← Back to list

Etika Bisnis adalah oksimoron!

Apa itu oksimoron?

Albert · 2026-03-27 18:26 · 0 claps · 1.8 min read
#etika #bisnis #oxymoron #cambridge-analytica #tambang
Open on Medium ↗

Etika Bisnis adalah oksimoron!

Apa itu oksimoron?

Contohnya gampang. Ledakkan diri sendiri dan orang lain demi tuhan demi janji surga dengan fasilitas ngesex dengan 72 perawan tiap hari tanpa lelah, tanpa henti. Oksimoron. Dua hal yang berlawanan dalam satu gagasan. Sama halnya dengan membahas bisnis dengan etika. Ini seperti mengaduk air dengan minyak dan berharap menghasilkan larutan baru.

Etika atau moral, sering disalah mengerti sebagai sopan santun. Bukan. Sopan santun itu etiket. Etika selalu bicara tentang manusia dengan manusia lainnya. Etika bicara soal benar dan salah. Kriterianya, bebas, tergantung kerangka pikir manusianya. Acuan mana yang mau dipakai, suka suka tiap orang. Ada yang berdasar “yang penting semuanya baik-baik saja” seperti halnya korupsi berjamaah. Ada yang berpikir, “kebenaran adalah saya, yang lain salah” seperti yang diucapkan para supreme leader. Pendek kata, etika adalah penilaian akan tindakan yang benar dan salah serta kapasitas untuk membuat aneka keputusan yang bertanggung jawab. Etika pada ujungnya berharap menjadi sebuah aturan bersama, menjadi hukum.

Sementara, bisnis bukan manusia. Tapi hukum memutuskan sebaliknya. Di Indonesia, konsep ini dikenal sebagai Badan Hukum — entitas yang secara legal diperlakukan seperti manusia. Bisa memiliki aset, bisa menggugat, punya hak. Tapi tak bisa dipenjara. Tak bisa mati. Dan satu-satunya naluri yang dimilikinya adalah profit.

Anda bisa dihantui rasa bersalah berkepanjangan ketika tidak sadar sudah menginjak kaki orang lain hingga patah. Korporat tidak memiliki rasa bersalah ketika menghancurkan lingkungan dan masyarakat — atau bahkan mengkanibal anak perusahaannya — walau pemiliknya bisa jadi masih bersaudara. Anda mungkin perlu memberi kompensasi, berbaik kata, memanjakan atau memberi hal-hal baik pada saudara yang tidak sengaja tertindas, dan berusaha membina hubungan yang baik. Tapi, korporat cukup dengan press release, video cantik tentang kontribusi pada lingkungan, kampanye CSR yang masif, untuk membuat publik terlupa akan kejahatannya. Cukup dengan pengelolaan budget yang tepat.

Manusia yang tak punya rasa bersalah, secara klinis namanya psikopat. Korporat adalah psikopat, dan kita berharap korporat punya etika dengan istilah etika bisnis. Istilah etika bisnis indah dalam teori. Pada prakteknya, istilah tersebut contradictio in terminis, bertentangan bahkan dalam terminologinya. Mengutamakan keuntungan dengan sesedikit mungkin usaha disandingkan dengan mengutamakan kebenaran di atas semua hal.

Facebook sudah tahu sejak dulu bahwa echo chamber berbahaya bagi komunitas penggunanya, tapi perusahaan itu malah seranjang dengan Cambridge Analytica. Perusahaan tambang emas tahu bahwa mereka mencemari lingkungan — silakan googling dengan kata kunci “perusahaan kasus polusi tambang emas di Indonesia”, tapi tak pernah ada berita yang mampu mengubah tatanan hukum dan penegakannya. Perusahaan rokok tahu sejak dulu bahwa rokok memicu kanker, tapi tetap saja even musik besar di Indonesia berbalut kreativitas anak muda disponsori oleh perusahaan rokok. Tergantung budget. PR yang brilian menggantikan rasa bersalah.

Ketika Anda mendengar istilah etika bisnis atau bisnis yang beretika dijargonkan oleh ahli-ahli di televisi, yang sedang terjadi adalah Anda diajak berlatih untuk hidup berdampingan dengan psikopat. Dengan sopan. Dengan profesional. Dengan senyum.

Psikopat tidak butuh etika. Tapi mereka butuh Anda percaya bahwa mereka punya.


메타데이터
post_id
e56cf699d31e
slug
etika-bisnis-adalah-oksimoron-e56cf699d31e
url
https://medium.com/@jumatsore/etika-bisnis-adalah-oksimoron-e56cf699d31e
canonical_url
https://medium.com/@jumatsore/etika-bisnis-adalah-oksimoron-e56cf699d31e
author_url
https://medium.com/@jumatsore
status
ok
fetched_at
2026-08-08 20:03:50