Seorang Pembaca di Tengah Ruangan
Terlatih menjadi seseorang yang handal sebagai pemerhati dan menyesuaikan tinggi-rendahnya fondasi di sekitar menjadikanku bergerak bak…
Seorang Pembaca di Tengah Ruangan

source: Pinterest
Terlatih menjadi seseorang yang handal sebagai pemerhati dan menyesuaikan tinggi-rendahnya fondasi di sekitar menjadikanku bergerak bak mistar berjalan.
Aku bisa membuat sesuatunya menjadi lebih pendek, lebih luas, atau lebih berjenjang tergantung kebutuhan. Aku membuatnya terasa begitu elastis sehingga hampir tak ada satupun yang tersisa- semuanya, di ruangan itu, terasa pas. Kini, si ruangan dapat memadankan skalanya sendiri.
Tak lama setelah ruangan itu meregangkan bentuknya, kini ia menyesuaikan permukaannya. Memastikan siapapun di dalamnya dapat berpijak dengan nyaman tanpa kekurangan porsi. Jika terdapat satu saja yang mencoba beranjak dari tempatnya, permukaan itu dengan sukarela akan diganti dengan alas yang lebih sesuai.
Kini ruangan itu telah menjelma menjadi tempat tinggal yang, setidaknya, nyaman bagi siapapun yang hendak singgah di dalamnya.
Ruangan itu dinamis, tidak semua pribadi berada disana untuk waktu yang lama, atau dengan ragam emosi yang sama.
Satu, mereka, atau beberapa di antaranya ada yang beralih bentuk menjadi si Api, atau yang lainnya menjadi si Air, atau hanya menjadi materi padat tanpa emosi. Tentu saja, aku dan ruangan itu pun kemudian mengikuti ritmenya. Segala yang berubah, segala yang terbentuk, menjadikannya terserap di pojok-pojok dinding fondasi itu.
Namun, sekuat apapun ruangan itu menyangga sesuatunya dari permukaan, ia tetap saja buatan manusia, kerapkali rapuh dan tak jarang goyah. Karena bisa jadi, ia lupa membatasi jumlah massa yang mampu ia terima.
Nampaknya, ruangan itu telah menyerap daya terlalu besar, sehingga ia perlahan mulai menunjukkan keterbatasannya.
Memang, rasanya seperti asing, tidak seperti biasanya.
Aku mencari berbagai pemicu terjadinya ini.
Dan ternyata, ruangan itu melupakan satu hal: menyisakan tempat yang layak untukku berteduh di bilik yang sama, setidaknya, satu petak kecil yang pas.
Nyatanya, aku hanya berada di tengahnya, yang ditarik ke berbagai sudut hanya untuk memastikan mereka berpijak di rasa aman itu.
Semua pribadi di ruangan itu seakan memiliki hak adaptif yang setara, kecuali si Pembuat itu sendiri.
Kemudian, aku berusaha menutup sementara ruangan itu. Tidak lama, setidaknya hanya sampai fondasi-fondasi itu melepaskan dayanya perlahan.
Rasanya menyenangkan. Kecakapan itu membuatku terlihat unggul.
Namun, rasanya menjadikan semuanya nyaman tanpa terkecuali,
terdengar opsional.
메타데이터
- post_id
- e5fc8bd56094
- slug
- seorang-pembaca-di-tengah-ruangan-e5fc8bd56094
- url
- https://medium.com/@adindatasya/seorang-pembaca-di-tengah-ruangan-e5fc8bd56094
- canonical_url
- https://medium.com/@adindatasya/seorang-pembaca-di-tengah-ruangan-e5fc8bd56094
- author_url
- https://medium.com/@adindatasya
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-20 12:47:26