← Back to list

Mencoba FlyEnv Setelah Lama Menggunakan XAMPP

Setelah bertahun-tahun menggunakan XAMPP sebagai local development environment untuk PHP, saya akhirnya mencoba FlyEnv.

I Putu Sutha Satyawan · 2026-07-26 11:43 · 0 claps · 3.0 min read
#php #web-development #developer-tools #laravel #local-development
Open on Medium ↗
Wiki topics: 🌐 · Web Development

Mencoba FlyEnv Setelah Lama Menggunakan XAMPP

Setelah bertahun-tahun menggunakan XAMPP sebagai local development environment untuk PHP, saya akhirnya mencoba FlyEnv.

Kalau kamu sudah lama ngoding PHP, kemungkinan besar XAMPP adalah software pertama yang kamu instal.

Saya juga.

Bertahun-tahun workflow saya kurang lebih selalu sama. Install XAMPP, klik Start pada Apache dan MySQL, simpan project di folder htdocs, lalu buka localhost.

Sederhana dan sejauh ini tidak ada masalah berarti.

Belakangan saya mulai sering melihat FlyEnv dibahas oleh beberapa developer PHP, baik di media sosial maupun forum komunitas.

Awalnya saya tidak terlalu tertarik karena saya berpikir, “Bukankah fungsinya kurang lebih sama dengan XAMPP?”

Akhirnya saya memutuskan mencobanya sendiri.

Kenapa Mencoba FlyEnv?

Alasan utamanya sebenarnya sederhana.

Saya mulai mengerjakan beberapa project dengan kebutuhan versi PHP yang berbeda.

Ada project Laravel yang membutuhkan PHP 8.3, sementara project lain masih menggunakan PHP 8.0.

Sebenarnya hal seperti ini tetap bisa dilakukan di XAMPP, hanya saja saya belum pernah benar-benar mengatur beberapa versi PHP dalam satu komputer.

Karena penasaran, saya mencoba melihat bagaimana FlyEnv menangani kebutuhan tersebut.

Gambar 1 Tampilan FlyEnv dibandingkan dengan XAMPP.

Gambar 1 Tampilan FlyEnv dibandingkan dengan XAMPP.

Hal Pertama yang Saya Coba

Setelah instalasi selesai, hal pertama yang saya lihat justru daftar versi PHP yang tersedia.

Saya cukup terkejut karena FlyEnv menyediakan beberapa versi PHP yang bisa diinstal langsung dari aplikasinya.

Biasanya saya hanya menggunakan satu versi PHP sesuai instalasi XAMPP. Di FlyEnv, prosesnya terasa lebih sederhana karena saya tinggal menginstal versi yang dibutuhkan, lalu memilihnya saat membuat atau menjalankan project.

Saya belum mengatakan ini jauh lebih baik, tetapi untuk kebutuhan berpindah antar project, pendekatan seperti ini terasa cukup praktis.

Gambar 2 Daftar versi PHP yang tersedia di FlyEnv.

Gambar 2 Daftar versi PHP yang tersedia di FlyEnv.

Project Tidak Harus Berada di htdocs

Hal lain yang saya sadari adalah saya tidak perlu lagi memindahkan semua project ke folder tertentu.

Selama menggunakan XAMPP, hampir semua project saya berada di dalam htdocs. Memang sebenarnya project bisa disimpan di mana saja menggunakan Virtual Host, tetapi saya jarang mengaturnya karena harus mengubah konfigurasi Apache dan file hosts.

Di FlyEnv saya cukup memilih folder project melalui menu Sites.

Saya juga tidak perlu memindahkan project ke folder khusus seperti htdocs, karena project tetap bisa dijalankan langsung dari folder kerja yang biasa saya gunakan.

C:\Projects
├── Pos-system
├── Finance-app
├── Recruitly
└── Portfolio

Menurut saya ini bukan fitur yang mengubah segalanya, tetapi cukup membuat struktur folder terasa lebih rapi.

Gambar 3 Project tetap berada di folder yang saya inginkan.

Gambar 3 Project tetap berada di folder yang saya inginkan.

Domain Lokal yang Lebih Enak Dibaca

Setelah project ditambahkan ke FlyEnv, setiap project mendapatkan domain lokal sendiri.

Misalnya:

  • pos-system.test
  • portfolio.test
  • phpmyadmin.test

Dibanding membuka project melalui URL seperti:

  • localhost/pos-system
  • localhost/portfolio

Buat saya, nama domain seperti ini lebih mudah diingat dibandingkan harus membuka project melalui URL yang panjang.

Memang terlihat seperti perubahan kecil, tetapi ketika project mulai bertambah, hal-hal seperti ini cukup membantu.

Menu Sites di FlyEnv yang memperlihatkan daftar website/project.

Menu Sites di FlyEnv yang memperlihatkan daftar website/project.

Worth Dicoba?

Setelah beberapa hari mencobanya, saya mulai terbiasa dengan cara kerja FlyEnv.

Fitur seperti pengelolaan beberapa versi PHP, Sites, dan domain lokal menjadi beberapa hal yang paling sering saya gunakan selama mencoba FlyEnv.

Tentu saja masih ada proses adaptasi, apalagi kalau sebelumnya sudah lama menggunakan XAMPP.

Saya sendiri sempat beberapa kali kebingungan, terutama saat mencoba membuka phpMyAdmin dan memahami bagaimana FlyEnv mengelola Sites serta Virtual Host. Setelah mulai terbiasa, workflow-nya justru terasa cukup nyaman digunakan.

Kalau kamu masih belajar PHP atau hanya mengerjakan satu project, XAMPP menurut saya masih menjadi pilihan yang sangat baik.

Namun kalau mulai sering berpindah project, membutuhkan beberapa versi PHP, atau sekadar ingin mencoba workflow yang berbeda, FlyEnv layak masuk ke dalam daftar tools yang patut dicoba.

Ingin Mencoba FlyEnv?

Kalau kamu penasaran ingin mencobanya sendiri, FlyEnv bisa diunduh melalui website resminya.


메타데이터
post_id
e5f2980d8730
slug
mencoba-flyenv-setelah-lama-menggunakan-xampp-e5f2980d8730
url
https://medium.com/@putusuthasatyawan/mencoba-flyenv-setelah-lama-menggunakan-xampp-e5f2980d8730
canonical_url
https://medium.com/@putusuthasatyawan/mencoba-flyenv-setelah-lama-menggunakan-xampp-e5f2980d8730
author_url
https://medium.com/@putusuthasatyawan
status
ok
fetched_at
2026-08-10 15:08:05