← Back to list

Penyebab Jengkel

Bertetangga dan Berteman

Ahmad Khoiron · 2026-06-30 21:59 · 114 claps · 1.8 min read
#tetangga #kerja #rumah
Open on Medium ↗

Penyebab Jengkel

Bertetangga dan Berteman

Photo by Derick McKinney on Unsplash

Photo by Derick McKinney on Unsplash

Hari ini saya dan istri bertukar keresahan yang senada. Ia cerita tentang tetangga. Saya cerita tentang teman kerja.

Cerita kami mengerucut pada kalimat yang cukup akrab di telinga, “kalau seseorang baik kepada saya, saya akan berbuat lebih baik pada orang itu. Sebaliknya, bila orang lain berbuat jahat kepada saya, saya akan membalasnya dengan …. ada yang mengisi “lebih buruk”, “tetap berusaha baik”, tergantung masing-masing.

Cerita istriku:

ada tetangga yang sedang memperbaiki bagian rumahnya yang berdempetan dengan rumah kami. Menurut kami, bangunannya melewati batas. Temboknya berdiri di atas tanah kami. (Menurut ukuran kami.)

Respon istri: jutek. Yang biasa ramah, jadi bicara seperlunya. Sementara saya belum ada kesempatan untuk ngobrol kejelasan batasan rumah tadi dengan ybs.

Keluarlah kata-kata, “kalau dia bertindak melewati batas seperti itu, ya saya akan bersikap seperlunya saja. tidak seramah seperti biasanya.”

Saya lebih mengkhawatirkan mentalnya daripada sejengkal tanah. Karena sikap itu akan menguras energi.

Jangan-jangan, tetangga tidak melakukan komunikasi sebelum membangun rumah, karena saya kurang komunikasi juga. Mungkin saya juga pernah menyinggung dan banyak kemungkinan-kemungkinan lain, yang akibat darinya lebih banyak ditanggung istri, karena dia yang lebih banyak di rumah.

Ceritaku:

Ada 4 rekan kerja yang tinggal di mes. Meja kerja kami sama-sama di lantai 4. Karena merasa jarak tempat tinggal dan tempat kerja hanya selangkah kaki, sekitar 5–8 menit berjalan kaki, kami sering berangkat di waktu yang mepet.

Beberapa kali dia berjalan di depan saya 1–2 menit. Saat masuk lift, dia tidak menunggu saya. Giliran saya yang di depan, dia minta saya menunggu.

Di awal: Saat jengkel, saya tidak menunggu. Saat tidak jengkel, saya menunggu.

Setelah beberapa waktu, saya berusaha bertindak atas kepentingan diri. Saat sedang terburu-buru, saya tinggal. Saat tidak terburu-buru, saya tunggu.

.

Dua cerita itu, mengingatkan saya pada dua cerita:

  1. Prie gs: bangunan rumah jangan melewati batas tanah, bila ingin hidup maju.

  2. Gus Baha: seorang tua yang dijahilin seorang pemuda.

(kapan-kapan cerita lebih detail)

.

Lalu kami sampai pada satu kesimpulan, gimana caranya agar tindakan kami tidak disetir oleh orang lain. Gimana caranya agar arah perjalanan kami, sesuai dengan apa yang kami inginkan. Kecepatan(semangat) dan suasana hati sebisa mungkin kami yang menentukan.

Ga peduli orang baik atau tidak. Mereka punya tujuan tertentu yang mendorong perilaku mereka. Kamipun begitu.

Yang penting kami tahu akan melangkah kemana. Saat buru-buru, ya jalan cepat. Saat santai, ya jalan pelan-pelan.

Berjalan cepat, bukan karena orang lain berjalan cepat. Berjalan pelan, bukan karena orang lain berjalan dengan santai.

Berperilaku sesuai tujuan dan kemampuan kami mengeksekusi.

Sidoarjo, 01 Juli 2026.

Eh sudah juli saja.


메타데이터
post_id
e5b7b95dc797
slug
penyebab-jengkel-e5b7b95dc797
url
https://medium.com/@ahmadkhoiron/penyebab-jengkel-e5b7b95dc797
canonical_url
https://medium.com/@ahmadkhoiron/penyebab-jengkel-e5b7b95dc797
author_url
https://medium.com/@ahmadkhoiron
status
ok
fetched_at
2026-07-09 10:05:04