Prologue: 14.46, Benhil
Aku sekarang lagi di Starbucks (I KNOWWW BOYCOTT MAAF tapi beneran lagi butuh nge-charge handphone…), duduk sambil menunggu paket cookies aku sampai. Cookies yang kubeli dari Kak Sya , kakak cantik yang tinggal di Bandung. Bandung. Ah, sialan. Jadi kepikiran lagi, kan.
Hi, Kak!
(jujur kepedean bgt, kayak bakalan dibaca aja)
Kalau ada 9 orang teraneh yang pernah Kakak temuin, mungkin aku salah satunya. Namun, kalau ada 9 orang yang paling Kakak pengen jauhin, semoga aku bukan salah satunya. Inget nggak Kak waktu aku confess di tahun baru 2025? WKWKWKKWKWKWKWKKWKWKWKWKKWKWKWKWKKWKWKWKWKWKKWKWKWKWKKWKWK jujur malu. Aku ngobrolnya pake Kalau boleh aku breakdown:
- 71% nyesel
- 29% nggak nyesel
Cukup menyesal kenapa se-heboh, se-spontan, se-ANEH ITU. Penyesalan sisanya kabur waktu aku mikir (lebih tepatnya berhalusinasi) mungkin ini bisa jadi awal cerita yang lucu :]
Almost two years went by, dan Kakak belum mau pergi dari pikiranku. Layaknya mahasiswa abadi kampus yang sudah beribu kali diusir sama dosennya EH SEBENTAR YA KAK MAU AMBIL PAKETNYA DULU
Oke. Lanjut.

Duh, Kak. Sekarang posisiku udah di halte Plaza Sentral Benhil — udah nggak di dalam ruangan ber-AC lagi, sedikit pusing karena mataharinya panas gila tapi minumannya dingin edan, dan vibes menulisnya udah ilang (maaf curhat).
intinyadeh
You’re my biggest what if. And that idea is haunting me.
메타데이터
- post_id
- e65d875bbc86
- slug
- prologue-e65d875bbc86
- url
- https://medium.com/@jasmineserena29/prologue-e65d875bbc86
- canonical_url
- https://medium.com/@jasmineserena29/prologue-e65d875bbc86
- author_url
- https://medium.com/@jasmineserena29
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-11 16:11:38