menulis, sembari belajar mengeluarkan isi pikiran kita yang selama ini rasanya suka mampet. Betul, kayak keran air yang macet.

Nantinya kalau sudah terbiasa, melewati seminggu kita akan mulai lihat perbedaan cara kita dari percobaan awal. Pasti ada banyak perubahan yang terjadi.

Jangan Berhenti

Di titik inilah, tolong jangan berhenti. Kan hal ini mau jadi kebiasaaan.

Saya menulis begini, karena sedih juga melihat banyak teman tak terbiasa menulis, dan ketika ada AI merasa persoalan tulisan sudah menemukan jawabannya.

Ketika kami akhirnya mencoba menulis bebas selama 15 menit, saya melihat wajah-wajah teman-teman yang tampak serius. Ada yang menggeleng kepala tanda masih pusing, ada yang tiba tiba sorot matanya tajam. Seolah mencari cara agar kata-kata dapat keluar dari pemikiran.

Meski begitu, saya yakin sekali bahwa mereka yang mencari melalui berlatih serius, pasti akan ketemu jalannya. Kalau tidak sekarang, mungkin besok. Kalau tidak besok, mungkin lusa. Kalau tidak minggu ini, mungkin mingggu depan.

Artinya selalu ada kemungkinan yang dapat terjadi, bagi mereka yang mencari. Tapi selalu ada kepastian, bahwa tidak akan ada yang dicapai, kalau kita tidak mencari atau berusaha.

Mungkin itulah hal yang ingin saya bagikan pada malam ini, terutama kepada teman-teman perempuan yang sedang senang menulis. Bahwa menulis itu sungguh menarik, sekaligus menantang. Tetapi jika hal itu telah jadi kebiasaan maka akan sangat membantu kita menjadi pribadi yang lebih baik.


메타데이터
post_id
e563c96d672c
slug
150-latihan-menulis-bersama-e563c96d672c
url
https://medium.com/berbagi-berdampak/150-latihan-menulis-bersama-e563c96d672c
canonical_url
https://medium.com/berbagi-berdampak/150-latihan-menulis-bersama-e563c96d672c
author_url
https://medium.com/@dayourifanto
status
ok
fetched_at
2026-07-13 06:23:13