BERKELANA BELANTARA
Bagian I — Awal
BERKELANA BELANTARA
Bagian I — Awal
MENCARI
Petualangan kali ini, menjadi pengalaman terpanjang dan penuh makna di dalamnya. Maret, menjadi bulan pertama tercetusnya ide untuk melabuhkan perjalanan kali ini menuju pulau Borneo. Dengan harapan, dapat banyak memperkenalkan kalimantan yang mungkin banyak orang yang belum memiliki kesempatan untuk mengunjunginya. Pilah-pilih lokasi dan satwa endemik coba dilakukan dengan ragam diskusi, mungkin ketika mendengar kata kalimantan satwa yang terlintas adalah orangutan. Karena sering dijumpai sebagai “Si Otan” di tayangan televisi saat keci, satwa yang diburu dalam film “petualangan sherina”, atau terlewat di media sosial orangutan yang terburu, melewati kawasan tambang dan pemukiman karena kehilangan rumahnya, bahkan menarik pengunjung di kebun binatang. Memang, sangat terlihat ironi mereka tumbuh dan berkembang terkekang bahkan rumah aslinya pun hilang.
Diskusi dan literasi membuka cakrawala untuk pilihan kami, ternyata Borneo memiliki satwa indah lainnya yang mungkin kini sudah luput dari pengetahuan yaitu Bekantan, Badak, Pesut, Burung Enggang, dan mungkin masih banyak lagi yang kami belum ketahui.
Bekantan, mungkin tak jarang dari kamu asing ketika mendengarnya padahal hingga kini menjadi maskot dari salah satu tempat wisata favorit yang berada di ujung utara Jakarta. Iya, Maskot Dufan tak asing bukan. Mereka hidup di banyak sempadan sungai di Kalimantan hutan mangrove menjadi habitat kesenangannya, hingga kini keberadaan mereka terhitung masih banyak di beberapa titik kawasan ekosistem lahan basah. Namun, keberadaan mereka kini kian terancam karena degradasi lahan mangrove, akibat kerusakan baku mutu air yang berakibat mangrove tidak memiliki ketahanan untuk menetralisir kembali lingkungan di sekitarnya dan banyaknya pelabuhan bongkar-muat sumber daya alam yang ada di Kalimantan.
Badak, mungkin sangat terdengar asing mereka ada di Kalimantan pun kami sempat terheran. Namun mereka ada, hingga saat ini yang sudah terdeteksi 2 badak, satu sudah berhasil untuk dilakukan konservasi khusus dan satu masih hidup liar. Kedua badak tersebut betina, sehingga yang menjadi PR adalah untuk mencari tahu apakah badak jantan masih ada demi kepentingan regenerasi dari badak. Sifat Soliter yang dimiliki, menjadikannya perlu waktu panjang dan keahlian khusus untuk mencarinya. Ancaman yang dihadapi oleh badak begitu besar dan membahayakan, reproduksi mereka yang terbilang jarang dan lama menjadikan regenerasi atau peningkatan populasi tidak sesignifikan satwa lainnya. Perburuan liar menjadi hal yang paling ditakutkan, para pemburu jahat memburu badak untuk mencuri cula dari badak dan setelahnya badak mati karena dibunuh oleh mereka para pemburu.
Pesut, atau yang biasa dikenal dengan Pesut mahakam merupakan mamalia air yang banyak hidup di air tawar sepanjang Sungai Mahakam. Bentuknya mirip dengan lumba-lumba, namun memiliki bentuk kepala yang cenderung bulat. Keberadaannya kian terancam, hal ini disebabkan mulai dari kondisi atau kualitas air yang kian memburuk menjadikan peredaran mereka berubah-ubah dan karena aktivitas manusia yang masif menjadikan sering tertangkap oleh jaring nelayan sekitar.
Burung Enggang / Rangkong, burung yang sangat eksotis dengan paruh dan tanduknya yang cerah dan gagah serta menjadi simbol yang dapat terlihat dari aksesoris dan simbol masyarakat adat dayak. Kecantikan yang dimilikinya menjadi keterancaman baginya, perburuan terus terjadi dan deforestasi mengakibatkan ia kehilangan habitatnya.
Beberapa hewan tersebut, hanya sebagian dari lebih banyak lagi fauna baik yang endemik ataupun tidak yang ada di kalimantan. Kalimantan yang juga dikenal sebagai paru-paru dunia, salah satu pulau dengan hutan tropis terbesar di dunia menjadi rumah bagi keanekaragaman hayati yang ada di dalamnya. Bayangka jika ia yang disebut “paru-paru dunia” terus digali tanahnya dan ditebang hutannya lantas apakah masih layak disebut paru-paru dunia?
TENTANG INGATAN
Setiap orang pasti memiliki ingatan atas hal-hal menarik dalam hidupnya, tidak jarang satu di antaranya masih tersimpan dengan rapih dan terus dibawa menjadi motivasi untuk melakukan sesuatu. Mungkin, kamu pernah menjaga suatu barang atau momentum kesempatan yang ada karena dahulu kamu pernah melewati kesempatan tersebut atau menyimpan rasa tidak enak yang dahulu pernah dirasakan.
Jauh sebelum mencari kemana arah tuju dari perkelanaan ini, perbincangan di suatu siang membawa ku pada sebuah pembahasan “apa yang menjadi motivasi untuk menjaga lingkungan saat ini?”. Terdapat pernyataan menarik di siang itu, “Rasanya, dahulu banyak sekali hal-hal kecil yang kita lakukan saat kecil namun saat ini kita merasa hal tersebut sangat sulit dan jarang kita lakukan. Se simpel kita nanam atau menggemburkan tanah di pot atau bahkan nyiram tanaman, ingatan akan hal itu menjadi sangat unik karena saat ini kita malah jarang sekali untuk melakukannya. Padahal rasanya dimulai dari hal-hal kecil seperti itu, kita secara tidak langsung bisa berdampak walau kecil dan merawat ingatan kita untuk menjaga kelestarian yang ada mulai dari lingkungan terdekat”.
Terkadang memori tentang masa kecil, secara tidak langsung membawa arah dan cara kita berfikir akan tindak-tanduk yang kita lakukan saat ini.
Perbincangan kala itu, berputar pada pertanyaan “apa dan di mana membawa perjalanan ini?”. Ambisi untuk terus melanjutkan petualangan, mimpi untuk terus membantu melestarikan keindahan yang dianugerahkan oleh tuhan ke bumi, dan Realistis atau tidaknya menjadi hal bergejolak kala itu bagai dua ujung tali yang terbakar.
Informasi dan data terus coba dipastikan agar semua kuat dan berdasar, hingga pada titik penyataan “rasanya jika melihat bekantan, kasusnya tidak sebegitu banyak seperti hewan lainnya dan penelitiannya tidak sebanyak hewan lainnya. Tapi, rasanya ingatan dan pengetahuan kita tentangnya sudah sangat jauh dan hampir terlupakan. Kita hanya bisa mengenal rupanya melalui maskot Dufan, namun bahkan banyak yang tidak tahu hewan apa itu”. Menarik menjadi kalimat pertama yang terlintas kala itu, jarang sekali rasanya mendengar alasan melakukan suatu hal untuk melestarikan ingatan akan indah dan lestarinya suatu satwa. Bisa saja memang mereka masih banyak hidup di alam liar, namun keberadaan mereka yang luput dari ingatan menjadikannya punah perlahan dimulai dari ingatan hingga keberadaannya.
Tidak akan ada yang tahu hingga ada yang berani membuktikan, tidak akan ada yang bisa hingga ada yang berani mencoba, dan tidak akan ada yang mengenal lebih dekat jika tidak ada yang berani melangkah. Ini semua, dimulai dari langkah kecil dengan harapan besar untuk terus bersama hidup dan lestari.
메타데이터
- post_id
- e5cd52be31f7
- slug
- berkelana-belantara-e5cd52be31f7
- url
- https://medium.com/@journey.side/berkelana-belantara-e5cd52be31f7
- canonical_url
- https://medium.com/@journey.side/berkelana-belantara-e5cd52be31f7
- author_url
- https://medium.com/@journey.side
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-20 04:10:56