← Back to list

Achiever

Penggalan kisah paling berwarna di hidupku.

Blue Orchid · 2026-06-04 04:08 · 1 claps · 11.4 min read
#bromance #volleyball #sports #friendship #short-story
Open on Medium ↗
Wiki topics: LIT · Literature & Writing 💑 · Relationships 🏆 · Sports · General

Achiever

Source: @lizhannypi on Pinterest

Source: @lizhannypi on Pinterest

[embed]For better experience, listen to this playlist!

Pekan olahraga pelajar digelar pada salah satu gelanggang olahraga (GOR) di kotaku. Suasananya cukup ramai. Beberapa orang datang mendukung sekolah-sekolah yang akan bertanding sore hari itu.

Aku duduk di tribune, hadir dalam rangka menyemangati Reiner — kakak laki-lakiku — pada pertandingan resmi perdananya. Ayah dan bunda ikut menonton disamping kiriku, mereka sibuk memotret serta merekam suasana. Di sisi lain ada Archy, sahabatku sejak hari pertama di sekolah dasar.

Usai menyaksikan beberapa pertandingan, giliran sekolah Reiner maju melawan sekolah menengah pertama lain. Ayah dan bunda langsung antusias ketika anak sulung mereka berdiri di lapangan. Meski baru pertama kali mengikuti kejuaraan resmi, kakakku tampak percaya diri. Kegigihan Reiner dalam mengikuti kegiatan klub selama hampir dua tahun terbayarkan setelah terpilih menjadi pemain inti.

Set terakhir dimenangkan oleh regu Reiner dengan 25 poin. Seisi gelanggang olahraga memberi sorakan gembira, tim menang dalam dua set berturut-turut. Ditengah semua itu, Archy berkata dengan tatapan penuh tekad,

“Renji, ayo kita main voli!”

Aku menganggukkan kepala sebagai jawaban, mengiyakan seperti menyetujui berbagai ajakan main darinya. Bunda yang berada disampingku tersenyum, isyarat bahwa beliau memberi aku izin untuk menerima ajakan Archy.

“Oke! Kita harus kayak kak Reiner, terus jadi atlet voli, ya!”

Aku dan Archy mendaftar pada klub voli di sekolah lalu kami diterima satu minggu kemudian. Kakakku menerima kabar tersebut dengan gembira, senang adiknya mengikuti jejak dirinya.

Jadwal resmi latihan klub voli hanya satu kali dalam seminggu. Namun sebagai anggota ekstrakurikuler, kami diperbolehkan memakai ruang atau peralatan di lain hari. Archy yang memiliki antusiasme tinggi tentu memaksimalkan hak yang ia punya. Nyaris setiap hari ia berada di sekolah sedikit lebih lama dari murid lainnya, bermain voli hingga asisten orang tuanya datang menjemput.

“Renji, nanti temenin gue main voli, kayak kemarin.”

Archy mengucapkannya ketika kami merapikan alat tulis. Kegiatan belajar mengajar telah usai, para murid bersiap untuk pulang. Sebelumnya aku membayang- kan asiknya bermain game baru Play Station yang dibeli tetanggaku. Tapi rencana tersebut aku urungkan karena ajakan Archy. Aku memutuskan menemani teman satu mejaku bermain voli.

“Archy, lu nggak bosen hampir tiap hari main voli?”

Tanyaku dari pinggir lapangan.

“Kenapa harus bosen?”

Kedua sepatu telah aku tali dengan erat. Aku melangkah ke arah Archy yang sedang pemanasan, ikut bergabung dengannya.

“Ya kalau dulu, mainan kita tiap hari beda. Entah main kartu, main PS, ke warnet, adu layangan, sepedaan. Kalo sekarang, kan, cuma voli doang.”

“Tapi menurut gue, voli nggak kalah seru sama itu semua, Ren. Temen-temen klub juga asik. Jadi, apa yang bikin bosen?”

Mau bagaimanapun, aku berbeda dengan Archy atau bahkan Reiner. Aku tidak memandang ekstrakulikuler voli adalah hal yang menyenangkan. Karena itulah aku barangkali bolos dari kegiatan klub saat merasa bosan.

Suatu ketika guru olahraga baru kami memutuskan bahwa aku dan Archy layak mewakili sekolah untuk lomba voli tingkat kota. Aku akhirnya mengumpulkan niat untuk berlatih voli dengan serius. Mula- mula posisi kami ditim adalah spiker — penyerang atau pemukul. Setelah intens berlatih, guru olahraga memintaku berganti posisi menjadi libero. Beliau berkata bahwa kemampuan bertahan-ku paling baik di klub. Sementara Archy setia dengan perannya sebagai penyerang.

Beberapa bulan berlatih, kami akhirnya mengikuti pertandingan tingkat kota itu. Malang, tim kami langsung bertemu sekolah unggulan. Kami kalah didua ronde pertama dengan poin mengenaskan. Kejadian itu menjadi pukulan keras bagi klub voli kami, tentu saja aku termasuk didalamnya.

Mendapat kekalahan setelah menyiapkan dengan segenap hati membuatku kehilangan semangat. Aku kembali membolos kegiatan ekstrakulikuler, kembali bermain Play Station sepulang sekolah. Anehnya kekalahan tersebut tak mempengaruhi Archy. Ia tetap tekun berlatih voli, konsisten menolak ajakan bermainku.

Aku sering melihat Archy ada di rumahku, bukan untuk bertemu denganku tetapi untuk berguru kepada Reiner. Dalam keseharian, Reiner adalah kakak yang hobi menjahili adiknya dan Archy merupakan orang paling aktif berceloteh. Entah mengapa keduanya berubah 180 derajat ketika berurusan dengan voli. Reiner mengajari secara sabar sedangkan Archy mengamati serta mempraktekkan dengan sungguh- sungguh.

Selepas Archy pulang dari latihan minggu sore bersama kakakku, Reiner mendatangi aku yang sedang menonton televisi. Ia mengambil toples kacang dari pangkuan-ku lalu ikut menonton. Aku kesal karena kacang goreng itu ia ambil begitu saja, tetapi enggan mempermasalahkan sebab layar akhirnya menampilkan kartun setelah lamanya jeda iklan.

“Nggak main voli lagi, Dek?”

Aku mencomot beberapa kacang goreng di genggaman Reiner tanpa berpaling dari televisi, memakan kacang-kacang itu baru menjawab pertanyaannya,

“Males. Kemarin aku udah latihan capek- capek tapi malah kalah.

Mendengar jawabanku, Reiner terkekeh.

“Kok lu gampang pasrah? Kemana Renji yang nggak mau kalah waktu main PS?”

“Beda, lah. Aku nggak mau kalah karena nggak mau traktir Sergio. Uang jajanku dari awal udah sedikit, kalau harus traktir tetangga kita yang kaya itu jadinya makin sedikit. Nah, kalau kalah main voli, tinggal nggak perlu ikut tanding lagi.”

“Kalau lu mikirnya gitu, ya udah, Dek. Yang penting jangan lupa belajar!”

Reiner meninggalkan diriku di ruang tengah sendirian, berjalan menuju ke kamarnya. Aku tidak begitu memikirkan perkataan kakakku, kembali asyik menonton kartun.

Hampir setahun silam sejak kekalahan di perlombaan antar sekolah tingkat kota terjadi. Perlahan, aku jarang bertemu Archy selain di kelas atau kantin. Aku mulai merasa kesepian. Terlalu sungkan mengajaknya bermain namun juga terlalu malas ikut berlatih.

Kurang dari tiga bulan sebelum akhirnya pertandingan serupa kembali digelar. Kami duduk di bangku kantin pada istirahat kedua. Archy bertanya kepadaku, membuka obrolan ditengah kesibukan memakan mi.

“Ren, mau jadi pemain inti di lomba voli bulan depan? Hubungannya sama sekolah kita yang cuma punya satu libero.”

Ucapnya usai menegak habis susu kedelai. Ia mengelap sisa susu diatas bibirnya dengan punggung tangan.

“Kalau nggak mau ikut tanding, nggak masalah, tapi bilang langsung ke temen- temen klub sama Pak Jeff.”

Melihat raut muka Archy berbeda dari biasanya membuat pikiranku terusik. Wajah- nya tampak kecewa. Tepat sebelum Archy berdiri dari kursinya, aku menyampaikan hal yang menahannya beranjak.

“Gue mau, Ar. Nanti latihan jam berapa?”

Archy menghampiriku, ia memeluk tubuhku erat. Kawanku itu menunjukkan wajah sumringah, lengkap bersama senyum gingsul-nya. Aku senang melihat matanya berbinar memandangku. Archy berceloteh tentang betapa bahagia dirinya karena aku kembali bermain voli.

Kuhabiskan waktu sepulang sekolah dan hari libur untuk mengejar ketertinggalan ketika bolos kegiatan klub. Aku mencoba membangun kembali bonding dengan regu voliku yang sempat renggang. Aku juga melatih kemampuan bertahan dengan lebih maksimal dari sebelumnya.

Ayah, bunda, juga Reiner menonton pertandingan comeback-ku di pekan olahraga. Tim kami memang tak bertemu sekolah unggulan seperti sebelumnya, tapi kami tetap saja mendapat kesulitan. Kami bermain tiga ronde penuh, menang dengan selisih poin tipis.

Momen tak terlupakan melekat di otakku. Ketika ronde ketiga berlangsung, timku dan lawan hanya selisih satu poin yang unggul pada reguku. Apes, pemain dengan kemampuan servis luar biasa mendapat giliran di waktu genting itu. Aku mampu menyelamatkan bola servis lawan meski menabrak hakim garis. Bola voli tersebut berhasil melambung ke arah setter yang segera memberikan umpan kepada Archy. Sahabatku berhasil memukul bola ke lapangan lawan sehingga kami memenang- kan pertandingan.

Aku tak pernah mengira bahwa kemenangan dapat membuatku menangis bahagia. Archy berteriak riang, berlari ke arahku dengan gembira,

“Kita menang, Ren! Kita menang!”

Satu kemenangan tersebut belum berarti jika kami kalah dipertandingan selanjutnya. Oleh sebab itu, kami berusaha mengalahkan berbagai tim lain di hari-hari berikutnya. Tidak mudah, lamun kami berhasil mewakili kota di tingkat provinsi. Meski langsung kalah, aku tetap bangga dengan perjuangan yang sudah diriku dan klub voli kami kerah- kan. Aku mulai mencintai voli dengan tulus, berlatih atas kemauanku sendiri agar dapat menampilkan yang terbaik di panggung perlombaan.

Aku serta Archy dikenal sebagai duo atlet voli, lulus dari sekolah dasar satu tahun setelahnya. Berkat julukan itu, kami memilih melanjutkan sekolah menengah pertama di tempat Reiner dulu bersekolah, SMP yang terkenal dengan kebolehan tim volinya. Tak hanya dalam voli, kami masih disatukan di kelas yang sama. Pertemanan kami tumbuh semakin erat.

Salah satu bentuk bahwa kami berteman dekat ialah undangan bunda kepada Archy untuk menikmati kue perayaan buatan beliau. Kue kali ini dibuat untuk kakakku yang mendapat gelar siswa berprestasi non akademik ketika kelulusan sekolah menengah atas.

Archy tiba sore hari. Kawan yang sudah bundaku anggap sebagai anaknya itu tidak menghampiriku melainkan menemani Reiner di ruang tengah. Aku masih sibuk memotong kue di dapur, sayup-sayup mendengar obrolan mereka.

“Kenapa Kak Reiner nggak lanjut main voli?”

“Voli itu cuma hobi masa sekolah, Ar.”

Tampaknya Archy tidak puas dengan jawaban Reiner, ia kembali bertanya tentang keputusan kakakku berhenti bermain voli.

“Tapi Kak Reiner udah tanding sampai provinsi, masa nyerah gitu aja sama voli?”

Terdengar helaan napas panjang. Aku menerka-nerka wajah keduanya. Dari nada bicara, Archy dipastikan memasang raut penasaran, heran dengan langkah yang diambil Reiner. Di lain sisi, kakakku sepertinya kebingungan merangkai jawaban.

“Bukan nyerah, tapi hidup nggak selamanya sesuai sama yang kita mau. Kalo boleh jujur, gue juga pengen terus-terusan main voli kayak waktu sekolah. Tapi gue nggak bisa hidup dari voli, Archy.”

Piring berisi potongan kue hampir terjatuh dari tanganku. Kesampingkan fakta Reiner yang masih terpuruk akibat regunya gagal bertanding di turnamen nasional. Ucapan kakakku benar adanya, voli memang tidak bisa menjadi sumber penghidupan kami. Lebih tepatnya, perekonomian keluargaku memang tidak sebaik keluarga Archy sehingga mengharuskan kakakku melanjut- kan pendidikan sembari bekerja.

Aku mengusir perasaan iri dan pemikiran lain yang sulit diungkapkan, melanjutkan langkah menuju ruang tengah seolah tidak mendengar apa-apa. Reiner dan Archy tak meneruskan percakapan sebelumnya, mereka menghampiriku untuk mengambil kue buatan bunda.

Keesokan harinya ketika jam kosong di kelas, Archy kembali membawa topik percakapan yang sebelumnya ia bahas dengan kakakku.

“Renji, Kak Reiner beneran berhenti main voli selamanya?”

“Nggak selamanya juga, Ar. Kalau kata bunda, kakakku berhenti main voli karena kecewa nggak bisa menang di final provinsi. Dia udah dua kali sampai provinsi tapi dua kali kalah juga.”

“Memangnya sesakit itu, ya, menghadapi kekalahan? Bukannya menang kalah itu biasa?”

Aku tak menanggapi pertanyaan Archy. Mungkin bagi orang seperti kawanku, menang kalah adalah hal biasa. Tapi bagi sebagian orang lainnya termasuk diriku yang dulu, kekalahan bisa menjadi pukulan telak. Walau begitu, aku sedikit demi sedikit telah belajar menerima kekalahan. Karena bagaimanapun, kalah ataupun menang harus dihadapi.

Saat di sekolah menengah pertama, aku bertumbuh kembang cukup pesat. Selain mental yang sudah aku singgung sebelum- nya, kemampuanku juga mengalami kemajuan. Begitu pula dengan Archy, progresnya melambung tinggi. Jika membicarakan keterampilan melakukan servis, Archy sering disebut punya servis maut.

Suatu hari ketika berlatih bedua dengan Archy, aku sempat bertanya mengapa ia tampak terobsesi dengan servis.

“Sebenarnya gue juga mau latihan smash atau block, tapi cuma servis yang bisa gue latih tanpa bantuan orang lain.”

“Kenapa lu nggak minta tolong anak-anak klub?”

Tanyaku sembari mengambil bola-bola yang berserakan, bola yang beberapa saat lalu Archy gunakan untuk melatih servisnya.

“Emang pada mau? Mereka lebih milih main atau istirahat daripada latihan sama gue. Nggak salah juga, hak mereka. Makanya gue milih servis. Menguntungkan gue dan tim waktu tanding, jadi kenapa enggak.”

Aku mengangguk-angguk, setuju dengan pernyataannya. Setelah meletakkan seluruh bola pada keranjang, aku merasa enggan tertinggal lantas meminta Archy untuk dibolehkan menerima servisnya. Kawanku mengiyakan. Awalnya jelas tidak mudah, aku berkali-kali gagal menerima servis “maut” itu. Seiring berjalannya waktu, aku mampu menerimanya, tentu setelah berbagai sesi latihan berdua bersama Archy.

Selain melatih fisik, sahabatku sering menghabiskan waktu dengan mempelajari voli. Archy suka menonton siaran ulang pertandingan kami. Ia juga kerap kali mendatangi gelanggang olahraga demi melihat turnamen voli sekolah lain. Ia gunakan berbagai informasi untuk mencari celah kelemahan lawan atau mengembang- kan kemampuan. Tak heran Archy menjadi ketua klub voli ketika kelas tiga SMP. Ia dipercaya menjadi ketua sebab kemampuan komunikasi dan kecerdasannya menyusun strategi.

Aku dan Archy lulus dengan nilai akademik mengenaskan tapi prestasi dibidang voli membanggakan. Pencapaian klub voli sekolah menengah pertama kami terhenti di semi final provinsi. Tidak ada yang dapat kami lakukan di pertandingan tersebut, gap kemampuan kami dengan tim lawan terlampau jauh. Kenyataan itu membakar semangat juangku, aku dan Archy kembali memilih melanjutkan sekolah di tempat dengan tim voli unggulan.

Kehidupan sekolah menengah akhir dimulai dengan “perpisahan” antara aku dan Archy. Setelah sembilan tahun berada di kelas yang sama, untuk pertama kalinya kami berbeda kelas. Papa Archy setuju atas saran pelatih kami di sekolah sebelumnya, memasukkan Archy ke kelas khusus olahraga agar ia bisa fokus mengasah kemampuan bermain voli. Alasanku tidak satu kelas bersama Archy serupa dengan Reiner, aku tidak bisa hidup dari voli.

Aku dan Archy baru beberapa minggu diterima di klub tetapi pelatih langsung menetapkan kami menjadi pemain inti. Pergantian pemain ini tidak seindah di sekolah dasar. Kepercayaan tim kepada kami belum terbentuk, sebagian kakak kelas juga memandang kami sebelah mata.

Aku bersyukur karena kakak kelas yang posisinya aku ambil alih bersikap baik kepadaku. Ia mau mengajariku, tak hanya seputar libero tapi juga hal lain di sekolah. Berkebalikan, pemain yang Archy ambil perannya sangat ketus kepadanya. Walaupun sama-sama ditahun terakhir SMA, kakak kelas yang dahulu menjadi spiker utama tim adalah wakil ketua klub. Mungkin saja wakil ketua itu terpancing egonya, Archy yang anak baru bisa menjadi pemain inti sedang- kan ia dulu baru bermain di pertandingan resmi pada tahun kedua.

Huru-hara pergantian pemain pada awalnya selesai ketika aku dan Archy unjuk kemampuan di perlombaan. Memang benar bonding tim kami belum sepenuhnya terjalin, tapi kami tetap memenangkan pertandingan hingga masuk babak final di provinsi.

Terjadi perdebatan antara pelatih dan wakil ketua klub terkait pergantian pemain di malam sebelum pertandingan. Wakil ketua klub angkat bicara mewakili mayoritas anggota, meminta dirinya agar bermain di lapangan untuk ronde final. Sedangkan pelatih menentang. Ketua klub yang netral mencoba menengahi namun gagal. Situasi tim menjadi tidak stabil.

Keesokan harinya, pelatih tetap menjadikan Archy sebagai pemain inti. Protes dari kakak kelas tak terbendung tapi keputusan pelatih sudah bulat. Pertarungan sengit berlangsung di final. Kami kalah pada ronde pertama dan terakhir, menjadikan kami juara kedua di tingkat provinsi dan tidak dapat melanjutkan pada tingkat nasional.

Orang-orang yang tadinya sudah mengakui kemampuanku dan Archy berubah pikiran. Aku entah mengapa ikut terseret masalah Archy, ikut dijadikan kambing hitam dan samsak penyesalan kekalahan tim. Bukannya kesal, aku malah kasihan kepada sahabatku. Ia telah mati-matian berlatih untuk pertandingan tersebut, mencetak banyak poin dari servisnya, berkontribusi banyak pada kemenangan tim di ronde-ronde sebelumnya.

Kami berdua pergi ke GOR tempat pertama kali kami memutuskan untuk bermain voli. Sedang tidak ada kegiatan di sana, gelanggang sepi tanpa pengunjung. Kami yang lelah seusai perjalanan dari ibukota provinsi langsung meletakan punggung di kursi tribune.

“Ren, maaf, ya. Lu jadi ikutan kena gara-gara gue.”

Ucap Archy yang duduk tak jauh dari diriku.

“Gue aman aja. Lu, gimana?”

Ia menoleh sekilas. Pandangannya kembali tertuju ke lapangan voli.

“Kalau gue jawab kecewa sama diri sendiri?”

Aku mendekati Archy, menepuk pelan pundak lebarnya,

“Ar, kekalahan tim bukan tanggungan lu.”

“Tapi, kalau yang main di final itu Kak Oscar dan bukan gue, tim kita bisa menang, kan?”

Aku memutar tubuh Archy sehingga ia menjadi berhadapan denganku. Aku memegang bahunya dengan kedua tangan,

“Lu jadi pemain inti bukan atas kehendak lu tapi keputusan pelatih.”

“Ren, pelatih nggak asal milih pemain! Beliau pasti pilih gue karena merasa kemampuan gue cukup buat tim, tapi kenyataannya enggak! Gue penyebab utama kekalahan.”

Sifat keras kepala Archy yang baru muncul beberapa tahun terakhir mulai menguasai percakapan. Ia menepis kedua lenganku dari pundaknya. Aku enggan melepaskan, kembali mencengkram pundak Archy.

“Ar, lu bukan lagi ketua klub yang harus kuat menanggung semuanya. Sekarang lu itu anggota yang baru masuk beberapa bulan, wajar bikin kesalahan.”

“Renji, kalau gue latihan lebih keras, gue bisa bikin pelatih bangga sama pemain pilihannya, kan? Iya, kan?”

Aku menghembuskan napas lelah, frustasi dengan situasi. Melepaskan kedua tangan dari pundak Archy lantas menyisir kasar rambut ikal-ku. Kami mulai mengeluarkan nada tinggi dalam perdebatan.

“Archy, udah! Nggak ada yang bisa kita lakukan dipertandingan kemarin, situasinya sama kayak turnamen terakhir di SMP. Berhenti menyalahkan diri sendiri, terima kekalahan kita!”

“Situasinya beda, Ren! Di SMP, klub kita emang kurang dari segala sisi. Bandingin sama klub kita di SMA, pelatih, pengalaman dan kemampuan kakak kelas, semua itu udah lebih dari cukup buat tanding di nasional!

“Gue muak sama ambisi lu. Gue cabut dari voli!”

“Ren, jangan, tolong jangan berhenti main voli. Gue janji bakal berhenti keras kepala, gue bakal perbaiki diri, introspeksi. Ren, tolong tetep main voli bareng gue!”

Sudah enggan mempedulikan perkataan Archy, aku bergegas meninggalkan tribun serta gelanggang olahraga. Di parkiran, entah mengapa aku melihat Reiner beserta motornya. Walaupun rindu dengan kakakku yang merantau, aku sedang dalam keadaan kalut. Aku meneruskan langkah menuju halte bus terdekat, menaiki asal bus yang sedang menurunkan penumpang.

Sepuluh tahun kemudian.

Aku sudah tumbuh menjadi seorang pegawai kantor di sebuah perusahaan teknologi di kotaku. Aku hidup seolah tak pernah mendalami voli. Menjalani kehidupan layaknya orang kebanyakan.

Kisah lanjutan dari cerita sebelumnya ialah, aku benar-benar berhenti bermain voli. Sungguh mirip dengan Reiner yang juga mengakhiri karir atletnya di final provinsi semasa SMA. Bedanya, masa sekolah menengah akhir Reiner masih diwarnai kegiatan klub voli, sedangkan sisa masa SMA-ku habis untuk mengejar kampus ternama beserta beasiswa.

Lalu bagaimana dengan Archy?

Ia menutup masa SMA dengan berhasil bertahan hingga semi final kejuaraan nasional, mengalahkan berbagai sekolah dari penjuru negeri. Keinginannya saat kelas 4 SD terwujud, dirinya kini menjadi atlet voli nasional yang sering membawa pulang kemenangan bagi negara.

Kami berpisah dengan cara yang buruk dan aku mengakui bahwa sebagian memang salahku. Bagiku, Archy merupakan sahabat, saudara, panutan, segalanya. Bukan hanya kala itu tapi hingga saat ini.

Dahulu aku tidak bisa memahami isi pikirannya. Sekarangpun saat sudah lebih dewasa untuk mengerti, aku masih belum mampu menghadapi ambisi besarnya. Archy adalah orang baik, semua tahu itu. Tapi untuk menjadi teman, apalagi orang terdekat, aku merasa itu akan membuatku mengorbankan banyak hal, termasuk diriku sendiri.

Di mataku, Archy selalu berlari sepanjang hidupnya untuk mengejar apa yang ia inginkan. Sebaliknya, aku lebih suka berjalan santai tanpa diburu-buru. Tidak ada yang salah dari cara Archy menjalani kehidupan, hanya saja terlalu berkebalikan denganku.

Aku yakin bahwa aku adalah salah satu orang yang pernah menghabiskan banyak waktu dengannya. Aku tahu betapa kerasnya ia berusaha. Aku tahu seberapa lama waktu dan banyaknya tenaga yang telah dirinya curahkan untuk segala pencapaiannya selama ini. Karena itu, aku akan selalu bangga pernah berteman dengan Archy Hustler.

Renji Miroslav.


메타데이터
post_id
e5d1d5f02447
slug
achiever-e5d1d5f02447
url
https://medium.com/@blueeorchidd/achiever-e5d1d5f02447
canonical_url
https://medium.com/@blueeorchidd/achiever-e5d1d5f02447
author_url
https://medium.com/@blueeorchidd
status
ok
fetched_at
2026-07-24 17:51:13